Lembaran Baru Hidup Penuh Arti

 

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam yang telah menciptakan kehidupan dan kematian untuk menguji sipakah yang paling baik amalnya. Salam dan shalawat semoga senantiasa tercurahkan kepada Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, keluarga beliau, para sahabat dan pengikutnya sampai hari kiamat kelak. Amin.

 

Sebuah Kesadaran   

Awal membuka lembaran baru adalah dengan sebuah kesadaran, sadar bahwa hidup hanyalah sementara, orang yang cerdas akan memanfaatkan hidup ini dengan sebaiknya, berusaha menjadikannya hidup yang penuh makna dan arti, dan menjauhi hal yang menghantarkan kepada kesia-siaan.

Sebuah kesadaran akan diri yang penuh kekurangan adalah awal kebangkitan dari sebuah kelalaian untuk menjadi pribadi yang lebih baik, sebuah motivasi untuk menjadikan hidupnya penuh berkah. Diantara kunci untuk menjadikan hidup ini penuh makna, arti dan barkah adalah sebagai berikut:

  1. Mencari ridho Allah.

Hidup menjadi penuh arti dengan meniatkan hidup ini untuk mencari ridha Allah Ta’ala, itulah yang senantiasa kita ikrakan ketika sholat, Allah Ta’ala berfirman:

 

( قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ)

“Katakanlah sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah Rabb semesta alam” (Q.S al-An’ām : 162)

Seorang muslim senantiasa mengharapkan ridho Allah dalam setiap aktifitasnya. Sebab ia tahu bahwa hanya dengan memperoleh ridho Allah sajalah hidupnya menjadi penuh ketenangan dan ketentraman. Seorang Muslim yang mengejar ridho Allah berarti menjadi seorang yang ikhlas. Orang yang ikhlas dalam beramal merupakan orang yang mendapatkan perlindungan Allah dari tipu daya syetan. Allah menjamin hal ini berdasarkan Firman- Nya :

 )قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ (

”Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma`siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka”. (QS Al-Hijr ayat 39-40)

  1. Meraih Cita-cita.

Hidup menjadi penuh makna dengan semangat perjuangan untuk menggapai cita – cita dan harapan, itulah yang menjadi ciri seorang muslim yang berjiwa besar, sebagaimana yang telah dianjurkan oleh Rasulullah Sholallahu alaihi wa sallam kepada umatnya agar memiliki cita – cita yang tinggi :

 

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” إِنَّ فِي الْجَنَّةِ مِائَةَ دَرَجَةٍ ، أَعَدَّهَا اللَّهُ تَعَالَى لِلْمُجَاهِدِينَ فِي سَبِيلِهِ ، مَا بَيْنَ كُلِّ دَرَجَتَيْنِ كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ ، فَإِذَا سَأَلْتُمُوا اللَّهَ فَاسْأَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ ، فَإِنَّهُ وَسَطُ الْجَنَّةِ ، وَفَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى ، وَمِنْهُ تَفَجَّرُ أَنْهَارُ الْجَنَّةِ “. ( رواه البخاري ).

Artinya: Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam bersabda: “ Dalam surga terdapat seratus derajat yang Allah persiapkan bagi mujahidin di jalan-Nya, yang jarak antara setiap dua tingkatan bagaikan antara langit dan bumi, maka jika kalian meminta Allah, mintalah surga firdaus, sebab firdaus adalah surga yang paling tengah dan paling tinggi, di atasnya ada Arsy Ar-rahman, dan daripadanya sungai surga memancar.” ( HR. Bukhari , no : 7423).

Surga adalah cita-cita yang tinggi, bahkan teramat tinggi. Setiap cita-cita tinggi pasti membutuhkan perjuangan maksimal dan pengorbanan total. Tidak ada cita-cita mulia yang didapatkan dengan santai berpangku tangan dan duduk berleha-leha.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :

( أَلَا إِنَّ سِلْعَةَ اللهِ غَالِيَةٌ أَلَا إِنَّ سِلْعَةَ اللهِ الْجَنَّةُ )

Ketahuilah, sesungguhnya barang dagangan Allah itu mahal. Ketahuilah, sesungguhnya barang dagangan Allah itu adalah surga.” (HR. Al-Tirmidzi, beliau berkata: hadits hasan. Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih al-Jami’: 6222).

Sil’ah adalah barang yang ditawarkan dalam perdagangan. Sedangkan Allah ‘Azza wa Jalla telah tawarkan surga kepada para hamba-Nya agar mereka membelinya dengan jiwa dan harta mereka. Allah Ta’ala berfirman

( إِنَّ للهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ …)

“ Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh….” (QS. Al-Taubah: 111).

Al – Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia memberi ganti dari jiwa dan harta benda para hamba-Nya yang beriman dengan surga karena mereka telah rela mengorbankannya di jalan-Nya. ini merupakan karunia, kemuliaan dan kebaikan-Nya.” ( Tafsir Ibnu Katsir, hal : 4 / 218 ).

  1. Menggapai Ampunan Allah.

Hidup akan menjadi penuh berkah dengan memperoleh ampunan Allah, karena dosa dan maksiatlah yang membuat hidup menjadi sempit, punggung ini terasa berat memikul beban dosa dan maksiat.

( وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى )

 

“ Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta ”. ( Thaha : 24 ).

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “ Di dunia, dia tidak akan mendapatkan ketenangan dan ketenteraman. Hatinya gelisah yang diakibatkan kesesatannya. Meskipun dhahirnya nampak begitu enak, bisa mengenakan pakaian yang ia kehendaki, bisa mengkonsumsi jenis makanan apa saja yang ia inginkan, dan bisa tinggal dimana saja yang ia kehendaki; selama ia belum sampai kepada keyakinan dan petunjuk, maka hatinya akan senantiasa gelisah, bingung, ragu dan masih terus saja ragu. Inilah bagian dari kehidupan yang sempit”. ( Tafsir Ibnu Katsir, Hal : 3/164)

  1. Mencari Keselamatan.

Terkadang seseorang perhatian dengan keselamatannya di dunia tapi tidak memperhatikan keselamatannya nanti di akhirat. Padahal hakikat keselamatan yang sebenarnya adalah selamat dari adzab neraka yang menyedihkan.

Allah Ta’ala berfirman :

 ( فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَما الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِ )

“Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imran: 185).

Sehingga hakikat keselamatan adalah selamat dari terus menerus terjatuh ke dalam lembah dosa dan maksiat. Hadzdzaa’ Al-Laffaaf rahimahullah berkata : Ada seseorang berkata kepada Haatim Al-Ashom, “Apa yang engkau hasratkan?”. Ia menjawab, “Aku berhasrat keselamatan hari ini hingga malam hari nanti”. Akupun berkata kepada Hatim, “Bukankah seluruh hari-harimu keselamatan?”, Haatim berkata, “Sesungguhnya keselamatan hariku adalah hari dimana aku sama sekali tidak bermaksiat kepada Allah pada hari tersebut” (Atsar diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam kitab Syu’abul Iman no 6858).

  1. Menjadi yang paling bermanfaat.

Hidup menjadi penuh arti dan makna dengan menjadi orang yang paling bemanfaat. Memberikan manfaat dengan ilmu, harta, tenaga, waktu atau apapun yang kita berikan untuk orang lain.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no:3289).

Hakikat seorang yang berbuat baik kepada orang lain adalah manfaatnya kembali kepada dirinya sendiri, Allah Ta’ala berfirman :

إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ

“Jika kalian berbuat baik, sesungguhnya kalian berbuat baik bagi diri kalian sendiri” (QS. Al-Isra:7).

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ الله عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ, ةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ الله عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

Barang siapa yang memudah kesulitan seorang mu’min dari berbagai kesulitan-kesulitan dunia, Allah akan memudahkan kesulitan-kesulitannya pada hari kiamat. Dan siapa yang memudahkan orang yang sedang dalam kesulitan niscaya akan Allah memudahkan baginya di dunia dan akhirat” (HR. Muslim).

 

Manfaatkanlah Lima Perkara .

Seorang muslim yang cerdas adalah yang memanfaatkan lima perkara sebelum datangnya lima perkara. Dia sadar bahwa jiwa terlewatkan hal ini akan menyesal dengan sebuah tangisan.

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallah ‘alaihi wa sallam pernah menasehati seseorang,

 

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, Hidupmu sebelum datang matimu.”(HR. Al Hakim dalam Al Mustadroknya 4: 341. Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Pergunakan masa mudamu sebelum datang masa tuamu, karena masa mudalah kita mempunyai sebuah semangat, spirit, keinginan dan cita-cita yang ingin diraih. Masa muda adalah masa keemasan untuk meraih kebaikan, kesuksesan, dan keberhasilan, Maka hendaklah diisi dengan berbagai kegiatan yang bermanfaat hingga tidak menyesal di kemudian hari.

Pergunakan masa luangmu sebelum datang masa sibukmu. Hargailah waktu, agar tidak terbuang dengan penuh kesia-siaan, Isilah waktu luangmu dengan hal-hal yang bermanfaaat bagi dunia dan akhiratmu. Sibukkan waktu luang dengan sebuah ketaatan, kerena bila kosong dari ketaatan akan diisi dengan sebuah keburukan. Jangan sampai waktu luang terlewat tanpa kebaikan yang kita peroleh, karena yang ada nanti adalah sebuah penyesalan.

Pergunakan waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu. Sehat adalah sebuah anugerah, lihatlah ke rumah sakit, berapa banyak orang harus tertahan aktifitasnya karena sakit. Berapa banyak biaya yang harus di keluarkan untuk mendapatkan kesembuhannya. Maka hendaknya kita senantiasa mempergunakannya untuk hal-hal yang bermanfaat tanpa mengulur-ngulur waktu. Ingatlah bahwa sehat adalah modal yang paling berharga.

Pergunakanlah waktu kayamu sebelum datang waktu miskinmu. Ketika kekayaan ada pada kita, maka hendaknya kita memanfaatkannya sebaik-baiknya, dan jangan dihambur-hamburkan dengan hal yang sia-sia. Pergunakanlah kekayaan untuk membangun akhirat dengan cara menginfaqkannya, menolong fakir miskin dan membantu saudara kita yang membutuhkan. Kekayaan adalah modal berharga untuk menggapai ridho Allah Ta’ala.

Pergunakan hidupmu sebelum datang matimu, inilah nasehat yang terakhir, ketika kita diberi kehidupan maka merupakan kesempatan yang tiada taranya. Hidup hanya sekali, maka jadikanlah hidupmu penuh arti dan makna.

 

Usaha Perbaikan Diri.

Hidup adalah perjalanan memperbaiki diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Semakin bertambah umur harapannya semakin bertambah ilmu dan keimanannya. bertambah ibadahnya, amal sholehnya dan semakin baik akhlak dan muamalahnya.

Sehingga sangat pentingnya sebuah kesadaran untuk melakukan perbaikan dengan menyadari bahwa diri ini penuh kekurangan, dan ketika Ia terjatuh maka segera bangkit dengan harapan meraih masa depan yang cerah. Wallaahu a’lam bishhowab

Hanif