8 Fenomena Alam Sebagai Tanda-tanda Kebesaran Allah

[ 8 Fenomena Alam Sebagai Tanda-tanda Kebesaran Allah ]

Di dalam Al-Qur’an banyak contoh-contoh ‘fenomena alam’, yang bisa dijadikan ‘dalil’ atau bukti bahwa Allah itu ada, Allah itu Maha Kuasa, dan Al-Qur’an itu benar.

Misalnya saja, satu ayat di dalamnya ada ‘8 Fenomena Alam’ yang merupakan tanda-tanda kekuasaanNya. Yaitu firman Allah:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (Al-Baqarah: 164)

Di beberapa kitab tafsir, disebutkan bahwa ayat ini mengandung ‘8 tanda-tanda Allah’. Dan di dalam kitab ‘Shafwatut Tafasir’, karya syaikh Muhammad ‘Ali Ash-Shabuny, disebutkan bahwa delapan tanda itu adalah:

1. Langit.

2. Bumi.

3. Siang dan malam.

4. Kapal.

5. Hujan.

6. Makhluk-makhluk di bumi.

7. Angin.

8. Awan.

Di dalam Al-Qur’an banyak sekali ayat-ayat yang menjelaskan tentang 8 hal di atas secara rinci. Yang tujuan utamanya adalah sebagai bukti bahwa Allah itu ada, Allah itu Maha Pencipta, Maha Kuasa dan Maha Mengatur. Yang akhirnya hanya Dia lah yang berhak disembah.

Barangkali kita akan mengkaji beberapa fenomena alam ini, terutama dua fenomena yang ada kemiripan, yaitu fenomena ‘Kapal’ dan ‘Awan’.

Kapal

Kita tahu, kapal yang demikian beratnya, ternyata bisa terapung dan tidak tenggelam. Oleh karena itu, di dalam kitab tafsir ‘Jalalain’, disebutkan bahwa bentuk keajaiban yang ada pada kapal adalah karena dia tidak tenggelam, padahal mempunyai berat yang luar biasa. Terlebih lagi membawa para penumpang dan barang-barang.

Mungkin ada yang mengatakan: “Kapal bisa terapung karena adanya ‘hukum Archimedes’?

Kita katakan: “Betul, menurut teori memang demikian. Akan tetapi kami ingin bertanya: ‘Siapa yang mengendalikan air sehingga air bisa memberi tekanan ke atas setiap benda yang masuk ke dalam air sebesar benda cair yang dipindahkan benda tersebut, seperti dalam ‘hukum Archimedes’?’

Jawabannya: “Tidak lain dan tidak bukan Dia adalah Allah.

Awan

Kemudian, poin terakhir di ayat tersebut adalah ‘Awan’. Fenomena Awan tidak kalah menakjubkan dibandingkan dengan kapal, meskipun keduanya ada kesamaan.

Kenapa? Karena, menurut penelitian, awan merupakan kumpulan kristal es atau butiran es yang sangat kecil dan jumlahnya sangat banyak.

Dan awan ini ada bermacam-macam. Salah satu jenis awan yang sering kita lihat, beratnya bisa mencapai ribuan ton.

Pertanyaannya adalah: “Bagaimana bisa benda seberat ini dan ada di atas, tapi tidak jatuh ke bumi? Padahal, menurut teori, di bumi ada ‘gaya gravitasi’ yang bisa menarik benda-benda ke bawah?

Kita seorang muslim, meyakini, bahwa Allah-lah yang menahan awan, sehingga dia tidak jatuh.

Mungkin ada yang mengatakan: “Menurut teori ilmiyah, awan bisa tertahan di atas langit adalah karena volume nya sangat besar dan penyusunnya adalah butiran-butiran yang sangat kecil, sehingga wajar tidak jatuh. Begitu juga karena adalah ‘tekanan udara’ yang saling menyesuaikan.”

Kita katakan: “Ya, teori ilmiyah tersebut in syaa Allah tidak salah. Akan tetapi kami bertanya: “Siapa yang mengatur ‘tekstur’ awan seperti itu? Siapa yang mengatur ‘tekanan udara’ di atas sana, sehingga bisa menahan awan tidak jatuh?”

Tentu jawabannya adalah: “Allah”. Karena Dia telah memberitahu kita melalui ayat di atas. Yang perlu kita beri perhatian lebih dari ayat di atas adalah ketika Allah menjelaskan bahwa awan ini ada di antara langit dan bumi. Artinya, jika fenomena kapal yang tidak tenggelam saja sangat menakjubkan, apalagi ini ada benda yang juga tidak kalah beratnya dengan kapal, akan tetapi dia bisa ‘melayang’ di udara, tidak seperti kapal yang di bawahnya ada benda cari yang menopangnya.

Oleh karena itu, disebutkan di dalam salah satu kitab tafsir, bahwa fenomena awan ini jauh lebih dahsyat dibandingkan kapal, meskipun keduanya ada kemiripan. Yaitu dua benda yang bisa melayang di atas sebuah materi yang secara nalar tidak mungkin. Tapi, karena Allah menghendakinya maka semuanya bisa terjadi.

Angin

Angin adalah udara yang bergerak. Dan angin bergerak dari tempat yang tekanan udaranya tinggi ke tempat yang tekanan udaranya rendah. Demikian ini kata para ilmuwan.

Bagi kita seorang muslim, yang mengatur angin untuk seperti ini adalah Allah. Karena Dia menyampaikannya kepada kita di dalam Al-Qur’an, bahwa Dia lah yang mengatur pergerakan angin.

Dan dengan kita gabungkan antara ayat Al-Qur’an tentang angin, dengan kesimpulan para ilmuwan berkaitan dengan pergerakan angin; kita akan mendapat satu hikmah, yaitu Allah itu Maha Teliti dan Maha Kasih Sayang kepada makhlukNya.

Kenapa demikian? Misalnya saja, menurut kesimpulan para ilmuwan, tempat yang disinari matahari, tekanan udaranya rendah. Artinya, semakin banyak sinar matahari yang mengenai suatu daerah, maka di daerah itu tekanan udaranya rendah.

Itu artinya, angin akan bergerak mengarah ke daerah tersebut. Karena, angin itu bergerak dari tempat yang tekanan udaranya tinggi ke tempat yang tekanan udaranya rendah.

Subhaanallah, bisa dibanyangkan jika seandainya pergerakan angin sebaliknya, maka daerah yang sudah cukup panas dengan sinar matahari, akan semakin panas, karena tidak ada angin yang berhembus ke sana.

Ini barangkali hikmah yang bisa kita tangkap dengan menggabungkan ayat Al-Qur’an dan penemuan para ilmuwan.

Selanjutnya, perlu kita tahu, menurut ulama ahli tafsir, angin ada dua jenis:

Pertama, angin ‘rahmat’.

Kedua, angin ‘azab’.

Dan dari setiap jenis angin ini terbagi lagi menjadi 4 macam angin. Sehingga, bisa disimpulam demikian:

1. Angin rahmat:

a. Al-Mubasysyirat.
b. Al-Nasyr.
c. Al-Mursalat.
d. Ar-Rakha’.

2. Angin ‘azab’ (hukuman):

a. Al-‘Ashif.
b. Al-Qashif.
c. Al-‘Aqim.
d. Ash-Sharshar.

Demikian ini penjelasan di dalam kitab ‘Hasyiyah Ash-Shawy ‘Ala Tafsir Al-Jalalain’.

Hujan

Di dalam Al-Qur’an, banyak sekali ayat yang menyebutkan tentang hujan. Dari ayat-ayat itu kita bisa mengetahui bagaimana terjadinya hujan. Misalnya firman Allah:

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُزْجِي سَحَابًا ثُمَّ يُؤَلِّفُ بَيْنَهُ ثُمَّ يَجْعَلُهُ رُكَامًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَالِهِ وَيُنَزِّلُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ جِبَالٍ فِيهَا مِنْ بَرَدٍ فَيُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَصْرِفُهُ عَنْ مَنْ يَشَاءُ يَكَادُ سَنَا بَرْقِهِ يَذْهَبُ بِالْأَبْصَارِ

“Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) air hujan dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) air hujan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan.” (An-Nur: 43)

Banyak hal menakjubkan berkaitan dengan hujan. Salah satunya adalah ketika Allahmenurunkan air dari langit dalam bentuk ‘tetesan-tetesan’ atau ‘butiran-butiran’. Sehingga makhluk yang ada di bumi bisa merasakan manfaat dari air hujan tersebut. Bisa dibayangkan jika air yang ada di langit, yang sangat banyak jumlahnya itu jatuh ke bumi sekaligus? Pasti semua makhluk Nya kan binasa.

Maha benar Allah di dalam firmanNya. Wallahu a’lam

Fajri NS

Download PDF