1

Mengenal Madzhab Fiqih yang Empat

Salah satu bukti penjagaan Allah terhadap agama Islam adalah dengan dibangkitkannya para ulama ahli fiqih dari zaman ke zaman. Allah menganugerahi mereka kemampuan mengambil kesimpulan hukum langsung dari ayat-ayat Al-Qur’an dan sabda-sabda Rasul.

Kemudian murid-murid mereka menulis dan mengajarkan secara turun-temurun ilmu yang didapatkan dari para ahli fiqih tersebut. Hingga akhirnya terbentuklah madzhab-madzhab fiqih yang sangat banyak. Dan yang paling terkenal hingga zaman ini adalah empat madzhab fiqih ; madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali.

 

  1. Madzhab Hanafi 

Pendiri Madzhab:

Pendiri madzhab Hanafi adalah Imam Abu Hanifah rahimahullah. Namanya adalah Nu’man bin Tsabit. Lahir di Kufah pada tahun 80 H, dan wafat pada tahun 150 H. Beliau dijuluki dengan ‘Al-Imam Al-A’zham’, yaitu seorang imam yang paling agung.

Selain dikenal sebagai ahli fiqih, Imam Abu Hanifah juga termasuk ‘Huffazul Hadits’, Imam pengahafal hadits-hadits Nabi. Di zaman Abu Hanifah, masih ada beberapa sahabat Nabi yang hidup, seperti : Anas bin Malik, ‘Abdullah bin Abi Aufa, Sahl bin Sa’d, dan Abu At-Thufail, radhiyallahu ‘anhum.

Guru Imam Abu Hanifah yang paling terkenal adalah Hammad bin Abi Sulaiman. Imam Abu Hanifah berguru kepadanya selama 18 tahun, hingga wafatnya sang guru. Salah satu keistimewaan Abu Hanifah adalah beliau mewarisi ilmu sahabat Nabi yang terkenal yaitu Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu.

Penjelasannya demikian ; guru Imam Abu Hanifah yang bernama Hammad bin Sulaiman, berguru kepada Ibrahim An-Nakh’i. Ibrahim An-Nakh’i berguru kepada ‘Alqamah. Sedangkan ‘Alqamah berguru kepada Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu.

Imam Waki’ mengatakan : “Aku belum pernah bertemu orang yang lebih ‘alim dan lebih baik shalatnya dibandingkan dengan Imam Abu Hanifah.”

Imam Syafi’i mengatakan :“Para ulama sangat membutuhkan Abu Hanifah dalam hal fiqih.”

 

Tiga Murid Terkenal Imam Abu Hanifahdan Sebagian Kitab Penting Madzhab 

Ada tiga murid Imam Abu Hanifah yang sangat terkenal dan berperan penting dalam menyebarluaskan fiqih Imam Abu Hanifah. Mereka adalah Abu Yusuf Ya’qub bin Ibrahim, Muhammad bin Hasan dan Zufar, rahimahumullah.

Abu Yusuf mengatakan : “Aku berguru kepada Imam Abu Hanifah selama17 tahun, dan aku tidak pernah meninggalkannya, baik ketika ‘Idul Fithri maupun ‘Idul Adha, kecuali karena sakit.”

Abu Yusuf pernah meminta Muhammad bin Hasan untuk menulis kitab yang berisi riwayat-riwayat yang dia dapatkan dari Imam Abu Hanifah. Hingga akhirnya Muhammad bin Hasan menulis kitab “Al-Jami’ Ash-Shaghir”.

 

  1. Madzhab Maliki 

Pendiri Madzhab 

Pendiri madzhab Maliki adalah Imam Malik bin Anas rahimahullah, yang dijuluki ‘Imam Daril Hijrah’, yaitu Imamnya kota hijrah Nabi. Lahir di kota Madinah pada tahun 93 H, dan wafat pada tahun 179 H

 Imam Malik mencurahkan segala yang dimiliki untuk bisa mencari ilmu agama. Di antara riwayat yang terkenal tentang hal ini adalah ketika beliau mencopot sebagian dari atap rumahnya lalu dijual untuk biaya mencari ilmu.

Salah satu keistimewaan Imam Malik adalah mendengar langsung hadits-hadits Nabi dariNafi’, yang merupakan murid langsung dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma.

Sampai-sampai Imam Bukhari mengatakan : “Sanad (mata rantai hadits) yang paling shahih adalah riwayat dari Imam Malik, dari Nafi’, dari Ibnu ‘Umar.”

Imam Syafi’i juga mengatakan : “Seandainya bukan karena Imam Malik dan Sufyan bin ‘Uyainah, pasti ilmu wilayah Hijaz hilang.” Beliau juga mengatakan : “Imam Malik adalah guruku, darinya aku mengambil ilmu.”

Imam Wahb bin Khalid mengatakan : “Tidak ada seorang pun di antara belahan timur maupun barat bumi yang lebih aku percaya tentang hadits Rasulullah dibandingkan dengan Imam Malik.”

 

  1. Mazhab Syafi’i

Pendiri Mazhab:

Pendiri mazhab Syafi’i adalah Imam Muhammad bin Idris, yang lebih dikenal dengan nama Imam Syafi’i. Beliau dijuluki sebagai ‘Nashirus Sunnah’, yaitu pembela sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Lahir di Ghaza pada tahun 150 H, dan wafat di Mesir pada tahun 204 H.

Setelah dua tahun dari kelahirannya, ibunda Imam Syafi’i membawanya ke Mekah. Hidup dalam keadaan yatim dan miskin di bawah pengasuhan ibunya. Beliau hafal Al-Qur’an ketika berusia 7 tahun. 

Imam Syafi’i berguru kepada para Imam ahli hadits dan ahli Fiqih kota Mekah, seperti : Imam Sufyan bin ‘Uyainah, Muslim bin Khalid Az-Zanji, Sa’id bin Salim Al-Qaddah, dan lain-lain.

Di usia 13 tahun Imam Syafi’i pergi ke Madinah untuk melanjutkan perjalanannya mencari ilmu. Di Madinah Imam Syafi’i berguru kepada seorang Imam yang terkenal yaitu Imam Malik rahimahullah. Dan Imam Syafi’i berhasil menghafalkan kitab “Al-Muwaththa” karya Imam Malik. Selain itu Imam Syafi’i juga berguru kepada para Imam kota Madinah, seperti : Imam Ibrahim bin Sa’d Al-Anshari, Ibrahim bin Abi Yahya Al-Aslami, dan lain-lain.

Imam Syafi’i juga mempunyai guru di kota Baghdad, yaitu Imam Muhammad bin Hasan. Yang merupakan murid dari Imam Abu Hanifah. Di sinilah Imam Syafi’i mempelajari mazhab Hanafi. Gurunya yang lain di kota Baghdad masih banyak, seperti : Imam Waki’ bin Jarrah, Hammad bin Usamah Al-Kufi, dan lain-lain.Setelah di tinggal beberapa lama di Baghdad, Imam Syafi’i kembali ke Mekah, untuk mengajarkan ilmunya.

Imam Yahya bin Sa’id Al-Qaththan mengatakan :

“Aku tidak pernah melihat orang yang lebih cerdas dan lebih alim dari Imam Syafi’i. Dan aku selalu memberikan doa khusus untuk Imam Syafi’i di setiap shalatku.”

Imam Ahmad berkata :

“Aku belum paham tentang ‘nasikh’ dan ‘mansukh’ hadits, hingga berguru kepada Imam Syafi’i.”

 

Murid-murid Imam Syafi’i

Setelah menjadi seorang ulama besar, Imam Syafi’i mempunyai murid-murid yang tersebar di berbagai wilayah ; Mekah, Baghdad dan Mesir.Mereka inilah yang kemudian menyebarkan ilmu Imam Syafi’i ke penjuru dunia.

Contoh murid yang di Mekah : Abu Bakr ‘Abdullah bin Zubair Al-Asdi Al-Humaidi. Adpun contoh murid yang di Baghdad : Abu Tsaur Al-Kalbi. Dan contoh murid yang di Mesir adalah : Abu Ya’qub Yusuf  bin Yahya Al-Buwaithi, dan Abu Ibrahim Isma’il bin Yahya Al-Muzani.

 

Sebagian Kitab Fiqih Penting Madzhab Syafi’i

Kitab-kitab yang diatasnamakan kepada Imam Syafi’i terbagi menjadi dua :

Pertama, kitab karya Imam Syafi’i sendiri. Misalnya kitab “Al-Umm”, kitab “Al-Imla’” dan kitab “Ar-Risalah”. Jenis yang ke dua adalah ringkasan dari kitab-kitab karya Imam Syafi’i. Misalnya kitab “Mukhtashar Al-Muzani” dan kitab “Mukhtashar Al-Buwaithi”.

Menurut sebagian ahli sejarah, beberapa kitab ini kemudian diringkas oleh Imam Haramain Al-Juwaini menjadi kitab yang baru dan diberi nama “An-Nihayah”.Kemudian Imam Ghazali meringkas kitab “An-Nihayah” menjadi kitab yang baru dan diberi nama “Al-Bashith”. Kemudian diringkas lagi menjadi kitab “Al-Wasith”. Kemudian diringkas lagi menjadi kitab “Al-Wajiz”. 

Kemudian Imam Ar-Rafi’i meringkas kitab “Al-Wajiz” menjadi kitab “Al-Muharror”. Kemudian Imam Nawawi meringkas kitab ini menjadi kitab “Minhajut Thalibin”, yang merupakan salah satu kitab terpenting dalam madzhab Syafi’i.

 

  1. Madzhab Hanbali

Pendiri Madzhab 

Pendiri madzhab Hanbali adalah Imam Ahmad bin Muhammad bin Hanbal rahimahullah. Kata ‘Hanbal’ adalah nama kakek Imam Ahmad. Dan akhirnya beliau dikenal dengan sebutan ‘Ahmad bin Hanbal’. Beliau dijuluki ‘Imam Ahlis Sunnah wal Jama’ah’. Beliau lahir di Baghdad pada tahun 164 H, dan wafat di sana.

Imam Ahmad dikenal dengan perjalanannya yang luar biasa ketika mencari ilmu. Beliau melakukan perjalanan mengelilingi dunia. Di antara wilayah yang pernah didatangi adalah Mekah, Madinah, Syam, Yaman, Kufah, Bashrah, dan Jazirah.

Guru Imam Ahmad sangat banyak, diantaranya : Imam Sufyan bin ‘Uyainah, Ibrahim bin Sa’d, Yahya Al-Qaththan, Ibnu Mahdi, dan lain-lain. Bahkan Imam Syafi’i termasuk guru Imam Ahmad.

 

Tokoh-tokoh Penting yang Meriwayatkan Madzhab Imam Ahmad

Para ulama yang meriwayatkan madzhab Imam Ahmad adalah Imam Ahmad bin Hani Al-Atsram, Abu Bakr Al-Marwazi, Harb bin Isma’il Al-Kirmani, dan Ibrahim bin Ishaq Al-Harbi. Dua putra Imam Ahmad juga termasuk yang meriwayatkan madzhab Imam Ahmad, yaitu Shalih dan ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal. Melalui mereka madzhab Imam Ahmad terjaga dan tersebar di beberapa wilayah.

 

Fajri Nur Setyawan, Lc

Sumber :

  1. Al-Fathul Mubin Fi Mushthalahatil Fuqaha’ wal Ushuliyyin, Prof. Dr. Muhammad Ibrahim Al-Hafnawi.
  2. Tarikh At-Tasyri’ Al-Islami, Syaikh Manna’ Al-Qaththan.
  3. Al-Madkhal Ila Dirasati Al-Madzahib Al-Fiqhiyyah.

 




Kesempurnaan Nikmat Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى dalam Perintah Bersuci

Kesempurnaan Nikmat Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى dalam Perintah Bersuci

 

Alhamdulillah, segala puji  bagi Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى , shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah ﷺ, keluarga dan shahabat beliau, serta orang-orang yang mengikuti beliau dengan baik sampai hari kiamat.

Salah satu di antara perintah Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى kepada para hamba-Nya adalah supaya mereka bersuci sebelum melaksanakan sholat, baik bersuci dari hadats kecil maupun hadats besar. Perintah tersebut hakikatnya merupakan bentuk kasih sayang dan kenikmatan dari Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى yang akan mengantarkan kepada kemaslahatan dan kebaikan seorang hamba.

Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu hendak melaksanakan shalat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai ke kedua mata kaki. Jika kamu junub, maka mandilah. Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, maka jika kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan debu yang baik (suci); usaplah wajahmu dan tanganmu dengan (debu) itu. Allah tidak ingin menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, agar kamu bersyukur.” (QS. Al Maa-idah : 6)

 

Kandungan Ayat Secara Umum

Dalam ayat ini Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى memerintahkan kepada orang-orang yang beriman, apabila mereka dalam keadaan berhadats kecil dan hendak melaksanakan shalat, supaya mereka berwudhu terlebih dahulu dengan membasuh wajah, membasuh tangan sampai siku, mengusap kepala, dan membasuh kaki sampai mata kaki. Dan jika dalam keadaan berhadats besar, supaya mandi terlebih dahulu sebelum melaksanakan shalat.

Apabila mereka dalam keadaan sakit, atau bepergian jauh, atau selesai dari buang air,  atau setelah berhubungan suami isteri, namun tidak menemukan air, maka  penggantinya adalah melakukan tayammum dengan menepukkan tangan ke permukaan tanah lalu mengusapkannya ke wajah dan telapak tangan.

Dalam perintah bersuci ini, Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى tidak menghendaki untuk menjadikan kesempitan bagi orang-orang yang beriman, bahkan Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى memberikan kemudahan dengan mensyari’atkan tayammum ketika seseorang dalam keadaan sakit atau ketika tidak adanya air untuk bersuci. Itu termasuk kesempurnaan nikmat Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى yang wajib untuk disyukuri dengan mentaati Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى baik dalam perintah maupun larangan-Nya.

 

Beberapa Pelajaran dari Ayat Ini

Di antara pelajaran dan faidah yang bisa dipetik dari ayat yang mulia ini adalah sebagai berikut :

  1. Keutamaan iman, karena Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى menyeru orang-orang beriman dengannya.
  2. Di antara konsekuensi keimanan adalah melaksanakan ketaatan kepada Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى dengan mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
  3. Wajibnya bersuci sebelum melaksanakan shalat, baik bersuci dari hadats kecil maupun hadats besar dengan menggunakan air, atau dengan tayammun jika tidak memungkinkan menggunakan air.
  4. Wajibnya membasuh wajah dan kedua telapak tangan sampai siku, mengusap kepala, dan membasuh kedua kaki sampai mata kaki ketika bersuci dari hadats kecil.
  5. Wajibnya urut dalam berwudhu pada anggota-anggota wudhu tersebut, dimulai dengan membasuh wajah,  lalu membasuh kedua tangan, lalu mengusap kepala, kemudian membasuh kedua kaki.
  6. Wajibnya meratakan air ke seluruh badan ketika bersuci dari janabah.
  7. Wajibnya tayammum ketika tidak memungkinkan bersuci menggunakan air, baik karena sakit atau tidak adanya air.
  8. Wajibnya mengusap wajah dan kedua telapak tangan ketika bertayammum, baik dari hadats kecil maupun janabah.
  9. Dipersyaratkan sucinya air dan debu yang digunakan untuk bersuci.
  10. Tayammum itu mensucikan dan mengangkat hadats sampai seseorang mampu menggunakan air dengan adanya air atau hilangnya udzur yang menghalanginya dari menggunakan air. Jika seseorang dalam keadaan janabah dan tidak mendapatkan air, maka ia bertayammum dan melaksanakan sholat, kemudian jika telah mendapatkan air maka ia wajib mandi. Demikian pula jika seseorang dalam keadaan janabah sedangkan ia sakit dan membahayakannya jika mandi, maka ia bertayammum, kemudian ketika telah sembuh maka wajib baginya untuk mandi.
  11. Buang air kecil dan buang air besar, sedikit atau pun banyak, termasuk pembatal wudhu, demikian pula apa saja yang keluar dari dua jalan.
  12. Tayammum hanya disyari’atkan untuk bersuci dari hadats, tidak disyari’atkan tayammum untuk membersihkan najis, baik najis tersebut di badan, pakaian, atau tempat sholat.
  13. Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak menghendaki untuk menjadikan kesempitan kepada kita dalam perintah bersuci, akan tetapi Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى menghendaki mensucikan kita dan menyempurnakan nikmat-Nya untuk kita.
  14. Disyari’atkan bersyukur kepada Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى atas perintah-perintah Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى yang diberikan kepada  kita, karena hal itu untuk kemaslahatan kita dan menyempurnakan nikmat untuk kita, bukan untuk menyusahkan dan menyempitkan kita.
  15. Sesungguhnya tidak ada kesempitan dan kesulitan dalam perintah dan beban-beban dalam agama ini.

 

Demikian pembahasan ringkas dari ayat yang mulia ini, semoga bermanfaat untuk kaum muslimin sekalian, dan semoga Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى senantiasa membimbing kita ke jalan yang dicintai dan diridhai-Nya. Wallahu a’lam, wa akhiru da’wana anil hamdulillahi rabbil ‘alamin.

Nurwan Darmawan, BA

Artikel alukhuwah.com

 




Sifat Dermawan yang Menakjubkan

Sifat Dermawan yang Menakjubkan

 

Salah satu nama Allah adalah “Al-Karim” yang artinya “Maha Pemurah” atau “Maha Dermawan”.  Di dalam bahasa Arab kata Al-Karim berasal dari kata “Al-Karam” yang maknanya adalah kata yang menghimpun seluruh perkara baik dan terpuji, bukan sekedar bermakna pemberian.

Oleh karena itu ada beragam pendapat ulama tentang makna nama Allah “Al-Karim”. Ada ulama yang mengatakan bahwa maknanya adalah banyak kebaikannya dan banyak pemberiannya. Ada juga ulama yang mengatakan maknanya adalah bersih dari semua bentuk kekurangan. Dan ada juga ulama yang mengatakan maknanya adalah memberi tanpa mengharap ganti.

       Bahkan pengampunan Allah terhadap dosa-dosa yang kita lakukan juga merupakan bentuk kemurahan Allah. Termasuk pemberian pahala yang banyak untuk amal kita yang sedikit ini. Apalagi jika kita ingat kembali bahwa semua yang kita miliki berupa tenaga dan kekuatan adalah pemberian Allah.

       Di dalam surat Al-Infithar ada penyebutan nama Allah ini :

       مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الكَرِيم

“Apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu yang Maha Pemurah?” (Al-Infithar : 6)

       Dan salah satu sebab utama mendapatkan kemurahan dari Allah adalah dengan taqwa. Allah berfirman :

إنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ   

       “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.” (Al-Hujurat : 13)

 

 

Kedermawanan Nabi Muhammad

       Nabi Muhammad ﷺ dikenal sangat dermawan, terlebih lagi di bulan Ramadhan. Nabi Muhammad dikenal tidak pernah menolak setiap kali diminta sesuatu. Dan terkadang Nabi memanfaatkan sifat dermawannya ini untuk berdakwah. Hingga ada yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad suka memberi dan berbagi hingga terlihat jelas bahwa Nabi tidak takut miskin. Dan sedekah Nabi Muhammad sangat banyak serta beraneka ragam.

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma menceritakan :

“Nabi Muhammad ﷺ adalah orang yang paling dermawan. Dan kedermawanan Nabi yang paling luar biasa adalah ketika Ramadhan. Yaitu di saat Malaikat Jibril menemuinya.” (Muttafaq ‘alaihi)

Jabir radhiyallahu ‘anhu mengatakan : “Nabi Muhammad tidak pernah mengatakan “tidak” setiap kali diminta sesuatu.” (HR. Bukhari)

        Pernah ada seseorang yang diberi kambing dengan jumlah yang sangat banyak, kemudian orang itu bergegas menemui masyaratnya dan mengatakan : “Wahai masyarakatku, kalian masuk Islam lah, demi Allah, sesungguhnya Muhammad apabila telah memberi maka ia memberi tanpa takut miskin sama sekali.” (HR. Muslim)

        Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata : “Nabi Muhammad adalah orang yang paling banyak mengeluarkan sedekah dari harta yang dimlikinya.”

 

Kedermawanan Nabi Ibrahim

        Salah satu Nabi yang juga dikenal kedermawanannya adalah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Ada satu ayat yang menggambarkan kedermawanan Nabi Ibrahim. Yaitu firman Allah :

“Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tamu Ibrahim yang dimuliakan ? Ingatlah ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan, “Salam”, Ibrahim menjawab. “Salam”. Mereka itu orang-orang yang belum dikenalnya.

Maka diam-diam dia (Ibrahim) pergi menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk (yang dibakar). Lalu dihidangkannya kepada mereka …” (Adz-Dzariyat : 24-27)

 

Kedermawanan Sahabat Nabi dan Para Salaf

       Abu Bakar As-Shidiq radhiyallahu ‘anhu ketika di Mekah mempunyai uang sebanyak 40 ribu dirham. Dan ketika hijrah ke Madinah, hanya membawa uang 5 ribu dirham. Sejarah mencatat ; banyak budak-budak yang disiksa majikan mereka karena beriman. Lalu Abu Bakar menyelamatkan mereka, dengan cara membeli budak-budak tersebut dari majikan mereka. Inilah sebabnya ketika hijrah ke Madinah hanya membawa uang 5 ribu dirham, padahal sebelumnya 40 ribu dirham.

       ‘Umar bin Khothob radhiyallahu ‘anhu, meskipun harta yang dimiliki tidak banyak, pernah menyedekahkan harta yang paling disukainya. Ketika itu ‘Umar mendapatkan satu bidang tanah dari Khaibar, dan itu adalah harta yang sangat disenanginya. Karena pernah mendengar ayat yang memotivasi sedekah dengan harta yang paling disukai akhirnya ‘Umar mewakafkan tanahnya tersebut, sehingga tanahnya tidak dijual, tidak dihibahkan dan tidak diwariskan.

Bahkan ketika menjabat sebagai khalifah ; setiap kali mendapatkan harta rampasan perang dari wilayah-wilayah yang dibebaskan beliau tidak mengambilnya, akan tetapi memasukkannya ke ‘kas negara’.

       Di masa kekhalifahan Abu Bakar umat Islam pernah dilanda kekeringan, sehingga mereka khawatir akan musibah yang mengancam seperti kelaparan dan semisalnya. Akhirnya ‘Utsman bin ‘Affan menyedekahkan barang dagangannya yang sangat banyak berupa gandum, minyak, kismis, yang diangkut 1000 onta.

‘Abdullah bin ‘Umar setiap kali makan selalu mengajak satu anak yatim. Selama hidupnya telah memerdekakan 1000 budak. ‘Abdurrahman bin ‘Auf beberapa kali menginfakkan hartanya yang banyak untuk membiayai jihad fi sabilillah. Hakim bin Hizam di zaman jahiliyah telah memerdekakan 100 budak dan menyedekahkan 100 onta. Dan hal ini juga beliau lakukan setelah masuk Islam.

Cucu Nabi yang bernama Al-Hasan juga dikenal sangat dermawan. Al-Hasan pernah dua kali menyedekahkan setengah hartanya dua kali dalam hidupnya. Dia juga rela melepaskan jabatan khalifah untuk mencegah terjadinya peperangan antar sesama muslim.

Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib mendapatkan uang setiap tahunnya satu juta dirham. Semua uangnya disedekahkan hingga tidak tersisa. Bahkan dia pernah merelakan piutang sebesar satu juta dirham. Di mana ketika itu Abdullah bin Ja’far memberikan pinjaman kepada Zubair sebesar satu juta dirham. Ketika Zubair meninggal, anaknya berkata kepada Ja’far bahwa di catatan ayahnya ada hutang sebesar satu juta dirham kepada Abdullah bin Ja’far. Lalu Ja’far berkata kepada anaknya bahwa semua harta itu menjadi milikmu.

 

Kalimat-kalimat Hikmah Tentang Dermawan

      Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata : “Manusia paling terhormat di dunia adalah yang dermawan, sedangkan di akherat adalah yang bertakwa.”

Sa’id bin Al-Ash radhiyallahu ‘anhu berkata : “Siapa yang diberi Allah rizki yang melimpah hendaknya menginfakkan sebagiannya secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi, sampai akhinya dia menjadi orang yang paling berbahagia karenanya.”

Hakim bin Hizam radhiyallahu ‘anhu berkata : “Ketika di pagi hari aku melihat ada seorang miskin di halaman rumahku yang meminta bantuan lalu aku bisa memenuhi permintaannya, itu adalah sebuah kenikmatan dari Allah yang aku memuji-Nya karenanya. Dan ketika di pagi hari aku tidak melihat ada orang miskin di halaman rumahku yang meminta bantuan, itu adalah musibah bagiku yang aku memohon kepada Allah karenanya.”

 

Diringkas dari kitab “Al-Karam ; Kunuz wa Asrar”, jilid pertama, karya Khalid bin ‘Abdullah Al-‘Assaf

Fajri NS, Lc




Sujud Syukur dan Sujud Tilawah

Sujud Syukur dan Sujud Tilawah

 

Pembahasan Pertama : Sujud Syukur

Nikmat Allah kepada kita tidak pernah berhenti, dan tidak terhingga jumlahnya. Tugas kita sebagai hamba- Nya adalah mensyukuri nikmat-nikmat tersebut. Allah berfirman :

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا

“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.” (Ibrahim : 34)

Salah satu cara mensyukuri nikmat Allah adalah dengan melakukan sujud syukur. Sebagaimana yang pernah Nabi praktekkan.

 

Dalil-dalil Sujud Syukur

Dari Abu Bakrah, beliau berkata :

كَانَ إذَا جَاءَهُ خَبَرٌ يَسُرُّهُ خَرَّ سَاجِدًا لِلَّهِ

“Setiap kali ada suatu berita yang membuat Nabi bergembira; beliau sujud untuk Allah.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, Tirmidzi)

Dari ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata :“Nabi pernah sujud, dan memperlama sujudnya, kemudian mengangkat kepalanya, dan bersabda :

إنَّ جِبْرِيلَ أَتَانِي، فَبَشَّرَنِي، فَسَجَدْتُ لِلَّهِ شُكْرًا

“Sesungguhnya malaikat Jibril datang kepadaku dan memberi kabar gembira kepadaku, maka dari itu aku sujud untuk Allah, karena bersyukur.” (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Imam Al-Hakim)

Di dalam riwayat yang lain terdapat penjelasan bahwa kabar gembira yang disampaikan malaikat Jibril adalah tentang pahala besar yang didapatkan bagi umat Nabi Muhammad yang bershalawat kepadanya.

Di kesempatan yang lainnya, Nabi pernah sujud syukur karena sebab lain.

Dari Al-Barra’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu :

“Suatu ketika Nabi mengutus ‘Ali bin Abi Thalib ke Yaman. Setelah beberapa lama, ‘Ali menulis surat tentang penduduk Yaman yang masuk Islam. Ketika Nabi membaca surat tersebut, beliau sujud, karena bersyukur kepada Allah Ta’ala atas hal itu.” (HR. Al-Baihaqi)

Begitu juga sahabat Nabi mempraktekkan sujud sahwi. Salah satunya adalah Ka’ab bin Malik; yaitu ketika Allah menurunkan satu ayat yang menjelaskan bahwa Allah menerima taubatnya.

Imam Shan’ani di dalam kitab Subulus Salam mengatakan bahwa ini membuktikan; sujud syukur adalah sesuatu yang biasa dilakukan oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhum.

Berdasarkan hadits-hadits ini Imam Syafi’i dan Ahmad berpendapat dianjurkannya sujud syukur.

 

Kriteria Nikmat yang Dianjurkan Sujud Syukur

Melihat penjelasan para ahli fiqih di dalam kitab-kitab fiqih; ternyata tidak semua jenis kenikmatan kita dianjurkan sujud syukur.

Imam Nawawi rahimahullah di dalam kitab Minhajut Thalibin berkata :

وَ تُسَنُّ لِهُجُوْمِ نِعْمَةٍ أَوْ انْدِفَاعِ نِقْمَةٍ أَوْ رُؤْيَةِ مُبْتَلَى أَوْ عَاصٍ

“Sujud syukur dianjurkan karena suatu nikmat yang besar yang datang tiba-tiba atau karena tertolaknya suatu musibah atau ketika melihat orang yang diuji Allah dengan ‘kekurangan’ pada dirinya atau karena melihat pelaku maksiat …”

Di dalam kitab Kanzur Raghibin, ada penjelasan tambahan :

Contoh kenikmatan yang besar dan datang tiba-tiba adalah ketika mengetahui istrinya hamil, atau ditemukannya orang yang sebelumnya hilang. Sedangkan contoh dari tertolaknya musibah adalah selamat dari reruntuhan bangunan atau selamat dari tenggelam.

Adapun yang dimaksud dengan sujud syukur ketika melihat orang yang mempunyai ‘kekurangan’ pada dirinya adalah kita bersyukur karena Allah menyelamatkan kita dari ‘kekurangan’ tersebut.

 

Pembahasan Kedua : Sujud Tilawah

Dalil-dalil Sujud Tilawah

Imam Muslim meriwayatkan hadits dengan sanadnya, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan :“Kami sujud bersama Nabi ketika beliau membaca surat ‘Al-Insyiqaq’ dan surat ‘Al-‘Alaq’.”

Ini adalah salah satu hadits yang menjadi dasar disyari’atkannya sujud tilawah. Yaitu sujud ketika membaca atau mendengar ayat-ayat tertentu yang ada makna ‘sujud’ di dalamnya. Yang ayat-ayat ini diistilahkan dengan ‘ayat sajadah’.

Hukum Sujud Tilawah

Ulama berbeda pendapat tentang hukumnya. Menurut mayoritas ulama sujud tilawah hukumnya sunnah. Di antara dalilnya adalah perkataan ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari:

يا أيها الناس إنا لم نؤمر بالسجود فمن سجد فقد أصاب ومن لم يسجد فلا إثم عليه

   “Wahai manusia, kami tidak diwajibkan untuk sujud tilawah. Siapa yang menghendaki sujud tilawah maka dia benar, dan siapa yang tidak sujud maka dia tidak berdosa.”

Selain itu, ulama juga berbeda pendapat tentang surat-surat apa saja yang ada di dalamya ada ayat ‘sajadah’.

Surat-surat yang Ada ‘Ayat Sajadah’ nya

Di dalam kitab Al-Iqna’ Fi Halli Alfazhi Abi Syuja’ disebutkan ; ada 14 ayat-ayat sajadah di Al-Qur’an :

Al-Hajj ayat 18 dan 77. Surat An-Najm ayat 62, Al-Insyiqaq ayat 21, Al-‘Alaq ayat 19, Al-A’raf ayat 206, Ar-Ra’d ayat 15, An-Nahl ayat 49, Al-Isra’ ayat 107, Maryam ayat 58, Al-Furqan ayat 60, An-Naml ayat 25, As-Sajdah ayat 15, dan Fushilatayat 37.

 

Siapa saja yang dianjurkan sujud tilawah ?

Menurut mayoritas ulama yang dianjurkan sujud tilawah adalah orang yang membaca dan mendengar ayat-ayat sajadah.

Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma mengatakan : “Suatu ketika Rasulullah membacakan Al-Qur’an kepada kami. Ketika melewati ayat sajadah, beliau sujud dan kami juga sujud.” (HR. Abu Dawud dan Al-Baihaqi)

 

Apakah disyaratkan ‘suci’ ketika sujud tilawah ?

Menurut mayoritas ulama; yang menjadi syarat-syarat sah shalat juga berlaku pada sujud tilawah. Sehingga sebelum sujud tilawah harus wudhu terlebih dahulu. Begitu juga harus menghadap kiblat. Dan juga harus menutup aurat.

Satu-satunya sahabat Nabi Muhammad yang berpendapat bolehnya sujud tilawah meskipun tidak wudhu; adalah Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma.

 

Dzikir yang dibaca ketika sujud tilawah

Syaikh Sayyid Sabiq di dalam kitab Fiqhus Sunnah mengatakan bahwa dzikir saat sujud tilawah yang shahih dari Nabi adalah riwayat dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata : “Rasulullah ketika sujud tilawah membaca :

سَجَدَ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ خَلَقَهُ وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ بِحَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ فَتَبَارَكَ اللهُ أَحْسَنُ الخَالِقِيْنَ

Hadits ini riwayat Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa-i. Dan di dalam riwayat Imam Al-Hakimdan dishahihkan Imam Tirmidzi ; ada penjelasan bahwa dzikir ini dibaca sebanyak tiga kali.

Fajri NS, Lc

Sumber :

  1. Kitab Al-Iqna’
  2. Kitab Subulus Salam
  3. Kitab Fiqhus Sunnah

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 




Islam (Definisi, Keistimewaan, Pokok Ajarannya)

Islam

(Definisi, Keistimewaan, Pokok Ajarannya)

 

  1. Definisi Islam

Islam adalah ajaran agama para Rasul; dari Rasul pertama, sampai yang terakhir, yaitu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Para Rasul menyeru umat manusia untuk menyembah Tuhan yang satu, yaitu Allah ‘Azza wa Jalla.

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“ Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu …”(An-Nahl : 36)

Dilihat dari ajaran tauhid ini, ada ulama yang mengatakan bahwa Islam adalah :

“Menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah dengan cara mentauhidkan-Nya, tunduk kepada- Nya dengan melakukan ketaatan, dan menjauhi kemusyrikan dan orang-orang yang melakukannya.”

Akan tetapi jika dilihat dari ‘pondasi-pondasi’ ajarannya, Islam juga bisa didefinisikan dengan :

“Bersaksi bahwa hanya Allah yang berhak disembah, dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Menegakkan shalat, membayar zakat, puasa Ramadhan, dan haji bagi yang sanggup melakukannya.”

Lima hal ini kemudian dikenal dengan istilah ‘Rukun Islam’.

Dan jika ditinjau dari kelengkapan ajaran Islam yang mencakup semua sisi kehidupan. Islam juga bisa didefinisikan dengan :

“Kumpulan ajaran dari Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad, yang berupa aqidah, akhlak, ibadah, mu’amalah, dan berita-berita yang disampaikan Nabi kepada umat manusia.”

  1. Keistimewaan Islam

Bersumber dari Allah

Sumber dan yang menggariskan ajaran Islam adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ajaran tersebut adalah wahyu yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Dengan keistimewaan ini maka syariat Islam tidak bisa disamakan dengan jalan hidup atau undang-undang buatan manusia. Karena sumbernya adalah manusia, sedangkan syariat Islam sumbernya adalah ‘Tuhannya manusia’.

Dan karena Islam bersumber dari Allah yang Maha Sempurna, maka demikian juga ajaran Islam, sempurna dan tidak ada cacat sedikitpun di dalamnya.

Menyeluruh

Menyeluruhnya ajaran Islam tidak menerima pengecualian sama sekali. Dalam arti mencakup semua sisi kehidupan. Maka tidak dibenarkan seorang muslim berkata: “Dalam masalah ini aku mempunyai prinsip sendiri, dan tidak mau terikat dengan ajaran Islam.”

Sekilas tentang menyeluruhnya ajaran Islam, sebagai berikut :

Hukum Islam terbagi menjadi empat kelompok besar : Pertama, hukum Islam berkaitan dengan akidah. Kedua, hukum Islam berkaitan dengan akhlak. Ketiga, hukum Islam berkaitan dengan hal-hal yang mengatur hubungan antara hamba dengan Allah. Keempat, hukum Islam berkaitan dengan hal-hal yang mengatur hubungan antara hamba dengan sesamanya.

Poin keempat ini paling luas pembahasannya, sehingga dibagi lagi ke dalam beberapa bagian :

  1. Hukum Islam berkaitan dengan keluarga.
  2. Berkaitan dengan muamalah, seperti jual beli, sewa menyewa dan lain-lain.
  3. Berkaitan dengan kehakiman.
  4. Hukum Islam berkaitan dengan hak-hak non muslim yang hidup di wilayah muslim.
  5. Berkaitan dengan hubungan negara Islam dengan negara-negara selainnya. Dalam hal perdamaian atau sebaliknya.
  6. Berkaitan dengan tata negara.
  7. Berkaitan dengan pengaturan ekonomi negara.
  8. Berkaitan dengan pidana.

 

Balasan dan Hukuman

Ajaran Islam bukan hanya berisi tentang bimbingan dan arahan. Akan tetapi ajaran Islam juga membahas tentang ‘balasan’ atau ‘hukuman’, dari setiap perbuatan yang dilakukan seorang hamba Allah di dunia.

Pada asalnya balasan atau hukuman ini berlaku di akherat. Akan tetapi karena beberapa sebab yang mendesak, Islam menetapkan beberapa balasan di dunia. Sebab-sebab tersebut diantaranya:

Keseimbangan dan kenyamanan dalam hidup di masyarakat, hubungan antar individu dan jaminan hak setiap manusia, dan lain-lain. Karena sebab-sebab inilah Islam menetapkan balasan-balasan atau hukuman-hukuman yang diberlakukan di dunia.

Pada asalnya hukuman di dunia tidak menghalangi adanya hukuman di akherat, bagi orang yang bermaksiat. Kecuali jika dia iringi maksiatnya itu dengan taubat yang sebenar-benarnya.

Dan dengan mengetahui adanya hukuman akherat ini seorang muslim terdorong untuk tunduk dan patuh terhadap hukum-hukum syari’at, baik ketika bersama orang lain maupun ketika sendirian, karena takut siksa Allah di akherat.

Ajaran Islam ‘Universal’ Untuk Seluruh Umat Manusia di Semua Zaman dan Tempat

Allah berfirman :

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (Saba’ : 28)

Karena ‘universal’ nya Islam ini maka Islam dan ajarannya bisa mewujudkan kemaslahatan umat manusia. Islam juga sanggup memenuhi apa yang menjadi kebutuhan mereka. Hal ini berdasarkan beberapa bukti :

Pertama, Islam sangat perhatian dengan ‘maslahat’ atau kebaikan dalam ajaran-ajarannya.

Kedua, Islam mempunyai prinsip-prinsip dasar dan kaidah-kaidah yang mengandung hukum-hukum yang memungkinkan diterapkan umat manusia di setiap zaman dan tempat. Di antara contoh prinsip dasar ini adalah : ‘Prinsip Musyawarah’, ‘Prinsip Persamaan’, ‘Prinsip Keadilan’, dan ‘Prinsip Tidak Boleh Membahayakan Orang lain’.

Ketiga, Islam mempunyai sumber-sumber hukum yang dengannya menjadikan ajaran-ajaran Islam ‘fleksibel’ dan bisa menyesuaikan perkembangan zaman. Sumber hukum Islam ada yang merupakan sumber pokok, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dan ada sumber hukum yang merupakan percabangan dari keduanya. Misalnya dalil yang diistilahkan dengan ‘ijma’ (kesepakatan ulama), atau sarana untuk ‘ijtihad’, misalnya ‘qiyas’.

Maka dengan sumber-sumber hukum ini Islam mampu menentukan hukum dan sikap untuk kejadian-kejadian yang ada di setiap zamannya, yang sebelumnya tidak ada di zaman Nabi.

Islam Mendorong Untuk Menjadi yang Terbaik dan Realistis

Termasuk keistimewaan ajaran Islam adalah ajarannya yang mendorong seorang muslim untuk menjadi yang ‘terbaik’. Akan tetapi di sisi lain Islam juga ‘realistis’, dalam arti tetap memperhatikan kenyataan yang ada pada diri manusia. Seorang muslim dituntut meraih tingkatan ‘paling sempurna’ dalam setiap amalan, sesuai dengan kemampuan yang dia miliki. Islam mengajarkan untuk bersikap ‘seimbang’, yaitu tidak melampaui batas dan tidak meremehkan.

  1. Pokok Ajaran Islam

Para ulama Islam dari zaman ke zaman menegaskan bahwa inti ajaran Islam adalah mendatangkan kebaikan dan menolak keburukan.

Imam Al-‘Izz bin ‘Abdus Salam berkata :

إِنَّ الشَّرِيْعَةَ كُلُّهَا مَصَالِحٌ؛ إِمَّا دَرْءُ مَفَاسِد، أَوْ جَلْبُ مَصَالِح

“Sesungguhnya syariat Islam semuanya adalah kebaikan; adakalanya menolak keburukan-keburukan atau mendatangkan kebaikan-kebaikan.”

Allah berfirman :

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (Al-Anbiya’ : 107)

Syaikh ‘Abdul Karim Zaidan mengataan bahwa ayat ini adalah salah satu dalil yang menunjukkan inti ajaran Islam yaitu mendatangkan maslahat dan menolak keburukan. Inilah yang dimaksud ‘rahmat’ untuk semester alam, yang karenanya Nabi Muhammad diutus.

Kemudian ulama mengatakan bahwa ‘maslahat’ ada tiga macam ; pertama, maslahat yang bersifat ‘darurat’, dalam arti harus dan wajib ada masalahat ini. Kedua, maslahat yang bersifat ‘kebutuhan’, yang diistilahkan dengan ‘maslahah hajiyyah’. Dan yang ketiga, maslahat yang sifatnya ‘tambahan’, yang diistilahkan dengan ‘maslahah tahsiniyyah’.

Semua ajaran Islam ada untuk mewujudkan tiga maslahat ini. Dengan demikian kebahagiaan manusia bisa terealisasi di dunia maupun di akherat.

 

Fajri Nur Setyawan, Lc

Sumber :

Kitab ‘Ushul Ad-Da’wah’; Dr. ‘Abdul Karim Zaidan

 

 

 

 

 




SABAR DAN  BERMURAH HATI

SABAR DAN  BERMURAH HATI

 

Diriwayatkan oleh Abu Ya’la dalam Musnad-nya, dan Ibnu Abi Syaibah dalam Mushonaf-nya, dari Sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhuma:

أنّ النَّبيّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- سُئِل: أيُّ الإيمان أفضل؟ قال: الصَّبر والسَّماحة

Bahwasanya nabi sallallahu alaihi wa sallam suatu hari ditanya tentang Iman yang bagaimanakah yang paling utama? Maka beliau shallallahu alaihi wa sallam bersabda : ” Sabar dan murah hati “.

Hadist ini adalah hadits yang derajatnya hasan yang sah riwayatnya dari nabi shallallahu alaihi wa sallam dan memiliki jalur riwayat yang lain yang menguatkan.

Diantaranya yang diriwayatkan oleh sahabat Ubadah ibnu Shomith radhiyallahu ‘anhu yang dibawakan oleh Imam Ahmad dalam Musnad nya no : 22717.

Diantaranya yang diriwayatkan oleh sahabat Amrin ibnu Absah radhiyallahu ‘anhu yang tercantum dalam kitab Musnad Imam Ahmad no : 19435.

Diantaranya pula yang diriwayatkan oleh sahabat Qotadah Al-Laitsy radhiyallahu ‘anhu yang dibawakan oleh Imam Al-Hakim dalam kitab Mustadrak nya : 3 / 626.

Tentu sebagian dari kita bertanya-tanya:  Mengapa sabar dan murah hati memiliki kedudukan yang tinggi dari perkara iman dan begitu istimewa dalam cakupan agama. ..?

Jawabannya adalah: Bahwasanya sabar dan murah hati adalah perangai jiwa manusia yang sangat dibutuhkan dalam seluruh sendi – sendi agama dan segenap maslahat yang berkaitan dengan amalan atau perbuatan.

Maka sesungguhnya tidak dapat seseorang meninggalkan sabar dan murah hati dalam segala urusan, sehingga dibutuhkan dalam semua perkara yang bersangkutan dengan perkara agama.

Oleh karena itu Al-Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata :

وهـذا من أجمع الكَلام وأعظمه بُرهانًا وأوعبه لمقامات الإيمان من أوّلها إلى آخرها؛ فإنَّ النَّفس يُراد منها شيئان:

* بذْل ما أُمِرت به وإعطاؤه، فالحامل عليه السَّماحة.

* وترك ما نُهيت عنه والبُعد منه فالحامل عليه الصَّبر

“Dan ini merupakan ungkapan yang paling sederhana lagi memiliki makna yang dalam yang sangat agung, yang sangat terang dan luas dalam cakupan agama dari pertama hingga paling terakhir, dikarenakan jiwa manusia dituntut dua perkara, yaitu :

  • Berusaha menunaikan sesuatu yang diperintahkan sehingga membutuhkan untuk bermurah hati agar mampu melaksanakan.
  • Meninggalkan sesuatu yang dilarang dan berusaha untuk menjauhi nya, maka ini membutuhkan kesabaran.

وقد سُئل الحسن البصري -رحمه الله تعالى- وهو أحد روَّاة هـذا الحديث قيل له: ما الصَّبر وما السَّماحة؟

قال: ((الصبر عن معصية الله، والسماحة بأداء فرائض الله عز وجل)) رواه أبو نعيم في الحلية (2/156(

Al-Imam Al – Hasan Al-Basri rahimahullah – salah satu perawi hadist ini – pernah ditanya tentang arti : sabar dan murah hati.. .?

Maka beliau menjawab : “Sabar dari tergiur untuk bermaksiat kepada Allah Ta’ala, dan murah hati tatkala menjalankan kewajiban yang Allah Ta’ala fardhukan “. (HR. Abu Nuaim dalam Al-Hilyah 2 / 156).

Jika kita merenungkan tentang hadits yang agung ini dan kandungan-nya yang sangat agung, maka sesungguhnya hadits ini mencakup seluruh perkara agama semuanya, dikarenakan seorang mukmin senantiasa diperintahkan untuk melakukan perbuatan ketaatan dan ibadah yang beraneka ragam dan ini membutuhkan untuk bermurah hati. Dan asal kata murah hati adalah mudah, semangat dan tekun, jika hati seseorang sedemikian rupa keadaannya maka niscaya ia akan tunduk dan patuh serta mampu merealisasikan segala perintah dan tidak membantah atau menolak.

Dan jiwa manusia juga diperintahkan untuk menjauhi dan meninggalkan segala larangan dan bentuk – bentuk maksiat, sehingga ia membutuhkan kepada kesabaran.

Dan arti sabar adalah mencegah serta  menahan diri, jika jiwa ini tidak mampu mencegah dan menahan diri maksiat  maka niscaya ia akan terjerumus dan terjebak dari apa yang telah Allah Ta’ala larang.

وبهذا يُعلم أنَّ من لا صبر عنده لا يستطيع أن يقاوم، ومن لا سماحة لديه لا يستطيع أن يقوم.

Dengan demikian maka diketahui bahwasanya orang-orang yang tidak memiliki kesabaran maka ia tidak mampu untuk menahan diri, dan barangsiapa yang tidak bermurah hati maka ia tidak akan mampu melaksanakan tugas dan perintah.

نعم من لا صبر عنده لا يستطيع أن يقاوم النَّفس من رعونتها عند حلول البلاء، ولا يستطيع أن يقاوم النَّفس من انفلاتها عند دواعي الشَّهوات والأهواء.

Memang benar, barangsiapa yang tidak memiliki kesabaran maka ia tidak mampu untuk menahan diri tatkala dihadapkan kepada ujian dan cobaan, dan tidak dapat membentengi diri ketika syahwat dan hawa nafsu bergejolak.

ومن كان لا سماحة لديه لا يستطيع أن يقوم؛ لأنّ نفسه غير السمحة لا تنهض للقيام بالأوامر والاستجابة لداعي الطَّاعات، فإذا دُعيت نفسه إلى طاعة شحَّت، وإذا أُمرت بفضيلة تأبَّت، وبهذا يكون من المحرُومين.

Dan demikian juga jika seseorang tidak bermurah hati maka ia tidak dapat membentengi diri, karena jiwanya tidak memiliki kelonggaran sehingga tidak mampu untuk melakukan suatu perintah ketaatan dan memenuhi panggilan kebajikan, jika ia diajak berbuat taat maka ia akan berat, dan jika diperintahkan untuk perkara yang memiliki keutamaan niscaya ia akan meronta, sehingga ia tergolong sebagai orang-orang yang terharamkan kebajikan.

فمن لا صبر عنده ولا سماحة لا يتأتى له النُّهوض بمصالحه والقيام بأعماله والامتناع عمَّا ينبغي عليه الامتناع منه.

Maka barangsiapa yang tidak memiliki kesabaran dan murah hati maka ia tidak akan bangkit untuk menggapai kebaikan dan menunaikan amalan amalan, dan menghindari apa yang menjadi larangan bagi jiwanya.

فما أحوجنا إلى أن نكون من أهل الصّبر والسّماحة لتنهض نفوسنا قيامًا بطاعة الله جلَّ وعلا، ولتمتنع نفوسنا عمَّا نُهيت عنه من المحارم والآثام، والتَّوفيق بيد الله وحده لا شريك له، فنسأله سبحانه ونلجأ إليه وحده متوسِّلين إليه بأسمائه الحُسنى وصفاته العُليا أن يمنَّ علينا بهـذا الإيمان العظيم: الصّبر والسّماحة.

Maka alangkah butuhnya diri kita untuk menjadi golongan orang-orang yang sabar dan murah hati sehingga kita mampu untuk menegakkan segala perintah ketaatan kepada Allah Ta’ala dan menjauhi segala bentuk larangan dan dosa, dan sesungguhnya hidayah taufik semata-mata di tangan Allah Ta’ala dan tiada sekutu bagi-Nya, maka kita sepantasnya memohon dan berharap kepada Allah Ta’ala dengan bertawasul melalui nama-nama Allah Yang Indah dan sifat-sifat-Nya Yang Agung, agar kita diberikan limpahan iman, sabar dan murah hati.

 

Asy-Syaikh Prof.DR Abdurrozak Al-Badr hafidhohullah Ta’ala.

Alih Bahasa : Ust. Rochmad Supriyadi,  Lc.




Tiga Akhlak Mulia Nabi Di Dalam Satu Ayat

Tiga Akhlak Mulia Nabi Di Dalam Satu Ayat

  

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (At-Taubah : 128)

Ayat yang Membahas Akhlak Nabi Muhammad

Ayat ini menggambarkan kesempurnaan akhlak Nabi ﷺ. Sebagaimana yang dikatakan oleh syaikh Jabir Al-Jazairi di dalam kitab ‘Aisarut Tafasir’:

بَيَانُ كَمَالِ أَخْلاَقِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Ayat ini berisi penjelasan tentang sempurnanya akhlak Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Nabi Muhammad ﷺ adalah anugerah bagi orang-orang beriman dan rahmat bagi semesta alam. Seperti yang dikatakan oleh Imam Ibnu Katsir ketika membuka tafsir ayat ini:

يَقُولُ تَعَالَى مُمْتَنًّا عَلَى الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَرْسَلَ إِلَيْهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ

“Allah Ta’ala berfirman, dengan menampakkan anugerah Nya yang berupa diutusnya seorang Rasul kepada mereka, dari golongan mereka sendiri.”

Orang-orang Musyrik Mekah Sangat Mengenal Kemuliaan Akhlak Nabi

 Orang-orang musyrik mulai membenci Nabi ketika diajak hanya menyembah Allah dan meninggalkan berhala; mereka ini sebenarnya sangat mengenal Nabi. Mereka mengetahui bagaimana akhlak mulia Nabi. Mereka sangat paham bahwa Nabi orang yang jujur. Nabi bisa dipercaya, dan bukan tipe orang yang ‘haus’ kekuasaan.

Hal ini ditunjukkan firman Allah:

رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ

“… Rasul dari kaummu sendiri …”

Ada ulama ahli tafsir yang mengatakan, maknanya adalah Nabi Muhammad ﷺ itu termasuk orang yang sangat kalian kenal. Ada juga ulama yang mengatakan, maksudnya adalah Nabi Muhammad ﷺ berasal dari jenis yang sama dengan kalian, yaitu sama-sama manusia.

Syaikh As-Sa’di menjelaskan, hikmahnya adalah semua manusia sanggup meneladani dan mencontoh Nabi Muhammad ﷺ . Karena Nabi Muhammad ﷺ juga berasal dari jenis manusia. Bukan malaikat ataupun jin.

Nabi Mendapat Kehormatan Memasang Hajar Aswad

 Ada peristiwa penting sebelum Nabi Muhammad ﷺ diperintah Allah menjadi seorang Rasul. Tepatnya di usia 35 tahun. Yaitu ketika orang-orang musyrik Mekah merenovasi Ka’bah. Di situ nampak sekali bagaimana orang-orang musyrik Mekah sangat menghormati Nabi.

Imam Ibnu Katsir di dalam kitabnya ‘Al-Fushul Fi Siratir Rasul’ menceritakan:

Ketika Nabi Muhammad ﷺ memasuki usia ke 35, orang-orang musyrik Mekah merenovasi Ka’bah. Setelah beberapa saat, proses renovasi hampir selesai. Hanya tersisa satu pekerjaan yang sangat penting, yang semua menginginkannya, yaitu memasang ‘hajar aswad’.

Mereka berselisih, siapa yang memasangnya. Mereka semua menginginkannya, karena mereka sangat menghormati Ka’bah dan Hajar Aswad. Karena hal itu akhirnya mereka menyepakati, bahwa yang memasangnya adalah ‘seseorang’ yang lewat di sini.

Setelah menunggu beberapa saat, ternyata yang lewat ketika itu adalah Nabi Muhammad ﷺ. Spontan mereka mengatakan:

جَاءَ الأَمِيْنُ

“Telah datang orang yang sangat bisa dipercaya.”

Setelah mendengar penjelasan mereka, Nabi Muhammad ﷺ tidak langsung memasang hajar aswad. Ketika itu terlihat sekali kebijaksanaannya. Di mana beliau meminta diambilkan kain besar, kemudian hajar aswad diletakkan di atasnya, dan semua perwakilan dari masing-masing kabilah bersama-sama mengangkat dan Nabi mengambil hajar aswad dari kain tersebut, lalu memasangnya di Ka’bah.

Nabi Muhammad Sangat Sedih Jika Ada Umatnya yang Kesusahan

 Allah berfirman:

عَزِيْزٌ عَلَيْه مَا عَنِتُّم

“Terasa berat olehnya penderitaanmu …”

Perasaan Nabi Muhammad ﷺ sangat halus. Akan tetapi bukan sekedar perasaan halus. Lebih dari itu perasaan yang dibarengi ilmu yang lurus. Ketika ada yang menolak ajakannya untuk beriman kepada Allah dan akherat, Nabi sangat sedih. Bukan karena merasa ‘gagal’ dalam berdakwah, akan tetapi karena Nabi mengetahui bahwa dengan sebab kekafiran, seseorang akan mendapatkan kesusahan, baik di dunia, terlebih lagi di akherat.

Berkaitan dengan makna penggalan ayat di atas, Ibnul Jauzi di dalam kitab ‘Zadul Masir’, mengatakan bahwa ada dua pendapat ulama ahli tafsir:

Pertama, hal-hal yang membuat susah umatnya, juga membuat susah Nabi Muhammad ﷺ .

Kedua, penolakan dakwah dari orang-orang yang diajak beriman, membuat Nabi ﷺ sedih.

Oleh karena itu selain sangat gigih dalam berdakwah, Nabi Muhammad ﷺ juga dikenal sangat senang membantu fakir miskin. Nabi dikenal sangat dermawan. Perumpamaan kedermawanan Nabi seperti angin yang berhembus ke segala arah. Hingga ada yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah orang yang suka memberi dan tidak takut miskin.

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan:

“Nabi adalah orang yang paling dermawan. Dan paling dermawannya Nabi adalah ketika di bulan Ramadhan.”

Bahkan ketika ada yang meminta kepada Nabi sesuatu, dan saat itu Nabi tidak punya apa-apa, maka Nabi mengatakan kepadanya:

“Aku (saat ini) tidak punya sesuatu yang bisa diberikan. Beli-lah sesuatu atas nama aku. Jika ada uang, aku akan membayarnya.” (Riwayat Tirmidzi, di dalam kitab ‘Asy-Syamail’)

Ajaran Agam Islam Tidak Menyusahkan Umatnya

 Menurut Imam Ibnu Katsir, berdasarkan firman Allah: “Terasa berat olehnya penderitaanmu”,  bisa diambil kesimpulan bahwa ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad tidak ada yang menyusahkan umatnya.

Ibnu Katsir mengatakan:

وَشَرِيعَتَهُ كُلَّهَا سَهْلَةٌ سَمْحَةٌ كَامِلَةٌ، يَسِيرَةٌ عَلَى مَنْ يَسَّرَهَا اللَّهُ تَعَالَى عَلَيْهِ

“Ajaran Islam seluruhnya mudah, lapang dan sempurna. Mudah bagi siapa saja yang diberi kemudahan oleh Allah ta’ala.”

Nabi Muhammad Bahagia Ketika Umatnya Bahagia

 Salah satu sifat yang menggambarkan ketulusan Nabi adalah merasa senang ketika umatnya senang. Allah berfirman:

حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ

“Sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu …”

Disebutkan di dalam kitab ‘Tafsir Jalalain’, makna ayat ini adalah Nabi Muhammad sangat menginginkan kita semua mendapatkan hidayah.

Adapun menurut Imam Ibnu Katsir, makna ayat ini luas, mencakup kebaikan dunia maupun akherat. Imam Ibnu Katsir mengatakan:

أَيْ: عَلَى هِدَايَتِكُمْ وَوُصُولِ النَّفْعِ الدُّنْيَوِيِّ وَالْأُخْرَوِيِّ إِلَيْكُمْ

“Maksudnya adalah Nabi sangat menginginkan kalian mendapat hidayah dan sangat menginginkan kebaikan dunia dan akherat sampai pada kalian.”

Hal ini dibuktikan dengan usaha keras Nabi dalam berdakwah, yang tidak mengenal lelah, seberat apapun rintangan dan hambatannya. Setelah pamannya yang bernama Abu Thalib meninggal, orang-orang musyrik semakin berani kepada Nabi Muhammad  ﷺ. Sehingga dakwah di dalam Mekah mengalami hambatan. Hingga akhirnya Nabi mencoba berdakwah di luar Mekah. Salah satunya ada berdakwah di daerah yang bernama Tha-if.

Ketika Nabi dakwah ke daerah Tha-if, Nabi mengalami cobaan yang sangat berat. Karena penduduk Tha-if bukan hanya menolak dakwah. Akan tetapi mereka juga menyakiti Nabi. Mereka semua, dari yang tua hingga yang muda, bahkan anak-anak, berkumpul di pinggir jalan yang dilewati Nabi Muhammad ﷺ. Lalu mereka melempari Nabi dengan batu. Namun Nabi tidak putus asa karenanya. Dari sini sangat jelas terlihat bagaimana kesungguhan dan ketulusan Nabi Muhammad ﷺ.

Fajri Nur Setyawan, Lc




Nasehat Untuk Yang Shalatnya Cepat

[A] – Tergesa-gesa Adalah Salah Satu Sifat yang
Tidak Baik

Allah
Ta‘ala berfirman:

(( خُلِقَ اْلإِنسَانُ مِنْ عَجَلٍ سَأُورِيكُمْ ءَايَاتِي فَلاَ
تَسْتَعْجِلُونَ ))

“Manusia
telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa. Kelak akan Aku perIihatkan kepadamu
tanda-tanda azab-Ku. Maka, janganlah kamu minta kepada-Ku mendatangkannya
dengan segera!”
[QS. Al Anbiyaa’: 37]

Betapa banyak urusan duniawi terbengkalai karena sifat ini, betapa
sering kecelakaan di jalan raya sebabnya adalah tergesa-gesa, betapa banyak
tugas yang tidak terselesaikan lantaran tergesa-gesa dan masih banyak lagi dari
urusan-urusan duniawi lainnya yang terbengkalai.

Jika kita mengakui betapa besar kerugian yang menimpa orang yang
tergesa-gesa dalam urusan duniawi, maka bagaimana sekiranya dia tergesa-gesa
dalam melaksanakan urusan-urusan agamanya, seperti shalat?

Tentu lebih besar kerugian yang dia dapatkan. Dia memang shalat,
hanya saja dia shalat dengan cepat dan tergesa-gesa.

[B]- Perintah untuk Mengulangi Shalatnya

Dari
Abu Hurairah radhiyallahuanhu:

“Suatu
hari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam masuk masjid. Lalu,
seseorang masuk masjid dan shalat, kemudian mendatangi Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam
, lantas mengucapkan salam kepada beliau shallallahu
‘alaihi wasallam
.

Maka,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab salamnya, lalu bersabda,
 ‘Kembali dan shalatah, karena
sesugguhnya kamu belum shalat!’

Lalu,
orang tadi kembali dan shalat sebagaimana sebelumnya, kemudian kembali kepada
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan memberi salam kepada beliau shallallahu
‘alaihi wasallam
.

Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya, ‘Alaikassalam.’

Kemudian
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Kembalilah dan shalatlah,
karena sesungguhnya engkau belum shalat!’

Hingga
orang tadi melakukannya tiga kali, lalu berkata: ‘Demi (Allah) yang mengutusmu
dengan (membawa) kebenaran, aku tidak bisa shalat yang lebih baik dari ini,
maka dari itu ajari aku!’

Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Jika engkau hendak shalat,
maka bertakbirlah; kemudian baca surat dari Al Qur-an yang mudah yang kamu
hafal; kemudian ruku’-lah, hingga kamu tenang dalam posisi ruku’; kemudian
angkat (kepalamu), hingga kamu tenang dalam posisi berdiri; kemudian sujud-lah,
hingga kamu tenang dalam posisi sujud; kemudian duduklah, hingga kamu tenang
dalam posisi duduk; kemudian lakukan seperti ini dalam shalatmu semuanya.’
.”[HR.
Abu Dawud, no. 856]

Hadits
ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Al Bukhari, Muslim, Ibnu Majah, At Tirmidzy
dan An Nasaa-i.

Dalam kitab Aunul Ma’bud penjabaran dari Kitab Sunan Abu Dawud
halaman 426 disebutkan:

“Dengan
hadits ini diambil satu dalil akan wajibnya ‘tuma’ninah’ (tenang) pada
semua rukun shalat dan dengan (pendapat) inilah jumhur ulama (mayoritas ulama)
berpendapat.”

Bahkan,
dalam Kitab At Taqrib, salah satu kitab fiqh yang terkenal di kalangan ‘Syafi’iyyah’
disebutkan:

“Dan
rukun-rukun shalat ada 18 rukun, (yaitu): (1) Niat; (2) Berdiri, jika mampu;
(3) Takbiratul ihram; (4) Membaca Al Fatihah dan ‘Bismillahirrahmanirrahim’
termasuk ayat dari Surat Al Fatihah; (5) Ruku’; (6) Tuma’ninah (tenang) saat
ruku’; (7) Mengangkat kepala setelah ruku’ dan i’tidal; (8) Tuma’ninah  saat i’tidal; (9) Sujud; (10) Tuma’ninah
saat sujud; (11) Duduk antara dua sujud; (13) Tuma’ninah saat duduk
antara dua sujud; (14) Duduk terakhir; (15) Tasyahhud dan shalawat kepada Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam
saat duduk terakhir; (16) Salam yang pertama; (17) Niat
keluar dari shalat; (18) Tertib (urut) dalam melaksanakan seluruh rukun,
sebagaimana yang telah disebutkan.”

[C] -Shalat Cepat Adalah Shalatnya Orang
Munafik

Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Itu adalah shalatnya orang munafik, ia duduk-duduk mengintai
matahari, hingga ketika matahari berada di atas dua tanduk setan dia berdiri
shalat dan melakukannya dengan cepat sebanyak 4 rakaat, tidak mengingat Allah
di dalamnya, kecuali sedikit sekali.”
[HR. Muslim]

[D] – Shalat Cepat Mengakibatkan Tidak Khusyu’

Sebagian para ulama terdahulu menjelaskan, bahwa khusyu’
dalam shalat artinya (اَلسُّكُنُ فِيْهَا) ‘as sukunu fihaa’, yaitu tenang di dalam shalat. Khusyu’
tidak hanya dalam hati, tapi juga di badan. Maka orang yang khusyu’,
adalah ‘orang yang tenang hati dan anggota badannya ketika shalat’. Dengan
kata lain, orang yang khusyu’ adalah ‘orang yang mampu menghadirkan
hatinya ketika shalat’
. Yang dengan hadirnya hati, maka anggota badanpun
tenang. [Taudhihul Ahkam (1/453)]

Tentu orang yang cepat shalatnya tidak bisa meraih kekhusyu’an,
sebagaimana mereka yang mendambakan Surga Firdaus. Karena khusyu’ ternyata
identik dengan ketenangan. Bahkan, khusyu’ adalah ruh-nya shalat.

Dalam
Kitab Mukhtashar Minhajul Qashidin disebutkan:

“Shalat
tanpa khusyu’ dan tanpa hadirnya hati (konsentrasi), seperti tubuh yang telah
menjadi mayat, tidak ada ruh di dalamnya.”

[E] -Shalat Cepat Menggambarkan Tidak Beradab
di Hadapan Allah

Perlu diketahui, bahwa orang yang shalat pada hakekatnya dia sedang
berdiri di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam
bersabda:

“Ketika salah seorang diantara kamu shalat, sesungguhnya
dia sedang bermunajat dengan Rabbnya, atau Rabbnya diantara dirinya dan kiblat…”
[HR. Al Bukhari, Kitabush Shalah, Bulughul Maram, no.
193]

Jika di hadapan orang yang kita hormati saja kita menjaga kesopanan
dan ketenangan dalam ucapan maupun perbuatan, maka di hadapan Allah lebih pantas
untuk tenang dalam ucapan maupun gerakan. Karena yang seperti ini menunjukkan
adab dan hormat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, semua
perbuatan yang menunjukkan ketidakhormatan saat shalat terlarang.

Dari
Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu, beliau berkata:

أَنَّهُ – صلى الله عليه وسلم- نَهَى أَنْ يُصَلِّىَ
الرَّجُلُ مُخْتَصِرًا

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam melarang seseorang shalat mukhtashiran (tangan diletakkan di pinggang).”
[HR. Al Bukhari dan Muslim]

Para ulama mengatakan, bahwa perbuatan seperti ini dilarang, karena
di dalamnya terdapat unsur kesombongan dan juga menyerupai orang Yahudi. Sedangkan
ketika shalat, kita menghadap kepada Allah Yang Maha Mulia, sehingga
kita dilarang berlagak sombong di hadapan-Nya. Sehingga kita mengetahui, bahwa
ketika shalat, wajib menampakkan ketundukan dan kerendahan diri kita kepada
Allah Subhanahu wa Ta’ala. [Taudhihul Ahkam (1/455)]

Imam
Ahmad rahimahullah pernah ditanya, apa makna sedekap ketika shalat?

Beliau
rahimahullah menjawab:

ذِلٌّ
بَيْنَ يَدَيِّ اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ

“Merendahkan
diri di hadapan Allah Yang Maha Mulia dan Maha Perkasa.” [Kitab Mawa’izh Al Imam
Ahmad bin Hanbal, hal. 55]

[F] – Shalat Cepat Mengakibatkan Tidak Bisa
Memahami Bacaan Shalat Serta Menghayatinya

Memahami bacaan shalat, baik surat, doa, maupun dzikir yang dibaca
ketika shalat merupakan perkara yang membantu untuk khusyu’ dalam
shalat. Orang yang cepat shalatnya dapat dipastikan tidak bisa memahami dan
menghayati bacaan shalat. Dan tidak memahami bacaan shalat termasuk salah satu
bentuk shalatnya orang munafik. Allah Ta’ala berfirman:

(( إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ
وَإِذَاقَامُوا إِلَى الصَّلاَةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَآءُونَ النَّاسَ
وَلاَيَذْكُرُونَ اللهَ إِلاَّ قَلِيلاً ))

“Dan
apabila mereka (orang-orang munafik) berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan
malas. Mereka bermaksud riya’ (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah
mereka mengingat Allah, kecuali sedikit sekali.”
[QS.
An Nisaa, 142]

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

“Maksudnya,
mereka tidak khusyu’ dalam shalatnya, tidak memahami apa yang mereka ucapkan
(dari bacaan-bacaan shalat), bahkan mereka lalai dalam shalatnya serta tidak
serius. Dan mereka berpaling (tidak berminat) terhadap kebaikan yang dijanjikan
kepada mereka.”

[G] – Alasan Orang yang Shalatnya Cepat dan
Jawaban Untuk Mereka

Diantara alasan orang yang shalatnya cepat adalah agar konsentrasi
dan tidak memikirkan sesuatu di dalam shalat. Mereka menyamakan orang yang
shalat dengan orang yang naik sepeda? Laa haula walaa quwwata illaa billaah…

Kita mengetahui, bahwa orang yang naik sepeda dengan cepat, niscaya
sampai pada tempat tujuan dengan lebih cepat, sedangkan orang yang naik sepeda
dengan perlahan, atau pelan tidak sampai ke tempat tujuan dengan segera, karena
seringnya dia melihat ke kanan dan ke kiri. Inikah alasan mereka?

Kita katakan, bahwa orang yang shalat cepat (tergesa-gesa) tidak
mungkin bisa konsentrasi. Karena konsentrasi yang dimaksud adalah seseorang
bisa mengingat Allah saat shalat, mengingat mati dan memahami, serta menghayati
bacaan shalat. Konsentrasi itu bukanlah mengosongkan pikiran, karena tidak
mungkin ada yang bisa mengosongkan pikiran, kecuali orang yang telah hilang
akalnya.

Suatu kesalahan yang sangat fatal berdalil dengan akal, atau logika
semata untuk urusan agama, terlebih lagi menyangkut Rukun Islam ke-dua, yaitu
shalat. Seharusnya orang yang beriman itu berdalil dengan menggunakan firman
Allah, maupun hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Sedangkan hadits-hadits
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan, bahwa wajib tenang dalam
shalat.

Perlu diketahui, yang pertama kali menggunakan logika untuk melawan
dalil dari Allah adalah Iblis. Yaitu, ketika dia diperintah Allah untuk sujud
penghormatan kepada Adam, ia menolak seraya mengatakan, “Aku lebih baik
dari-nya (Adam). Engkau ciptakan aku dari api sedangkan ia Engkau ciptakan dari
tanah.”

Lihatlah! Iblis menggunakan logika, padahal firman Allah ada di
depan mata. Yang pada akhirnya dia (Iblis) rusak logikanya. Karena, bukankah
tanah lebih baik dari api?
Betapa banyak tumbuh-tumbuhan yang tumbuh di
atasnya. Belum lagi, jika kita menggali kekayaan alam yang ada di dalam tanah. Bukankah
kita semua berpijak di atas tanah?

Seandainya logika mereka diterima. Kita katakana, bahwa orang yang
mengendarai sepeda dengan cepat beresiko tinggi kecelakaan di jalan.
Sebagaimana juga orang yang cepat shalatnya, celaka di dalam shalatnya. Karena
menurut Ibnu Katsir rahimahullah salah satu gambaran orang yang celaka
dalam shalatnya yang disebutkan dalam Surat Al Ma’un adalah yang shalat, akan
tetapi tidak mengerjakan rukun-rukun shalat. Salah satu rukun shalat adalah tuma’ninah
(tenang dalam ruku’, i’tidal, sujud, dll).

Ada alasan lain yang diutarakan orang yang shalatnya cepat, yaitu hadits
shahih tentang shalat sunnah dua rakaat sebelum subuh. Disebutkan dalam hadits,
bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakannya dua rakaat
dengan ringan. Shalat ringan yang dimaksud bukanlah shalat yang cepat. Shalat
yang ringan yang dimaksud adalah shalat dengan tidak panjang, membaca surat
yang pendek. Oleh karena itu, dalam riwayat disebutkan, bahwa Nabi Muhammad shallallahu
‘alaihi wasallam
pada rakaat pertama membaca Al Kafirun dan pada rakaat ke-dua
membaca Surat Al Ikhlash. Dan perlu diketahui, ringannya shalat Nabi Muhammad shallallahu
‘alaihi wasallam
tidak sama dengan ringannya shalat kita.

|
Wallahu a’lam bish-shawab

| Oleh: Fajri N.S.

Donwload PDF




Kepemimpinan Suami dan Sifat Istri Shalihah

الرِّجَالُ
قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ
وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ
لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ
فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ
أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا
كَبِيرًا

“Kaum laki-laki
(para suami) itu adalah pemimpin bagi kaum wanita (para istri), oleh karena
Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain
(wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta
mereka.Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi
memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara
(mereka) …” (An-Nisaa’ : 34)

Kandungan Ayat
dan Kaitannya dengan Ayat-ayat Sebelumnya

Ayat-ayat
sebelumnya menjelaskan tentang hukum-hukum berkaitan dengan warisan. Kemudian
tentang wanita-wanita yang haram dinikahi. Kemudian di ayat ini Allah
menjelaskan tentang hak-hak dari masing-masing pasangan suami istri. Sekaligus
bimbingan untuk suami dalam menghadapi istri yang membangkang, dengan cara-cara
yang diridhai Allah.

Tafsir Ayat

Menurut syaikh As-Sa’di, ayat ini
adalah pemberitahuan sekaligus perintah. Pemberitahuan bahwa
suami adalah pemimpin istri karena beberapa sebab. Dan perintah agar suami
memimpin istri dengan baik. Syaikh As-Sa’di menjelaskan bahwa suami memimpin
istri dalam urusan dunia maupun urusan agama.

Urusan dunia misalnya urusan yang
berkaitan dengan nafkah, pakaian, tempat tinggal, dan hal-hal yang berkaitan
dengan itu semua.

Sedangkan urusan agama misalnya:

  • Memerintah
    istri untuk melaksanakan hak-hak Allah dan kewajiban-kewajiban agama.
  • Mencegah
    istri dari berbuat maksiat dan hal-hal jelek lainnya.
  • Memperbaiki
    keadaan istri dengan mengajarinya akhlak mulia serta adab-adab yang manfaat.

Kedudukan suami ini adalah anugerah
dari Allah sekaligus amanah yang wajib ditunaikan dengan baik. Dan suami
mendapatkan kedudukan yang tinggi seperti ini karena dua hal:

Pertama, kelebihan-kelebihan yang Allah berikan kepada mereka.

Ke dua, kebaikan-kebaikan yang mereka lakukan. Terutama kepada istri
mereka.

Contoh kelebihan-kelebihan dari
Allah adalah kekuatan fisik, akal, pemahaman dan kesabaran. Maka secara umum
para lelaki melebihi para wanita dalam hal ini.

Contoh kebaikan-kebaikan yang mereka
lakukan adalah seperti mahar yang mereka berikan kepada istri saat akad nikah. Begitu
juga nafkah selama hidup bersamanya. Dan juga kebaikan suami yang sifatnya
umum, seperti sedekah, infak dan lain-lain. Maka
secara umum, para suami kebaikannya lebih banyak dari para istri.

Oleh karena itu, banyak
kewajiban-kewajiban syari’at yang ditugaskan hanya untuk para lelaki. Seperti
kewajiban berjihad, kewajiban shalat Jum’at. Dan semua bentuk ‘perwalian’ hanya
untuk para lelaki. Bahkan para
Nabi dan Rasul, tidak ada yang wanita. Semuanya berasal dari golongan lelaki.

Karena sangat besarnya kedudukan
suami ini, hingga para ulama mengumpamakan seorang suami itu seperti ‘penguasa’
atau ‘majikan’ bagi istrinya. Demikian
ringkasan dari penjelasan syaikh di dalam kitabnya ‘Taisirul Lathifil Mannan’.

Meskipun demikian para suami juga
tidak boleh bertindak semena-mena terhadap istrinya. Nabi bersabda:

كَفَى
بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يَحْبِسَ، عَمَّنْ يَمْلِكُ قُوتَهُ

“Seorang
(suami) dianggap berdosa ketika dia tidak memberikan nafkah kepada siapa saja
yang kebutuhan hidupnya ditanggung olehnya.” (Shahih Muslim, no. 40 (996))

Menurut Imam Muslim, suami yang
menyia-nyiakan istrinya juga berdosa. Hal ini bisa dipahami dari judul bab yang
dicantumkan Imam Muslim di dalam kitab ‘Shahih Muslim’.

Suami Menjaga dan Memperhatikan
Istri

Di dalam kitab ‘Aisarut Tafasir’,
syaikh Abu Bakr Jabir Al-Jazairi menyebutkan kalimat yang singkat, namun
maknanya padat. Dalam menggambarkan kewajiban seorang suami selaku pemimpin:

وَهُوَ مَنْ يَقُومُ عَلَى الشَّيْءِ رِعَايَةً وَحِمَايَةً وَإِصْلاَحاً

“Al-Qawwam (pemimpin) adalah orang yang mengurusi sesuatu dalam
bentuk pemeliharaan, penjagaan dan perbaikan.”

Tentu tugas berat suami ini sedikit
lebih ringan jika dia mampu menjadi contoh yang baik bagi istrinya dalam
kebaikan, sebelum dia memerintah dan mengarahkan.

Kewajiban Nafkah Menyesuaikan
Kemampuan

Di dalam surat Ath-Thalaq, ayat 7:

لِيُنْفِقْ
ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا
آتَاهُ اللَّهُ لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آتَاهَا سَيَجْعَلُ
اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا

“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya.
Dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang
diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang
melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan
kelapangan sesudah kesempitan.”

Di dalam kitab
tafsir ‘At-Tashil Li ‘Ulumit Tanzil’ disebutkan bahwa:

أمر بأن ينفق كل واحد على مقدار حاله، ولا يكلف الزوج ما لا يطيق،
ولا تضيّع الزوجة بل يكون الحال معتدلا. وفي الآية دليل على أن النفقة تختلف
باختلاف أحوال الناس

“Ini adalah perintah kepada
setiap orang untuk memberi nafkah sesuai dengan kondisi keuangannya. Seorang
suami tidak dibebani dengan sesuatu yang tidak dia sanggupi. Dan seorang istri
tidak boleh disia-siakan. Akan tetapi yang benar adalah ‘seimbang’. Dan di
dalam ayat ini ada dalil bahwa besarnya nafkah berbeda-beda, sesuai dengan
perbedaan kondisi manusia.”

Syaikh As-Sa’di di dalam
kitab tafsirnya mengatakan:

لينفق الغني من غناه، فلا ينفق نفقة الفقراء

“Suami yang kaya wajib
menafkahi istri sesuai dengan kekayaannya. Tidak boleh suami yang kaya memberi
nafkah istrinya seperti nafkahnya orang-orang yang miskin.”

Di dalam kitab tafsir
‘Aisarut Tafasir’ ada penjelasan tambahan bahwa seandainya terjadi perselisihan
antara suami istri tentang besarnya nafkah, maka hakim yang menentukannya.

Sifat-sifat Istri
Shalihah

Setelah menyebutkan
tentang kepemimpinan seorang suami, selanjutnya Allah menjelaskan tentang sifat
istri yang shalihah. Di dalam ayat ini ada dua sifat yang Allah sebutkan, yaitu
‘taat’ dan ‘menjaga’.

Allah berfirman:

فَالصَّالِحَاتُ
قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ

“Sebab itu,
maka wanita yang saleh ialah yang taat (kepada
Allah) dan menjaga
(
diri) ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara
(mereka).”

Tentang makna
‘taat’, di dalam kitab tafsir ‘At-Tashil Li ‘Ulumit Tanzil’ ada
penjelasan bahwa maknanya adalah taat kepada suaminya. Atau taat kepada Allah
dengan menunaikan apa yang menjadi hak-hak suami. Maksudnya, ketika dia menaati
suaminya, niatnya adalah dalam rangka menaati Allah. Sehingga dengan ini seorang istri
mendapatkan dua pahala sekaligus. Pahala taat kepada Allah dan taat kepada suami.

Di dalam kitab
tafsir ‘Jalalain’ disebutkan bahwa yang dimaksud dengan sifat ‘taat’
adalah taat kepada suaminya. Sedangkan sifat ‘menjaga’ maksudnya adalah menjaga
kehormatan diri dan yang lainnya, yang wajib dijaga oleh istri.

Di dalam kitab
tafsir ‘Aisarut Tafasir’ ada penjelasan bahwa, termasuk yang wajib dijaga oleh istri adalah harta
milik suaminya
.

Di dalam kitab
tafsir ‘Shafwatut Tafasir’ ada penjelasan bahwa, termasuk yang wajib
dijaga oleh istri adalah rahasia rumah tangganya dengan suaminya.

Termasuk dalam
cakupan makna ‘menjaga’ adalah menjaga keluarga dengan ‘tarbiyah hasanah’ (pendidikan
yang baik). Hal ini seperti yang dijelaskan syaikh As-Sa’di di dalam kitab
tafsirnya.

Kemudian di
akhir ayat ini Allah menjelaskan tentang tuntunan-Nya yang sangat baik dan hikmah untuk suami dalam menghadapi istri
yang tidak lagi mentaati suaminya.

Sungguh
menakjubkan ayat-ayat Allah dan begitu indah hukum-hukumnya. Meskipun hanya potongan satu ayat, akan tetapi
kandungan ayatnya sangat luas dan manfaat untuk kehidupan. Inilah salah satu
bentuk kemukjizatan ayat-ayat Al-Qur’an. Adil hukum-hukumnya dan benar
berita-beritanya.

Fajri Nur Setyawan, Lc
Buletin Al Minhaj Edisi 30, Bulan April 2020 / Sya’ban 1441 H




Doa-Doa Dalam Al-Qur’an

Doa-Doa Dalam Al-Qur’an

Mushaf Al-Qur’an diawali dengan do’a,
dan diakhiri dengan do’a. Surat pertama adalah Al-Fatihah, di dalamnya ada do’a.
Dan surat terakhir adalah An-Naas, di dalamnya juga ada do’a. Hal ini
mengisyaratkan begitu pentingnya doa itu.

Pertama : Doa Memohon Ditunjukkan
‘Jalan yang Lurus’

Do’a
ini ada di dalam surat Al-Fatihah. Yaitu firman Allah:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

“Tunjukilah kami jalan yang lurus.”

Do’a
ini termasuk ayat-ayat yang wajib dibaca setiap muslim ketika shalat. Karena
membaca Al-Fatihah ketika shalat hukumnya wajib, termasuk rukun shalat.

Dengan masuknya seseorang ke dalam
agama Islam, sebetulnya dia telah mendapatkan hidayah. Jika demikian apa maksud
dari do’a
memohon hidayah kepada jalan lurus, setelah mendapatkan hidayah?

Ada ulama yang mengatakan, maksud
dari do’a
ini adalah meminta ‘hidayah tambahan’, berupa ketetapan dan keteguhan dalam
mempertahankan agama Islam. Atau maksudnya adalah meminta ‘hidayah tambahan’ agar
mengerti hukum-hukum Islam yang lebih luas dan terperinci. Sehingga dia menjadi
orang yang ‘alim terhadap agama Islam.

Di dalam kitab tafsirnya, Imam Ibnu
Katsir mencantumkan banyak riwayat tentang tafsir dari ‘jalan yang lurus’. Ada
ulama yang mengatakan, maksudnya adalah Al-Qur’an. Ada juga yang
mengatakan, maksudnya adalah Islam. Ada juga yang mengatakan, maksudnya
adalah Abu Bakar dan Umar. Dan ada yang mengatakan, maksudnya adalah kebenaran.

Menurut Imam Ibnu Katsir beberapa
pendapat tentang makna ‘jalan yang lurus’ ini, tidak bertentangan satu sama
lain. Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

وَكُلُّ هَذِهِ
الْأَقْوَالِ صَحِيحَةٌ، وَهِيَ مُتَلَازِمَةٌ، فَإِنَّ مَنِ اتَّبَعَ النَّبِيَّ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَاقْتَدَى بِاللَّذِينَ مِنْ بَعْدِهِ أَبِي
بَكْرٍ وَعُمَرَ، فَقَدِ اتَّبَعَ الْحَقَّ، وَمَنِ اتَّبَعَ الْحَقَّ فَقَدِ
اتَّبَعَ الْإِسْلَامَ، وَمَنِ اتَّبَعَ الْإِسْلَامَ فَقَدِ اتَّبَعَ الْقُرْآنَ،
وَهُوَ كِتَابُ اللَّهِ وَحَبْلُهُ الْمَتِينُ، وَصِرَاطُهُ الْمُسْتَقِيمُ،
فَكُلُّهَا صَحِيحَةٌ يُصَدِّقُ بَعْضُهَا بَعْضًا، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.

“Semua pendapat ini benar, dan saling berkaitan; karena siapa
yang mengikuti ajaran Nabi Muhammad, dan meneladani dua khalifah setelahnya,
yaitu Abu Bakar dan Umar, maka dia telah mengikuti kebenaran. Dan siapa yang
mengikuti kebenaran, dia telah mengikuti Islam, dan siapa yang mengikuti ajaran
Islam maka dia telah mengikuti Al-Qur’an, yang merupakan kitab Allah dan tali-Nya
yang kuat, serta jalan-Nya yang lurus. Semuanya benar, saling membenarkan satu
sama lain. Alhamdulillah.”

Ke dua : Doa Memohon Diterima Amal Shalihnya

Setelah selesai membangun Ka’bah,
Nabi Ibrahim dan putranya berdo’a:

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ
أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Ya Tuhan
kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar
lagi Maha Mengetahui.” (Al-Baqarah : 127 )

Nabi Ibrahim
mencontohkan kepada kita untuk berdo’a supaya amalan yang sudah dilakukan diterima Allah. Dan supaya berdo’a menggunakan nama-nama Allah yang indah.

Syaikh Jabir
Al-Jazairi, di dalam kitab Aisarut Tafasir mengatakan:

المؤمن البصير في دينه يفعل الخير وهو خائف ألا يقبل منه فيسأل الله
تعالى ويتوسل إليه بأسمائه وصفاته أن يتقبله منه.

“Orang beriman yang paham agamanya, ketika melakukan
kebaikan, dia khawatir jika amalannya tidak diterima Allah. Maka dia meminta
kepada Allah dan bertawasul kepada-Nya,
dengan menggunakan nama-nama dan sifat-sifat-Nya,
agar Dia menerima amal shalihnya.”

Maka kita jangan lupa memohon kepada Allah supaya
berkenan menerima amal kita, setelah kita melakukan amal shalih.

Ke tiga : Berdoa
Memohon Kebaikan di Dunia dan Kebaikan di Akherat

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً
وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di
akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.”

Do’a ini sangat
penting  dan sangat bermanfaat. Syaikh
‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, di dalam kitab tafsirnya mengatakan tentang
do’a ini:

هذا الدعاء، أجمع دعاء وأكمله، وأولاه بالإيثار، ولهذا كان النبي صلى
الله عليه وسلم يكثر من الدعاء به، والحث عليه

“Do’a ini, do’a
yang paling lengkap, paling sempurna dan yang paling berhak diutamakan,
dibandingkan dengan do’a-do’a yang lainnya. Olehakarena
itu Nabi Muhammad sangat sering membaca do’a
ini, dan memotivasi agar membacanya.”

Syaikh Jabir Al-Jazairi di dalam kitab ‘Aisarut
Tafasir’ mengatakan:

فهي جامعة للخيرين معاً، فكان النبي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
إذا طاف بالبيت يختم بها كل شوط.

“Do’a ini adalah do’a
yang menghimpun dua kebaikan sekaligus. Dahulu Nabi Muhammad ketika thawaf,
selalu menutup setiap putaran dengan do’a
tersebut.”

Kebaikan di dunia misalnya : Ilmu yang bermanfaat, amal
shalih, harta yang halal dan luas, istri shalihah, anak yang menyenangkan hati
dan kesenangan-kesenangan halal yang lainnya.

Sedangkan kebaikan di akherat adalah selamat dari
siksa-siksa dan hukuman-hukuman akherat. Seperti siksa kubur, siksa neraka dan
lan-lain. Begitu juga mendaparkan keridhaan Allah dan kenikmatan surga yang
abadi.

Ke empat : Doa
memohon agar tidak tersesat

رَبَّنَا
لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ
رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada
kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada
kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi
(karunia).”(Al-‘Imran : 8)

JIka melihat ayat sebelumnya, do’a
ini dipanjatkan oleh ‘Ar-Rasikhun fil ‘Ilmi’. Imam Al-Wahidi di dalam kitab
tafsirnya mengatakan bahwa ‘Ar-Rasikhuna fil ilmi’ adalah ‘Ats-Tsabituna fihi’,
yaitu orang-orang yang kokoh ilmu agamanya.

Di dalam kitab ‘Aisarut Tafasir’ disebutkan tentang
hikmah ayat ini:

استحباب الدعاء بطلب النجاة عند ظهور الزيغ ورؤية الفتن والضلال

“Dianjurkan do’a
memohon keselamatan ketika munculnya penyimpangan, fitnah-fitnah, dan kesesatan.”

Ke lima : Doa
memohon dianugerahi keturunan yang shalih dan shalihah

رَبِّ
هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

“Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang
baik
. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar do’a.”(Al-Imran
: 38)

Di dalam kitab tafsir ‘Jalalain’ disebutkan bahwa makna ‘anak yang
baik’ adalah anak yang shalih.

Menurut syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’dy di dalam kitab
tafsirnya, yang dimaksud dengan ‘anak yang baik’ adalah:

طاهرة الأخلاق، طيبة الآداب

“Akhlaknya bersih dan adabnya baik.”

Nabi Zakariya ‘alaihis salam memanjatkan do’a
ini karena puluhan tahun beliau belum dikaruniai anak. Tepatnya ketika melihat
maha kuasanya Allah ketika memberi makanan dan minuman kepada Maryam secara
langsung, tanpa perantara, maka Nabi Zakariya semakin bersemangat untuk berdo’a
memohon diberi anak oleh Allah.

Dan tidak lama Allah memberinya kabar gembira melalui
malaikat-Nya bahwa nanti istri Nabi Zakariya akan melahirkan seorang anak yang
bernama Yahya, dan nantinya juga akan menjadi seorang Nabi.

Inilah beberapa contoh untaian do’a
yang termaktub di dalam mushaf Al-Qur’an. Di sana masih banyak untaian do’a
yang lainnya yang menunjukkan betapa pentingnya sebuah do’a
bagi kehidupan orang-orang yang beriman.

Fajri Nur Setyawan, Lc