<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Radio Suara Quran &#124; 94.4 FM</title>
	<atom:link href="http://suaraquran.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://suaraquran.com</link>
	<description>Media Kalam Ilahi</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Sep 2010 14:33:36 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>INFO Awal Syawal 1431 H pada Jumat 10 September 2010</title>
		<link>http://suaraquran.com/info-awal-syawal-1431-h-pada-jumat-10-september-2010/</link>
		<comments>http://suaraquran.com/info-awal-syawal-1431-h-pada-jumat-10-september-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Sep 2010 12:52:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suaraquran</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[awal syawal]]></category>
		<category><![CDATA[hari raya pemerintah]]></category>
		<category><![CDATA[lebaran 1431]]></category>
		<category><![CDATA[syawal lebaran 1431]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suaraquran.com/?p=1058</guid>
		<description><![CDATA[PIDATO Menteri Agama  Awal Syawal 1431 H Lebaran dipastikan jatuh pada hari Jumat. Berdasarkan hasil sidang itsbat dan pemantauan tidak terlihat hilal pada hari ini. &#8220;Dari Jayapura sampau Banda Aceh di 29 lokasi tidak terlihat hilal,&#8221; kata Sekretaris Dirjen Bimas Islam Muhaimin Lutfi di Gedung Depag, Jl Pejambon, Jakarta, Rabu (8/9/2010). Selain itu berdasarkan pemantauan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://suaraquran.com/wp-content/uploads/2010/09/hilal.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-1062" title="hilal" src="http://suaraquran.com/wp-content/uploads/2010/09/hilal-300x277.jpg" alt="" width="300" height="277" /></a></strong></p>
<p><a href="http://suaraquran.com/download/penetapan-pemerintah-awal-syawal-1431.mp3" target="_blank"><strong>PIDATO Menteri Agama  Awal Syawal 1431 H</strong></a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Lebaran dipastikan jatuh pada hari Juma</strong>t. Berdasarkan hasil sidang itsbat dan pemantauan tidak terlihat hilal pada hari ini.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Dari Jayapura sampau Banda Aceh di 29 lokasi tidak terlihat hilal,&#8221; kata Sekretaris Dirjen Bimas Islam Muhaimin Lutfi di Gedung Depag, Jl Pejambon, Jakarta, Rabu (8/9/2010).</p>
<p style="text-align: justify;">Selain itu berdasarkan pemantauan dan laporan sejumlah organisasi keagamaan, diperoleh kesamaan bahwa 1 Syawal jatuh pada 10 September.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Berbagai lembaga dan instansi hasil rukyah dan hisabnya menetapkan idul fitri jatuh pada hari Jumat,&#8221; tutup Muhaimin</p>
<p style="text-align: right;"><em>www.detiknews.com</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suaraquran.com/info-awal-syawal-1431-h-pada-jumat-10-september-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
<enclosure url="http://suaraquran.com/download/penetapan-pemerintah-awal-syawal-1431.mp3" length="463104" type="audio/mpeg" />
		</item>
		<item>
		<title>FATWA Ulama Berkaitan Hukum Shalat Jum’at di Hari Raya</title>
		<link>http://suaraquran.com/fatwa-ulama-berkaitan-hukum-shalat-jum%e2%80%99at-di-hari-raya/</link>
		<comments>http://suaraquran.com/fatwa-ulama-berkaitan-hukum-shalat-jum%e2%80%99at-di-hari-raya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Sep 2010 22:21:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suaraquran</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[fatwa sholat id]]></category>
		<category><![CDATA[hukum sholat id hari jum'at]]></category>
		<category><![CDATA[id atau jumat]]></category>
		<category><![CDATA[ied jumat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suaraquran.com/?p=1045</guid>
		<description><![CDATA[1. Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah Pertanyaan : Jika datang ‘Idul Fithri pada hari Jum’at apakah boleh bagiku untuk shalat ‘Id namun aku tidak shalat Jum’at, atau sebaliknya? Jawab: Apabila Hari Raya bertepatan dengan hari Jum’at maka barangsiapa yang telah menunaikan shalat ‘id berjama’ah bersama imam, gugur darinya kewajiban menghadiri shalat Jum’at dan hukumnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><br />
</strong></p>
<p><a title="Komentar pada Fatwa Ulama Berkaitan Hukum Shalat Jum’at di Hari Raya" href="http://fadhlihsan.wordpress.com/2010/06/29/fatwa-ulama-berkaitan-hukum-shalat-jumat-di-hari-raya/#respond"></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://suaraquran.com/wp-content/uploads/2010/09/id-jumat.jpg"></a><a href="http://suaraquran.com/wp-content/uploads/2010/09/id-jumat1.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1047" title="id jumat" src="http://suaraquran.com/wp-content/uploads/2010/09/id-jumat1-300x192.jpg" alt="" width="300" height="192" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>1. Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pertanyaan : Jika datang ‘Idul Fithri pada hari Jum’at apakah boleh bagiku untuk shalat ‘Id namun aku tidak shalat Jum’at, atau sebaliknya?</p>
<p style="text-align: justify;">Jawab:</p>
<p style="text-align: justify;">Apabila Hari Raya bertepatan dengan hari Jum’at maka barangsiapa yang telah menunaikan shalat ‘id berjama’ah bersama imam, gugur darinya kewajiban menghadiri shalat Jum’at dan hukumnya bagi dia menjadi<br />
sunnah saja. Apabila dia tidak menghadiri shalat Jum’at maka tetap wajib atasnya shalat zhuhur. Ini berlaku bagi selain imam.</p>
<p style="text-align: justify;">Adapun imam, tetap wajib atasnya untuk menghadiri Jum’at dan melaksanakannya bersama kaum muslimin yang hadir. Shalat Jum’at pada hari tersebut tidak ditinggalkan sama sekali. (Al-Muntaqa min Fatawa Al-Fauzan VIII/44)</p>
<p><span id="more-1045"></span></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>2. Al-Lajnah Ad-Daimah lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah wa Al-Ifta` Fatwa no. 2358</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pertanyaan : Pada tahun ini bertemu dalam sehari dua hari raya, yaitu: Hari Jum’at dan ‘Idul Adh-ha. Manakah yang benar: Kita tetap melaksanakan shalat zhuhur jika kita tidak shalat Jum’at, ataukah kewajiban shalat zhuhur gugur apabila kita tidak shalat Jum’at?</p>
<p style="text-align: justify;">Jawab:</p>
<p style="text-align: center;">Barangsiapa yang melaksanakan shalat ‘Id bertepatan dengan hari Jum’at, maka dia diberi rukhshah (keringanan) untuk meninggalkan shalat Jum’at pada hari tersebut, kecuali imam. Adapun imam, tetap wajib atasnya menegakkan shalat Jum’at bersama kaum muslimin yang hadir shalat Jum’at, baik yang sudah shalat ‘Id maupun tidak shalat ‘Id. Apabila tidak ada seorang pun yang hadir, maka gugurlah kewajiban Jum’at darinya, dan dia melaksanakan shalat Zhuhur. (Para ‘ulama yang berpendapat demikian) berdalil dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam kitab Sunan-nya dari Iyas bin Abi Ramlah Asy-Syami berkata :</p>
<h2 style="text-align: center;">« شهدت معاوية بن أبي سفيان وهو يسأل زيد بن أرقم قال: أشهدت مع رسول الله صلى الله عليه وسلم عيدين اجتمعا في يوم؟ قال: نعم، قال: فكيف صنع؟ قال: صلى العيد ثم رخص في الجمعة، فقال: من شاء أن يصلي فليصل، »</h2>
<p style="text-align: justify;">Aku menyaksikan Mu’awiyah bin Abi Sufyan sedang bertanya kepada Zaid bin Arqam, “Apakah engkau menyaksikan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dua ‘Id bertepatan pada satu hari?” Zaid menjawab, “Ya.” Mu’awiyah bertanya lagi, “Bagaimana yang beliau lakukan?” Zaid menjawab, “Beliau mengerjakan shalat ‘Id kemudian memberikan rukhshah (keringanan) untuk shalat Jum’at. Beliau mengatakan, “Barangsiapa yang hendak mengerjakan shalat (Jum’at), maka silakan mengerjakan shalat (Jum’at).”</p>
<p style="text-align: justify;">[<em>HR. Ahmad (IV/372), Abu Dawud 1070, An-Nasa`i 1591, Ibnu Majah 1310.  Hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Madini, Al-Hakim, dan Adz-Dzahabi.  Dishahihkan pula oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud –  Al-Umm no. 98</em>1]</p>
<p style="text-align: justify;">Juga berdalil dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan-nya juga dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda:</p>
<h2 style="text-align: center;">« قد اجتمع في يومكم هذا عيدان، فمن شاء أجزأه من الجمعة، وإنا مجمعون »</h2>
<p style="text-align: justify;">“Telah terkumpul pada hari kalian ini dua ‘Id. Barangsiapa yang mau maka itu sudah mencukupinya dari shalat Jum’at. Sesungguhnya kita memadukan (dua ‘id).” [<em>HR. Abu Dawud 1073, Ibnu Majah 1311. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud – Al-Umm no. 983</em>.]</p>
<p style="text-align: justify;">Dalil-dalil tersebut menunjukkan bahwa rukhshah (keringanan) tersebut untuk shalat Jum’at bagi barangsiapa yang telah menunaikan shalat ‘Id pada hari tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekaligus diketahui bahwa tidak berlaku rukhshah bagi imam, karena sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits tersebut, “Sesungguhnya kita memadukan (dua ‘id).” Juga berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari shahabat An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma:</p>
<h2 style="text-align: center;">« أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يقرأ في صلاة الجمعة والعيد بسبح والغاشية، وربما اجتمعا في يوم فقرأ بهما فيهما »</h2>
<p style="text-align: justify;">“Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dulu membaca dalam shalat Jum’at dan shalat ‘Id surat Sabbihis dan surat Al-Ghasyiyah. Terkadang dua ‘Id tersebut bertemu/bertepatan dalam satu hari, maka beliau membaca dua surat tersebut dalam dua shalat (”Id dan Jum’at).” [<em>HR. Muslim no. 878</em>].</p>
<p style="text-align: justify;">Barangsiapa yang tidak menghadiri shalat Jum’at bagi yang telah menunaikan shalat ‘Id, maka tetap wajib atasnya untuk shalat Zhuhur, berdasarkan keumuman dalil-dalil yang menunjukkan kewajiban shalat Zhuhur bagi yang tidak shalat Jum’at.</p>
<h3 style="text-align: center;">وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.</h3>
<p style="text-align: justify;">Al-Lajnah Ad-Da`imah lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah wa Al-Ifta`,<br />
Ketua: ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz,<br />
Wakil Ketua: ‘Abdurrazzaq ‘Afifi,<br />
Anggota: ‘Abdullah bin Ghudayyan, ‘Abdullah bin Qu’ud.</p>
<p style="text-align: justify;">Adapun dalam fatwa no. 2140, Al-Lajnah menyatakan sebagai berikut:</p>
<p style="text-align: justify;">Apabila ‘Id bertepatan dengan hari Jum’at, maka gugur kewajiban menghadiri shalat Jum’at bagi orang yang telah menunaikan shalat ‘Id. Kecuali bagi imam, kewajiban shalat Jum’at tidak gugur darinya. Terkecuali apabila memang tidak ada orang yang berkumpul/hadir (ke masjid) untuk shalat Jum’at.</p>
<p style="text-align: justify;">Di antara yang berpendapat demikian adalah adalah : Al-Imam Asy-Sya’bi, Al-Imam An-Nakha’i, Al-Imam Al-Auza’i. Ini adalah madzhab shahabat ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, Sa’id, Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Abbas, Ibnu Az-Zubair radhiyallahu ‘anhum dan para ulama yang sependapat dengan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>3. Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pertanyaan: Apa hukum shalat Jum’at jika bertepatan dengan hari ‘Id, apakah wajib menegakkannya atas seluruh kaum muslimin, ataukah hanya wajib atas sekelompok tertentu saja? Karena sebagian orang berkeyakinan bahwa apabila hari ‘Id bertepatan dengan hari Jum’at berarti tidak ada shalat shalat Jum’at.</p>
<p style="text-align: justify;">Jawab:</p>
<p style="text-align: justify;">Tetap wajib atas imam dan khathib shalat Jum’at untuk menegakkan shalat Jum’at, hadir ke masjid, dan shalat berjama’ah mengimami orang-orang yang hadir di masjid. Karena dulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegakkan shalat Jum’at pada hari ‘Id, beliau ‘alahish shalatu was salam melaksanakan shalat ‘Id dan shalat Jum’at. Terkadang beliau dalam shalat ‘Id dan shalat Jum’at sama-sama membaca surat Sabbihisma dan surat Al-Ghasyiyah, sebagaimana dikatakan oleh shahabat An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma dalam riwayat yang shahih dari beliau dalam kitab Shahih (Muslim).</p>
<p style="text-align: justify;">Namun bagi orang yang telah melaksanakan shalat ‘Id, boleh baginya untuk meninggalkan shalat Jum’at dan hanya melaksanakan shalat Zhuhur di rumahnya atau berjama’ah dengan beberapa orang saudaranya, apabila mereka semua telah melaksanakan shalat ‘Id.</p>
<p style="text-align: justify;">Apabila dia melaksanakan shalat Jum’at berjama’ah maka itu afdhal (lebih utama) dan akmal (lebih sempurna). Namun apabila ia meninggalkan shalat Jum’at, karena ia telah melaksanakan shalat ‘Id, maka tidak mengapa, namun tetap wajib atasnya melaksanakan shalat Zhuhur, baik sendirian ataupun berjama’ah. Wallahu Waliyyut Taufiq. (Majmu Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah XII/341-342)</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam fatwanya yang lain, ketika beliau mengingkari pendapat yang menyatakan bahwa jika ‘Id bertepatan dengan hari Jum’at, maka bagi orang yang telah melaksanakan shalat ‘Id gugur kewajiban shalat Jum’at dan shalat Zhuhur sekaligus, Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah mengatakan:</p>
<p style="text-align: justify;">“Ini juga merupakan kesalahan yang sangat jelas. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan atas hamba-hamba-Nya shalat lima waktu dalam sehari semalam, dan kaum muslimin telah berijma’ atas kewajiban tersebut. Yang kelima pada hari Jum’at adalah kewajiban shalat Jum’at. Hari ‘Id apabila bertepatan dengan hari Jum’at termasuk dalam kewajiban tersebut. Kalau seandainya kewajiban shalat Zhuhur gugur dari orang yang telah melaksanakan shalat ‘Id niscaya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan mengingatkan hal tersebut. Karena ini merupakan permasalahan yang tidak diketahui oleh umat.</p>
<p style="text-align: justify;">Tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan rukhshah (keringanan) untuk meninggalkan shalat Jum’at bagi orang yang sudah melaksanakan shalat ‘Id dan tidak menyebutkan gugurnya kewajiban shalat Zhuhur, maka diketahui bahwa kewajiban (shalat Zhuhur) tersebut masih tetap berlaku. Berdasarkan hukum asal dan dalil-dalil syar’i, serta ijma’ (kaum muslimin) atas kewajiban shalat lima waktu dalam sehari semalam.</p>
<p style="text-align: justify;">Dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap melaksanakan shalat Jum’at pada (hari yang bertepatan dengan) hari ‘Id, sebagaimana terdapat dalam hadits-hadits, di antaranya hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Shahih-nya dari shahabat An-Nu’man bin Basyir:</p>
<h2 style="text-align: center;">« أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يقرأ في صلاة الجمعة والعيد بسبح والغاشية، وربما اجتمعا في يوم فقرأ بهما فيهما »</h2>
<p style="text-align: justify;">“Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dulu membaca dalam shalat Jum’at dan shalat ‘Id surat Sabbihis dan surat Al-Ghasyiyah. Terkadang dua ‘Id tersebut bertemu/bertepatan dalam satu hari, maka beliau membaca dua surat tersebut dalam dua shalat (”Id dan Jum’at).”</p>
<p style="text-align: justify;">Adapun apa yang diriwayatkan dari shahabat ‘Abdullah bin Az-Zubair bahwa beliau melaksanakan shalat ‘Id kemudian tidak keluar lagi baik untuk shalat Jum’at maupun shalat Zhuhur, maka itu dibawa pada kemungkinan bahwa beliau memajukan shalat Jum’at, dan mencukupkan dengan itu dari mengerjakan shalat ‘Id dan shalat Zhuhur. Atau pada kemungkinan bahwa beliau berkeyakinan bahwa imam pada hari tersebut memiliki hukum yang sama dengan yang lainnya, yaitu tidak wajib keluar untuk melaksanakan shalat Jum’at, namun beliau tetap shalat Zhuhur di rumahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemungkinan mana pun yang benar, kalau pun taruhlah yang benar dari perbuatan beliau bahwa beliau berpendapat gugurnya kewajiban shalat Jum’at dan Zhuhur yang sudah shalat ‘Id maka keumuman dalil-dalil syar’i, prinsip-prinsip yang diikuti, dan ijma’ yang ada bahwa wajib shalat Zhuhur atas siapa yang tidak shalat Jum’at dari kalangan para mukallaf, itu semua lebih dikedepankan daripada apa yang diamalkan oleh Ibnu Az-Zubair radhiyallahu ‘anhu. …” (Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah XXX/261-262)</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>4. Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah</strong>, mengatakan:</p>
<p style="text-align: justify;">Kenyataannya masalah ini terdapat perbedaan di kalangan ulama rahimahumullah. Pendapat yang kuat, yang ditunjukkan oleh As-Sunnah, bahwa kita katakan,</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kesatu</strong>, Apabila hari Jum’at bertepatan dengan ‘Id maka engkau wajib shalat ‘Id. Barangsiapa yang telah melaksanakan shalat ‘Id, maka bagi dia bebas memilih apakah dia mau hadir shalat Jum’at bersama imam, ataukah ia shalat Zhuhur di rumahnya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kedua,</strong> tetap wajib mengadakan shalat Jum’at di suatu negeri/daerah. Barangsiapa yang hadir maka dia shalat Jum’at, barangsiapa yang tidak hadir maka dia shalat Zhuhur di rumahnya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ketiga</strong>, pada hari itu shalat Zhuhur tidak dilaksanakan di masjid, karena yang wajib dilaksanakan adalah shalat Jum’at, sehingga tidak dilakukan shalat Zhuhur (di masjid).</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Inilah pendapat yang kuat, yang ditunjukkan oleh dalil-dalil As-Sunnah</strong>. (Fatawa Nur ‘ala Ad-Darb – Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin)</p>
<p style="text-align: justify;">Footnote:</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Sumber: <a href="http://www.assalafy.org/mahad/?p=402#more-402">http://www.assalafy.org</a></p>
<p style="text-align: justify;">Baca Juga : <a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2789-bila-hari-ied-jatuh-pada-hari-jumat.html">http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2789-bila-hari-ied-jatuh-pada-hari-jumat.html</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suaraquran.com/fatwa-ulama-berkaitan-hukum-shalat-jum%e2%80%99at-di-hari-raya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mendulang Sunnah Nabi pada Hari Raya ‘Iedul Fitri</title>
		<link>http://suaraquran.com/mendulang-sunnah-nabi-pada-hari-raya-%e2%80%98iedul-fitri/</link>
		<comments>http://suaraquran.com/mendulang-sunnah-nabi-pada-hari-raya-%e2%80%98iedul-fitri/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Sep 2010 13:59:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suaraquran</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[doa hari raya]]></category>
		<category><![CDATA[hukum sholai id]]></category>
		<category><![CDATA[sholat ied]]></category>
		<category><![CDATA[suara quran]]></category>
		<category><![CDATA[suaraquran]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah sholat id]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suaraquran.com/?p=1039</guid>
		<description><![CDATA[‘Iedul Fitri merupakan salah satu hari besar umat Islam. Setelah berpuasa sebulan penuh, siang hari menahan diri dari makan, minum dan syahwat, malam hari menunaikan shalat tarawih berjama’ah, maka tibalah hari yang dinanti, Hari Raya ‘Iedul Fitri. Dari sisi bahasa, ‘Ied, artinya sesuatu yang kembali. Yaitu satu hari yang akan selalu berulang kembali setiap tahun. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://suaraquran.com/wp-content/uploads/2010/09/doa-Id.jpeg"><a href="http://suaraquran.com/wp-content/uploads/2010/09/doa-Id1.jpeg"><img class="alignleft size-full wp-image-1043" title="doa Id" src="http://suaraquran.com/wp-content/uploads/2010/09/doa-Id1.jpeg" alt="" width="259" height="147" /></a></a><strong>‘Iedul Fitri merupakan salah satu hari besar umat </strong>Islam. Setelah berpuasa sebulan penuh, siang hari menahan diri dari makan, minum dan syahwat, malam hari menunaikan shalat tarawih berjama’ah, maka tibalah hari yang dinanti, Hari Raya ‘Iedul Fitri. Dari sisi bahasa, ‘Ied, artinya sesuatu yang kembali. Yaitu satu hari yang akan selalu berulang kembali setiap tahun.</p>
<p style="text-align: justify;">Kaum muslimin menyambut hari ini dengan suka cita. Setelah sebulan penuh jiwa dan fisiknya dilatih melalui ibadah puasa, maka sekarang tibalah masa pembuktian. Apakah latihan selama sebulan penuh itu berbuah ataukah tidak? Latihan jiwa yang ditempuh dalam bulan suci ini, diharapkan membekas pada diri; sehingga ketika keluar dari bulan Ramadhan, kita berhak mendapat gelar muttaqin yang seperti diharapkan. Allah berfirman,</p>
<p style="text-align: justify;">Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu bershiyam sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa. (QS AlBaqarah:183).<br />
<span id="more-1039"></span><br />
Melalui tulisan ini, kami mengajak segenap kaum muslimin agar melewati hari besar yang bahagia ini, yaitu dengan mengamalkan Sunnah Nabi yang berkaitan dengannya. Jangan sampai hari bergembira ria ini menyeret kita ke lembah dosa, seperti: mabuk-mabukan, bercampur-baur antara lelaki dan pria, berjabat tangan antara pria dengan wanita yang bukan mahram, berlebihan-lebihan dalam hal makanan dan minuman, mubadzir dan menghambur-hamburkan harta, dan lain sebagainya. Sehingga hilanglah hikmah ‘Iedul Fitri yang agung ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Perlu diingat, selepas bulan Ramadhan, bukan berarti tiba masa balas dendam untuk melampiaskan syahwat, seperti yang dibayangkan oleh sebagian kaum muslimin. Bahkan, dengan tibanya hari ‘Ied ini, seharusnya lebih menguatkan semangat kita dalam melakukan ketaatan kepada Allah l .</p>
<p style="text-align: justify;">Berikut ini, kami sampaikan beberapa Sunnah Nabi berkaitan dengan hari yang agung ini.</p>
<p style="text-align: justify;">- Shalat ‘Ied Hukumnya Wajib</p>
<p style="text-align: justify;">Masih banyak kaum muslimin yang tidak mengetahui hukum ini. Rasulullah n telah memerintahkan wanita haidh dan gadis dalam pingitan untuk keluar menghadirinya. Padahal, untuk shalat-shalat wajib lainnya -seperti shalat Jum’at- beliau mengatakan,Shalat di rumah lebih baik bagi mereka. Bahkan diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib, bahwa beliau mewakilkan kepada seseorang untuk mengimami shalat ‘Ied di masjid bagi yang tidak sanggup datang ke lapangan. Para ulama, dari dahulu sampai sekarang -seperti: Imam Ahmad, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Ash Shan’ani, Asy Syaukani, Syaikh Al Albani dan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin- mengatakan hukumnya wajib ‘ain. [1] Shalat ‘Ied di lapangan merupakan syi’ar kaum muslimin. Oleh  karena itu, tidak selayaknya kita meremehkan kewajiban ini.</p>
<p style="text-align: justify;">- Mandi Dan Berhias Diri Sebelum Berangkat Shalat ‘Ied</p>
<p style="text-align: justify;">Salah satu Sunnah Nabi pada hari ‘Ied, yaitu mandi sebelum berangkat menunaikan shalat ‘Ied. Hendaklah memperbaiki penampilan dan mengenakan pakaian yang bagus saat menghadiri shalat ‘Ied. Begitulah yang dilakukan oleh para salaf, seperti Abdullah bin Umar, beliau mandi sebelum berangkat ke lapangan. [2] Begitu pula para tabi’in. Salah seorang tokoh tabi’in, yakni Sa’id bin Al Musayyib berkata, Sunnah ‘Iedul Fitri ada tiga: berjalan menuju lapangan (tempat shalat), makan sebelum berangkat dan mandi.” [3]</p>
<p style="text-align: justify;">Ali bin Abi Thalib pernah ditanya tentang mandi; apakah harus mandi setiap hari? Beliau menjawab,Tidak harus. Namun, yang harus mandi ialah pada hari Jum’at, hari ‘Arafah, hari ‘Iedul Adha dan ‘Iedul Fitri.” [4]</p>
<p style="text-align: justify;">Ibnu Abdil Barr berkata, Para fuqaha sepakat, bahwa mandi sebelum berangkat shalat ‘Iedul Fitri dan ‘Iedul Adha adalah baik bagi yang melakukannya. [5]</p>
<p style="text-align: justify;">Hukumnya sunnat, seperti dijelaskan oleh Imam An Nawawi berikut ini,Imam Asy Syafi’i dan rekan-rekannya mengatakan,’Untuk melaksanakan shalat ‘Iedul Fitri dan ‘Iedul Adha dianjurkan mandi. Tidak ada perbedaan pendapat dalam masalah ini’. [6]</p>
<p style="text-align: justify;">Diriwayatkan dalam kitab Shahihain, dari Abdullah bin Umar,</p>
<p style="text-align: justify;">Umar membeli jubah yang terbuat dari sutera yang dijual di pasar. Ia membawanya kepada Rasulullah dan berkata,Wahai Rasulullah, ambillah jubah ini untuk berhias diri pada hari ‘Ied, dan saat menyambut utusan-utusan.” Rasulullah berkata,”Sesungguhnya, ini adalah pakaian orang-orang yang tidak mendapat bagian di akhirat.” [7]</p>
<p style="text-align: justify;">Ibnu Qudamah mengatakan, Hadits ini menunjukkan, bahwa berhias diri pada kesempatan-kesempatan tersebut, yakni pada hari Jum’at, hari ‘Ied dan saat menyambut utusan-utusan, adalah pekara yang sudah mashur di kalangan mereka.” [8]</p>
<p style="text-align: justify;">Dari hadits di atas, juga dapat dipetik faidah, bahwa menghadiri shalat ‘Ied dianjurkan untuk mengenakan pakaian yang bagus.</p>
<p style="text-align: justify;">Marilah kita meliput yang dilakukan oleh Ibnu Umar pagi hari ‘Ied.</p>
<p style="text-align: justify;">Ibnu Ishaq berkata, aku bertanya kepada Nafi’,Bagaimanakah yang dilakukan oleh Ibnu Umar pada hari ‘Ied? Ia menjawab,Beliau menghadiri shalat Subuh berjama’ah bersama imam. Kemudian, pulang ke rumah. Lalu beliau mandi, sebagaimana mandi junub, lalu mengenakan pakaian yang paling bagus yang dimilikinya, lalu memakai parfum yang beliau miliki. Kemudian keluar menuju lapangan tempat pelaksanaan shalat ‘Ied. Beliau duduk menunggu imam. Apabila imam telah dating, beliau shalat bersamanya. Kemudian beliau kembali dan mendatangi masjid Nabawi, lalu shalat dua raka’at. Setelah itu, beliau pulang ke rumah. [9]</p>
<p style="text-align: justify;">Maka dari itu wahai saudaraku, jangan lupakan Sunnah Nabi ini. Mandi dan berhias dirilah sebelum mendatangi shalat ‘Ied.</p>
<p style="text-align: justify;">- Makan Sebelum Berangkat Shalat.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebelum berangkat ke lapangan untuk shalat pada hari ‘Ied, dianjurkan agar makan terlebih dulu. Dan sebaiknya memakan kurma, seperti diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari dari hadits Anas bin Malik, ia berkata,</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah n tidak berangkat shalat pada hari ‘Ied, hingga beliau makan beberapa buah kurma. [10]</p>
<p style="text-align: justify;">Disunnahkan memakannya dalam jumlah ganjil, seperti disebutkan dalam riwayat lain dari Anas bin Malik, bahwasanya Rasulullah tidak berangkat shalat pada hari ‘Iedul Fitri, hingga beliau makan kurma sebanyak tiga atau lima atau tujuh buah. [11]</p>
<p style="text-align: justify;">Jika tidak ada kurma, dibolehkan makanan yang lainnya, namun diutamakan yang manis-manis, seperti: madu dan sejenisnya. Atau kalau tidak ada makanan sama sekali, maka minum air juga sudah mencukupinya. Demikian dikatakan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari. [12]</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam sebuah atsar yang shahih, dari Abdullah bin Abbas disebutkan, bahwa beliau berkata, Jika kalian sanggup tidak berangkat shalat ‘Iedul Fitri sebelum memakan makanan, maka lakukanlah. [13]</p>
<p style="text-align: justify;">Jangan lewatkan sunnah yang satu ini, wahai saudaraku. Persiapkanlah makanan untuk pagi hari ‘Ied.</p>
<p style="text-align: justify;">- Ajaklah Keluarga Dan Kaum Wanita Untuk Menghadirinya</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah telah memerintahkan para wanita untuk keluar menghadiri shalat ‘Ied. Ummu Athiyyah berkata,</p>
<p style="text-align: justify;">Kami diperintahkan yakni oleh Nabi – agar membawa serta para gadis yang sudah baligh dan gadis-gadis yang berada dalam pingitan pada hari ‘Ied. Sehingga mereka bisa menyaksikan jama’ah kaum muslimin dan do’a mereka. Dan wanita yang sedang haidh menjauhi tempat shalat.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam riwayat lain disebutkan,</p>
<p style="text-align: justify;">Kami diperintahkan agar ikut serta pada hari ‘Ied. Demikian pula para gadis yang berada dalam pingitan. Beliau juga memerintahkan wanita haidh untuk keluar, namun hendaknya mereka mengambil tempat di belakang tempat shalat dan ikut bertakbir bersama kaum muslimin.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam riwayat lain disebutkan, ada seorang perempuan berkata,</p>
<p style="text-align: justify;">Wahai Rasulullah, salah seorang dari kami tidak memiliki jilbab?Rasulullah berkata,Hendaklah saudaranya yang lain meminjamkan jilbab untuknya. [14]</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam riwayat Ibnu Abbas disebutkan, bahwa Rasulullah mendatangi tempat shalat, kemudian mengerjakan shalat, lalu menyampaikan khutbah. Kemudian, disertai Bilal, beliau mendatangi kaum wanita untuk memberi nasihat dan peringatan kepada mereka dan memerintahkan mereka untuk bersedekah. [15]</p>
<p style="text-align: justify;">Demikian pula para sahabat. Mereka membawa serta keluarga ke lapangan shalat ‘Ied. Diriwayatkan dari Ibnu Umar, bahwa beliau membawa serta keluarganya yang bisa dibawa ke lapangan shalat ‘Ied. [16]</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam sebuah riwayat, Rasulullah menyebutkan alasannya, Agar mereka dapat menyaksikan kebaikan dan dakwah kaum muslimin.</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh karena itu, bawalah serta keluargamu ke lapangan tempat dilaksanakannya shalat ‘Ied. Hidupkan dan semarakkanlah syi’ar kaum muslimin ini.</p>
<p style="text-align: justify;">- Berjalan Kaki Menuju Lapangan Tempat Shalat</p>
<p style="text-align: justify;">Dianjurkan keluar menuju lapangan shalat ‘Ied dengan berjalan kaki, bila memungkinkan dan tidak memberatkan. Jika memberatkan, maka boleh dengan mengendarai kendaraan. Dalam Mursal Az Zuhri disebutkan, bahwa Rasulullah tidak mengendarai kendaraan saat menuju tempat shalat ‘Ied dan saat mengantar jenazah. [17]</p>
<p style="text-align: justify;">Telah disebutkan atsar dari Sa’id bin Al Musayyib, Sunnah ‘Iedul Fitri ada tiga. (Yaitu:) berjalan menuju lapangan (tempat shalat), makan sebelum berangkat dan mandi.”</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Bakar Hafsh bin Umar bin Sa’ad berkata, Kami keluar bersama Abdullah bin Umar pada hari ‘Iedul Adha atau ‘Iedul Fitri. Dia keluar berjalan kaki hingga sampai ke tanah lapang tempat pelaksanaan shalat ‘Ied. Dia duduk menunggu imam dating, kemudian shalat bersama imam, kemudian beliau pulang.” [18]</p>
<p style="text-align: justify;">Diriwayatkan pula dari Ali bin Abi Thalib, bahwa beliau berkata,</p>
<p style="text-align: justify;">Termasuk sunnah1, yaitu engkau berjalan kaki menuju tempat shalat ‘Ied dan memakan sesuatu sebelum berangkat. [19]</p>
<p style="text-align: justify;">Berjalan kaki menuju lapangan tempat pelaksaan shalat ‘Ied dapat menghidupkan syi’ar hari yang agung ini. Namun patut disesalkan, Sunnah Nabi ini seakan telah dilupakan oleh kaum muslimin. Maka dari itu, marilah kita hidupkan kembali Sunnah Nabi ini.</p>
<p style="text-align: justify;">- Mengumandangkan Takbir</p>
<p style="text-align: justify;">Satu lagi Sunnah Nabi yang ditinggalkan kaum muslimin, yaitu bertakbir dengan mengangkat suara; mulai dari keluar rumah hingga imam tiba di tempat shalat. Al Faryabi meriwayatkan dari Abdullah bin Umar, bahwa beliau mengeraskan suara takbir pada hari raya ‘Iedul Fitri saat berangkat ke tempat shalat, hingga imam keluar dan beliau mengikuti takbirnya. [20]</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Syu’bah bertanya kepada Al Hakam dan Hammad,Apakah aku bertakbir saat keluar menuju tempat shalat? Mereka berdua menjawab,Ya. [21]</p>
<p style="text-align: justify;">Kaum wanita juga dianjurkan bertakbir jika aman dari fitnah, tetapi dengan tidak mengeraskannya seperti halnya kaum pria. Dasarnya adalah hadits Ummu Athiyyah sebagaimana telah disebutkan di atas. [22]</p>
<p style="text-align: justify;">Adapun lafazh takbir; telah diriwayatkan dari sebagian sahabat, diantaranya ialah takbir Abdullah bin Abbas: Allahu Akbar kabira, Allahu Akbar kabira, Allahu Akbar wa aJalla, Allahu Akbar walillahil hamd. [23] Atau takbir Salman Al Farisi : Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar kabira. [24]</p>
<p style="text-align: justify;">Diriwayatkan dari Ibrahim An Nakhai, ia berkata,Mereka bertakbir pada hari ‘Arafah. Diantara  mereka ada yang menghadap kiblat setelah selesai shalat sambil mengucapkan:</p>
<p style="text-align: justify;">الله أَكْبَرُ الله أَكْبَرُ لاَ اِلَهَ إِلاَّ للهُ لاَ اِلَهَ إِلاَّ للهُ وَ الله أَكْبَرُ الله أَكْبَرُ وَ لِلَّهِ الحَمْدُ</p>
<p style="text-align: justify;">Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaha illallahu, Wallahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd. [25]</p>
<p style="text-align: justify;">Artinya, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Allah. Allah Maha Besar, Maha Besar Allah, segala pujian hanyalah milikNya.</p>
<p style="text-align: justify;">- Berangkat Dengan Melewati Satu Jalan Dan Kembali Lewat Jalan Yang Lain</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika kembali dari shalat, disunnahkan mengambil jalan lain, selain jalan yang dilalui ketika berangkat. Berdasarkan sebuah hadits yang diriwayatkan dari Jabir, ia berkata,</p>
<p style="text-align: justify;">Bahwasanya Rasulullah n pada hari ‘Ied mengambil jalan lain, selain jalan yang dilalui sewaktu berangkat. [26]</p>
<p style="text-align: justify;">Para ulama banyak menyebutkan hikmahnya. Diantaranya sebagaimana disebutkan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari II/473. Ada yang mengatakan, hikmahnya ialah untuk menampakkan syi’ar Islam pada hari itu. Ada yang mengatakan, hikmahnya untuk menampakkan syi’ar dzikrullah pada hari itu. Ada yang mengatakan, hikmahnya agar jin dan manusia yang ada di dua jalan tersebut dapat menyaksikannya. Ada yang mengatakan, hikmahnya ialah untuk membangkitkan kedongkolan dalam hati kaum munafikin dan Yahudi, dan masih banyak lagi hikmah-hikmah lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah menyebutkan hikmah-hikmah di atas, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin mengatakan,Hikmahnya ialah mutaba’atus Sunnah (mengikuti sunnah) Rasulullah.</p>
<p style="text-align: justify;">Syaikhul Islam menyebutkan dalam kitab Majmu’ Fatawa, Bahwasanya dalam melaksanakan manasik dan pada hari ‘Ied, Rasulullah berangkat dari satu jalan dan pulang melalui jalan yang lainnya. [27]</p>
<p style="text-align: justify;">- Memberi Ucapan Selamat</p>
<p style="text-align: justify;">Boleh mengucapkan selamat hari ‘Ied kepada kaum muslimin pada hari yang berbahagia ini. Sebagaimana diriwayatkan dari sebagian sahabat dan tabi’in , seperti Abu Umamah Al Bahili dan lainnya. Mereka mengucapkan:</p>
<p style="text-align: justify;">تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَ مِنْكُمْ</p>
<p style="text-align: justify;">Taqabballahu minna wa minkum.</p>
<p style="text-align: justify;">(Artinya, semoga Allah menerima amalan kita semua).</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Malik pernah ditanya, Makruhkah hukumnya seseorang mengucapkan kepada saudaranya saat kembali dari shalat ‘Ied “Taqabballahu minna wa minkum” atau “Ghafara lana wa laka” (semoga Allah mengampuni kita semua), lalu saudaranya membalasnya seperti yang diucapkannya?” Beliau menjawab, “Tidak makruh.” Yakni boleh. [28]</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Ahmad pernah ditanya: Aku harap tidaklah mengapa mengucapkan selamat. [29]</p>
<p style="text-align: justify;">Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menganggapnya boleh bagi yang melakukannya dan bagi yang tidak melakukannya. Terdapat contoh dan panutan bagi kedua belah pihak (yaitu yang melakukan dan yang tidak melakukannya).</p>
<p style="text-align: justify;">- Sambutlah Hari ‘Ied Dengan Ketaatan Dan Kesederhanaan</p>
<p style="text-align: justify;">Sambutlah hari yang agung ini dengan ketaatan dan kesederhanaan, tidak mubadzir dan melampaui batas; baik dalam hal makanan, pakaian atau yang lainnya. Allah berfirman,</p>
<p style="text-align: justify;">Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syetan, dan syetan itu adalah sangat ingkar kepada Rabbnya. (QS Al Isra’:26-27).</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam ayat lain, Allah berfirman,</p>
<p style="text-align: justify;">Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (QS Al An’am:31).</p>
<p style="text-align: justify;">Dan masih banyak lagi ayat yang semakna dengan itu. Hindarilah perbuatan dosa dan maksiat pada hari yang suci dan agung ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Semoga kita termasuk hamba yang bertaqwa dan memperoleh ampunan setelah sebulan penuh melaksanakan ibadah puasa. Jangan lupa pula mengerjakan puasa Syawal enam hari, untuk memperoleh kesempurnaan dari amal puasa yang kita lakukan pada bulan Ramadhan. Rasulullah bersabda,</p>
<p style="text-align: justify;">Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan, lalu diikuti dengan puasa enam hari pada bulan Syawal, maka seolah ia telah berpuasa setahun penuh. [30]</p>
<p style="text-align: justify;">Demikianlah beberapa Sunnah Nabi yang dapat kami ketengahkan pada kesempatan ini. Semoga kita dapat mengamalkannya.</p>
<p>[Majalah As Sunnah 08/VII-1424H-2003M]</p>
<p>[1] Silakan lihat Majmu’ Fatawa 24/179-183 dan Subulus Salam II/141.</p>
<p>[2] Diriwayatkan oleh Imam Malik dalam kitab Al Muwaththa’, halaman 143 no. 428.</p>
<p>[3] Diriwayatkan oleh Al Faryabi dalam kitab Ahkamul ‘Iedain no. 18.</p>
<p>[4] Diriwayatkan oleh Imam Asy Syafi’i dalam Musnad-nya I/118-119.</p>
<p>[5] Al Istidzkar VII/11.</p>
<p>[6] Al Majmu’ I/7.</p>
<p>[7] Hadits riwayat Al Bukhari 948 dan Muslim 2068.</p>
<p>[8] Al Mughni II/228.</p>
<p>[9] Diriwayatkan oleh Al Harits dalam Musnad-nya, sebagaimana disebutkan dalam Bughyatul Bahits I/323, no. 207.</p>
<p>[10] Hadits riwayat Al Bukhaari 953.</p>
<p>[11] Hadits riwayat Ibnu Hibban 2814 dan Al Hakim I/294.</p>
<p>[12] Lihat Fathul Bari II/448.</p>
<p>[13] Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dalam Mushannaf 5734 dan Ibnul Mundzir dalam Al Ausath IV/254.</p>
<p>[14] Hadits-hadits di atas diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari 324 dan Muslim 890.</p>
<p>[15] Hadits riwayat Al Bukhari 977.</p>
<p>[16] Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf 5786 dan Ibnul Mundzir dalam Al Ausath IV/262-263 dengan sanad shahih.</p>
<p>[17] Diriwayatkan oleh Al Faryabi dalam Ahkamul ‘Iedain no. 27 dengan sanad hasan sampai kepada Az Zuhri.</p>
<p>[18] Hadits riwayat At Tirmidzi II/418.</p>
<p>[19] Hadits riwayat At Tirmidzi II/410 dan Ibnu Majah 1296.</p>
<p>[20] Ahkamul ‘Iedain no. 53.</p>
<p>[21] Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 5626 dengan sanad shahih.</p>
<p>[22] Silakan lihat Fathul Bari IX/33.</p>
<p>[23] Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 5645 dengan sanad shahih.</p>
<p>[24] Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Al Kubra III/316 dengan sanad shahih.</p>
<p>[25] Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf 5649 dengan sanad shahih.</p>
<p>[26] Hadits riwayat Al Bukhari 986.</p>
<p>[27] Majmu’ Fatawa 26/134.</p>
<p>[28] Al Muntaqa I/322.</p>
<p>[29] Su’alat Abu Dawud halaman 61.</p>
<p>[30] Hadits riwayat Muslim 1984.</p>
<p>Salafyoon.net</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suaraquran.com/mendulang-sunnah-nabi-pada-hari-raya-%e2%80%98iedul-fitri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>AUDIO Agar Puasa Dapat Mensucikan Jiwa Ust Abdulloh Taslim MA</title>
		<link>http://suaraquran.com/audio-agar-puasa-dapat-mensucikan-jiwa-ust-abdulloh-taslim-ma/</link>
		<comments>http://suaraquran.com/audio-agar-puasa-dapat-mensucikan-jiwa-ust-abdulloh-taslim-ma/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Sep 2010 06:56:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suaraquran</dc:creator>
				<category><![CDATA[Download]]></category>
		<category><![CDATA[faidah shiyam]]></category>
		<category><![CDATA[puasa ampunan]]></category>
		<category><![CDATA[suara quran]]></category>
		<category><![CDATA[suaraquran]]></category>
		<category><![CDATA[tazkiyyah nafs]]></category>
		<category><![CDATA[tujuan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[ust abdullah taslim]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suaraquran.com/?p=1033</guid>
		<description><![CDATA[Manfaatkan bulan Ramadhan dengan sesuatu yang terbaik yang pernah diturunkan didalamnya, yakni membaca Al-Qur&#8217;anul Karim. Sesungguhnya Jibril &#8216;alaihis salam pada setiap malam di bulan Ramadhan selalu menemui Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam untuk membacakan Al-Qur&#8217;an baginya. (HR. AL-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas radhiallahu &#8216;anhu).Dan pada diri Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam ada teladan yang baik bagi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://suaraquran.com/wp-content/uploads/2010/09/Shiyam.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-1034" title="Shiyam" src="http://suaraquran.com/wp-content/uploads/2010/09/Shiyam-300x256.jpg" alt="" width="300" height="256" /></a></p>
<ul>
<li style="text-align: justify;"><strong>Manfaatkan bulan Ramadhan dengan sesuatu yang terbaik yang</strong> pernah diturunkan didalamnya, yakni membaca Al-Qur&#8217;anul Karim. Sesungguhnya Jibril &#8216;alaihis salam pada setiap malam di bulan Ramadhan selalu menemui Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam untuk membacakan Al-Qur&#8217;an baginya. (HR. AL-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas radhiallahu &#8216;anhu).Dan pada diri Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam ada teladan yang baik bagi kita.</li>
</ul>
<ul>
<li>Jagalah lisanmu dari berdusta, menggunjing, mengadu domba, mengolok-olok serta perkataan mengada-ada. Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda:</li>
</ul>
<p>&#8220;Barangsiapa tidak meninggalkan pevkataan dan perbuatan dusta maka Allah tidak butuh terhadap puasanya dari makan dan minum.&#8221; (HR. Al-Bukhari)<br />
<span id="more-1033"></span><br />
Hendaknya puasa tidak membuatmu keluar dari kebiasaan. Misalnya cepat marah dan emosi hanya karena sebab sepele, dengan dalih bahwa engkau sedang puasa. Sebaliknya, mestinya puasa membuat jiwamu tenang, tidak emosional. Dan jika Anda diuji dengan seorang yang jahil atau pengumpat, jangan Anda hadapi dia dengan perbuatan serupa. Nasihati dan tolaklah dengan cara yang lebih baik. Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda:</p>
<p>&#8220;Puasa adalah perisai, bila suatu hari seseorang dari kama beupuasa, hendaknya ia tidak berkata buruk dan berteriak-teriak. Bila seseorang menghina atau mencacinya, hendaknya ia berkata &#8216;Sesungguhnya aku sedang puasa&#8221; (HR. Al- Bukhari, Muslim dan para penulis kitab Sunan)</p>
<p>Ucapan itu dimaksudkanagar ia menahan diri dan tidak melayani orang yang mengumpatnya Di samping, juga mengingatkan agar ia menolak melakukan penghinaan dan caci-maki.</p>
<ul>
<li>Hendaknya Anda selesai dari puasa dengan membawa taqwa kepada Allah, takut dan bersyukur pada-Nya, serta senantiasa istiqamah dalam agama-Nya.</li>
</ul>
<p>Hasil yang baik itu hendaknya mengiringi Anda sepanjang tahun. Dan buah paling utama dari puasa adalah taqwa, sebab Allah berfirman : &#8220;Agar kamu bertaqwa. &#8221;(Al-Baqarah: 183)</p>
<p>Jagalah dirimu dari berbagai syahwat (keinginan), bahkan meskipun halal bagimu. Hal itu agar tujuan puasa tercapai, dan mematahkan nafsu dari keinginan. Jabir bin Abdillah radhiallahu &#8216;anhu berkata :</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Jika kamu berpuasa, hendaknya berpuasa pula pendengaranmu, penglihatanmu dan lisanmu dari dusta dan dosa-dosa, tinggalkan menyakiti tetangga, dan hendaknya kamu senantiasa bersikap tenang pada hari kama beupuasa jangan pula kamu jadikan hari berbukamu sama dengan hari kamu berpuasa.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong><a href="http://suaraquran.com/download/ust-abdulloh-taslim_puasa-penyuci-jiwa .mp3" target="_blank">Ust Abdulloh Taslim Agar Shiyam Bisa Menyucikan Jiwa</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suaraquran.com/audio-agar-puasa-dapat-mensucikan-jiwa-ust-abdulloh-taslim-ma/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keutamaan dan Tanda Lailatul Qadar</title>
		<link>http://suaraquran.com/keutamaan-dan-tanda-lailatul-qadar/</link>
		<comments>http://suaraquran.com/keutamaan-dan-tanda-lailatul-qadar/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Sep 2010 09:52:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suaraquran</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[10 terakhir romadlon]]></category>
		<category><![CDATA[lailatul qadar]]></category>
		<category><![CDATA[tanda malam lailatul qodr]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suaraquran.com/?p=1023</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Syaikh Salim Bin Ied Al Hilaly dan Syaikh Ali Bin Hasan Bin Ali Bin Abdul Hamid Keutamaannya sangat besar, karena malam ini menyaksikan turunnya Al Quran Al Karim yang membimbing orang-orang yang berpegang dengannya ke jalan kemuliaan dan mengangkatnya ke derajat yang mulia dan abadi. Ummat Islam yang mengikuti sunnah Rasulnya tidak memasang tanda-tanda [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p><em><a href="http://suaraquran.com/wp-content/uploads/2010/09/lailatul-qodar.jpeg"></a><a href="http://suaraquran.com/wp-content/uploads/2010/09/lailatul-qodar1.jpeg"><img class="alignleft size-full wp-image-1025" title="lailatul qodar" src="http://suaraquran.com/wp-content/uploads/2010/09/lailatul-qodar1.jpeg" alt="" width="223" height="167" /></a>Oleh: Syaikh Salim Bin Ied Al Hilaly dan Syaikh Ali Bin Hasan Bin Ali Bin Abdul Hamid</em></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Keutamaannya sangat besar, karena  malam ini menyaksikan </strong>turunnya Al Quran Al Karim yang membimbing  orang-orang yang berpegang dengannya ke jalan kemuliaan dan  mengangkatnya ke derajat yang mulia dan abadi. Ummat Islam yang  mengikuti sunnah Rasulnya tidak memasang tanda-tanda tertentu dan tidak  pula menancapkan anak-anak panah untuk memperingati malam ini (malam  Lailatul Qodar/Nuzul Qur’an, red), akan tetapi mereka bangun di malam  harinya dengan penuh iman dan mengharap pahala dari Allah.</p>
<p style="text-align: justify;">Inilah wahai saudaraku muslim, ayat-ayat Qur’aniyah dan hadits-hadits  Nabawiyyah yang shahih yang menjelaskan tentang malam tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p><span id="more-1023"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>1. Keutamaan Malam Lailatul Qadar</strong></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Cukuplah untuk mengetahui tingginya  kedudukan Lailatul Qadar dengan mengetahui bahwasanya malam itu lebih  baik dari seribu bulan, Allah berfirman (yang artinya),</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">[1] <em>Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan.</em> [2] <em>Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?</em> [3] <em>Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.</em> [4] <em>Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. </em>[5]<em> Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.</em> [QS Al Qadar: 1 - 5]</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Dan pada malam itu dijelaskan segala urusan nan penuh hikmah,</p>
<p style="text-align: justify;">[3]<em>Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.</em> [4] <em>Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah,</em> [5] <em>(yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah Yang mengutus rasul-rasul,</em> [6] <em>sebagai rahmat dari Tuhanmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.</em> [QS Ad Dukhoon: 3 - 6]</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>2. Waktunya</strong></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Diriwayatkan dari Nabi shallallahu  ‘alaihi wa sallam bahwa malam tersebut terjadi pada malam tanggal 21,  23, 25, 27, 29 dan akhir malam bulan Ramadhan. (Pendapat-pendapat yang  ada dalam masalah ini berbeda-beda, Imam Al Iraqi telah mengarang satu  risalah khusus diberi judul Syarh Shadr bidzkri Lailatul Qadar,  membawakan perkatan para ulama dalam masalah ini, lihatlah).</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Imam Syafi’i berkata, “Menurut  pemahamanku, wallahu a’lam, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab  sesuai yang ditanyakan, ketika ditanyakan kepada beliau, “Apakah kami  mencarinya di malam hari?”, beliau menjawab, “Carilah di malam  tersebut.”. (Sebagaimana dinukil al Baghawi dalam Syarhus Sunnah 6/388).</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Pendapat yang paling kuat,  terjadinya malam Lailatul Qadr itu pada malam terakhir bulan Ramadhan,  berdasarkan hadits ‘Aisyah radiyallahu ‘anha, dia berkata: <em>Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan  Ramadhan dan beliau bersabda, (yang artinya) “Carilah malam Lailatur  Qadar di (malam ganjil) pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.”</em> (HR Bukhari 4/255 dan Muslim 1169)</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Jika seseorang merasa lemah atau  tidak mampu, janganlah sampai terluput dari tujuh hari terakhir, karena  riwayat Ibnu Umar (dia berkata): Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa  sallam bersabda (yang artinya), <em>“Carilah di sepuluh hari terakhir, jika tidak mampu maka jangan sampai terluput tujuh hari sisanya.”</em> (HR Bukhari 4/221 dan Muslim 1165).</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Ini menafsirkan sabdanya (yang artinya), <em>“Aku melihat mimpi kalian telah terjadi, maka barangsiapa ingin mencarinya, carilah pada tujuh hari yang terakhir.”</em> (Lihat maraji’ diatas).</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Telah diketahui dalam sunnah,  pemberitahuan ini ada karena perdebatan para sahabat. Dari Ubadah bin  Shamit radhiyallahu ‘anhu, ia berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa  sallam keluar pada malam Lailatul Qadar, ada dua orang sahabat berdebat,  beliau bersabda, <em>“Aku keluar untuk mengkhabarkan kepada kalian  tentang malam Laitul Qadar, tetapi fulan dan fulan (dua orang) berdebat  hingga diangkat tidak bisa lagi diketahui kapan lailatul qadar terjadi),  semoga ini lebih baik bagi kalian, maka carilah pada malam 29, 27, 25</em> (dan dalam riwayat lain: tujuh, sembilan, lima).” (HR Bukhari 4/232).</p>
<p style="text-align: justify;">Telah banyak hadits yang mengisyaratkan bahwa malam Lailatul Qadar itu  pada sepuluh hari terakhir, yang lainnya menegaskan di malam ganjil  sepuluh hari terakhir. Hadits yang pertama sifatnya umum, sedang hadits  kedua adalah khusus, maka riwayat yang khusus lebih diutamakan daripada  yang umum, dan telah banyak hadits yang lebih menerangkan bahwa malam  Lailatul Qadar itu ada pada tujuh hari terakhir bulan Ramadhan, tetapi  ini dibatasi kalau tidak mampu dan lemah, tidak ada masalah. Maka dengan  ini, cocoklah hadits-hadits tersebut, tidak saling bertentangan, bahkan  bersatu tidak terpisahkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kesimpulannya, jika seseorang muslim mencari malam Lailatul Qadar,  carilah pada malam ganjil sepuluh hari terakhir, 21, 23, 25, 27 dan 29.  Kalau lemah dan tidak mampu mencari ppada sepuluh hari terakhir, maka  carilah pada malam ganjil tujuh hari terakhir yaitu 25, 27 dan 29.  Wallahu a’lam.</p>
<p style="text-align: justify;">Paling benarnya pendapat lailatul qadr adalah pada tanggal ganjil 10  hari terakhir pada bulan Ramadhan, yang menunjukkan hal ini adalah  hadits Aisyah, ia berkata: Adalah Rasulullah beri’tikaf pada 10 terakhir  pada bulan Ramadhan dan berkata, “Selidikilah malam lailatul qadr pada  tanggal ganjil 10 terakhir bulan Ramadhan.”</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>3. Bagaimana Mencari Malam Lailatul Qadar</strong></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Sesungguhnya malam yang diberkahi  ini, barangsiapa yang diharamkan untuk mendapatkannya, maka sungguh  telah diharamkan seluruh kebaikan (baginya). Dan tidaklah diharamkan  kebaikan itu, melainkan (bagi) orang yang diharamkan (untuk  mendapatkannya). Oleh karena itu, dianjurkan bagi muslimin (agar)  bersemangat dalam berbuat ketaatan kepada Allah untuk menghidupkan malam  Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahalaNya yang  besar, jika (telah) berbuat demikian (maka) akan diampuni Allah  dosa-dosanya yang telah lalu. (HR Bukhari 4/217 dan Muslim 759).</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), <em>“Barangsiapa  berdiri (shalat) pada malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan  mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah  lalu.”</em> (HR Bukhari 4/217 dan Muslim 759)</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Disunnahkan untuk memperbanyak do’a  pada malam tersebut. Telah diriwayatkan dari sayyidah ‘Aisyah  radhiyallahu ‘anha, (dia) berkata, “Aku bertanya, Ya Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam, apa pendapatmu jika aku tahu kapan malam  Lailatul Qadar (terjadi), apa yang harus aku ucapkan?” Beliau menjawab,  “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annii. Ya Allah, Engkau  Maha Pengampun dan mencintai orang yang meminta ampunan, maka ampunilah  aku.” (HR Tirmidzi (3760), Ibnu Majah (3850), dari Aisyah, sanadnya  shahih. Lihat syarahnya Bughyatul Insan fi Wadhaifi Ramadhan, halaman  55-57, karya ibnu Rajab al Hanbali).</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Saudaraku -semoga Allah memberkahimu  dan memberi taufiq kepadamu untuk mentaatiNya – engkau telah mengetahui  bagaimana keadaan malam Lailatul Qadar (dan keutamaannya) maka  bangunlah (untuk menegakkan sholat) pada sepuluh malam hari terakhir,  menghidupkannya dengan ibadah dan menjauhi wanita, perintahkan kepada  istrimu dan keluargamu untuk itu dan perbanyaklah amalan ketaatan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, <em>“Adalah Rasulullah shallallahu  ‘alaihi wa sallam apabila masuk pada sepuluh hari (terakhir bulan  Ramadhan), beliau mengencangkan kainnya (menjauhi wanita yaitu  istri-istrinya karena ibadah, menyingsingkan badan untuk mencari  Lailatul Qadar), menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya.”</em> (HR Bukhari 4/233 dan Muslim 1174).</p>
<p style="text-align: justify;">Juga dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, (dia berkata), <em>“Adalah  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersungguh-sungguh (beribadah  apabila telah masuk) malam kesepuluh (terakhir), yang tidak pernah  beliau lakukan pada malam-malam lainnya.”</em> (HR Muslim 1174).</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>4. Tanda-tandanya</strong></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Ketahuilah hamba yang taat  -mudah-mudahan Allah menguatkanmu dengan ruh dariNya dan membantu dengan  pertolonganNya- sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  menggambarkan paginya malam Lailatul Qadar agar seorang muslim  mengetahuinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari Ubay radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), <em>“Pagi hari malam Lailatul Qadar, matahari terbit tanpa sinar menyilaukan, seperti bejana hingga meninggi.”</em> (HR Muslim 762).</p>
<p style="text-align: justify;">Dari Abu Hurairah, ia berkata: Kami menyebutkan malam Lailatul Qadar di  sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda (yang  artinya), <em>“Siapa di antara kalian yang ingat ketika terbit bulan, seperti syiqi jafnah.”</em> (HR Muslim 1170. Perkataannya “Syiqi Jafnah”, syiq artinya setengah,  jafnah artinya bejana. Al Qadli ‘Iyadh berkata, “Dalam hadits ini ada  isyarat bahwa malam Lailatul Qadar hanya terjadi di akhir bulan, karena  bulan tidak akan seperti demikian ketika terbit kecuali di akhir-akhir  bulan.”)</p>
<p style="text-align: justify;">Dan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), <em>“(Malam)  Lailatul Qadar adalah malam yang indah, cerah, tidak panas dan tidak  juga dingin, (dan) keesokan harinya cahaya sinar mataharinya melemah  kemerah-merahan.”</em> (HR Thayalisi (349), Ibnu Khuzaimah (3/231), Bazzar (1/486), sanadnya hasan).</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suaraquran.com/keutamaan-dan-tanda-lailatul-qadar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Audio Kajian Adab dan Hukum I&#8221;tikaf Ust Abu Sulaiman</title>
		<link>http://suaraquran.com/audio-kajian-adab-dan-hukum-itikaf-ust-abu-sulaiman/</link>
		<comments>http://suaraquran.com/audio-kajian-adab-dan-hukum-itikaf-ust-abu-sulaiman/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Sep 2010 09:44:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suaraquran</dc:creator>
				<category><![CDATA[Download]]></category>
		<category><![CDATA[10 terakhir ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[hukum i'tikaf]]></category>
		<category><![CDATA[lailatul qodar]]></category>
		<category><![CDATA[suara quran]]></category>
		<category><![CDATA[suaraquran]]></category>
		<category><![CDATA[ust aris sugiyantoro]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suaraquran.com/?p=1015</guid>
		<description><![CDATA[Adab I&#8217;tikaf Ust Abu Sulaiman Aris Sugiyantoro I’tikaf secara bahasa berarti menetap pada sesuatu. Sedangkan secara syar’i, i’tikaf berarti menetap di masjid dengan tata cara yang khusus disertai dengan niat.[1] Dalil Disyari’atkannya I’tikaf Ibnul Mundzir mengatakan, “Para ulama sepakat bahwa i’tikaf itu sunnah, bukan wajib kecuali jika seseorang mewajibkan bagi dirinya bernadzar untuk melaksanakan i’tikaf.”[2] [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://suaraquran.com/wp-content/uploads/2010/09/PAGI-ITIKAF.jpg"></a><a href="http://suaraquran.com/wp-content/uploads/2010/09/itikaf.jpeg"></a><a href="http://suaraquran.com/wp-content/uploads/2010/09/itikaf-1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1018" title="i'tikaf 1" src="http://suaraquran.com/wp-content/uploads/2010/09/itikaf-1.jpg" alt="" width="400" height="240" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://suaraquran.com/download/adab-iktikaf_ust-aris-sugiyantoro.mp3" target="_blank"><strong>Adab I&#8217;tikaf Ust Abu Sulaiman Aris Sugiyantoro</strong></a></p>
<p><span id="more-1015"></span><br />
I’tikaf secara bahasa berarti menetap pada sesuatu. Sedangkan secara syar’i, i’tikaf berarti menetap di masjid dengan tata cara yang khusus disertai dengan niat.[1]</p>
<p><strong>Dalil Disyari’atkannya I’tikaf</strong></p>
<p>Ibnul Mundzir mengatakan, “Para ulama sepakat bahwa i’tikaf itu sunnah, bukan wajib kecuali jika seseorang mewajibkan bagi dirinya bernadzar untuk melaksanakan i’tikaf.”[2]</p>
<p>Dari Abu Hurairah, ia berkata,</p>
<h3>كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَعْتَكِفُ فِى كُلِّ رَمَضَانَ عَشْرَةَ أَيَّامٍ ، فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الَّذِى قُبِضَ فِيهِ اعْتَكَفَ عِشْرِينَ يَوْمًا</h3>
<p>“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa beri’tikaf pada bulan Ramadhan selama sepuluh hari. Namun pada tahun wafatnya, Beliau beri’tikaf selama dua puluh hari”.[3]</p>
<p>Waktu i’tikaf yang lebih afdhol adalah di akhir-akhir ramadhan (10 hari terakhir bulan Ramadhan) sebagaimana hadits ‘Aisyah, ia berkata,</p>
<h3>أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ</h3>
<p>“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh hari yang akhir dari Ramadhan hingga wafatnya kemudian isteri-isteri beliau pun beri’tikaf setelah kepergian beliau.”[4]</p>
<p>Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dengan tujuan untuk mendapatkan malam lailatul qadar, untuk menghilangkan dari segala kesibukan dunia, sehingga mudah bermunajat dengan Rabbnya, banyak berdo’a dan banyak berdzikir ketika itu.[5]</p>
<p><strong>I’tikaf Harus Dilakukan di Masjid</strong></p>
<p>Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala,</p>
<p>وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ</p>
<p>“(Tetapi) janganlah kamu campuri mereka sedang kamu beri’tikaf dalam masjid”(QS. Al Baqarah: 187). Demikian juga dikarenakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu juga istri-istri beliau melakukannya di masjid, dan tidak pernah di rumah sama sekali. Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Para ulama sepakat bahwa disyaratkan melakukan i’tikaf di masjid.”[6] Termasuk wanita, ia boleh melakukan i’tikaf sebagaimana laki-laki, tidak sah jika dilakukan selain di masjid.[7]</p>
<p><strong>I’tikaf Boleh Dilakukan di Masjid Mana Saja</strong></p>
<p>Menurut mayoritas ulama, i’tikaf disyari’atkan di semua masjid karena keumuman firman Allah di atas (yang artinya) “Sedang kamu beri’tikaf dalam masjid”. [8]</p>
<p>Imam Bukhari membawakan Bab dalam kitab Shahihnya, “I’tikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramdhan dan i’tikaf di seluruh masjid.” Ibnu Hajar menyatakan, “Ayat tersebut (surat Al Baqarah ayat 187) menyebutkan disyaratkannya masjid, tanpa dikhususkan masjid tertentu”[9].[10]</p>
<p>Para ulama selanjutnya berselisih pendapat masjid apakah yang dimaksudkan. Apakah masjid biasa di mana dijalankan shalat jama’ah lima waktu[11] ataukah masjid jaami’ yang diadakan juga shalat jum’at di sana?</p>
<p>Imam Malik mengatakan bahwa i’tikaf boleh dilakukan di masjid mana saja (asal ditegakkan shalat lima waktu di sana, pen) karena keumuman firman Allah Ta’ala,</p>
<h3>وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ</h3>
<p>“sedang kamu beri’tikaf dalam masjid”(QS. Al Baqarah: 187). Ini juga menjadi pendapat Imam Asy Syafi’i. Namun Imam Asy Syafi’i rahimahullah menambahkan syarat, yaitu masjid tersebut diadakan juga shalat Jum’at.[12] Tujuannya di sini adalah agar ketika pelaksanaan shalat Jum’at, orang yang beri’tikaf tidak perlu keluar dari masjid.</p>
<p>Kenapa disyaratkan di masjid yang ditegakkan shalat jama’ah? Ibnu Qudamah katakan, “Shalat jama’ah itu wajib (bagi laki-laki). Jika seorang laki-laki yang hendak melaksanakan i’tikaf tidak berdiam di masjid yang tidak ditegakkan shalat jama’ah, maka bisa terjadi dua dampak negatif: (1) meninggalkan shalat jama’ah yang hukumnya wajib, dan (2) terus menerus keluar dari tempat i’tikaf padahal seperti ini bisa saja dihindari. Jika semacam ini yang terjadi, maka ini sama saja tidak i’tikaf. Padahal maksud i’tikaf adalah untuk menetap dalam rangka melaksanakan ibadah pada Allah.”[13]</p>
<p><strong>Wanita Boleh Beri’tikaf</strong></p>
<p>Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan istri beliau untuk beri’tikaf.  ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,</p>
<p>كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَعْتَكِفُ فِى كُلِّ رَمَضَانَ ، وَإِذَا صَلَّى الْغَدَاةَ دَخَلَ مَكَانَهُ الَّذِى اعْتَكَفَ فِيهِ – قَالَ – فَاسْتَأْذَنَتْهُ عَائِشَةُ</p>
<p>“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa beri’tikaf pada bulan Ramadhan. Apabila selesai dari shalat shubuh, beliau masuk ke tempat khusus i’tikaf beliau. Dia (Yahya bin Sa’id) berkata: Kemudian ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha meminta izin untuk bisa beri’tikaf bersama beliau, maka beliau mengizinkannya.”[14]</p>
<p>Dari ‘Aisyah, ia berkata,</p>
<p>أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ</p>
<p>“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh hari yang akhir dari Ramadhan hingga wafatnya kemudian isteri-isteri beliau pun beri’tikaf setelah kepergian beliau.”[15]</p>
<p>Namun wanita boleh beri’tikaf di masjid asalkan memenuhi 2 syarat: (1) Meminta izin suami dan (2) Tidak menimbulkan fitnah (godaan bagi laki-laki) sehingga wanita yang i’tikaf harus benar-benar menutup aurat dengan sempurna dan juga tidak memakai wewangian.[16]</p>
<p><strong>Lama Waktu Berdiam di Masjid</strong></p>
<p>Para ulama sepakat bahwa i’tikaf tidak ada batasan waktu maksimalnya. Namun mereka berselisih pendapat berapa waktu minimal untuk dikatakan sudah beri’tikaf. [17]</p>
<p>Bagi ulama yang mensyaratkan i’tikaf harus disertai dengan puasa, maka waktu minimalnya adalah sehari. Ulama lainnya mengatakan dibolehkan kurang dari sehari, namun tetap disyaratkan puasa. Imam Malik mensyaratkan minimal sepuluh hari. Imam Malik  juga memiliki pendapat lainnya, minimal satu atau dua hari. Sedangkan bagi ulama yang tidak mensyaratkan puasa, maka waktu minimal dikatakan telah beri’tikaf adalah selama ia sudah berdiam di masjid dan di sini tanpa dipersyaratkan harus duduk.[18]</p>
<p>Yang tepat dalam masalah ini, i’tikaf tidak dipersyaratkan untuk puasa, hanya disunnahkan[19]. Menurut mayoritas ulama, i’tikaf tidak ada batasan waktu minimalnya, artinya boleh cuma sesaat di malam atau di siang hari.[20] Al Mardawi rahimahullah mengatakan, “Waktu minimal dikatakan i’tikaf pada i’tikaf yang sunnah atau i’tikaf yang mutlak[21] adalah selama disebut berdiam di masjid (walaupun hanya sesaat).”[22]</p>
<p><strong>Yang Membatalkan I’tikaf</strong></p>
<p>1. Keluar masjid tanpa alasan syar’i dan tanpa ada kebutuhan yang mubah yang mendesak.<br />
2. Jima’ (bersetubuh) dengan istri berdasarkan Surat Al Baqarah ayat 187. Ibnul Mundzir telah menukil adanya ijma’ (kesepakatan ulama) bahwa yang dimaksud mubasyaroh dalam surat Al Baqarah ayat 187 adalah jima’ (hubungan intim)[23].</p>
<p><strong>Yang Dibolehkan Ketika I’tikaf</strong></p>
<p>1. Keluar masjid disebabkan ada hajat yang mesti ditunaikan seperti keluar untuk makan, minum, dan hajat lain yang tidak bisa dilakukan di dalam masjid.<br />
2. Melakukan hal-hal mubah seperti mengantarkan orang yang mengunjunginya sampai pintu masjid atau bercakap-cakap dengan orang lain.<br />
3. Istri mengunjungi suami yang beri’tikaf dan berdua-duaan dengannya.<br />
4. Mandi dan berwudhu di masjid.<br />
5. Membawa kasur untuk tidur di masjid.</p>
<p><strong>Mulai Masuk dan Keluar Masjid</strong></p>
<p>Jika ingin beri’tikaf selama 10 hari terakhir bulan Ramadhan, maka seorang yang beri’tikaf mulai memasuki masjid setelah shalat Shubuh pada hari ke-21 dan keluar setelah shalat shubuh pada hari ‘Idul Fithri menuju lapangan. Hal ini sebagaimana terdapat dalam hadits ‘Aisyah, ia berkata,</p>
<p>كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَعْتَكِفُ فِى كُلِّ رَمَضَانَ ، وَإِذَا صَلَّى الْغَدَاةَ دَخَلَ مَكَانَهُ الَّذِى اعْتَكَفَ فِيهِ – قَالَ – فَاسْتَأْذَنَتْهُ عَائِشَةُ</p>
<p>“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa beri’tikaf pada bulan Ramadhan. Apabila selesai dari shalat shubuh, beliau masuk ke tempat khusus i’tikaf beliau. Dia (Yahya bin Sa’id) berkata: Kemudian ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha meminta izin untuk bisa beri’tikaf bersama beliau, maka beliau mengizinkannya.”[24]</p>
<p>Namun para ulama madzhab menganjurkan untuk memasuki masjid menjelang matahari tenggelam pada hari ke-20 Ramadhan. Mereka mengatakan bahwa yang namanya 10 hari yang dimaksudkan adalah jumlah bilangan malam sehingga seharusnya dimulai dari awal malam.</p>
<p><strong>Adab I’tikaf</strong></p>
<p>Hendaknya ketika beri’tikaf, seseorang menyibukkan diri dengan melakukan ketaatan seperti berdo’a, dzikir, bershalawat pada Nabi, mengkaji Al Qur’an dan mengkaji hadits. Dan dimakruhkan menyibukkan diri dengan perkataan dan perbuatan yang tidak bermanfaat.[25]</p>
<p><em>Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel www.muslim.or.id</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suaraquran.com/audio-kajian-adab-dan-hukum-itikaf-ust-abu-sulaiman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
<enclosure url="http://suaraquran.com/download/adab-iktikaf_ust-aris-sugiyantoro.mp3" length="7098048" type="audio/mpeg" />
		</item>
		<item>
		<title>I&#8217;TIKAF ROMADLON 1431 PONPES AL UKHUWAH SUKOHARJO</title>
		<link>http://suaraquran.com/itikaf-romadlon-1431-ponpes-al-ukhuwah-sukoharjo/</link>
		<comments>http://suaraquran.com/itikaf-romadlon-1431-ponpes-al-ukhuwah-sukoharjo/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Aug 2010 11:46:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suaraquran</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suaraquran.com/?p=1008</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://suaraquran.com/wp-content/uploads/2010/08/ITIKAF-1431-color.jpg"><img class="aligncenter size-large wp-image-1010" title="I'TIKAF 1431 color" src="http://suaraquran.com/wp-content/uploads/2010/08/ITIKAF-1431-color-1024x670.jpg" alt="" width="900" height="350" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suaraquran.com/itikaf-romadlon-1431-ponpes-al-ukhuwah-sukoharjo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>AUDIO Kajian SMS Berjawab Romadlon Ust Kholid Syamhudi</title>
		<link>http://suaraquran.com/audio-kajian-sms-berjawab-romadlon-ust-kholid-syamhudi/</link>
		<comments>http://suaraquran.com/audio-kajian-sms-berjawab-romadlon-ust-kholid-syamhudi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Aug 2010 02:41:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suaraquran</dc:creator>
				<category><![CDATA[Download]]></category>
		<category><![CDATA[masalah puasa]]></category>
		<category><![CDATA[sms islam]]></category>
		<category><![CDATA[suara quran]]></category>
		<category><![CDATA[suaraquran]]></category>
		<category><![CDATA[tanya jawab puasa]]></category>
		<category><![CDATA[ust kholid syamhudi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suaraquran.com/?p=1002</guid>
		<description><![CDATA[Assalamu&#8217;alaikum,ustadz,sholat tarowih yang kuat  2x5+1 atau 4.4.3 atau 2&#215;4+.3 mohon penjelasan terima kasih. Dari Rohmat m, di Jimbung.  Assallamualaikum Ustad,di desa saya shalat tarawihnya di baca cepat,tanpa peduli panjang pendek bacaan,sehingga shalat tidak khusyuk, apa  boleh shalat tarawih di rumah meskipun tanpa jamaah? Catur.Dari Abu Lutfi di Kalioso, apakah ketika imam sedang doa bersama ketika [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://suaraquran.com/wp-content/uploads/2010/08/ramadhan_sms.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1003" title="ramadhan_sms" src="http://suaraquran.com/wp-content/uploads/2010/08/ramadhan_sms-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Assalamu&#8217;alaikum,ustadz,sholat tarowih yang kuat  2</strong><strong>x</strong><strong>5+1</strong> <strong>atau 4.4.3 atau</strong> 2&#215;4+.3 mohon penjelasan terima kasih. Dari Rohmat m, di Jimbung.  Assallamualaikum Ustad,di desa saya shalat tarawihnya di baca cepat,tanpa peduli panjang pendek bacaan,sehingga shalat tidak khusyuk, apa  boleh shalat tarawih di rumah meskipun tanpa jamaah? Catur.Dari Abu Lutfi di Kalioso, apakah ketika imam sedang doa bersama ketika selesai witir.kemudian saya pergi meninggalkan pulang terlebih dahulu,tidak menunggu selesai dzikir tersebut, betulkah sikap ana ustadz?  Apakah termasuk rafats menggoda istri dengan kata-kata jorok/porno?sering bercumbu apa mengurangi pahala puasa? Syukron. Assalamu&#8217;alaikum  kakak laki-laki saya invalit, apa boleh menerima zakat  maal saya? boleh diberikan ke lembaga pendidikan tidak? Ummu Ahmad.</p>
<p><span id="more-1002"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Simak lebih lengkap pertanyaan serta jawaban dari pertanyaan seputar shiyam romadlon dalam rubrik kajian Radio SuaraQuran SMS Berjawab Romadlon bersama Ust Kholid Syamhudi Lc, ditayangkan langsung setiap senin jam 16.00. Pertanyaan diajukan melalui line sms 08564 757 5535.</p>
<p><a href="http://suaraquran.com/download/sms-berjawab-romadlon_ust-kholid-syamhudi.mp3" target="_blank"><strong>SMS Berjawab Romadlon Ust Kholid Syamhudi</strong></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suaraquran.com/audio-kajian-sms-berjawab-romadlon-ust-kholid-syamhudi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
<enclosure url="http://suaraquran.com/download/sms-berjawab-romadlon_ust-kholid-syamhudi.mp3" length="5038992" type="audio/mpeg" />
		</item>
		<item>
		<title>TAFSIR Al Baqarah 185 Tentang Keutamaan Romadlon dan Fiqh Shiyam</title>
		<link>http://suaraquran.com/tafsir-al-baqarah-185-tentang-keutamaan-romadlon-dan-fiqh-shiyam/</link>
		<comments>http://suaraquran.com/tafsir-al-baqarah-185-tentang-keutamaan-romadlon-dan-fiqh-shiyam/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Aug 2010 02:25:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suaraquran</dc:creator>
				<category><![CDATA[Download]]></category>
		<category><![CDATA[ayat puasa]]></category>
		<category><![CDATA[hukum puasa orang sakit]]></category>
		<category><![CDATA[suara quran]]></category>
		<category><![CDATA[suaraquran]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir ayat shiyam]]></category>
		<category><![CDATA[ust abdul karim]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suaraquran.com/?p=993</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://suaraquran.com/wp-content/uploads/2010/08/albaqarah185.gif"><img class="alignleft size-full wp-image-994" title="albaqarah185" src="http://suaraquran.com/wp-content/uploads/2010/08/albaqarah185.gif" alt="" width="472" height="177" /></a> <strong>B</strong><strong>eberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan </strong>Ramadhan, bulan yang di  dalamnya diturunkan (permulaan) Al quran sebagai petunjuk bagi manusia  dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang  hak dan yang bathil). Karena itu barangsiapa di antara kamu hadir (di  negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada  bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia  berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang  ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki  kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah  kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas  petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.(QS. 2:185)</p>
<p style="text-align: justify;">
<p><span id="more-993"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Pada ayat 185 ini, Allah mengulangi memperkuat ayat 184, bahwa walaupun  berpuasa diwajibkan, tetapi diberi kelonggaran bagi orang-orang yang  sakit dan musafir untuk tidak berpuasa pada bulan Ramadan dan  menggantikan pada hari-hari yang lain. Kemudian pada penutup ayat ini  Allah menekankan supaya disempurnakan bilangan puasa itu dan menyuruh  bertakbir serta bersyukur kepada Allah atas segala petunjuk-petunjuk  yang diberikan</p>
<p><strong><a href="http://suaraquran.com/download/ayat-shiyam-185_ust-abu-hasan.mp3" target="_blank">Tafsir Al Baqarah 185 Ust Abu Hasan Abdulkarim</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suaraquran.com/tafsir-al-baqarah-185-tentang-keutamaan-romadlon-dan-fiqh-shiyam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
<enclosure url="http://suaraquran.com/download/ayat-shiyam-185_ust-abu-hasan.mp3" length="0" type="audio/mpeg" />
		</item>
		<item>
		<title>DAUROH PELAJAR 2010 PP IMAM BUKHORY SOLO</title>
		<link>http://suaraquran.com/dauroh-pelajar-2010-pp-imam-bukhory-solo/</link>
		<comments>http://suaraquran.com/dauroh-pelajar-2010-pp-imam-bukhory-solo/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Aug 2010 01:35:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suaraquran</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suaraquran.com/?p=996</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://suaraquran.com/wp-content/uploads/2010/08/daurah_pelajar_fix.png"><img src="http://suaraquran.com/wp-content/uploads/2010/08/daurah_pelajar_fix-1024x779.png" alt="" title="daurah_pelajar_fix" width="700" height="500" class="aligncenter size-large wp-image-997" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suaraquran.com/dauroh-pelajar-2010-pp-imam-bukhory-solo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
