Prestasi Gemilang Para Khalifah

Sejarah Islam mencatat prestasi gemilang para khalifah Umat Islam. Khalifah adalah pemimpin tertinggi umat Islam. Dimulai dari zamannya para khalifah yang tidak diragukan lagi kebaikan mereka, yang mendapat kemuliaan berupa keridhaan Allah kepada mereka, yaitu para ‘Khulafa’ Rasyidun’ (Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali). Karena sangat terkenalnya mereka, hingga seolah mereka tidak perlu lagi diperkenalkan. Dan sangat kurang pantas seorang muslim tidak mengenal mereka.

Adapun para khalifah setelah empat khalifah ini, kita perlu mengenalnya lebih jauh. Kita ambil contoh para khalifah di zaman khilafah ‘Umawiyah’. Yaitu khilafah setelah zamannya para ‘Khulafa’ Rasyidin’.

Perlu diketahui, jumlah khalifah yang memimpin khilafah Umawiyah ada 14, dan yang paling terlihat pretasinya ada 4, yaitu:

1. Mu’awiyah bin Abi Sufyan (pemimpin pertama khilafah Umawiyah).

2. ‘Abdul Malik bin Marwan.

3. Al-Walid bin ‘Abdul Malik bin Marwan.

4. ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz.

Pertama: Mu’awiyah

Beliau menjadi khalifah setelah Al-Hasan (cucu Nabi Muhammad ﷺ ) mengalah dan menyerahkan kepemimpinannya kepada Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhuma. Dengan ini, tahun tersebut dikenal dengan istilah ‘Amul Jama’ah’ (tahun persatuan umat Islam).

Beberapa keistimewaan Mu’awiyah:

  • Nabi Muhammad memilihnya sebagai salah satu penulis wahyu Al-Qur’an. Sebuah kehormatan yang sangat tinggi dan mulia.
  • Di zaman Abu Bakar, Mu’awiyah ikut serta dalam jihad memerangi orang-orang yang murtad.
  • Di zaman khalifah Umar, Mu’awiyah diberi amanah memimpin kota Dimasyq.
  • Di zaman khalifah ‘Utsman, Mu’awiyah diberi amanah memimpin semua daerah Syam.

Beberapa sifat menonjol Mu’awiyah:

  • Kecerdasan yang sangat tinggi.
  • Mempunyai perencanaan yang jauh ke depan.
  • Kemampuan yang tinggi dalam manajemen urusan negara, salah satu ‘trobosan’ yang dibuat adalah dibentuk sebuah lembaga semacam ‘pos’, sehingga urusan surat-menyurat menjadi cepat.

Sejarah mencatat kesuksesan yang gemilang di masa kepemimpinannya. Sepeninggal Mu’awiyah, kepemimpinan jatuh di tangan putranya yaitu Yazid bin Mu’awiyah. Dan di masa kepemimpinan Yazid, mulai ada tanda-tanda kemunduran, bahkan hampir saja negara ‘runtuh’.

Tapi, alhamdulillah, Allah masih memberi pertolongan melalui sepupu Mu’awiyah yang bernama Marwan bin Al-Hakam. Hingga kekuatan khilafah bangkit kembali.

Kedua: ‘Abdul Malik bin Marwan

Setelah Marwan bin Hakam wafat, kepemimpinan digantikan oleh putranya, yaitu ‘Abdul Malik bin Marwan.

Beberapa prestasi

Di masa khalifah ‘Abdul Malik bin Marwan, sebetulnya banyak terjadi kekacauan di dalam wilayah Islam sendiri. Akan tetapi, alhamdulillah, dengan kemampuannya memimpin, semua bisa diatasi.

Di masa khalifah ‘Abdul Malik bin Marwan memang tidak banyak kota-kota yang ‘dibebaskan’, karena beliau sibuk mengkondisikan situasi keamanan di dalam wilayah Islam.

Meskipun demikian, ada satu perubahan yang sangat positif dalam hal ekonomi, yaitu diberlakukannya mata uang dinar (emas) dan dirham (perak), yang sebelumnya kaum muslimin menggunakan mata uang Persia dan Romawi. 

Ketiga: Al-Walid bin ‘Abdul Malik

Sepeninggal beliau, kepemimpinan dipegang oleh putanya, yaitu Al-Walid bin ‘Abdul Malik. Di masa kepemimpinannya, wilayah-wilayah Islam menjadi sangat banyak.

Prestasi

Di masa ini, persebaran dakwah Islam semakin luas, hingga wilayah kekuasaan Islam meluas ke arah timur sampai Cina. 

Keempat: ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz

Setelah khalifah Al-Walid bin ‘Abdul Malik wafat, maka kepemimpinan khilafah Umawiyah dipegang oleh Sulaiman bin ‘Abdul Malik. Kemudian, sepeninggal Sulaiman bin ‘Abdul Malik, kepemimpinan dipegang oleh seorang khalifah adil dan pemberani yang bernama ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz. Ini pun atas wasiat yang ditulis oleh Sulaiman bin ‘Abdul Malik, dan alhamdulillah, dia ‘tidak salah pilih’.

Tentu tidak asing lagi bagi kita nama yang satu ini. Serasa ada rasa bangga dan mulia ketika mendengar nama ini disebut. Barangkali ini karena kemuliaan yang Allah anugerahkan kepadanya. 

Sampai-sampai Imam Suyuthy menyebutnya sebagai ‘Khamis Al-Khulafa’ Ar-Rasyidin’ (yaitu: Khulafa’ Rasyidun yang ke Lima).

Kita tahu, ada beberapa sahabat Nabi Muhammad yang mendapat gelar sangat mulia, yaitu Al-Khulafa’ Ar-Rasyidun, dan jumlahnya hanya empat, yaitu: Abu Bakar Ash-Shidiq, ‘Umar bin Khatthab, ‘Utsman bin ‘Affan, dan ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhum.

Maka, sangat terhormat sekali jika khalifah ke 8 di khilafah Umawiyah (yaitu: ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz) dijuluki khalifah yang ke 5 dari khulafa’ rasyidun.

Dan gelar ini tidaklah berlebihan, karena ulama mengakui, ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz ini mirip dengan para khulafa’ rasyidun (Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali) dalam memimpin umat Islam. Ada yang mengatakan, kemiripan ini di tiga hal:

  • Keadilan.
  • Pemerataan hak.
  • Komitmen dalam melaksanakan syari’at Islam.

Dan ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz ini sangat terinspirasi dengan ‘Umar bin Khatthab secara khusus dalam memimpin khilafah Umawiyah.

Garis keturunan Umar bin Khatthab

Jika dilihat dari garis keturunan, terutama dari jalur sang ibunda, maka jelas sekali bahwa di dalam tubuh ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, mengalir darah ‘Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu.

Imam Suyuthy, di dalam kitab ‘Tarikh Al-Khulafa’, menyebutkan garis keturunan sang ibunda:

“Ibunda ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz bernama: Ummu ‘Ashim bintu ‘Ashim bin ‘Umar bin Khatthab… “

Memberi contoh kebaikan kepada rakyatnya

Contoh pemimpin sangat besar pengaruhnya terhadap yang dipimpin. Dan ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz pun bukan hanya mengajarkan ‘teori’ kepada rakyatnya. Bahkan memulai dari diri dan keluarganya.

Pertama, dia meninggalkan segala bentuk kemewahan yang biasa nampak di kehidupan para pemimpin khilafah Umawiyah sebelumnya. Dalam hal sarana dan prasarana, dia hanya mencukupkan dengan sarana yang sifatnya ‘pokok’ dan mendesak. Tidak perlu sarana-sarana yang sifatnya tidak penting, apalagi mewah. Kesederhanaan hidup ini juga dia terapkan para istri dan putra-putranya.

Menghapus denda-denda

Termasuk perubahan positif yang dilakukannya adalah menghapus semua bentuk denda yang sebelumnya diberlakukan di daerah Irak.

Mengembalikan hak rakyat yang pernah dirampas

Temasuk perubahan positif yang dilakukannya adalah mengembalikan hak-hak rakyat yang pernah dirampas. Dan tentunya, hal ini mendapat pertentangan dari para pembesar khilafah Umawiyah sebelumnya. Akan tetapi, ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz tidak gentar dan tetap pada pendiriannya. Berdiri kokoh bagaikan batu karang yang tidak bergeser sedikitpun diterjang ombak.

Justru karena keadilan yang ‘tidak pandang bulu’ inilah, banyak sekali orang-orang yang akhirnya masuk Islam. Bahkan beberapa raja di wilayah-wilayah sekitar juga ikut masuk Islam. Allahu Akbar !!

Pengaruh kebaikan yang sangat luas

Malik bin Dinar berkata:

“Ketika hari di mana ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz resmi diangkat menjadi khalifah, para penggembala kambing berkata: ‘Siapa orang shalih ini, yang hari ini menjabat sebagai khalifah? Keadilannya sampai-sampai menahan serigala-serigala dari menerkam kambing-kambing kami!’”

Wafatnya sang khalifah

Imam Suyuthi di dalam kitab ‘Tarikh Al-Khulafa’, menuliskan bahwa wafatnya ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz adalah lantaran racun yang dimasukkan ke dalam minumannya. Hal ini tidak mengherankan, karena para pembesar tentunya dendam karena mereka pernah diadili oleh ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, dan mengembalikan hak-hak rakyat yang pernah mereka rampas.

Tapi, hakekatnya mereka tidaklah merugikan kecuali diri mereka sendiri. In syaa Allah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz wafat dalam kebaikan. Jasadnya memang telah tiada, tapi kebaikannya terus mengalir, perjuangannya selalu dikenang, dan jalan hidupnya menjadi teladan, terutama dalam bagi para pemimpin. Semoga Allah merahmatinya.

Entah berapa lembar kertas yang dibutuhkan, dan berapa banyak tinta yang dihabiskan untuk menulis biografi pemimpin yang seperti ini kebaikannya. Tapi yang sedikit ini semoga bisa menjadi ‘suluh’ di tengah-tengah gelapnya kerinduan akan pemimpin yang shalih, adil dan pemberani.

:: Sumber Bacaan:

  • Kitab ‘Tarikh Al-Khulafa’, karya Imam Jalaludin As-Suyuthi.
  • Shuwarun Minat Tarikh Al-Islamy (disusun beberapa profesor dan doktor dibidang sejarah, bahasa dan tarbiyah).

Download PDF