Banyak di antara kaum muslimin yang kurang memperhatikan masalah aqidah pada kehidupannya dan kehidupan saudaranya (muslim) yang lain. Padahal aqidah atau tauhid merupakan hal yang sangat fital dalam kehidupan, sebab merupakan mizan diterima atau ditolaknya suatu amal. Amalan akan di terima oleh Alloh jika terbangun diatas keimanan, murninya keta’atan kepada Alloh dan bersih dari kesyirikan. Bahkan mayoritas surat dalam Al Qur`an memprioritaskan pembahasan pentingnya aqidah tauhid dan bahaya syirik bagi pribadi dan masyarakat. Juga menjelaskan bahwa syirik adalah faktor utama penyebab kebinasaan hamba, di dunia maupun di akherat. Lantaran pentingnya perkara aqidah ini, maka semua rosul memulai dakwahnya “Maka hendaknya; perkara yang pertama kali kau serukan kepada mereka adalah syahadat Lailaha illalloh (tidak ada sesembahan yang benar kecuali Alloh), dan dalam riwayat lain: Maka hendaknya perkara yang pertama kali kau serukan kepada mereka adalah ; agar mereka mengesakan Alloh ( HR. Bukhori dan Muslim)
Posts Tagged ‘suara quran’
AUDIO Kajian Pentingnya Aqidah Dalam Pembinaan Umat Ust Aunur Rofiq Ghufron Lc
Mendulang Sunnah Nabi pada Hari Raya ‘Iedul Fitri
‘Iedul Fitri merupakan salah satu hari besar umat Islam. Setelah berpuasa sebulan penuh, siang hari menahan diri dari makan, minum dan syahwat, malam hari menunaikan shalat tarawih berjama’ah, maka tibalah hari yang dinanti, Hari Raya ‘Iedul Fitri. Dari sisi bahasa, ‘Ied, artinya sesuatu yang kembali. Yaitu satu hari yang akan selalu berulang kembali setiap tahun.
Kaum muslimin menyambut hari ini dengan suka cita. Setelah sebulan penuh jiwa dan fisiknya dilatih melalui ibadah puasa, maka sekarang tibalah masa pembuktian. Apakah latihan selama sebulan penuh itu berbuah ataukah tidak? Latihan jiwa yang ditempuh dalam bulan suci ini, diharapkan membekas pada diri; sehingga ketika keluar dari bulan Ramadhan, kita berhak mendapat gelar muttaqin yang seperti diharapkan. Allah berfirman,
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu bershiyam sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa. (QS AlBaqarah:183).
Read the rest of this entry »
AUDIO Agar Puasa Dapat Mensucikan Jiwa Ust Abdulloh Taslim MA
- Manfaatkan bulan Ramadhan dengan sesuatu yang terbaik yang pernah diturunkan didalamnya, yakni membaca Al-Qur’anul Karim. Sesungguhnya Jibril ‘alaihis salam pada setiap malam di bulan Ramadhan selalu menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk membacakan Al-Qur’an baginya. (HR. AL-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu).Dan pada diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ada teladan yang baik bagi kita.
- Jagalah lisanmu dari berdusta, menggunjing, mengadu domba, mengolok-olok serta perkataan mengada-ada. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Barangsiapa tidak meninggalkan pevkataan dan perbuatan dusta maka Allah tidak butuh terhadap puasanya dari makan dan minum.” (HR. Al-Bukhari)
Read the rest of this entry »
Audio Kajian Adab dan Hukum I”tikaf Ust Abu Sulaiman
I’tikaf secara bahasa berarti menetap pada sesuatu. Sedangkan secara syar’i, i’tikaf berarti menetap di masjid dengan tata cara yang khusus disertai dengan niat.
Dalil Disyari’atkannya I’tikaf
Ibnul Mundzir mengatakan, “Para ulama sepakat bahwa i’tikaf itu sunnah, bukan wajib kecuali jika seseorang mewajibkan bagi dirinya bernadzar untuk melaksanakan i’tikaf.”
Dari Abu Hurairah, ia berkata,
كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَعْتَكِفُ فِى كُلِّ رَمَضَانَ عَشْرَةَ أَيَّامٍ ، فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الَّذِى قُبِضَ فِيهِ اعْتَكَفَ عِشْرِينَ يَوْمًا
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa beri’tikaf pada bulan Ramadhan selama sepuluh hari. Namun pada tahun wafatnya, Beliau beri’tikaf selama dua puluh hari”.
Waktu i’tikaf yang lebih afdhol adalah di akhir-akhir ramadhan (10 hari terakhir bulan Ramadhan) sebagaimana hadits ‘Aisyah, ia berkata,
أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh hari yang akhir dari Ramadhan hingga wafatnya kemudian isteri-isteri beliau pun beri’tikaf setelah kepergian beliau.”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dengan tujuan untuk mendapatkan malam lailatul qadar, untuk menghilangkan dari segala kesibukan dunia, sehingga mudah bermunajat dengan Rabbnya, banyak berdo’a dan banyak berdzikir ketika itu.
Read the rest of this entry »
AUDIO Kajian SMS Berjawab Romadlon Ust Kholid Syamhudi
Assalamu’alaikum,ustadz,sholat tarowih yang kuat 2x5+1 atau 4.4.3 atau 2×4+.3 mohon penjelasan terima kasih. Dari Rohmat m, di Jimbung. Assallamualaikum Ustad,di desa saya shalat tarawihnya di baca cepat,tanpa peduli panjang pendek bacaan,sehingga shalat tidak khusyuk, apa boleh shalat tarawih di rumah meskipun tanpa jamaah? Catur.Dari Abu Lutfi di Kalioso, apakah ketika imam sedang doa bersama ketika selesai witir.kemudian saya pergi meninggalkan pulang terlebih dahulu,tidak menunggu selesai dzikir tersebut, betulkah sikap ana ustadz? Apakah termasuk rafats menggoda istri dengan kata-kata jorok/porno?sering bercumbu apa mengurangi pahala puasa? Syukron. Assalamu’alaikum kakak laki-laki saya invalit, apa boleh menerima zakat maal saya? boleh diberikan ke lembaga pendidikan tidak? Ummu Ahmad.
TAFSIR Al Baqarah 185 Tentang Keutamaan Romadlon dan Fiqh Shiyam
Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.(QS. 2:185)
14 CONTOH BID’AH DALAM SHALAT TARAWIH
Disusun Oleh Ustadz Zainal Abidin bin Syamsuddin, Lc.
Dalam rubrik ini, saya akan menguraikan bahasan khusus seputar masalah bid’ah dalam shalat tarawih yang banyak menyebar di tengah masyarakat, dan diyakini sebagai perkara sunnah serta dianggap baik oleh sebagian besar orang awam. Akibatnya sunnah-sunnah shalat tarawih yang dianjurkan, banyak kehilangan bentuk dan kemurniannya. Di antara bid’ah yang lazim terjadi di masyarakat seputar masalah shalat tarawih, ialah sebagai berikut.
Pertama. Shalat tarawih dengan cepat, laksana ayam mematuk makanan. Mayoritas imam masjid kurang memiliki akal sehat dan pengetahuan agama yang baik. Hal itu nampak dari cara melakukan shalat. Bahwa hampir semua shalat yang dilakukan, mirip dengan shalatnya orang yang sedang kesurupan, terutama ketika shalat tarawih. Mereka melakukan shalat 23 raka’at hanya dalam waktu 20 menit, dengan membaca surat Al ‘Ala atau Adh Dhuha. Menurut semua madzhab, dalam melakukan shalat tidak boleh seperti itu, karena ia merupakan shalat orang munafik, sebagaimana firmanNya: Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, maka mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya’ di hadapan manusia dan tidak menyebut Allah, kecuali hanya sedikit sekali. (QS An Nisa’:142). Bentuk dan cara shalat tarawih yang seperti itu, jelas bertentangan dengan cara shalat tarawih Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam , para sahabat dan ulama salaf.
AUDIO Ust Abdul Hakim Hadits Dloif Seputar Ramadhan
HADIST PERTAMA
Dari Ibnu Abbas, ia berkata : Adalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila berbuka (puasa) beliau mengucapkan :
Allahumma Laka Shumna wa ala Rizqika Aftharna, Allahumma Taqabbal Minna Innaka Antas Samiul ‘Alim
(artinya : Ya Allah ! untuk-Mu aku berpuasa dan atas rizkqi dari Mu kami berbuka. Ya Allah ! Terimalah amal-amal kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Maha Mengetahui)”.
[Riwayat : Daruqutni di kitab Sunannya, Ibnu Sunni di kitabnya 'Amal Yaum wa-Lailah No. 473. Thabrani di kitabnya Mu'jamul Kabir]
Sanad hadits ini sangat Lemah/Dloif












