Agar Bencana Tidak Menimpa Kita

Bencana yang Allah timpakan ke negeri kita seakan tiada hentinya. Koran, televisi, radio, jejaring sosial, serta media masa lainnya tak lelah memberitakan bencana yang tengah menimpa saudara kita. Banyak orang beranggapan, bahwa bencana yang silih berganti menerpa negeri ini, murni kejadian alam semata. Namun, mereka lupa, atau pura-pura lupa; siapakah yang telah memerintahkan angin bertiup, sehingga ia membawa awan penyebab hujan pembawa banjir dan tanah longsor. Mereka lupa; siapakah yang mengatur pergerakan lempeng bumi penyebab gempa; siapakah yang mengatur tekanan perut bumi penyebab bencana vulkanik. Ya, Dialah Allah, Penguasa alam semesta. Semua musibah datangnya dari Allah. Allah berfirman:

(( مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلا بِإِذْنِ اللَّهِ ))

“Tidak ada sesuatu musibahpun yang menimpa seseorang, kecuali denga izin Allah.”  [QS. At Taghabun: 11]

Syaikh As Sa‘di rahimahullah mengomentari:

“Ini bermakna umum untuk semua jenis musibah, baik musibah yang merenggut jiwa, harta, anak, hal-hal yang dicintai dan lain sebagainya. Maka, semua musibah yang menimpa para hamba terjadi dengan ketetapan dan takdir Allah.” [Taisir Karimir Rahman fie Tafsir Kalamil Mannan]

  • Mengapa Allah Menurunkan Musibah ?

Allah Ta‘ala adalah Dzat Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Namun, kenapa di sisi lain Allah menurunkan bencana. Ketahuilah wahai saudaraku, bahwa Allah tidak menurunkan bencana dan musibah atas dasar kedzaliman. Bukankah Allah telah berfirman:

(( وَمَا أَنَا بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ ))

“Dan tidaklah Aku (Allah) senang berbuat dzolim terhadap para hamba.” [QS. Qaf: 50]

Lalu, apakah tujuan Allah menurunkan musibah? Ketahuilah, tujuan diturunkannya musibah adalah:

  • Sebagai balasan bagi orang-orang yang berbuat kesalahan dan dosa.

Allah Ta’ala berfirman:

(( أَوَلَمْ يَسِيرُوا فِي اْلأَرْضِ فَيَنْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ كَانُوا مِنْ قَبْلِهِمْ كَانُوا هُمْ أَشَدَّ مِنْهُمْ قُوَّةً وَآَثَارًا فِي اْلأَرْضِ فَأَخَذَهُمُ اللَّهُ بِذُنُوبِهِمْ وَمَا كَانَ لَهُمْ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَاقٍ ))

“Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi, lalu memperhatikan betapa kesudahan orang-orang yang sebelum mereka. Mereka itu adalah lebih hebat kekuatannya daripada mereka dan (lebih banyak) bekas-bekas mereka di muka bumi, maka Allah mengazab mereka disebabkan dosa-dosa mereka. Dan mereka tidak mempunyai seorang pelindung dari azab Allah.” [QS. Ghafir: 21]

  • Agar orang-orang yang lalai kembali ke jalan-Nya yang lurus.

Allah Ta’ala berfirman:

(( وَلَنُذِيقَنَّهُمْ مِنَ الْعَذَابِ اْلأَدْنَى دُونَ الْعَذَابِ اْلأَكْبَرِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ ))

“Dan sesungguhnya, Kami timpakan kepada mereka sebagian azab (musibah) di dunia sebelum azab yang lebih besar (di akhirat) agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” [QS. As Sajdah: 21]

  • Menguji kesabaran orang yang beriman.

Allah Ta’al berfirman:

(( وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ اْلأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَالَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ ))

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: ‘Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji‘uun’.”  [QS. Al Baqarah: 155-156]

  • Kiat Agar Terhindar dari Musibah

Kita dituntut untuk ikut serta merasakan penderitaan saudara kita yang sedang ditimpa musibah, tujuannya supaya tumbuh empati dan dorongan sosial. Namun, bukan berarti kita berharap agar Allah menimpakan hal serupa kepada kita. Kita semua ingin agar daerah yang kita tinggali aman sentosa, terhindar dari musibah. Agar terhindar dari musibah, jangan hanya menguatkan sebab duniawi saja, justru yang paling utama adalah menguatkan sebab ukhrawi kita!

Diantara perkara yang dapat menghindarkan dari musibah adalah:

  • Menjaga kualitas iman dan mensyukuri nikmat Allah.

Setiap hari Allah tak henti memberikan limpahan nikmat-Nya kepada manusia. Namun sedikit sekali dari hambanya yang mau bersyukur. Allah berfirman:

((… وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ ))

 “Dan sedikit sekali hamba-hamba-Ku yang mau bersyukur.” [QS. Saba’: 13]

Kebanyakan orang menyadari, bahwa harta, pangkat, derajat sosial, ilmu, anak yang shalih dan nikmat lainnya adalah pemberian Allah. Namun, mereka cenderung mengingkari nikmat tersebut datangnya dari Allah. Mereka mengikuti langkah Qarun yang kaya raya, tapi kufur nikmat, lantas Allah-pun membenamkannya beserta semua hartanya. Orang-orang yang sebangsa dengan Qarun ini telah Allah terangkan dalam firman-Nya:

(( يَعْرِفُونَ نِعْمَتَ اللهِ ثُمَّ يُنكِرُونَهَا وَأَكْثَرُهُمُ الْكَافِرُونَ ))

“Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang kafir.” [QS. An Nahl: 83]

Maka sebaliknya, para hamba yang menjaga kualitas iman dan syukur kepada-Nya, akan senantiasa mendapatkan penjagaan dari Allah Ta’ala. Allah Ta’ala telah berjanji:

(( مَا يَفْعَلُ اللَّهُ بِعَذَابِكُمْ إِنْ شَكَرْتُمْ وَآمَنْتُمْ وَكَانَ اللَّهُ شَاكِرًا عَلِيمًا ))

“Mengapa Allah mengadzab kalian, jika kalian bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” [QS. An Nisa’: 147]

  • Menjaga agar mayoritas penduduk tetap menegakkan syari‘at Allah.

Untuk menjamin seratus persen penduduk daerah kita tetap dalam rel syari‘at adalah perkara yang mustahil, namun yang harus dilaksanakan adalah menjaga kondusifitas untuk tetap menegakkan ketaatan kepada Allah, karena inilah salah satu syarat terhindar dari murka Allah di dunia, berupa bencana. Allah berfirman:

(( وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَى بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ ))

“Dan Rabbmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan.” [QS. Hud: 117]

  • Menjaga Eksistensi Tauhid.

Apabila pada suatu daerah tauhid tetap dijaga dan syirik dijauhi, maka sekalipun ketakutan pra/pasca musibah menyebar di daerah tersebut, Allah berjanji akan menghilangkannya. Bahkan, Allah Ta’ala akan menggantinya dengan keamanan dan ketentraman. Allah berfirman:

(( وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ ))

“Dan, Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal-amal shalih, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka. Dan, Dia benar-benar akan merobah (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan, barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang yang fasik.” [QS. An Nur: 55]

  • Beristighfar.

Semua orang pasti pernah berbuat dosa. Memang jiwa kita pada asalnya lebih condong kepada keburukan. Allah berfirman:

((… إِنَّ النَّفْسَ لأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلاَّ مَارَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَّحِيمٌ ))

“Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabbku. Sesungguhnya Rabbku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [QS. Yusuf: 53]

Allah berfirman,

(( وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ ))

“Dan Allah sekali-kali tidak akan mengadzab mereka, sedang kamu berada diantara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengadzab mereka, sedang mereka meminta ampun.” [QS. Al Anfal: 33]

  • Pelipur Lara Saudara yang Tertimpa Musibah

Tidak dipungkiri, musibah dan bencana akan selalu menyisakan kesedihan mendalam. Betapa tidak, sekian orang yang dicinta kini telah tiada. Harta benda musnah tak tersisa. Maka, ingatlah beberapa perkara berikut, agar kesedihanmu tidak berkepanjangan:

  • Ingatlah, bahwa musibah yang menimpa kita tidak seberapa dibandingkan dengan ujian para nabi dan para pengikutnya yang terdahulu.

Dan ingatlah, bahwa besarnya musibah yang menimpa kita berbanding lurus dengan kadar keimanan kita; semakin besar musibah yang menimpa, mengindikasikan semakin tebalnya iman yang melekat pada diri kita. Suatu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang siapakah manusia yang paling berat ujiannya, Beliau shallallahu ‘alaihi waallam menjawab:

الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ يُبْتَلَى النَّاسُ عَلَى قَدْرِ دِيْنِهم فَمَنْ ثَخُنَ دِيْنُهُ اِشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَمَنْ ضَعُفَ دِيْنُهُ ضَعُفَ بَلاَؤُهُ

“(Manusia yang paling berat ujiannya) adalah para nabi, kemudian yang setelahnya dan setelahnya, kemudian semua manusia sesuai kadar keimanan mereka. Maka, barangsiapa kuat agamanya, semakin berat ujiannya di dunia. Dan, barangsiapa lemah agamanya, maka akan semakin ringan ujiannya.” [Shahih Ibnu Hibban, no. 2920]

  • Ingatlah, seseorang yang ditimpa musibah, kemudian dia bersabar dan ridha, maka Allah ganti dengan pahala tanpa batas.

Allah berfirman:

(( إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ ))

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” [QS. Az-Zumar: 10]

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:

“Senantiasa bala` (cobaan) menimpa seorang mukmin dan mukminah pada tubuhnya, harta dan anaknya, sehingga ia berjumpa dengan Allah dalam keadaan tidak memiliki dosa.”  [Shahih Sunan At-Tirmidzi, no. 2399]

  • Nasehat Bagi yang Tidak Tertimpa Musibah

Ajaran Islam menanamkan sifat sosial yang tinggi kepada pemeluknya. Kalaupun kita yang membaca tulisan ini tidak terkena musibah, kita dituntut untuk tidak melupakan saudara kita yang sedang diuji dengan musibah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

تَرَى الْمُؤْمِنِينَ فِي تَرَاحُمِهِمْ وَتَوَادِّهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى عُضْوًا تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ جَسَدِهِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Engkau lihat orang-orang yang beriman di dalam berkasih-sayang, mencintai dan berlemah lembut diantara mereka seperti satu tubuh, apabila sakit salah satu anggota tubuhnya, niscaya akan dirasakan oleh seluruh bagian tubuhnya dengan tidak bisa tidur dan terserang demam.” [HR. Al Bukhari, no. 6011]

  • Penutup

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang mulia pernah bersabda:

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh mengherankan perkara seorang mukmin; sesungguhnya semua perkaranya baik dan tidaklah hal tersebut dimiliki, kecuali oleh orang yang beriman. Jika ia diberi kelapangan dia bersyukur maka hal itu baik baginya dan bila diberi ujian ia bersabar maka hal itu baik baginya.” [HR. Muslim, no.7692]

| Allahu A’lam bish shawwab..

| Oleh: Ibnu Ram 261214

 

Download PDF