1

Menjaga Kehormatan Wanita Muslimah

Menjaga
Kehormatan Wanita Muslimah

Wahai saudariku muslimah, wanita adalah kunci kebaikan suatu umat. Wanita
bagaikan batu bata, ia adalah pembangun generasi manusia. Jika kaum wanita
baik, baiklah suatu generasi. Namun sebaliknya, jika kaum wanita rusak, maka
rusak pula generasi tersebut.

Maka, engkaulah, wahai saudariku… Engkaulah pengemban amanah, pembangun
generasi umat ini. Jadilah engkau wanita muslimah yang sejati, wanita yang
senantiasa menjaga kehormatan! Wanita yang menjunjung tinggi hak-hak Rabb-nya.
Yang setia menjalankan sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam..

  1. Wanita dan Laki-Laki Semuanya
    Diciptakan untuk Beribadah

Allah berfirman:

(( وَمَاخَلَقْتُ الجِنَّ وَ
الإِنْسَ إِلاَّلِيَعْبُدُوْنِ ))

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan
supaya mereka menyembah-Ku.”
[QS. Adz Dzaariyat: 56]

Allah telah menciptakan manusia
dalam jenis perempuan dan laki-laki dengan memiliki kewajiban yang sama, yaitu
untuk beribadah kepada Allah. Dia telah menempatkan pria dan wanita pada
kedudukannya masing-masing sesuai dengan kodratnya. Dalam beberapa hal,
sebagian mereka tidak boleh dan tidak bisa menggantikan yang lain.

Keduanya memiliki kedudukan yang
sama. Dalam peribadatan, secara umum mereka memiliki hak dan kewajiban yang
tidak berbeda. Hanya saja, dalam masalah-masalah tertentu, memang ada
perbedaan. Hal itu Allah sesuaikan dengan naluri, tabiat dan kondisi
masing-masing.

  • Tidaklah Sama Antara Laki-Laki
    dan Perempuan

Allah menakdirkan, bahwa
laki-laki tidaklah sama dengan perempuan, baik dalam bentuk penciptaan, postur
tubuh, maupun susunan anggota badan.

Allah berfirman:

((وَلَيْسَ الذَّكَرُ
كَالأنْثَى))

“Dan laki-laki itu tidaklah sama dengan perempuan.” [QS. Ali Imran: 36]

Karena perbedaan ini, Allah
mengkhususkan beberapa hukum syar‘i bagi kaum laki-laki dan perempuan sesuai
dengan bentuk dasar, keahlian dan kemampuannya masing-masing. Allah memberikan
hukum-hukum yang menjadi keistimewaan bagi kaum laki-laki; diantaranya, bahwa
laki-laki adalah pemimpin bagi kaum perempuan, kenabian dan kerasulan hanya
diberikan kepada kaum laki-laki dan bukan kepada perempuan; laki-laki
mendapatkan dua kali lipat dari bagian perempuan dalam hal warisan; dan
lain-lain. Sebaliknya, Islam telah memuliakan wanita dengan memerintahkan wanita
untuk tetap tinggal dalam rumahnya, serta merawat suami dan anak-anaknya.

Mujahid meriwayatkan, bahwa Ummu
Salamah radhiyallahu ‘anha berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam
:

“Wahai Rasulullah, mengapa kaum
laki-laki bisa pergi ke medan perang, sedang kami tidak? Dan kamipun hanya
mendapatkan warisan setengah bagian laki-laki?”

Maka turunlah ayat:

(( وَلاَ
تَتَمَنَّوْا مَافَضَّلَ اللهُ بِهِ …. ))

“Dan janganlah kamu iri terhadap
apa yang dikaruniakan Allah…” [QS. An Nisaa’: 32] – [HR. Ath Thabari, Imam
Ahmad, Al Hakim dan lain sebagainya]

Saudariku, maka hendaklah kita
mengimani apa yang Allah takdirkan, bahwa laki-laki dan perempuan berbeda.
Yakinlah, di balik perbedaan ini ada hikmah yang sangat besar, karena Allah
adalah Dzat Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

  • Menjaga Kehormatan Dengan
    Berhijab

Berhijab merupakan kewajiban yang
harus ditunaikan bagi setiap wanita muslimah. Hijab merupakan salah satu bentuk
pemuliaan oleh Islam terhadap kaum wanita. Dalam mengenakan hijab syar‘i
haruslah menutupi seluruh tubuh dan menutupi seluruh perhiasan yang dikenakan
dari pandangan laki-laki yang bukan mahram. Sebagaimana tercantum dalam firman
Allah Ta’ala:

(( وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ
))

“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya!” [QS. An Nuur: 31]

Mengenakan hijab syar’i merupakan
amalan yang dilakukan oleh wanita-wanita mukminah dari kalangan shahabiah
dan generasi setelahnya. Merupakan keharusan bagi wanita-wanita sekarang yang
menisbatkan diri pada Islam untuk meneladani jejak wanita-wanita muslimah
pendahulu mereka dalam berbagai aspek kehidupan, salah satunya adalah dalam
masalah berhijab. Hijab merupakan cermin kesucian diri, kemuliaan yang
berhiaskan malu dan kecemburuan (ghirah). Ironisnya, banyak wanita
sekarang yang menisbatkan diri pada Islam keluar di jalan-jalan dan
tempat-tempat umum tanpa mengenakan hijab, tetapi malah bersolek dan bertabaruj
tanpa rasa malu. Sampai-sampai sulit dibedakan mana wanita muslim dan mana
wanita kafir, sekalipun ada yang memakai kerudung, akan tetapi kerudung
tersebut tak ubahnya seperti hiasan penutup kepala semata.

Sebagaimana penuturan Aisyah
radhiyallahu ’anha,
Beliau radhiyallahu ‘anha mengisahkan:

لَمَّا نَزَلَتْ هَذِهِ اْلآيَةُ :((
وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ )) أَخَذْنَ أُزْرَهُنَّ
فَشَقَّقْنَهَا مِنْ قِبَلِ الْحَوَاشِي فَاخْتَمَرْنَ بِهَا

(Wanita-wanita
Muhajirin), ketika turun ayat ini: ‘Dan hendaklah mereka menutupkan kain
kerudung ke dada (dan leher) mereka [QS. An Nuur: 31)’
. Mereka merobek
selimut mereka, lalu mereka berkerudung dengannya
.” [HR. Al
Bukhari, no. 4759]

Kisah
ini menunjukkan, bahwa sebelum turun ayat hijab, para shahabiyyah radhiyallahu
‘anha
kala itu tidak berpakaian yang menutupi aurat-aurat mereka. Namun
sewaktu turun ayat hijab, dengan segera mereka mengambil kain-kain yang ada di
rumah mereka.”

Subhanallah … 
Jauh sekali dengan keadaan wanita di zaman ini. Sebagaimana dijelaskan
sebelumnya, bahwa hijab merupakan kewajiban seorang muslimah dan
meninggalkannya adalah dosa yang membinasakan dan mendatangkan dosa-dosa yang
lainnya. Sebagai bentuk ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya shallallahu
‘alaihi wasallam
hendaknya wanita mukminah bersegera melaksanakan perintah
Allah ini.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

(( وَمَاكَانَ لِمُؤْمِنٍ
وَلاَمُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللهُ وَرَسُولَهُ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةَ
مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَن يَعْصِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً مُّبِينًا
))

“Dan tidaklah patut bagi mukmin
dan tidak (pula) bagi mukminah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan
suatu ketetapan, kemudian mereka mempunyai pilihan (yang lain) tentang urusan
mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah dia
telah sesat dengan kesesatan yang nyata.” [QS. Al Ahzab: 36]

  • Faedah Mengenakan Hijab Syar’i
  • – Menjaga kehormatan;
  • – Membersihkan hati;
  • – Melahirkan akhlak yang mulia;
  • – Tanda kesucian;
  • – Menjaga rasa malu;
  • – Mencegah dari keinginan dan hasrat syaithaniyah;
  • – Menjaga ghirah;
  • – Mentaati Allah Dan Rasu-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam.
  • Rumahmu Adalah Tempat Terbaikmu

(( وَقَرْنَ
فِيْ بُيُوْتِكُنَّ ))

“Dan hendaklah kamu tetap berada di rumahmu.” [QS. Al Ahzab: 33]

Islam telah memuliakan kaum
wanita dengan memerintahkan mereka untuk tetap tinggal dalam rumahnya. Ini
merupakan ketentuan yang telah Allah syari‘atkan. Oleh karena itu, Allah
membebaskan kaum wanita dari beberapa kewajiban syari‘at yang di lain sisi
diwajibkan kepada kaum laki-laki, diantaranya:

  • Digugurkan baginya kewajiban menghadiri Shalat Jum‘at dan Shalat Jama‘ah;
  • Kewajiban menunaikan ibadah haji bagi wanita disyaratkan dengan mahram yang
    menyertainya;
  • Wanita tidak berkewajiban berjihad.

Sedangkan keluarnya mereka dari
rumah adalah rukhshah (keringanan) yang diberikan, karena kebutuhan dan
darurat. Maka, hendaklah wanita muslimah tidak sering-sering keluar rumah,
apalagi dengan berhias, atau memakai wangi-wangian, sebagaimana kebiasaan
wanita-wanita jahiliyah. Perintah untuk tetap berada di rumah merupakan hijab
bagi kaum wanita dari kaum laki-laki yang bukan mahram dan dari ikhtilat.
Apabila wanita menampakkan diri di hadapan laki-laki yang bukan mahram, maka ia
wajib mengenakan hijab yang menutupi seluruh tubuh dan perhiasannya.

Dengan menjaga hal ini, maka akan
terwujud berbagai tujuan syari‘at, yaitu:

  • Terpeliharanya apa yang menjadi tuntunan fithrah dan kondisi manusia
    berupa pembagian yang adil diantara hamba-hamba-Nya.

Yaitu, kaum wanita memegang urusan rumah tangga, sedangkan laki-laki
menangani pekerjaan di luar rumah.

  • Terpeliharanya tujuan syari’at.

Bahwa, masyarakat Islami adalah
masyarakat yang tidak bercampur baur. Kaum wanita memiliki komunitas khusus,
yaitu di dalam rumah; sedang kaum laki-laki memiliki komunitas tersendiri,
yaitu di luar rumah.

  • Memfokuskan kaum wanita untuk melaksanakan kewajibannya dalam rumah tangga
    dan mendidik generasi mendatang.

Islam adalah agama fithrah,
dimana kemashlahatan umum seiring dengan fithrah manusia dan
kebahagiaannya. Jadi, Islam tidak memperbolehkan bagi kaum wanita untuk
bekerja, kecuali sesuai dengan fitrah, tabiat dan sifat kewanitaannya. Sebab,
seorang perempuan adalah seorang istri yang mengemban tugas mengandung,
melahirkan, menyusui, mengurus rumah, merawat anak, mendidik generasi umat di
madrasah mereka yang pertama, yaitu ‘rumah’.

  • Bahaya Tabarruj (Berdandan)
    Model Jahiliyah

Bersolek merupakan fithrah
bagi wanita pada umumnya. Jika bersolek di depan suami, orang tua, atau
teman-teman sesama wanita, maka hal ini tidak mengapa. Namun, wanita sekarang
umumnya bersolek dan menampakkan sebagian anggota tubuh, serta perhiasan di
tempat-tempat umum. Padahal, di tempat-tempat umum banyak terdapat laki-laki non-mahram
yang akan memperhatikan mereka dan keindahan yang ditampakkannya. Seperti
itulah yang disebut dengan tabarruj model jahiliyah.

Di zaman sekarang, tabarruj
model ini merupakan hal yang sudah dianggap biasa, padahal Allah dan Rasul-Nya shallallahu
‘alaihi wasallam
mengharamkan yang demikian.

Allah berfirman:

(( وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ
وَلا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى ))

“Dan hendaklah kamu tetap berada di rumahmu dan
janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti model berhias dan
bertingkah lakunya orang-orang jahiliyah dahulu (tabarruj model jahiliyah)!”
[QS. Al Ahzab: 33]

Abu Hurairah radhiyallahu
‘anhu
berkata:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

صِنْفَانِ مِنْ
أَهْلِ النَّارِ لَـمْ أَرَهُمَا بَعْدُ، قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ
الْبَقَرِ يَضْرِبُوْنَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ
مَائِلاَتٌ مُمِيْلاَتٌ رُؤُوسُهُنَّ كَأَسْنَمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ
يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيْحَهَا وَإِنَّ رِيْحَهَا لَيُوْجَدُ
مِنْ مَسِيْرَةِ كَذَا وَكَذَا

 “Ada dua
golongan ahli neraka yang tidak pernah aku lihat sebelumnya; (1) – Sekelompok
orang yang memegang cambuk, seperti ekor sapi yang dipakai untuk mencambuk
manusia; dan (2) – Wanita-wanita yang berpakaian tapi hakikatnya telanjang,
mereka berjalan melenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang
miring. Mereka tidak akan masuk Surga dan tidak bisa mencium aromanya.
Sesungguhnya aroma Surga tercium dari jarak sekian dan sekian.”
[HR. Muslim,
no. 5547]

Bentuk-bentuk tabarruj model
jahiliyah diantaranya:

(1) – Menampakkan sebagian
anggota tubuhnya di hadapan laki-laki non-mahram;

(2) – Menampakkan perhiasannya;
baik semua, atau sebagian;

(3) – Berjalan dengan
dibuat-buat;

(4) – Mendayu-dayu dalam
berbicara terhadap laki-laki non-mahram;

(5) – Menghentak-hentakkan kaki
agar diketahui perhiasan yang tersembunyi.

  • Pernikahan adalah Mahkota Kaum
    Wanita

Menikah merupakan Sunnah para
nabi dan rasul ‘alaihimussalaam serta jalan hidup orang-orang mukmin.
Menikah merupakan perintah Allah kepada hamba-hamba-Nya:

((وَأَنكِحُوا
اْلأَيَامَى مِنكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَآئِكُمْ إِن
يَكُونُوا فُقَرَآءَ يُغْنِهِمُ اللهُ مِن فَضْلِهِ وَاللهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ))

“Dan, nikahkanlah orang-orang
yang sedirian diantara kamu dan orang-orang yang layak (menikah) dari
hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan! Jika
mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan kurnia-Nya.
Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” [QS. An Nuur: 32]

Pernikahan merupakan sarana untuk
menjaga kesucian dan kehormatan baik laki-laki, maupun perempuan. Selain itu,
menikah dapat menentramkan hati dan mencegah diri dari dosa (zina). Hendaknya
menikah diniatkan karena mengikuti sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan
untuk menjaga agama, serta kehormatannya.

Tidak sepantasnya bagi wanita
mukminah untuk tidak menikah. Membujang dapat menyebabkan hati senantiasa
gelisah, terjerumus dalam banyak dosa dan menyebabkan terjatuh dalam kehinaan.

  • Maslahat Pernikahan
  • Menjaga keturunan dan kelangsungan hidup manusia;
  • Menjaga kehormatan dan kesucian diri;
  • Memberikan ketentraman bagi dua insan; ada yang dilindungi dan ada
    melindungi; serta menumbuhkan kasih sayang bagi keduanya.

Demikianlah beberapa perkara yang
harus diperhatikan oleh setiap muslimah agar dirinya tidak terjerumus ke dalam
dosa dan kemaksiatan dan tidak menjerumuskan orang lain ke dalam dosa dan
kemaksiatan. Allahu A’lam.

| Oleh: Abu Sahl Feri Al Kadawy




Petuah-petuah Para Sahabat Nabi

Petuah adalah nasehat alim ulama.
Mereka adalah ahli waris para Nabi, yang mendapatkan bagian terbesar dari
‘harta warisan’ para Nabi yang sangat berharga yaitu ilmu dan hikmah. Dari hati
yang disinari wahyu ilahi terucaplah nasehat-nasehat yang menembus hati. Alim
ulama yang berada di tingkatan yang tertinggi adalah para sahabat Nabi Muhammad
ﷺ.
Mereka adalah orang-orang yang bertemu dengan Nabi, beriman kepadanya dan wafat
dalam keadaan beriman.

Abu Bakar Ash-Shidiq

Dia adalah ‘amirul mukminin’ yang
pertama, yang menggantikan Nabi Muhammad ﷺ memimpin umat Islam. Ilmu dan ibadahnya tidak
diragukan lagi. Dikenal dengan orang yang hatinya sangat lembut namun tetap
tegas dan sangat kuat dalam meneladani Nabi Muhammad ﷺ.

Berikut ini petuah-petuah dari Abu
Bakar As-Shidiq:

قَدْ وُلِّيْتُ أَمْرَكُمْ وَ لَسْتُ
بِأَخْيَرِكُمْ، فَأَعِيْنُوْنِيْ، فَإِذَا رَأَيْتُمُوْنِيْ اسْتَقَمْتُ
فَاتَّبِعُوْنِيْ، وَ إِذَا رَأَيْتُمُوْنِيْ زغْتُ فَقَوِّمُوْنِيْ

“Aku
telah diberi amanah untuk menjadi pemimpin kalian, sedangkan aku bukan yang
terbaik di antar kalian, maka dari itu tolonglah aku. Jika kalian mendapati aku
lurus, ikutilah aku. Dan jika kalian mendapati aku melenceng, luruskanlah aku.”

Ini adalah penggalan kalimat dari
khotbah yang panjang dari Abu Bakar Ash-Shidiq
ketika beliau telah disepakati menjadi khalifah setelah Rasulullah wafat.

Di dalam kalimat ini ada banyak
pelajaran di antaranya:

Pertama, pemimpin adalah orang yang rendah hati. Sekalipun dia orang yang
terbaik, akan tetapi hal ini tidak membuatnya sombong.

Kedua, pemimpin adalah orang yang siap menerima nasehat, saran dan
kritik dari orang-orang yang dipimpin.

Umar bin Khattab

Dia adalah khalifah kedua yang
ditunjuk menggantikan Abu Bakar Ash-Shidiq.
Dikenal dengan orang yang sangat pemberani dan tegas. Namun hatinya mudah
tersentuh dengan ayat-ayat Al-Qur’an.

Umar bin Khattab mempunyai kebiasaan
membagi-bagi gandum untuk para janda dan anak-anak yatim. Beliau membawa
sendiri karung gandum tersebut di atas pundaknya. Suatu ketika ada orang yang
berkata kepada Umar :

“Biarkan saya yang membawakan.”

Umar menjawab:

وَ مَنْ يَحْمِلُ عَنِّيْ يَوْمَ
القِيَامَةِ ذُنُوْبِيْ

“Siapa
yang mau memikul dosa-dosaku di hari kiamat (akherat)?”

Seorang pemimpin yang sangat takut
kepada Allah, menyadari bahwa kepemimpinannya adalah amanah dari Allah. Yang
wajib digunakan untuk mensejahterakan
rakyatnya. Maka dari itu beliau merasa ‘berdosa’ jika ada rakyatnya yang
kelaparan. Padahal bisa saja beliau memerintah orang lain untuk menyantuni
fakir miskin. Namun rasa takut kepada Allah itulah yang membuatnya enggan
menyuruh orang lain untuk ini.

Ali bin Abi Thalib

Dia adalah amirul mukminin yang
keempat. Menggantikan ‘Utsman bin ‘Affan yang syahid setelah dibunuh para
pemberontak. Ali bin Abi Thalib dikenal dengan kecerdasannya serta kekuatan
fisiknya.

Beliau pernah berkata:

لَا يَسْتَحِي الجَاهِلُ أَنْ
يَسْأَلَ عَمَّا لَمْ يَعْلَمْ ، وَ لَا يَسْتَحِي عَالِمٌ إِذَا سُئِلَ عَمَّا
لَا يَعْلَمُ أَنْ يَقُوْلَ “الله أَعْلَمُ”

“Orang
yang tidak tahu tidak perlu malu bertanya tentang apa yang tidak dia tahu.
Begitu juga orang yang tahu tidak perlu malu mengatakan ‘Allahu a’lam’ (Allah
yang lebih tahu) ketika dia ditanya sesuatu yang tidak dia tahu.”

Kalimat ini mengandung adab untuk
seorang yang alim dan seorang penuntut ilmu. Akan pentingnya bertanya dan
mengakui bahwa dirinya tidak tahu, dengan mengatakan “Allahu a’lam” (Allah yang
lebih tahu).

Beliau juga berkata:

الفَقِيْه كُلَّ الفَقِيْهِ مَنْ لَا
يقنط النَّاسَ مِنْ رَحْمَةِ الله، وَ لَا يُؤَمِّنُهُمْ مِنْ عَذَابِ الله، وَ
لَا يُرَخِّصُ فِيْ مَعَاصِي الله، وَ لَا يَدَعُ القرْآنَ رَغْبَةً مِنْهُ إِلَى
غَيْرِهِ

“Orang
yang benar-benar alim (faqih) adalah yang tidak membuat manusia putus harapan
dari rahmat Allah. Tidak membuat manusia merasa aman dari siksa Allah. Tidak
memberi keringanan kepada manusia dalam berbuat maksiat. Dan tidak meninggalkan
Al-Qur’an karena tidak suka kepadanya, dan berganti menyukai sesuatu selain
Al-Qur’an.”

Beliau juga berkata:

التَّقْوَى هِيَ تَرْكُ الإِصْرَارِ
عَلَى المعْصِيَّة ، وَ تَرْكُ الاِغْتِرَار بِالطَّاعَةِ

“Takwa
adalah tidak terus-menerus berbuat maksiat dan tidak tertipu (merasa tinggi)
dengan ketaatan yang dilakukan.”

‘Abdullah bin Mas’ud

Dia adalah salah satu alim ulama
dari kalangan sahabat Nabi Muhammad ﷺ. Di antara petuah Ibnu Mas’ud adalah:

لَوْ أَنَّ رَجُلًا قَامَ بَيْنَ
الرُّكْنِ وَ المقَامِ يَعْبُدُ الله تَعَالَى لَبَعَثَهُ الله يَوْمَ القِيَامَةِ
مَعَ مَنْ يُحِبُّ

“Seandainya
seseorang berdiri di antara ‘rukun Yamani’
dan ‘maqom Ibrahim’, beribadah kepada Allah, selama 70 tahun, sedangkan dia mencintai
orang yang zhalim
maka di akherat nanti Allah akan membangkitkannya bersama
orang yang dia cintai itu.”

Inilah bahayanya mencintai orang
yang zhalim. Karena dengan mencintainya berarti dia tidak mengingkari
kezhalimannya, walaupun hanya dengan hatinya. Padahal tingkatan mengingkari
kemungkaran dan kezhaliman yang paling rendah adalah mengingkari dengan hati.

Beliau juga berkata:

لَيْسَ العِلْمُ بِكَثْرَةِ
الرِّوَايَةِ، إِنَّمَا العِلْمُ بِالخَشْيَةِ

“Ilmu
tidak sekedar banyaknya riwayat yang dikumpulkan, akan tetapi ilmu yang
sebenarnya adalah rasa takut kepada Allah.”

Demikianlah hakekat ilmu agama. Bukan
sekedar mengumpulkan ilmu sebanyak-banyaknya, 
akan tetapi yang dituntut adalah semakin takut kepada Allah dengan
semakin bertambahnya ilmu.Hal ini senada dengan firman Allah:

إِنَّمَا
يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

“Sesungguhnya
yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya
Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”(Fathir : 28)

Ubay bin Ka’ab

Dia adalah
salah satu ‘ahli Qur’an’ dari kalangan sahabat Nabi Muhammad ﷺ. Cukuplah sebagai kemuliaannya, ketika Allah memerintah Nabi
membacakan untuknya surat ‘Al-Bayyinah’.

Ubay bin Ka’ab
pernah berkata:

مَا مِنْ عَبْدٍ تَرَكَ شَيْئًا للهِ
إِلَّا أَبْدَلَهُ الله عَزَّ وَ جَلَّ مَا هُوَ خَيْرٌ مِنْهُ مِنْ حَيْثُ لَا
يَحْتَسِبُ

“Tidaklah
seorang hamba meninggalkan sesuatu karena Allah, kecuali Allah akan memberinya
ganti dengan sesuatu yang lebih baik, dari arah yang tidak dia sangka sama
sekali.”

‘Abdullah bin
‘Umar

Dia adalah ahli
ibadah dari kalangan sahabat Nabi. Dan dikenal dengan sifat zuhudnya terhadap
kehidupan dunia. Di antara petuah Ibnu ‘Umar adalah:

لَا يَكُوْنُ الرَّجُلُ مِنْ أَهْلِ
العِلْمِ حَتَّى لَا يَحْسد مَنْ فَوْقَهُ وَ لَا يَحقر مَنْ تَحْتَهُ وَ لَا
يَبْتَغِيْ بِالعِلْمِ ، و الله أَعْلَم

“Seseorang
tidak akan menjadi alim ulama sampai dia tidak iri kepada yang lebih tinggi ilmunya
dari dia, tidak meremehkan orang yang lebih rendah ilmunya, dan tidak mencari
bayaran dengan ilmunya. Wallahu a’lam.”

Seorang alim
ulama yang ikhlas mengajarkan ilmu telah mendapatkan balasan dari Allah yang
jauh lebih berharga dari harta. Berupa pahala yang terus mengalir. Doa dari
seluruh makhluk, yang meminta kepada Allah ampunan untuk para alim ulama yang
mengajarkan kebaikan kepada umat manusia. Maka tercela ketika seorang yang
dianugerahi ilmu mengharapkan kesenangan dunia semata sebagai ganti atas ilmu
yang dia ajarkan. Adapun jika dia tidak mengharapkannya akan tetapi
mendapatkannya, maka insyaaAllah itu adalah kebaikan yang Allah
segerakan di dunia untuk orang-orang yang ikhlas. Wallahu a’lam

Sumber:

Kitab
‘Ath-Thabaqat Al-Kubra (Lawaqihul Anwar Fi Thabaqat Al-Akhyar).

Fajri Nur
Setyawan




Jaminan Rizki dari Allah

وَكَأَيِّنْ
مِنْ دَابَّةٍ لَا تَحْمِلُ رِزْقَهَا اللَّهُ يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ وَهُوَ
السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat)
membawa (mengurus) rezkinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezki kepadanya dan
kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Ankabut : 60 )

Asbabun
Nuzul Ayat

Di
dalam kitab ‘Shafwatut Tafasir’ disebutkan bahwa sebab ayat ini turun adalah
ketika Nabi Muhammad ﷺ memerintah para sahabatnya untuk hijrah,
meninggalkan kota Mekah menuju Madinah, karena mempertahankan keyakinan, mereka
mengkhawatirkan kondisi kehidupan mereka di sana.

Mereka
mengatakan: “Kami di sana (Madinah) tidak mempunyai rumah maupun tanah. Tidak
ada yang memberi makan dan minum kepada kami.”

Lalu
Allah menurunkan firman Nya:

وَكَأَيِّنْ
مِنْ دَابَّةٍ لَا تَحْمِلُ رِزْقَهَا اللَّهُ يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ وَهُوَ
السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat)
membawa (mengurus) rezkinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezki kepadanya dan
kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Ankabut : 60 )

Ayat
ini menjelaskan betapa besar kasih sayang Allah kepada makhluk Nya. Karena Dia
tidak hanya menciptakan makhluk lalu membiarkan begitu saja. Akan tetapi Allah
tetap memperhatikan dan menyayangi makhluk Nya.

Ayat
ini mengandung pelajaran bahwa kita sebagai manusia tidak perlu khawatir tentang
masalah rizki. Karena jika binatang saja bisa mendapatkan rizki, padahal jika
dibandingkan dengan manusia maka binatang itu banyak kekurangannya.Bagaimana
dengan manusia yang merupakan makhluk paling sempurna?

Olehkarenanya
di awal ayat ini Allah menyebutkan tentang jaminan rizki untuk binatang. Agar
manusia termotivasi untuk berusaha mencari rizki yang sudah dijamin Allah.
Dengan cara yang halal.

Antara
Hijrah dan Jaminan Rizki

Jika
kita membaca ayat-ayat sebelumnya maka akan kita jumpai ternyata membahas
tentang perintah Allah kepada orang-orang beriman ketika itu untuk hijrah dari
Mekah ke Madinah. Karena di Mekah mereka ‘minoritas’ yang ditindas orang-orang
musyrik penyembah berhala yang jumlahnya jauh lebih besar.

Allah
berfirman:

يَا عِبادِيَ الَّذِينَ
آمَنُوا إِنَّ أَرْضِي واسِعَةٌ فَإِيَّايَ فَاعْبُدُونِ (٥٦) كُلُّ نَفْسٍ
ذائِقَةُ الْمَوْتِ ثُمَّ إِلَيْنا تُرْجَعُونَ (٥٧) وَالَّذِينَ آمَنُوا
وَعَمِلُوا الصَّالِحاتِ لَنُبَوِّئَنَّهُمْ مِنَ الْجَنَّةِ غُرَفاً تَجْرِي مِنْ
تَحْتِهَا الْأَنْهارُ خالِدِينَ فِيها نِعْمَ أَجْرُ الْعامِلِينَ (٥٨) الَّذِينَ
صَبَرُوا وَعَلى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ (٥٩)

“Hai
hamba-hamba-Ku yang beriman, sesungguhnya bumi-Ku luas, maka sembahlah Aku
saja. Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami
kamu dikembalikan. Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang
saleh, sesungguhnya akan Kami tempatkan mereka pada tempat-tempat yang tinggi
di dalam surga, yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya.
Itulah sebaik-baik pembalasan bagi orang-orang yang beramal, (yaitu) yang bersabar dan bertawakkal kepada Tuhannya.” (Al-Ankabut : 56
– 59)

Ayat-ayat ini maksudnya adalah perintah kepada siapa
saja yang kesulitan beribadah, tidak bisa menyembah Allah dengan tenang di
suatu tempat, maka dia harus pindah dari tempat tersebut ke tempat lainnya yang
memungkinkan untuk ibadah. Karena bumi Allah luas.

Menurut syaikh As-Shabuni di kitab ‘Shafwatut
tafasir’, kalimat ini adalah motivasi agar orang-orang beriman tidak merasa
berat meninggalkan ‘negara kufur’ ke ‘negara Islam’.

Kemudian, karena meninggalkan kampung halaman itu
sulit, karena harus meninggalkan tempat tinggal, dan harta benda, maka kemudian
Allah mengingatkan beberapa hal penting supaya bisa membuat mereka mudah
meninggalkan kampung halaman untuk bisa beribadah dengan tenang.

Beberapa hal penting itu adalah:

Pertama, kematian yang datang
tiba-tiba.

Kedua, kenikmatan surga.

Ketiga, jaminan rizki dari
Allah.

Demikian kesimpulan dari penjelasan Asy-Syaukani dan
syaikh As-Sa’di di dalam kitab tafsir masing-masing. Dengan demikian kita
mengetahui hikmah adanya jaminan rizki dari Allah yang ada di ayat ke 60.

Ayat
yang Semisal

Menurut
syaikh As-Sa’di, di dalam surat yang lainnya ada ayat semisal yang menjelaskan
tentang jaminan rizki dari Allah. Yaitu firman Nya:

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ
إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا
كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

“Dan
tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi
rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat
penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).”(Hud
: 6)

Kisah
‘Abdurrahman bin ‘Auf

Salah
satu sahabat Nabi yang hijrah ke Madinah adalah ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu
‘anhu
. Begitu sampai di Madinah, dia ditawari oleh Sa’d bin Rabi’ dengan
tawaran-tawaran yang sangat menggiurkan.

Perlu
diketahui, mereka berdua akrab karena dipersaudarakan oleh Nabi Muhammad ﷺ. Sa’d bin Rabi’ mengatakan kepada ‘Abdurrahman bin ‘Auf:

“Aku
adalah orang Anshor (orang beriman asli Madinah) yang paling kaya. Aku akan
membagi semua hartaku; setengah-setengah. Dan aku memiliki dua istri,
perhatikanlah mana yang menurutmu paling cantik, sebutkan namanya, dan aku akan
menceraikannya, lalu setelah selesai masa idahnya, nikahilah dia.”

Seandainya
‘Abdurrahman bin Auf menerima tawaran ini tidaklah salah, tapi ternyata
‘Abdurrahman bin ‘Auf menolaknya. Sambil berkata:

بَارَكَ اللهُ لَكَ فِي
أَهْلِكَ وَمَالِكَ، وَأَيْنَ سُوقُكُمْ؟

“Semoga Allah memberkahimu, keluargamu dan hartamu. Di mana pasar
kalian?”

Lalu
dia diberitahu letak pasar yang biasa mereka kunjungi. Kemudian Abdurrahman bin
Auf berdagang di sana. Hingga akhirnya beliau sukses. Bahkan dia bisa menikah
dengan wanita Madinah.

Kisah
ini ada di kitab Shahih Bukhari dan dikutip oleh syaikh Al Mubarakfuri di kitab
‘Ar-Rahiq Al-Makhtum’.

Kisah
‘Abdurrahman bin ‘Auf adalah salah satu dari sekian banyak bukti bahwa Allah
menjamin rizki untuk kita semua. Terlebih lagi jika kita beriman kepada Allah
dan akherat, maka tidak hanya dijamin rizkinya, akan tetapi juga akan dijamin
keberkahan dari rizki tersebut. Keberkahan rizki adalah kebaikan yang sangat
banyak yang ada di dalam rizki tersebut. Sehingga dengan rizkinya dia bisa
memenuhi kebutuhan hidup. Dengan rizkinya dia bisa membantu orang yang membutuhkan.
Dengan rizkinya dia bisa beribadah kepada Allah. Dan dengan rizkinya dia bisa
mendapatkan kebahagiaan di akherat.

Allah
berfirman:

قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ
الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ قُلْ هِيَ
لِلَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ
كَذَلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

“Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan
perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan
(siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik?” Katakanlah: “Semuanya
itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus
(untuk mereka saja) di hari kiamat.”
Demikianlah Kami menjelaskan
ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui.” (Al-A’raf : 32)

Referensi:

1. Kitab
‘Fathul Qadir’, karya Asy-Syaukani.

2. Kitab
‘Taisirul Karimir Rahman’, karya syaikh As-Sa’di.

3.
Kitab ‘Aisarut Tafasir’, karya syaikh Abu Bakr Jabir Al-Jazairi.

4.
Kitab ‘Shafwatut Tafasir’, karya syaikh Ash-Shabuni.

5.
Kitab ‘Ar-Rahiq Al-Makhtum’, karya syaikh Almubarakfuri.

Fajri NS




Imam Nawawi (Zuhud, ‘Alim, Ahli Ibadah dan Pemberani)

Namanya dikenal umat Islam, dan
jasa-jasanya dikenang sepanjang masa. Dia adalah Imam Nawawi rahimahullah.
Nama aslinya adalah Yahya bin Syaraf. Kunyahnya adalah ‘Abu Zakaria’. Lahir di
bulan Muharram tahun 630 H, di daerah Nawa.

Ciri fisiknya menurut keterangan
Imam Dzahabi adalah berbadan tegap dan berwibawa. Jenggot berwarna hitam, lebat
dan ada sedikit uban. Berani dalam menyuarakan kebenaran, dan tidak takut
kepada celaannya orang yang mencela. Disegani penguasa dan alim ulama lainnya.

Gelar Kemuliaan Imam Nawawi

Imam Dzahabi memberikan beberapa
gelar mulia untuk Imam Nawawi. Diantaranya adalah ‘Asy-Syaikh’, ‘Al-Imam’, ‘Al-Qudwah’
(Panutan), ‘Al-Hafizh’, Zuhud, Ahli Ibadah, Ahli Fiqih, ‘Mujtahid Rabbani’, ‘Syaikhul
Islam’, ‘Muhyidin’ (Yang Menghidupkan Ajaran Agama).

Imam Ibnu Katsir juga memberi
beberapa gelar kemuliaan, seperti ‘Syaikhul Madzhab’ (Syaikhnya madzhab
Syafi’i) dan ‘Kabirul Fuqaha’ (Pemukanya para ahli fiqih).

Al-Yafi’i memberikan gelar yang
tidak kalah mulia, yaitu ‘Al-Wali Al-Kabir’ (Wali Allah yang Agung) dan ‘Nashirus
Sunnah’ (Penolong Sunnah Nabi).

Cukup satu gelar kemuliaan dari alim
ulama sebagai bukti akan ketinggian derajat Imam Nawawi. Terlebih lagi jika
ternyata ada sekian banyak gelar dari sekian banyak ulama. Dan semuanya tidak
didapatkan dengan ‘gratis’. Imam Nawawi mendapatkannya dengan penuh perjuangan
dan pengorbanan. Baik tenaga, waktu, pikiran maupun harta.

Disebutkan di dalam kitab ‘Qimmatuz
Zaman ‘Indal ‘Ulama’
bahwa setiap harinya Imam Nawawi menghadiri 12 majelis
ilmu. Di majelis-majelis tersebut Imam Nawawi menyimak, membaca, menghafal dan
menulis.

Dua belas majelis dalam satu hari
itu, perinciannya sebagai berikut:

Dua pelajaran untuk kitab ‘Al-Wasith’ (ilmu fiqih), satu pelajaran untuk
kitab ‘Al-Muhadzdab’ (ilmu fiqih), satu pelajaran untuk kitab ‘Al-Jam’u
Baina Ash-Shahihain’ (ilmu hadits), satu pelajaran untuk kitab ‘Shahih
Muslim’ (hadits), satu pelajaran untuk kitab ‘Al-Luma’ (ilmu nahwu), satu
pelajaran
untuk kitab ‘Ishlahul Manthiq’ (ilmu bahasa), satu pelajaran untuk
ilmu tashrif, dua pelajaran untuk ilmu ushul fiqih, satu pelajaran untuk
ilmu ‘rijalul hadits’, dan satu pelajaran untuk ilmu ushuludin.

Disebutkan di dalam kitab ‘Qimmatuz
Zaman’, suatu ketika Imam Badrud Din, salah satu muridnya, bertanya kepada
gurunya tentang tidurnya. Imam Nawawi menjawab: “Jika aku sangat mengantuk, aku
sandaran ke tumpukan kitab-kitab sebentar, lalu aku bangun lagi.”

Di luar majelis pun sibuk dengan
muraja’ah. Hidup dengan kesederhanaan. Dan keadaan ini berlangsung selama 6
tahun. Setelah itu Imam Nawawi mulai menulis karya ilmiyah, mengajar, dan
melakukan amar ma’ruf nahi munkar.

Sebab-sebab Adanya Sosok Luar Biasa
Seperti Imam Nawawi

Disebutkan di dalam kitab ‘Min
A’lamis Salaf’, bahwa ada dua sebab utama yang menjadikan Imam Nawawi demikian
mulianya. Pertama sebab yang diusahakan. Dan yang ke dua adalah sebab yang
murni anugerah dari Allah. Berikut ini perinciannya:

Menempuh perjalanan jauh untuk
mencari ilmu. Tinggal di lingkungan madrasah ilmiyah. Usaha keras dalam
belajar. Banyaknya majelis ilmu yang dihadirinya. Kuatnya hafalan dan seringnya
meneliti. Kemuliaan para guru dan perhatian mereka yang serius kepadanya.
Banyaknya kitab-kitab ulama yang dimilikinya. Dan kesibukannya mengajar.

Ibadah dan Kesederhanaan Hidup Imam
Nawawi

Salah satu murid Imam Nawawi yang
bernama Ibnu ‘Athar mengatakan: “Imam Nawawi sangat sering membaca Al-Qur’an
dan dzikir.” Imam Ibnu Katsir mengatakan bahwa Imam Nawawi selalu puasa sunnah.
Imam Al-Yafi’i berkata: “Imam Nawawi sangat sering begadang untuk ibadah,
membaca Al-Qur’an dan menulis.”

Imam Nawawi sabar dengan
kesederhanaan hidup. Rela hanya makan makanan dan memakai pakaian yang
sederhana. Bahkan hingga wafatnya belum sempat menikah. Disebutkan di dalam
kitab ‘Qimmatuz Zaman’, bahwa Imam Nawawi hanya makan satu kali dalam sehari,
yaitu makan malam.

Keteguhan Mempertahankan Pendapat

Ketika itu ada seorang penguasa yang
berencana menarik ‘uang iuran’ dari rakyat, untuk digunakan sebagai biaya
perang melawan Tatar di Syam. Kemudian sang penguasa meminta pertimbangan
seluruh ulama yang ada. Dan mereka semua menyetujui rencana sang penguasa.

Untuk memastikan, sang penguasa
bertanya apakah ada ulama yang tidak setuju? Lalu mereka menjawab bahwa Imam
Nawawi tidak setuju dengan rencana ini. Lalu Imam Nawawi dipanggil menghadap
sang penguasa, dan ditanya alasannya kenapa tidak setuju.

Dengan tenang dan tegas Imam Nawawi
mengatakan bahwa seharusnya biaya perang tersebut diambil dari harta sang penguasa,
bukan dari rakyat. Karena memang ketika itu sang penguasa memiliki harta yang
sangat banyak.

Mendengar alasan ini sang penguasa
marah dan memerintah Imam Nawawi supaya pergi meninggalkan Dimasyq. Dan
akhirnya Imam Nawawi menuruti apa yang diperintahkan. Kemudian para alim ulama
yang lainnya mendesak sang penguasa agar mengembalikan Imam Nawawi ke Dimasyq.
Mereka mengatakan bahwa Imam Nawawi adalah panutan mereka. Pemuka para alim
ulama.

Hingga akhirnya sang penguasa
mengirim utuasan menemui Imam Nawawi supaya berkenan kembali ke Dimasyq. Akan
tetapi kali ini Imam Nawawi tidak menuruti perintahnya.

Karya Ilmiyah Imam Nawawi

Karya ilmiyah Imam Nawawi sangat
banyak dan bermanfaat. Bahkan karya ilmiyahnya tidak hanya di satu atau dua
bidang ilmu. Beliau mulai menulis pada tahun 660 H. Karya di bidang hadits
misalnya ‘Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim Ibni Al-Hajjaj’, ‘Riyadhus Shalihin’, ‘Al-Arba’in
An-Nawawiyah’, ‘Syarh Shahih Bukhari’ (belum sempurna), dan ‘Al-Adzkar’
(kumpulan doa dan dzikir).

Di bidang ilmu fiqih misalnya ‘Raudhatut
Thalibin’, ‘Al-Majmu’ Syarhu Al-Muhadzdzab’, ‘Al-Minhaj’, ‘Al-Idhah’ dan
‘At-Tahqiq’.

Di bidang ilmu tarbiyah, misalnya
‘At-Tibyan Fi Adabi Hamalatil Qur’an’ dan ‘Bustanul ‘Arifin’.

Di bidang ilmu sejarah dan bahasa,
misalnya ‘Tahdzibul Asma wal Lughat’, ‘Thabaqat Al-Fuqaha’ dan ‘Tahrir
At-Tanbih’.

Dan masih banyak lagi
karya-karyanya. Sebagiannya belum sempat disempurnakan Imam Nawawi dikarenakan
takdir Allah telah mendahuluinya. Misalnya kitab ‘Syarh Sunan Abu Dawud, yang
menjelaskan makna dan fiqih dari Sunan Abu Dawud. Begitu juga kitab ‘Al-Majmu’.

Kitab ‘At-Tahqiq’ termasuk kitab
yang paling penting untuk mengetahui pendapat madzhab Syafi’i yang ‘rojih’.
Begitu juga kitab ‘Al-Minhaj’. Oleh karena itu dua kitab ini sangat
diperhatikan oleh ulama-ulama madzhab Syafi’i.

Kitab ‘Riyadhus Shalihin’ maupun
‘Al-Arba’in’, termasuk karya Imam Nawawi yang dikenal dan diterima kaum
muslimin di dunia. Dan kitab-kitab fiqihnya menjadi referensi utama khususnya
dalam fiqih madzhab Syafi’i.

Wafatnya Imam Nawawi

Salah satu muridnya yang bernama
Ibnu ‘Athar mengatakan:

“Sampai sebuah kabar kepadaku
tentang sakitnya Imam Nawawi. Lalu aku keluar dari Dimasyq untuk menjenguknya. Beliau
sangat senang, lalu memerintah aku supaya kembali pulang. Setelah terlihat sehat,
saya pamit meninggalkan beliau, hari Sabtu, tanggal 22
Rajab. Di malam Selasa, tanggal 24 Rajab, tahun 676 H, Imam Nawawi berpulang ke
rahmat Allah.”

Semoga Allah menempatkannya di
tempat kemuliaan di alam akherat.

Referensi:

1. Qimmatuz Zaman ‘Indal Ulama,
karya syaikh Abdul Fatah Abu Ghuddah.

2. Min A’lamis Salaf, karya Dr.
Ahmad Farid.

Fajri. NS




PROGRAM BULETIN JUM’AT AL MINHAJ

Kata kunci : buletin al minhaj

Buletin Al MINHAJ adalah buletin dakwah yang diterbitkan oleh Bidang Dakwah Pondok Pesantren Al Ukhuwah. Buletin ini sudah beredar 13 tahun lamanya sebagai upaya memberikan pemahaman ilmu dan Islam yang benar kepada masyarakat luas terutama di wilayah Sukoharjo dan Eks Karisidenan Surakarta, dan sekitarnya.

Muqoddimah

Buletin
Al MINHAJ adalah buletin dakwah yang diterbitkan oleh Bidang Dakwah
Pondok Pesantren Al Ukhuwah. Buletin ini sudah beredar 13 tahun
lamanya sebagai upaya memberikan pemahaman ilmu dan Islam yang benar
kepada masyarakat luas terutama di wilayah Sukoharjo dan Eks
Karisidenan Surakarta, dan sekitarnya.

Profil

• Terbit
tiap 1
bulan
4 edisi (4 judul) atau 1 judul tiap pekan

Jumlah sekali terbit hingga
14.000
eksemplar (28
rim)

Jumlah pelanggan aktif
hingga 75
tempat/masjid
• Kontributor: Ust. Fajri NS, Ust. Agung
AbdulAzhim, Ust. Feri Abu Sahl, Ust. Hanif Beni Setiawan

Cara Berlangganan

Bagi
Anda yang ingin berdakwah di kampung atau di Masjid dekat rumah/
Masjid kantor Anda bekerja dengan buletin Jum’at AL MINHAJ, Anda bisa
berlangganan buletin ini dengan menghubungi kami di 085235084141
dengan rincian minimal 100 eksemplar (4 edisi x 25 eks) cukup diganti
dg infaq Rp 20.000 utk Solo Raya atau Rp 25.000 utk luar Solo Raya.

Donasi

Bagi
anda yang ingin turut menopang keberlanjutan program penerbitan
buletin ini, Anda dapat menyalurkan Infaq/donasi Anda ke kantor
Dakwah Ponpes Al Ukhuwah Sukoharjo atau melalui transfer ke rekening
kami di
BNI Syariah

0750020567

an.
Yayasan Pendidikan Al Ukhuwah

Konfirmasi
via WA/SMS

kirim
ke 085229200443 (Ust. Mujiron, M.Pd.I)

Infaq anda sebesar Rp 100.000 (setara +/- 500 eks buletin) berarti anda turut membantu mendakwahkan ilmu dan pemahaman Islam yang benar hingga ke 500 orang.

Kata kunci : buletin al minhaj

.

~
~ ~ ~ ~

Profil
& Program Kegiatan :

http://bit.ly/dakwahalukhuwah

www.suaraquran.com




Kisah Menakjubkan Imam Nawawi dalam Menghargai Waktu

Sepertinya
tidak ada yang tidak kenal dengan Imam Nawawi. Nama aslinya adalah
Yahya bin Syarof. Lahir pada tahun 631 H. Oleh Imam Dzahabi dijuluki
sebagai Al-Imam,
Al-Hafizh, Syaikhul Islam, ‘Alamul ‘Ulama (lambangnya para
ulama).

Setiap
harinya

Imam Nawawi mempunyai 12
majelis ilmu yang didatangi
.
Imam Nawawi tidak pernah menyia-nyiakan waktu sedikitpun. Siang malam
menyibukkan diri dengan ilmu. Bahkan dalam perjalanan pun beliau
mengulang-ulang hafalan ilmunya.

Beliau
menjalani ini semua selama 6 tahun. Setelah itu beliau mulai menulis,
mengajar, memberi nasehat dan menegakkan kebenara, amar ma’ruf nahi
munkar. Beliau juga menyibukkan diri dengan amalan-amalan sunnah,
seperti dzikir, puasa, shalat sunnah. Bahkan beliau juga sabar dengan
kesederhanaan hidup.

Pernah suatu ketika Imam Nawawi ‘disalahkan’ dalam penukilan dari kitab ‘Al-Wasith’. Lalu Imam Nawawi mengatakan: “Apakah kamu mendebatku dalam hal penukilan ini? Sedangkan aku telah meneliti kitab ‘Al-Wasith’ sebanyak 400 kali?”

[Sumber: Artikel Buletin AL MINHAJ No.41 tahun XIII, Dzulhijjah 1440 H | Agustus 2019]




Masuk Islam Secara ‘Kafah’

Masuk Islam Secara ‘Kafah’

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ كَاۤفَّةً ۖوَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ – ٢٠٨

“Hai
orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah
kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata
bagimu.”

(Al-Baqarah:
208)

Ayat-ayat Sebelumnya

Dengan memperhatikan ayat-ayat
sebelumnya, kita akan mendapatkan satu pelajaran penting berkaitan dengan
Al-Qur’an, yaitu keindahan Al-Qur’an dari sisi maknanya.

Mulai dari ayat 204 sampai 206,
Allah menyebutkan tentang orang-orang munafik di zaman Nabi, yang mana hati
mereka tidak beriman akan tetapi menampakkan di hadapan umat Islam seolah-olah
beriman. Padahal itu semua hanya pura-pura, dengan niat yang jelek. Di
antaranya adalah untuk membuat ‘kekacauan’ di tengah-tengah umat Islam.

Kemudian, di ayat ke 207 Allah
menyebutkan tentang orang beriman yang keimanannya lahir batin. Yang salah satu
sifatnya adalah mengorbankan segala yang dimilikinya demi mencari ridho Allah.

Kemudian di ayat ke 208, Allah
menjelaskan tentang bagaimana beragama Islam yang benar, yaitu dengan cara
masuk Islam secara ‘kafah’ (menyeluruh). Dengan melihat makna-makna ayat ini
maka kita mengetahui bagaimana keindahan susunan makna ayat-ayat Al-Qur’an.

Berikut ini ayat-ayat tersebut:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُّعْجِبُكَ قَوْلُهٗ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَيُشْهِدُ اللّٰهَ عَلٰى مَا فِيْ قَلْبِهٖ ۙ وَهُوَ اَلَدُّ الْخِصَامِ – ٢٠٤

وَاِذَا تَوَلّٰى سَعٰى فِى الْاَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيْهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ ۗ وَ اللّٰهُ لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ – ٢٠٥

وَاِذَا قِيْلَ لَهُ اتَّقِ اللّٰهَ اَخَذَتْهُ الْعِزَّةُ بِالْاِثْمِ فَحَسْبُهٗ جَهَنَّمُ ۗ وَلَبِئْسَ الْمِهَادُ – ٢٠٦

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّشْرِيْ نَفْسَهُ ابْتِغَاۤءَ مَرْضَاتِ اللّٰهِ ۗوَاللّٰهُ رَءُوْفٌۢ بِالْعِبَادِ – ٢٠٧

“Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan
dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi
hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras.

Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk
mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak,
dan Allah tidak menyukai kebinasaan.

Dan apabila dikatakan kepadanya: “Bertakwalah kepada
Allah”, bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka
cukuplah (balasannya) neraka Jahannam. Dan sungguh neraka Jahannam itu tempat
tinggal yang seburuk-buruknya.

Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena
mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” (Al-Baqarah:
204-207)

Asbabun Nuzul

Tentang Asbabun Nuzul ayat ini, di
dalam kitab ‘Tafsir Jalalain’ disebutkan:

نَزَلَ فِي عَبْد اللَّه بْن سَلَام وَأَصْحَابه لَمَّا عَظَّمُوا
السَّبْت وَكَرِهُوا الْإِبِل بَعْد الْإِسْلَام

“Ayat ini turun berkenaan
dengan Abdullah bin Salam dan sahabat-sahabatnya ketika mereka
mengagung-agungkan hari Sabtu dan mengharamkan onta setelah mereka masuk
Islam.”

Hal yang sama juga disebutkan dalam
kitab tafsir ‘Al-Wajiz’, karya Imam Al-Wahidi rahimahullah.

Penjelasan:

Abdullah bin Salam adalah orang yang
beragama Yahudi kemudian masuk Islam. Hanya saja, ketika masuk Islam dia masih
menjalankan sebagian ajaran agama Yahudi, misalnya mengagungkan hari Sabtu dan
tidak makan onta.

Padahal menurut ajaran Islam hari
yang paling agung adalah hari Jum’at. Dan menurut ajaran Islam onta halal
dimakan.

Karena itu Allah meluruskan
pemahamannya melalui ayat ini. Dan pelajarannya untuk kita adalah semua ajaran
yang bertentangan dengan ajaran Islam maka harus ditinggalkan. Dan inilah makna
‘masuk Islam secara menyeluruh’.

Tafsir

Tentang makna ayat ini syaikh Jabir
Al-Jazairi di dalam kitab ‘Aisarut Tafasir’ mengatakan:

ينادي الحق تبارك وتعالى عباده المؤمنين آمراً إياهم الدخول في
الإسلام دخولاً شمولياً، بحيث لا يتخيرون بين شرائعه وأحكامه ما وافق مصالحهم
وأهواءهم قبلوه وعملوا به، وما لم يوافق ردوه أو تركوه وأهملوه، وإنما عليهم أن
يقبلوا شرائع الإسلام وأحكامه كافة، ونهاهم عن اتباع خطوات الشيطان في تحسين
القبيح وتزيين المنكر

“Allah memanggil hamba-hamba Nya
yang beriman, memerintah mereka untuk masuk ke dalam agama Islam secara
menyeluruh, yaitu dengan tidak memilih-milih ajaran-ajaran atau hukum-hukum;
yang sesuai dengan kepentingan-kepentingan dan hawa nafsu maka mereka
menerima, dan yang tidak sesuai maka mereka menolaknya atau meninggalkannya
atau menyia-nyiakannya
.

Kewajiban mereka hanyalah menerima
ajaran-ajaran Islam dan hukum-hukumnya secara keseluruhan. Dan Allah melarang
mereka dari mengikuti visi misi setan dalam menganggap baik sesuatu yang jelek
dan menganggap jelek sesuatu yang baik.”

Di dalam kitab ‘Taisirul Karimir
Rahman’ ada tambahan penjelasan sebagai berikut:

وأن
يفعل كل ما يقدر عليه، من أفعال الخير، وما يعجز عنه، يلتزمه وينويه، فيدركه
بنيته.

“… melakukan semua kebaikan yang
disanggupi. Dan yang dia tidak sanggup melakukannya maka bertekad kuat untuk
melakukan (ketika mampu) dan niat melakukannya, sehingga dia mendapatkan
pahalanya dengan niatnya.”

Berdasarkan penjelasan ini maka jika
misalnya saat ini kita belum mampu untuk haji, dikarenakan belum memiliki uang
yang cukup untuk haji, kita harus mempunyai cita-cita dan niat untuk
melakukannya ketika ada kemampuan. Dengan demikian kita telah masuk Islam
secara menyeluruh. Meskipun saat ini kita belum melakukan ibadah haji.

Di dalam kitab ‘Shofwatut Tafasir’,
ada penjelasan yang hampir sama dengan tambahan penjelasan sebagai berikut:

ادخلوا في الإِسلام بكليته في جميع أحكامه وشرائعه، فلا تأخذوا حكماً
وتتركوا حكماً، لا تأخذوا بالصلاة وتمنعوا الزكاة مثلاً فالإسلام كل لا يتجزأ

“Masuklah ke dalam agama
Islam secara keseluruhan, di semua hukum-hukumnya dan ajaran-ajarannya. Jangan
hanya menerima ajaran tertentu dan meninggalkan ajaran Islam yang lainnya.
Misalnya: Jangan hanya menerima ajaran shalat, tapi menolak ajaran zakat.
Karena ajaran agama Islam itu ‘satu kesatuan’ dan tidak terpisah-pisah.”

Berdasarkan penjelasan
ini maka tidak benar jika seandainya ada seorang wanita muslimah yang tidak
suka dengan syari’at ‘jilbab’. Meskipun dia menerima syari’at Islam yang
lainnya, misalnya shalat, puasa Ramadhan dan lain-lain. Karena perintah Allah
untuk masuk Islam secara menyeluruh konsekwensinya adalah menerima semua ajaran
Islam.

Di dalam kitab tafsir ‘At-Tashil Li
‘Ulumit Tanzil’ ada penjelasan tambahan bahwa ayat ini juga mengandung makna
supaya teguh di atas agama Islam. Maksudnya masuk Islam secara
menyeluruh juga mengandung arti supaya kita mempertahankan keyakinan ini sampai
akhir hayat.

Di dalam kitab ‘Zadul Masir’ karya
Ibnul Jauzi, ada penjelasan tambahan bahwa ayat ini ada yang menafsirkan:
Perintah agar masuk Islam ‘lahir’ dan ‘batin’. Maksudnya, lesan dan perbuatan
menyatakan Islam dan hati juga meyakininya. Wallahu a’lam

Penjelasan Tentang ‘Langkah-langkah’
Setan

Di akhir ayat tentang perintah masuk
Islam secara menyeluruh ada peringatan dari Allah supaya kita menjauhi
langkah-langkah setan. Menurut syaikh As-Sa’di, hal ini memberi pelajaran bahwa
untuk bisa ‘masuk Islam secara menyeluruh’ harus menjauhi langkah-langkah setan
ini.

Maka sangat penting kita mengetahui
apa yang dimaksud ‘langkah-langkah setan’ di ayat ini. Menurut syaikh Jabir
Al-Jazairi, ‘langkah-langkah setan’ adalah ajakan-ajakan setan untuk melakukan
kesesatan dan untuk menganggap baik sesuatu yang jelek. Sedangkan menurut
syaikh As-Sa’di, langkah-langkah setan di ayat ini adalah maksiat-maksiat.

Hikmah dan Pelajaran dari Ayat

Berikut ini beberapa hikmah dari
ayat tentang ‘Islam Kafah’ dari kitab ‘Aisarut Tafasir’:

  1. Wajib menerima
    semua ajaran Islam dan tidak boleh memilih-milih ajaran sesuka hati.
  2. Orang yang
    menghalalkan sesuatu yang haram atau mengharamkan sesuatu yang halal maka dia
    telah mengikuti setan. Wallahu a’lam

Fajri NS

Download PDF : [sdm_download id=”1319″ fancy=”0″]




Cara-cara Haram Mendapatkan Harta

Cara-cara Haram Mendapatkan Harta

Untuk memenuhi kebutuhan hidup, manusia membutuhkan uang. Dan untuk mendapatkan uang, manusia membutuhkan pekerjaan. Namun, tidak semua pekerjaan dibenarkan agama Islam. Allah berfirman:

﴿ وَ لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَ تُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَ أَنْتُمْ تَعْلَمُونَ ﴾

“Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.” (Al-Baqarah: 188)

Makna Ayat:

Menurut syaikh Jabir Al-Jazairi, ayat ini menjelaskan tidak bolehnya mengambil harta orang lain dengan cara yang salah. Dan salah satu contohnya adalah ‘menyuap’ para hakim, supaya dia ‘menang’di pengadilan. Padahal sebetulnya dia yang salah. Dan berikut ini penjelasan beberapa ulama ahli tafsir yang lainnya:

Imam Al-Wahidi, di dalam kitab tafsirnya yang bernama ‘Al-Wajiz Fi Tafsir Al-Kitab Al-‘Aziz’, berkata:

لاَ يَأْكُلُ بَعْضُكُمْ مَالَ بَعْضٍ بِمَا لاَ يَحِلُّ فِي الشَّرْعِ مِن الْخِيَانَةِ وَ الْغَصَبِ وَالسَّرِقَةِ وَ الْقِمَارِ وَغَيْرِ ذَلِكَ

“Sebagian kalian jangan memakan harta sebagian yang lain dengan cara yang tidak halal menurut ajaran Islam, misalnya dengan cara berkhianat, merampas, mencuri, judi dan lain-lain.”

Di dalam kitab ‘Fathul Qadir’, Asy-Syaukani berkata:

الْحَاصِلُ أَنَّ مَا لَمْ يُبَح الشَّرْعُ أَخْذُهُ مِنْ مَالِكِهِ، فَهُوَ مَأْكُوْلٌ بِالبَاطِل، وَ إِنْ طَابَتْ بِهِ نَفْسُ مَالِكِهِ، كَمَهْرِ البَغِي، وَ حُلْوَانِ الكَاهِنِ، وَ ثَمَنِ الخَمْرِ

“Kesimpulannya, semua harta yang tidak diperbolehkan syari’at untuk dimakan (diambil), maka hal itu termasuk memakan harta dengan cara yang ‘batil’ (salah), meskipun orang yang memiliki harta tersebut suka rela memberikannya. Seperti bayaran untuk pezina, bayaran untuk dukun dan bayaran untuk minuman yang memabukkan.”

Syaikh Muhammad ‘Ali Ash-Shabuni, di dalam kitab ‘At-Tafsir Al-Wadhih Al-Muyassar’mengatakan:

“Janganlah seorang di antara kalian ‘memakan’ harta orang lain, dan janganlah berusaha memakan harta haram dengan cara menyuap para hakim di pengadilan, padahal dia tahu bahwa dia salah…”

Beberapa Cara Haram Mendapatkan Harta

Di dalam kitab tafsir ‘Taisir Al-Karimir Rahman’, syaikh As-Sa’di menyebutkan banyak contoh ‘cara-cara haram mendapatkan harta’. Dan berikut ini sebagiannya:

1. Merampas.

2. Mencuri.

3. Berkhianat terhadap barang titipan.

4. Berkhianat terhadap barang pinjaman.

5. Riba, dengan semua jenisnya.

6. Judi.

7. Menipu ketika menjual.

8. Mempekerjakan buruh dan tidak memberikan upah mereka.

9. Mengambil upah dari sebuah pekerjaan

10. Mengambil jatah zakat, atau sedekah padahal dia bukan yang berhak mendapatkannya.

Di dalam kitab tafsir ‘Al-Wajiz Fi Tafsiri Al-Kitab Al-‘Aziz’, ada tambahan penjelasan bahwa salah satu cara haram tersebut adalah ‘menyuap’ hakim di pengadilan, agar dia dimenangkan dalam persidangan, padahal dia salah.

Kesimpulan ini diambil dari firman Allah di akhir ayat tersebut di atas:

“… dan (janganlah) kamu membawa harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.”

Kemudian, berikut ini contoh-contoh yang perlu kita ketahui supaya semakin jelas apa saja yang termasuk cara-cara haram mendapatkan harta. Dan juga kita berharap, dengan mengetahui beberapa contoh ini, kita bisa terhindar dari hal-hal yang tidak kita inginkan:

Mencuri dan Merampas

Antara mencuri dan merampas mempunyai kesamaan dan perbedaan. Kesamaannya, keduanya sama-sama mengambil sesuatu yang bukan miliknya. Sedangkan perbedaannya adalah;

Mencuri adalah mengambil barang milik orang lain dengan diam-diam. Yaitu barang yang disimpan di dalam tempat penyimpanan semestinya. Sedangkan merampas adalah mengambil barang milik orang lain dengan paksa dan terang-terangan.

Berkhianat Terhadap Barang Titipan

Contoh cara haram yang satu ini adalah seperti yang sering terjadi di tengah-tengan masyarakat, yangmereka istilahkan dengan ‘investasi bodong’. Misalnya, ada seorang yang menawarkan investasi kepada masyarakat, dan menjanjikan ‘bagi hasil’ setiap bulannya. Namun, ketika uang sudah terkumpuldari beberapa orang, ternyata dia kabur dan tidak kembali, membawa uang orang-orang tadi.

Contoh yang lain misalnya ada orang yang membuka ‘travel haji dan umroh’. Namun, ketika dana umroh sudah terkumpul, dia kabur membawa uang yang sangat banyak tersebut. Dan masih banyak contoh yang lainnya.

Berkhianat Terhadap Barang Pinjaman

Misalnya, ada seorang pencuri kendaraan bermotor, mengaku sebagai seorang ‘pendatang baru’ di sebuah komplek perumahan. Kemudian, dia pura-pura pinjam mobil kepada salah satu tetangganya, karena ‘keperluan yang mendesak’. Dan setelah dipinjami mobil, ternyata dia kabur dengan membawa mobil tersebut. Status mobil tersebut adalah ‘barang pinjaman’, akan tetapi dia berkhianat, dengan mengambilnya dari pemiliknya.

Riba

Riba, bentuk-bentuknya banyak. Yang pasti, secara umum, mengambil ‘keuntungan’ dengan cara riba hukumnya haram.

Kemudian, para ulama menyimpulkan bahwa riba ada dua macam:

Pertama, riba dalam jual beli.

Ke dua, riba dalam pinjaman.

Riba dalam jual beli misalnya perhiasan emas ditukar dengan perhiasan perak, dengan cara yang tidak kontan. Misalnya: Pemilik perhiasan emas seberat 10 gram menukarkannya dengan perhiasan perak seberat 20 gram. Akan tetapi, pemilik perhiasan perak menyerahkan perhiasan peraknya dengan cara tidak kontan. Misalnya, pekan pertama dia serahkan 10 gram perak. Pekan berikutnya dia serahkan yang 10 gramnya lagi.

Kenapa riba? Karena, berdasarkan hadits riwayat Muslim, jika emas ditukar dengan perak, maka syaratnya harus ‘yadan bi yadin’ atau ‘kontan’. Jika tidak kontan maka dianggap sebagai riba.

Sedangkan contoh riba di dalam pinjaman adalah ketika orang yang dipinjami mengatakan kepada yang meminjam uang kepadanya sebesar 10 juta_dan saat itu sudah ‘jatuh tempo’ pengembalian_:

“Saya beri tenggang waktu satu bulan lagi untuk mengembalikan uang saya, akan tetapi dengan tambahan. Sehingga hutang anda kepada saya menjadi 12 juta.”

Dan masih banyak lagi contoh-contoh riba. Sebagiannya disepakati ulama bahwa itu riba, dan sebagian lagi masih dibahas ulama apakah riba atau bukan. Namun secara umum, ulama sepakat bahwa mendapatkan uang dengan cara riba adalah haram.

Pengecualian:

Menurut mayoritas ulama, seandainya pihak yang berhutang dengan suka rela (tanpa ada permintaan dari yang memberi hutang) mengembalikan hutang dengan jumlah yang lebih besar, hukumnya boleh.

Dalilnya adalah hadits riwayat Bukhari, yang menyebutkan bahwa Nabi Muhammad pernah meminjam seekor onta dari seseorang, lalu mengembalikannya dengan seekor onta yang kualitasnya lebih baik dan harganya lebih mahal.

Hal ini seperti yang disebutkan di dalam buku ‘Fiqhu Ar-Riba wa Ash-Shorfi wa Al-Qurudh wa An-Nuqud’.

Menipu Ketika Menjual Barang

Misalnya adalah ketika penjual barang mengatakan bahwa barang yang dia jual itu kualitasnya ‘istimewa’, tanpa ada cacatnya, padahal sebetulnya ada ‘cacatnya’. Hanya saja cacat barang tersebut tidak terlihat karena dia tutup-tutupi.

Atau misalnya dengan mengatakan bahwa dia mengambil barang ini dari ‘luar negeri’, sehingga dia bisa menjualnya dengan harga tinggi. Padahal, dia mengambil barang itu dari tempat yang tidak jauh dari rumahnya.

Wallahu a’lam

Fajri NS

Download PDF

[sdm_download id=”1131″ fancy=”0″]




Pelajaran dari Datangnya Musibah

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan Barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.”

(QS. At-Taghobun: 11)

Pembukaan

Musibah adalah satu kata yang sangat akrab di telinga kita. Akhir-akhir ini negeri kita yang tercintabanyak ditimpa berbagai musibah. Belum hilang trauma dari gempa Lombok beberapa waktu lalu, datang lagi musibah yang lebih besar yaitu gempa yang disusul tsunami di Palu dan sekitarnya, dll.Setelah itu disusul lagi dengan bencana tsunami di Banten dan Lampung. Sehingga dari musibah-musibah tersebut banyak memakan korban jiwa dan berbagai kerugian-kerugian yang lain.

Banyak pihak yang mengklaim musibah tersebut datang karena ini dan itu. Yang lain mengklaim karena ini dan itu, dan seterusnya. 

Maka bagaiman Islam memandang musibah-musibah tersebut. Dari mana datangnya, apa sebabnya, bagaimana solusinya dan, apa hikmahnya…??

Mak’na Ayat

Imam Ibnu Katsîr rahimahullâh berkata (menafsirkan ayat di atas):

“Maknanya: seseorang yang ditimpa musibah dan dia meyakini bahwa musibah tersebut merupakan ketentuan dan takdir Allâh, kemudian dia bersabar dan mengharapkan (balasan pahala dari Allâh), disertai (perasaan) tunduk berserah diri kepada ketentuan Allâh tersebut, maka Allâh akan memberikan petunjuk ke (dalam) hatinya dan menggantikan musibah dunia yang menimpanya dengan petunjuk dan keyakinan yang benar dalam hatinya, bahkan bisa jadi Allâh akan menggantikan apa yang hilang darinya dengan sesuatu yang lebih baik baginya.”

(Tafsir Ibnu Katsir 8/137)

Musibah Adalah Suatu Kepastian 

Kehidupan manusia di dunia ini tidak akan luput dari musibah dan cobaan, baik yang berupa kesusahan maupun yang berupa kesenangan, untuk menguji siapa yang syukur dan siapa yang ingkar, siapa yang sebar dan siapa yang putus asa. itu semua adalah sunnatulloh yang pasti terjadi pada setiap insan, yang muslim maupun yang kafir. 

Allah telah berfirman: “Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya), dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan .” (Qs al-Anbiyâ’/21:35)

Sebab Turunnya Musibah

Sudah menjadi sunnatulloh bahwa segala sesuatu yang terjadi itu karena hukum sebab dan akibat. Dan sebab adanya musibah-musibah yang terjadi di negeri kita yang tercinta ini tidak lain adalah dosa-dosa yang dilakukan oleh masyarakat kita sendiri.

Sebagaimana sesuai dengan firman Allah: “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura: 30)

Juga Firman Allah: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Rum: 41)

Maka semakin banyak dosa yang kita lakukan maka akan semakin besar pula musibah yang akan Allah timpakan kepada kita. Terlebih lagi dosa syirik/menyekutukan Allah, kemudian diantara sebabnya juga adalah jahil/bodohnya umat Islam terhadap syari’at-syari’at Islam

Solusi Islam Dalam Menjegah Musibah dan Bencana

Saudaraku seiman…

Ketika al-Qur’an dan as-Sunnah menjelaskan sebab-sebab turunya adzab dan musibah, maka al-Qur’an dan as-Sunnah juga menjelaskan kepada kita jalan keluar darinya. Diantaranya:

Pertama: Bertaubat kepada Allah

Tindakan pertama yang harus dilakukan adalah kembali kepada Allah (bertaubat).

Ibnul Qoyyim berkata: “Tidaklah suatu bala’ dan musibah turun melainkan karena dosa, dan tidaklah bala’ dan musibah tersebut diangkat melainkan dengan taubat.” (Miftah Daaris Sa’aadah 1/287)

Imam al-Qurthubi juga berkata: “Istighfar jika dipanjatkan oleh orang-orang bejat sekalipun, bisa menolak hal-hal yang buruk dan mampu menepis hal-hal yang memudharatkan. “ (Tafsir al-Qurthubi 7/399).

Kedua: Menegakkan tauhid dan menjauhi syirik

Dengan tegaknya tauhid dan hilangnya kesyirikan maka keamanan dan kemakmuran suatu negeri akan terjamin dan terwujud, dan ini janji Allah.

Allah berfirman: “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shaleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apapun. “ (QS. An-Nuur: 55)

Ketiga: Menghidupkan sunnah Rosululloh dan senantiasa beristigfar

Menghidupkan sunnah Rosululloh dan menjadikannya sebagai pedoman hidup merupakan tameng yang paling ampuh untuk menolak adzab dan bencana.

Allah berfirman: “Dan Allah sekali-kali tidak akan mengadzab mereka, sedang kamu (Muhammad) berada di antara mereka. dan tidaklah (pula) Allah akan mengadzab mereka, sedang mereka meminta ampun dan beristighfar.” (QS. Al-Anfaal: 33).

Ibnul Qoyyim mengkomentari ayat tersebut dengan mengatakan: “Jika keberadaan Rosululloh secara fisik di tengah-tengah mereka (kafir Makkah) mampu mencegah turunnya adzab atas mereka, padahal mereka adalah musuh-musuh beliau. Maka bagaimana kiranya jika keberadaan beliau pada diri seseorang atau pada suatu kaum terwujud dalam bentuk cinta dan iman kepada beliau dan dalam bentuk tegaknya sunnah-sunnah beliau ? Bukankah yang demikian ini lebih utama dan lebih pantas untuk terhindar dari adzab ?? “ (I’lamul Muwaqqi’in 1/173)

Keempat: Menegakkan Amar Ma’ruf Nahi Mungkar

Jika sebuah daerah ingin terhindar dari adzab dan musibah, maka orang-orang yang beriman di daerah tersebut harus nasehat-menasehati untuk taat kepada Allah dan Rosul-Nya. Kemaksiatan dan kemungkaran yang terjadi di sekitar mereka tidak boleh dibiarkan, harus ada usaha pencegahan semampu mereka, dan tentunya dengan cara-cara yang dibenarkan oleh syari’at. Jika tidak, maka adzab akan turun kepada mereka.

Allah berfirman: “Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS.Hud: 117)

Rosululloh juga bersabda: “Tidaklak merebak pada suatu kaum praktik kemaksiatan, lantas mereka tidak menghilangkan kemaksiatan tersebut padahal mereka mampu, melainkan sedikit lagi mereka akan ditimpakan oleh Allah adzab yang merata.” (Misykaatul mashaabiih: 514)

Kelima: Berdo’a dan berharap hanya kepada Allah

Saudaraku pembaca yang budiman semoga Allah menjagamu……!!

Ketahuilah, bahwa Allah-lah yang mampu menurunkan adzab dan bencana kepada manusia, dan ketahuilah pula, bahwa hanya Allah-lah juga yang mampu mengangkat musibah tersebut. Maka berdo’alah  hanya kepada Allah, maka niscaya Allah akan mengabulkan do’amu.

Rosululloh bersabda: “Sesungguhnya do’a itu bermanfaat pada apa-apa yang telah terjadi (berupa musibah), dan bermanfaat pada apa-apa yang belum terjaadi. Maka wajib atas kalian untuk berdo’a wahai hamba-hamba Allah.” (Shohih at-Targhib Wa at-Tarhib, no. 1634)

Dalam hadits lain Rosululloh menjelaskan bahwa do’a dapat menolak sesuatu yang tidak diinginkan. Beliau bersabda: “Tidak ada yang mampu menolak taqdir kesuali do’a.” (Shohih at-Targhib Wa at-Tarhib, no. 1638)

Ibnul Qoyyim berkata: “Do’a termasuk obat yang paling mujarab, ia adalah musuh bagi bala’, ia juga yang menolaknya dan memperbaiki dampak buruknya, yang mencegah turunnya, yang mengangkat bala’ tersebut, atau meringankannya jika ia telah turun, dan do’a adalah senjata bagi seorang mukmin.” (Jawabul kafi)

Tingkatan Manusia Dalam Menghadapi Musibah

Syaikhul Islam Ibnu Taimiah menyebutkan bahwa tingkatan manusia dalam menghadapi musibah ada 4 tingkatan, mulai dari yang terendah sampai ke yang tertinggi:1. Marah dan tidak bersabar. Baginya dosa yang besar.2. Sabar. Dia telah selamat dari dosa dan mendapatkan pahala karena kesabarannya.3. Ridha terhadap musibah yang menimpa. Dia mendapatkan pahala tambahan yang jauh lebih besar daripada pahala kesabaran.4. Syukur. Inilah jenjang tertinggi dalam menghadapi musibah.

Musibah, Antara Adzab Dan Ujian

Musibah yang Allah turunkan kepada hamba-Nya ada dua kemungkinan: Adzab atau ujian.

Pertama: Musibah yang merupakan adzab dari Allah.

Ini apabila ditimpakan kepada orang-orang kafir atau orang yang banyak berbuat kemaksiatan terutama kesyirikan. Maka Allah turunkan adzab dalam bentuk musibah tersebut agar mereka merasakan sebagian dari adzab Allah dan agar mereka kembali kepada jalan yang benar.

Juga Firman Allah: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Rum: 41)

Kedua: Musibah yang merupakan ujian bagi hamba-Nya yang beriman

Bagi orang yang beriman, dalam sebuah musibah terdapat kebaikan, karena dengan musibah tersebut Allah membersihkan dosa-dosa dan menutup kesalahan-kesalahan, sehingga dia keluar dari dunia tanpa dosa sedikitpun, seperti dijelaskan dalam sebuah hadits. Hal ini menunjukkan cinta Allah terhadaporang yang beriman. Sesungguhnya Allah membersihkan dosa-dosa orang yang beriman di dunia sampai ia mendatangi akhirat dalam keadaan bersih, maka ia masuk ke dalam surga.

Adapun bagi orang kafir, maka Allah mempertahankan dan menganugerahkan berbagai nikmatkepadanya sebagai istidraj (penangguhan hukuman) baginya. Dikarenakan Allah tidak mencintainya, maka Allah memberikan istidraj baginya dengan berbagai nikmat agar menambah kekufuran dan kemaksiatannya sampai ia mendatangi hari kiamat dengan dosa-dosanya, dan ia berada di dalamneraka. Wal ‘iyadzu billah.

(Lihat kitab Jaami’u Fatawa At Thabib wal Maridh).

Musibah Merupakan Tanda Cinta Allah pada HambaNya yang Ridho

Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya besarnya balasan sesuai dengan besarnya cobaan. Dan sesungguhnya Allah jika Ia mencintai suatu kaum maka Allah akan coba/timpakan pada merekamusibah, barangsiapa yang ridho maka baginya ridho Allah dan barangsiapa yang marah terhadapcobaan/musibah dari Allah maka baginya murka Allah.” (HR. Tirmidzi no. 2396) Di Hasankan oleh al-Albani dalam Sunan At-Tirmidzi hal. 540. 

Ibnu ‘Aun mengatakan, “Ketahuilah, sesungguhnya seorang hamba tidaklah mencapai hakikat dariridho sampai dia menjadikan ridhonya ketika tertimpa kefakiran dan musibah sebagaimana ridhonyaketika diberikan kecukupan dan kesenangan/kelapangan.” (Taisil ‘Azizil Hamiid Fi Syarhi Kitabit Tauhid hal. 451.

Musibah Sebagai Penghapus Dosa

Nabi Bersabda: “Seorang laki-laki dan perempuan yang beriman kepada Allah akan senantiasa ditimpa musibah pada jiwanya, anaknya dan hartanya sampai ia bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak memiliki disa.” (HR. Tirmidzi no. 2399) Dihasankan oleh al-Albani dalam Sunan Tirmidzi hal. 431)

Juga sabda beliau: “Tidaklah rasa sakit yang terus menerus, kepayahan, penyakit dan juga kesedihan yang menimpa seorang mukmin, bahkan sampai kesusahan yang menyusahkannya, melainkan akan dihapuskan dengannya dosa-dosanya”. (HR. Muslim (4/1993))

juga bersabda: ”Tidaklah seorang muslim termasuk duri atau yang lebih dari itu, melainkan ditetapkan baginya karena hal itu satu derajat dan dihapuskan pula satu kesalahan darinya karena hal itu”. (HR. Muslim (4/1991))

Penutup

Saudaraku seiman, yang semoga dirahmati oleh Allah….

Kita memohon kepada Allah agar memberikan kesabaran kepada kaum muslimin yang tertimpa musibah, dan semoga musibah-musibah ini dapat menghapuskan dosa-dosa mereka, dan semoga Allah menggantinya dengan yang lebih baik. Amin….!!

Oleh: Abu Sahl Feri al-Kadawy

Download PDF


[sdm_download id=”1125″ fancy=”0″]




Prestasi Gemilang Para Khalifah

Sejarah Islam mencatat prestasi gemilang para khalifah Umat Islam. Khalifah adalah pemimpin tertinggi umat Islam. Dimulai dari zamannya para khalifah yang tidak diragukan lagi kebaikan mereka, yang mendapat kemuliaan berupa keridhaan Allah kepada mereka, yaitu para ‘Khulafa’ Rasyidun’ (Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali). Karena sangat terkenalnya mereka, hingga seolah mereka tidak perlu lagi diperkenalkan. Dan sangat kurang pantas seorang muslim tidak mengenal mereka.

Adapun para khalifah setelah empat khalifah ini, kita perlu mengenalnya lebih jauh. Kita ambil contoh para khalifah di zaman khilafah ‘Umawiyah’. Yaitu khilafah setelah zamannya para ‘Khulafa’ Rasyidin’.

Perlu diketahui, jumlah khalifah yang memimpin khilafah Umawiyah ada 14, dan yang paling terlihat pretasinya ada 4, yaitu:

1. Mu’awiyah bin Abi Sufyan (pemimpin pertama khilafah Umawiyah).

2. ‘Abdul Malik bin Marwan.

3. Al-Walid bin ‘Abdul Malik bin Marwan.

4. ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz.

Pertama: Mu’awiyah

Beliau menjadi khalifah setelah Al-Hasan (cucu Nabi Muhammad ﷺ ) mengalah dan menyerahkan kepemimpinannya kepada Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhuma. Dengan ini, tahun tersebut dikenal dengan istilah ‘Amul Jama’ah’ (tahun persatuan umat Islam).

Beberapa keistimewaan Mu’awiyah:

  • Nabi Muhammad memilihnya sebagai salah satu penulis wahyu Al-Qur’an. Sebuah kehormatan yang sangat tinggi dan mulia.
  • Di zaman Abu Bakar, Mu’awiyah ikut serta dalam jihad memerangi orang-orang yang murtad.
  • Di zaman khalifah Umar, Mu’awiyah diberi amanah memimpin kota Dimasyq.
  • Di zaman khalifah ‘Utsman, Mu’awiyah diberi amanah memimpin semua daerah Syam.

Beberapa sifat menonjol Mu’awiyah:

  • Kecerdasan yang sangat tinggi.
  • Mempunyai perencanaan yang jauh ke depan.
  • Kemampuan yang tinggi dalam manajemen urusan negara, salah satu ‘trobosan’ yang dibuat adalah dibentuk sebuah lembaga semacam ‘pos’, sehingga urusan surat-menyurat menjadi cepat.

Sejarah mencatat kesuksesan yang gemilang di masa kepemimpinannya. Sepeninggal Mu’awiyah, kepemimpinan jatuh di tangan putranya yaitu Yazid bin Mu’awiyah. Dan di masa kepemimpinan Yazid, mulai ada tanda-tanda kemunduran, bahkan hampir saja negara ‘runtuh’.

Tapi, alhamdulillah, Allah masih memberi pertolongan melalui sepupu Mu’awiyah yang bernama Marwan bin Al-Hakam. Hingga kekuatan khilafah bangkit kembali.

Kedua: ‘Abdul Malik bin Marwan

Setelah Marwan bin Hakam wafat, kepemimpinan digantikan oleh putranya, yaitu ‘Abdul Malik bin Marwan.

Beberapa prestasi

Di masa khalifah ‘Abdul Malik bin Marwan, sebetulnya banyak terjadi kekacauan di dalam wilayah Islam sendiri. Akan tetapi, alhamdulillah, dengan kemampuannya memimpin, semua bisa diatasi.

Di masa khalifah ‘Abdul Malik bin Marwan memang tidak banyak kota-kota yang ‘dibebaskan’, karena beliau sibuk mengkondisikan situasi keamanan di dalam wilayah Islam.

Meskipun demikian, ada satu perubahan yang sangat positif dalam hal ekonomi, yaitu diberlakukannya mata uang dinar (emas) dan dirham (perak), yang sebelumnya kaum muslimin menggunakan mata uang Persia dan Romawi. 

Ketiga: Al-Walid bin ‘Abdul Malik

Sepeninggal beliau, kepemimpinan dipegang oleh putanya, yaitu Al-Walid bin ‘Abdul Malik. Di masa kepemimpinannya, wilayah-wilayah Islam menjadi sangat banyak.

Prestasi

Di masa ini, persebaran dakwah Islam semakin luas, hingga wilayah kekuasaan Islam meluas ke arah timur sampai Cina. 

Keempat: ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz

Setelah khalifah Al-Walid bin ‘Abdul Malik wafat, maka kepemimpinan khilafah Umawiyah dipegang oleh Sulaiman bin ‘Abdul Malik. Kemudian, sepeninggal Sulaiman bin ‘Abdul Malik, kepemimpinan dipegang oleh seorang khalifah adil dan pemberani yang bernama ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz. Ini pun atas wasiat yang ditulis oleh Sulaiman bin ‘Abdul Malik, dan alhamdulillah, dia ‘tidak salah pilih’.

Tentu tidak asing lagi bagi kita nama yang satu ini. Serasa ada rasa bangga dan mulia ketika mendengar nama ini disebut. Barangkali ini karena kemuliaan yang Allah anugerahkan kepadanya. 

Sampai-sampai Imam Suyuthy menyebutnya sebagai ‘Khamis Al-Khulafa’ Ar-Rasyidin’ (yaitu: Khulafa’ Rasyidun yang ke Lima).

Kita tahu, ada beberapa sahabat Nabi Muhammad yang mendapat gelar sangat mulia, yaitu Al-Khulafa’ Ar-Rasyidun, dan jumlahnya hanya empat, yaitu: Abu Bakar Ash-Shidiq, ‘Umar bin Khatthab, ‘Utsman bin ‘Affan, dan ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhum.

Maka, sangat terhormat sekali jika khalifah ke 8 di khilafah Umawiyah (yaitu: ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz) dijuluki khalifah yang ke 5 dari khulafa’ rasyidun.

Dan gelar ini tidaklah berlebihan, karena ulama mengakui, ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz ini mirip dengan para khulafa’ rasyidun (Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali) dalam memimpin umat Islam. Ada yang mengatakan, kemiripan ini di tiga hal:

  • Keadilan.
  • Pemerataan hak.
  • Komitmen dalam melaksanakan syari’at Islam.

Dan ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz ini sangat terinspirasi dengan ‘Umar bin Khatthab secara khusus dalam memimpin khilafah Umawiyah.

Garis keturunan Umar bin Khatthab

Jika dilihat dari garis keturunan, terutama dari jalur sang ibunda, maka jelas sekali bahwa di dalam tubuh ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, mengalir darah ‘Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu.

Imam Suyuthy, di dalam kitab ‘Tarikh Al-Khulafa’, menyebutkan garis keturunan sang ibunda:

“Ibunda ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz bernama: Ummu ‘Ashim bintu ‘Ashim bin ‘Umar bin Khatthab… “

Memberi contoh kebaikan kepada rakyatnya

Contoh pemimpin sangat besar pengaruhnya terhadap yang dipimpin. Dan ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz pun bukan hanya mengajarkan ‘teori’ kepada rakyatnya. Bahkan memulai dari diri dan keluarganya.

Pertama, dia meninggalkan segala bentuk kemewahan yang biasa nampak di kehidupan para pemimpin khilafah Umawiyah sebelumnya. Dalam hal sarana dan prasarana, dia hanya mencukupkan dengan sarana yang sifatnya ‘pokok’ dan mendesak. Tidak perlu sarana-sarana yang sifatnya tidak penting, apalagi mewah. Kesederhanaan hidup ini juga dia terapkan para istri dan putra-putranya.

Menghapus denda-denda

Termasuk perubahan positif yang dilakukannya adalah menghapus semua bentuk denda yang sebelumnya diberlakukan di daerah Irak.

Mengembalikan hak rakyat yang pernah dirampas

Temasuk perubahan positif yang dilakukannya adalah mengembalikan hak-hak rakyat yang pernah dirampas. Dan tentunya, hal ini mendapat pertentangan dari para pembesar khilafah Umawiyah sebelumnya. Akan tetapi, ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz tidak gentar dan tetap pada pendiriannya. Berdiri kokoh bagaikan batu karang yang tidak bergeser sedikitpun diterjang ombak.

Justru karena keadilan yang ‘tidak pandang bulu’ inilah, banyak sekali orang-orang yang akhirnya masuk Islam. Bahkan beberapa raja di wilayah-wilayah sekitar juga ikut masuk Islam. Allahu Akbar !!

Pengaruh kebaikan yang sangat luas

Malik bin Dinar berkata:

“Ketika hari di mana ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz resmi diangkat menjadi khalifah, para penggembala kambing berkata: ‘Siapa orang shalih ini, yang hari ini menjabat sebagai khalifah? Keadilannya sampai-sampai menahan serigala-serigala dari menerkam kambing-kambing kami!’”

Wafatnya sang khalifah

Imam Suyuthi di dalam kitab ‘Tarikh Al-Khulafa’, menuliskan bahwa wafatnya ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz adalah lantaran racun yang dimasukkan ke dalam minumannya. Hal ini tidak mengherankan, karena para pembesar tentunya dendam karena mereka pernah diadili oleh ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, dan mengembalikan hak-hak rakyat yang pernah mereka rampas.

Tapi, hakekatnya mereka tidaklah merugikan kecuali diri mereka sendiri. In syaa Allah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz wafat dalam kebaikan. Jasadnya memang telah tiada, tapi kebaikannya terus mengalir, perjuangannya selalu dikenang, dan jalan hidupnya menjadi teladan, terutama dalam bagi para pemimpin. Semoga Allah merahmatinya.

Entah berapa lembar kertas yang dibutuhkan, dan berapa banyak tinta yang dihabiskan untuk menulis biografi pemimpin yang seperti ini kebaikannya. Tapi yang sedikit ini semoga bisa menjadi ‘suluh’ di tengah-tengah gelapnya kerinduan akan pemimpin yang shalih, adil dan pemberani.

:: Sumber Bacaan:

  • Kitab ‘Tarikh Al-Khulafa’, karya Imam Jalaludin As-Suyuthi.
  • Shuwarun Minat Tarikh Al-Islamy (disusun beberapa profesor dan doktor dibidang sejarah, bahasa dan tarbiyah).

Download PDF


[sdm_download id=”1101″ fancy=”0″]