<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Radio SuaraQuran &#187; suara quran</title>
	<atom:link href="http://suaraquran.com/tag/suara-quran/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://suaraquran.com</link>
	<description>Media Kalam Ilahi</description>
	<lastBuildDate>Wed, 01 Feb 2012 14:55:45 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>AUDIO Kajian Pentingnya Aqidah Dalam Pembinaan Umat Ust Aunur Rofiq Ghufron Lc</title>
		<link>http://suaraquran.com/audio-kajian-pentingnya-aqidah-dalam-pembinaan-umat-ust-aunur-rofiq-ghufron-lc/</link>
		<comments>http://suaraquran.com/audio-kajian-pentingnya-aqidah-dalam-pembinaan-umat-ust-aunur-rofiq-ghufron-lc/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Sep 2010 12:48:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suaraquran</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Download]]></category>
		<category><![CDATA[aqidah umat]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[mengenal islam]]></category>
		<category><![CDATA[pentingnya aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[suara quran]]></category>
		<category><![CDATA[suaraquran]]></category>
		<category><![CDATA[ust aunur rofiq]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suaraquran.com/?p=1081</guid>
		<description><![CDATA[Banyak di antara kaum muslimin yang kurang memperhatikan masalah aqidah  pada kehidupannya dan kehidupan saudaranya (muslim) yang lain. Padahal aqidah atau tauhid merupakan hal yang sangat fital dalam kehidupan, sebab merupakan mizan diterima atau ditolaknya suatu amal. Amalan akan di terima oleh Alloh jika terbangun diatas keimanan, murninya keta’atan kepada Alloh dan bersih dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="../wp-content/uploads/2010/09/Aqidah.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1082" title="Aqidah" src="../wp-content/uploads/2010/09/Aqidah-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a><strong>Banyak di antara kaum muslimin yang kurang memperhatikan masalah</strong> aqidah  pada kehidupannya dan kehidupan saudaranya (muslim) yang lain. Padahal aqidah atau tauhid merupakan hal yang sangat fital dalam kehidupan, sebab merupakan mizan diterima atau ditolaknya suatu amal. Amalan akan di terima oleh Alloh jika terbangun diatas keimanan, murninya keta’atan kepada Alloh dan bersih dari kesyirikan. Bahkan mayoritas surat dalam Al Qur`an memprioritaskan pembahasan pentingnya aqidah tauhid dan bahaya syirik bagi pribadi dan masyarakat. Juga menjelaskan bahwa syirik adalah faktor utama penyebab kebinasaan hamba, di dunia maupun di akherat. Lantaran pentingnya perkara aqidah ini, maka semua rosul memulai dakwahnya &#8220;Maka hendaknya; perkara yang pertama kali kau serukan kepada mereka adalah syahadat Lailaha illalloh (tidak ada sesembahan yang benar kecuali Alloh), dan dalam riwayat lain: Maka hendaknya perkara yang pertama kali kau serukan kepada mereka adalah ; agar mereka mengesakan Alloh<em> ( HR. Bukhori dan Muslim)</em></p>
<p><span id="more-1081"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Silahkan simak kajian berikut bersama Ust Aunur Rofiq Ghufron dilaksanakan di Solo 10 Syawal 1431/19 September 2010</p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p><a href="http://suaraquran.com/wp-content/uploads/2010/09/Aqidah.jpg"></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://suaraquran.com/download/Pentingnya Aqidah Ust Aunur Rofiq Materi.mp3" target="_blank"><strong>Sesi Materi</strong></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://suaraquran.com/download/Pentingnya Aqidah Ust Aunur Rofiq Soal Jawab.mp3" target="_blank"><strong>Sesi Tanya Jawab</strong></a><em><br />
</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suaraquran.com/audio-kajian-pentingnya-aqidah-dalam-pembinaan-umat-ust-aunur-rofiq-ghufron-lc/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mendulang Sunnah Nabi pada Hari Raya ‘Iedul Fitri</title>
		<link>http://suaraquran.com/mendulang-sunnah-nabi-pada-hari-raya-%e2%80%98iedul-fitri/</link>
		<comments>http://suaraquran.com/mendulang-sunnah-nabi-pada-hari-raya-%e2%80%98iedul-fitri/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Sep 2010 13:59:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suaraquran</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[doa hari raya]]></category>
		<category><![CDATA[hukum sholai id]]></category>
		<category><![CDATA[sholat ied]]></category>
		<category><![CDATA[suara quran]]></category>
		<category><![CDATA[suaraquran]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah sholat id]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suaraquran.com/?p=1039</guid>
		<description><![CDATA[‘Iedul Fitri merupakan salah satu hari besar umat Islam. Setelah berpuasa sebulan penuh, siang hari menahan diri dari makan, minum dan syahwat, malam hari menunaikan shalat tarawih berjama’ah, maka tibalah hari yang dinanti, Hari Raya ‘Iedul Fitri. Dari sisi bahasa, ‘Ied, artinya sesuatu yang kembali. Yaitu satu hari yang akan selalu berulang kembali setiap tahun.
Kaum [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://suaraquran.com/wp-content/uploads/2010/09/doa-Id.jpeg"><a href="http://suaraquran.com/wp-content/uploads/2010/09/doa-Id1.jpeg"><img class="alignleft size-full wp-image-1043" title="doa Id" src="http://suaraquran.com/wp-content/uploads/2010/09/doa-Id1.jpeg" alt="" width="259" height="147" /></a></a><strong>‘Iedul Fitri merupakan salah satu hari besar umat </strong>Islam. Setelah berpuasa sebulan penuh, siang hari menahan diri dari makan, minum dan syahwat, malam hari menunaikan shalat tarawih berjama’ah, maka tibalah hari yang dinanti, Hari Raya ‘Iedul Fitri. Dari sisi bahasa, ‘Ied, artinya sesuatu yang kembali. Yaitu satu hari yang akan selalu berulang kembali setiap tahun.</p>
<p style="text-align: justify;">Kaum muslimin menyambut hari ini dengan suka cita. Setelah sebulan penuh jiwa dan fisiknya dilatih melalui ibadah puasa, maka sekarang tibalah masa pembuktian. Apakah latihan selama sebulan penuh itu berbuah ataukah tidak? Latihan jiwa yang ditempuh dalam bulan suci ini, diharapkan membekas pada diri; sehingga ketika keluar dari bulan Ramadhan, kita berhak mendapat gelar muttaqin yang seperti diharapkan. Allah berfirman,</p>
<p style="text-align: justify;">Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu bershiyam sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa. (QS AlBaqarah:183).<br />
<span id="more-1039"></span><br />
Melalui tulisan ini, kami mengajak segenap kaum muslimin agar melewati hari besar yang bahagia ini, yaitu dengan mengamalkan Sunnah Nabi yang berkaitan dengannya. Jangan sampai hari bergembira ria ini menyeret kita ke lembah dosa, seperti: mabuk-mabukan, bercampur-baur antara lelaki dan pria, berjabat tangan antara pria dengan wanita yang bukan mahram, berlebihan-lebihan dalam hal makanan dan minuman, mubadzir dan menghambur-hamburkan harta, dan lain sebagainya. Sehingga hilanglah hikmah ‘Iedul Fitri yang agung ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Perlu diingat, selepas bulan Ramadhan, bukan berarti tiba masa balas dendam untuk melampiaskan syahwat, seperti yang dibayangkan oleh sebagian kaum muslimin. Bahkan, dengan tibanya hari ‘Ied ini, seharusnya lebih menguatkan semangat kita dalam melakukan ketaatan kepada Allah l .</p>
<p style="text-align: justify;">Berikut ini, kami sampaikan beberapa Sunnah Nabi berkaitan dengan hari yang agung ini.</p>
<p style="text-align: justify;">- Shalat ‘Ied Hukumnya Wajib</p>
<p style="text-align: justify;">Masih banyak kaum muslimin yang tidak mengetahui hukum ini. Rasulullah n telah memerintahkan wanita haidh dan gadis dalam pingitan untuk keluar menghadirinya. Padahal, untuk shalat-shalat wajib lainnya -seperti shalat Jum’at- beliau mengatakan,Shalat di rumah lebih baik bagi mereka. Bahkan diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib, bahwa beliau mewakilkan kepada seseorang untuk mengimami shalat ‘Ied di masjid bagi yang tidak sanggup datang ke lapangan. Para ulama, dari dahulu sampai sekarang -seperti: Imam Ahmad, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Ash Shan’ani, Asy Syaukani, Syaikh Al Albani dan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin- mengatakan hukumnya wajib ‘ain. [1] Shalat ‘Ied di lapangan merupakan syi’ar kaum muslimin. Oleh  karena itu, tidak selayaknya kita meremehkan kewajiban ini.</p>
<p style="text-align: justify;">- Mandi Dan Berhias Diri Sebelum Berangkat Shalat ‘Ied</p>
<p style="text-align: justify;">Salah satu Sunnah Nabi pada hari ‘Ied, yaitu mandi sebelum berangkat menunaikan shalat ‘Ied. Hendaklah memperbaiki penampilan dan mengenakan pakaian yang bagus saat menghadiri shalat ‘Ied. Begitulah yang dilakukan oleh para salaf, seperti Abdullah bin Umar, beliau mandi sebelum berangkat ke lapangan. [2] Begitu pula para tabi’in. Salah seorang tokoh tabi’in, yakni Sa’id bin Al Musayyib berkata, Sunnah ‘Iedul Fitri ada tiga: berjalan menuju lapangan (tempat shalat), makan sebelum berangkat dan mandi.” [3]</p>
<p style="text-align: justify;">Ali bin Abi Thalib pernah ditanya tentang mandi; apakah harus mandi setiap hari? Beliau menjawab,Tidak harus. Namun, yang harus mandi ialah pada hari Jum’at, hari ‘Arafah, hari ‘Iedul Adha dan ‘Iedul Fitri.” [4]</p>
<p style="text-align: justify;">Ibnu Abdil Barr berkata, Para fuqaha sepakat, bahwa mandi sebelum berangkat shalat ‘Iedul Fitri dan ‘Iedul Adha adalah baik bagi yang melakukannya. [5]</p>
<p style="text-align: justify;">Hukumnya sunnat, seperti dijelaskan oleh Imam An Nawawi berikut ini,Imam Asy Syafi’i dan rekan-rekannya mengatakan,’Untuk melaksanakan shalat ‘Iedul Fitri dan ‘Iedul Adha dianjurkan mandi. Tidak ada perbedaan pendapat dalam masalah ini’. [6]</p>
<p style="text-align: justify;">Diriwayatkan dalam kitab Shahihain, dari Abdullah bin Umar,</p>
<p style="text-align: justify;">Umar membeli jubah yang terbuat dari sutera yang dijual di pasar. Ia membawanya kepada Rasulullah dan berkata,Wahai Rasulullah, ambillah jubah ini untuk berhias diri pada hari ‘Ied, dan saat menyambut utusan-utusan.” Rasulullah berkata,”Sesungguhnya, ini adalah pakaian orang-orang yang tidak mendapat bagian di akhirat.” [7]</p>
<p style="text-align: justify;">Ibnu Qudamah mengatakan, Hadits ini menunjukkan, bahwa berhias diri pada kesempatan-kesempatan tersebut, yakni pada hari Jum’at, hari ‘Ied dan saat menyambut utusan-utusan, adalah pekara yang sudah mashur di kalangan mereka.” [8]</p>
<p style="text-align: justify;">Dari hadits di atas, juga dapat dipetik faidah, bahwa menghadiri shalat ‘Ied dianjurkan untuk mengenakan pakaian yang bagus.</p>
<p style="text-align: justify;">Marilah kita meliput yang dilakukan oleh Ibnu Umar pagi hari ‘Ied.</p>
<p style="text-align: justify;">Ibnu Ishaq berkata, aku bertanya kepada Nafi’,Bagaimanakah yang dilakukan oleh Ibnu Umar pada hari ‘Ied? Ia menjawab,Beliau menghadiri shalat Subuh berjama’ah bersama imam. Kemudian, pulang ke rumah. Lalu beliau mandi, sebagaimana mandi junub, lalu mengenakan pakaian yang paling bagus yang dimilikinya, lalu memakai parfum yang beliau miliki. Kemudian keluar menuju lapangan tempat pelaksanaan shalat ‘Ied. Beliau duduk menunggu imam. Apabila imam telah dating, beliau shalat bersamanya. Kemudian beliau kembali dan mendatangi masjid Nabawi, lalu shalat dua raka’at. Setelah itu, beliau pulang ke rumah. [9]</p>
<p style="text-align: justify;">Maka dari itu wahai saudaraku, jangan lupakan Sunnah Nabi ini. Mandi dan berhias dirilah sebelum mendatangi shalat ‘Ied.</p>
<p style="text-align: justify;">- Makan Sebelum Berangkat Shalat.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebelum berangkat ke lapangan untuk shalat pada hari ‘Ied, dianjurkan agar makan terlebih dulu. Dan sebaiknya memakan kurma, seperti diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari dari hadits Anas bin Malik, ia berkata,</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah n tidak berangkat shalat pada hari ‘Ied, hingga beliau makan beberapa buah kurma. [10]</p>
<p style="text-align: justify;">Disunnahkan memakannya dalam jumlah ganjil, seperti disebutkan dalam riwayat lain dari Anas bin Malik, bahwasanya Rasulullah tidak berangkat shalat pada hari ‘Iedul Fitri, hingga beliau makan kurma sebanyak tiga atau lima atau tujuh buah. [11]</p>
<p style="text-align: justify;">Jika tidak ada kurma, dibolehkan makanan yang lainnya, namun diutamakan yang manis-manis, seperti: madu dan sejenisnya. Atau kalau tidak ada makanan sama sekali, maka minum air juga sudah mencukupinya. Demikian dikatakan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari. [12]</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam sebuah atsar yang shahih, dari Abdullah bin Abbas disebutkan, bahwa beliau berkata, Jika kalian sanggup tidak berangkat shalat ‘Iedul Fitri sebelum memakan makanan, maka lakukanlah. [13]</p>
<p style="text-align: justify;">Jangan lewatkan sunnah yang satu ini, wahai saudaraku. Persiapkanlah makanan untuk pagi hari ‘Ied.</p>
<p style="text-align: justify;">- Ajaklah Keluarga Dan Kaum Wanita Untuk Menghadirinya</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah telah memerintahkan para wanita untuk keluar menghadiri shalat ‘Ied. Ummu Athiyyah berkata,</p>
<p style="text-align: justify;">Kami diperintahkan yakni oleh Nabi – agar membawa serta para gadis yang sudah baligh dan gadis-gadis yang berada dalam pingitan pada hari ‘Ied. Sehingga mereka bisa menyaksikan jama’ah kaum muslimin dan do’a mereka. Dan wanita yang sedang haidh menjauhi tempat shalat.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam riwayat lain disebutkan,</p>
<p style="text-align: justify;">Kami diperintahkan agar ikut serta pada hari ‘Ied. Demikian pula para gadis yang berada dalam pingitan. Beliau juga memerintahkan wanita haidh untuk keluar, namun hendaknya mereka mengambil tempat di belakang tempat shalat dan ikut bertakbir bersama kaum muslimin.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam riwayat lain disebutkan, ada seorang perempuan berkata,</p>
<p style="text-align: justify;">Wahai Rasulullah, salah seorang dari kami tidak memiliki jilbab?Rasulullah berkata,Hendaklah saudaranya yang lain meminjamkan jilbab untuknya. [14]</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam riwayat Ibnu Abbas disebutkan, bahwa Rasulullah mendatangi tempat shalat, kemudian mengerjakan shalat, lalu menyampaikan khutbah. Kemudian, disertai Bilal, beliau mendatangi kaum wanita untuk memberi nasihat dan peringatan kepada mereka dan memerintahkan mereka untuk bersedekah. [15]</p>
<p style="text-align: justify;">Demikian pula para sahabat. Mereka membawa serta keluarga ke lapangan shalat ‘Ied. Diriwayatkan dari Ibnu Umar, bahwa beliau membawa serta keluarganya yang bisa dibawa ke lapangan shalat ‘Ied. [16]</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam sebuah riwayat, Rasulullah menyebutkan alasannya, Agar mereka dapat menyaksikan kebaikan dan dakwah kaum muslimin.</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh karena itu, bawalah serta keluargamu ke lapangan tempat dilaksanakannya shalat ‘Ied. Hidupkan dan semarakkanlah syi’ar kaum muslimin ini.</p>
<p style="text-align: justify;">- Berjalan Kaki Menuju Lapangan Tempat Shalat</p>
<p style="text-align: justify;">Dianjurkan keluar menuju lapangan shalat ‘Ied dengan berjalan kaki, bila memungkinkan dan tidak memberatkan. Jika memberatkan, maka boleh dengan mengendarai kendaraan. Dalam Mursal Az Zuhri disebutkan, bahwa Rasulullah tidak mengendarai kendaraan saat menuju tempat shalat ‘Ied dan saat mengantar jenazah. [17]</p>
<p style="text-align: justify;">Telah disebutkan atsar dari Sa’id bin Al Musayyib, Sunnah ‘Iedul Fitri ada tiga. (Yaitu:) berjalan menuju lapangan (tempat shalat), makan sebelum berangkat dan mandi.”</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Bakar Hafsh bin Umar bin Sa’ad berkata, Kami keluar bersama Abdullah bin Umar pada hari ‘Iedul Adha atau ‘Iedul Fitri. Dia keluar berjalan kaki hingga sampai ke tanah lapang tempat pelaksanaan shalat ‘Ied. Dia duduk menunggu imam dating, kemudian shalat bersama imam, kemudian beliau pulang.” [18]</p>
<p style="text-align: justify;">Diriwayatkan pula dari Ali bin Abi Thalib, bahwa beliau berkata,</p>
<p style="text-align: justify;">Termasuk sunnah1, yaitu engkau berjalan kaki menuju tempat shalat ‘Ied dan memakan sesuatu sebelum berangkat. [19]</p>
<p style="text-align: justify;">Berjalan kaki menuju lapangan tempat pelaksaan shalat ‘Ied dapat menghidupkan syi’ar hari yang agung ini. Namun patut disesalkan, Sunnah Nabi ini seakan telah dilupakan oleh kaum muslimin. Maka dari itu, marilah kita hidupkan kembali Sunnah Nabi ini.</p>
<p style="text-align: justify;">- Mengumandangkan Takbir</p>
<p style="text-align: justify;">Satu lagi Sunnah Nabi yang ditinggalkan kaum muslimin, yaitu bertakbir dengan mengangkat suara; mulai dari keluar rumah hingga imam tiba di tempat shalat. Al Faryabi meriwayatkan dari Abdullah bin Umar, bahwa beliau mengeraskan suara takbir pada hari raya ‘Iedul Fitri saat berangkat ke tempat shalat, hingga imam keluar dan beliau mengikuti takbirnya. [20]</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Syu’bah bertanya kepada Al Hakam dan Hammad,Apakah aku bertakbir saat keluar menuju tempat shalat? Mereka berdua menjawab,Ya. [21]</p>
<p style="text-align: justify;">Kaum wanita juga dianjurkan bertakbir jika aman dari fitnah, tetapi dengan tidak mengeraskannya seperti halnya kaum pria. Dasarnya adalah hadits Ummu Athiyyah sebagaimana telah disebutkan di atas. [22]</p>
<p style="text-align: justify;">Adapun lafazh takbir; telah diriwayatkan dari sebagian sahabat, diantaranya ialah takbir Abdullah bin Abbas: Allahu Akbar kabira, Allahu Akbar kabira, Allahu Akbar wa aJalla, Allahu Akbar walillahil hamd. [23] Atau takbir Salman Al Farisi : Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar kabira. [24]</p>
<p style="text-align: justify;">Diriwayatkan dari Ibrahim An Nakhai, ia berkata,Mereka bertakbir pada hari ‘Arafah. Diantara  mereka ada yang menghadap kiblat setelah selesai shalat sambil mengucapkan:</p>
<p style="text-align: justify;">الله أَكْبَرُ الله أَكْبَرُ لاَ اِلَهَ إِلاَّ للهُ لاَ اِلَهَ إِلاَّ للهُ وَ الله أَكْبَرُ الله أَكْبَرُ وَ لِلَّهِ الحَمْدُ</p>
<p style="text-align: justify;">Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaha illallahu, Wallahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd. [25]</p>
<p style="text-align: justify;">Artinya, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Allah. Allah Maha Besar, Maha Besar Allah, segala pujian hanyalah milikNya.</p>
<p style="text-align: justify;">- Berangkat Dengan Melewati Satu Jalan Dan Kembali Lewat Jalan Yang Lain</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika kembali dari shalat, disunnahkan mengambil jalan lain, selain jalan yang dilalui ketika berangkat. Berdasarkan sebuah hadits yang diriwayatkan dari Jabir, ia berkata,</p>
<p style="text-align: justify;">Bahwasanya Rasulullah n pada hari ‘Ied mengambil jalan lain, selain jalan yang dilalui sewaktu berangkat. [26]</p>
<p style="text-align: justify;">Para ulama banyak menyebutkan hikmahnya. Diantaranya sebagaimana disebutkan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari II/473. Ada yang mengatakan, hikmahnya ialah untuk menampakkan syi’ar Islam pada hari itu. Ada yang mengatakan, hikmahnya untuk menampakkan syi’ar dzikrullah pada hari itu. Ada yang mengatakan, hikmahnya agar jin dan manusia yang ada di dua jalan tersebut dapat menyaksikannya. Ada yang mengatakan, hikmahnya ialah untuk membangkitkan kedongkolan dalam hati kaum munafikin dan Yahudi, dan masih banyak lagi hikmah-hikmah lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah menyebutkan hikmah-hikmah di atas, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin mengatakan,Hikmahnya ialah mutaba’atus Sunnah (mengikuti sunnah) Rasulullah.</p>
<p style="text-align: justify;">Syaikhul Islam menyebutkan dalam kitab Majmu’ Fatawa, Bahwasanya dalam melaksanakan manasik dan pada hari ‘Ied, Rasulullah berangkat dari satu jalan dan pulang melalui jalan yang lainnya. [27]</p>
<p style="text-align: justify;">- Memberi Ucapan Selamat</p>
<p style="text-align: justify;">Boleh mengucapkan selamat hari ‘Ied kepada kaum muslimin pada hari yang berbahagia ini. Sebagaimana diriwayatkan dari sebagian sahabat dan tabi’in , seperti Abu Umamah Al Bahili dan lainnya. Mereka mengucapkan:</p>
<p style="text-align: justify;">تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَ مِنْكُمْ</p>
<p style="text-align: justify;">Taqabballahu minna wa minkum.</p>
<p style="text-align: justify;">(Artinya, semoga Allah menerima amalan kita semua).</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Malik pernah ditanya, Makruhkah hukumnya seseorang mengucapkan kepada saudaranya saat kembali dari shalat ‘Ied “Taqabballahu minna wa minkum” atau “Ghafara lana wa laka” (semoga Allah mengampuni kita semua), lalu saudaranya membalasnya seperti yang diucapkannya?” Beliau menjawab, “Tidak makruh.” Yakni boleh. [28]</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Ahmad pernah ditanya: Aku harap tidaklah mengapa mengucapkan selamat. [29]</p>
<p style="text-align: justify;">Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menganggapnya boleh bagi yang melakukannya dan bagi yang tidak melakukannya. Terdapat contoh dan panutan bagi kedua belah pihak (yaitu yang melakukan dan yang tidak melakukannya).</p>
<p style="text-align: justify;">- Sambutlah Hari ‘Ied Dengan Ketaatan Dan Kesederhanaan</p>
<p style="text-align: justify;">Sambutlah hari yang agung ini dengan ketaatan dan kesederhanaan, tidak mubadzir dan melampaui batas; baik dalam hal makanan, pakaian atau yang lainnya. Allah berfirman,</p>
<p style="text-align: justify;">Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syetan, dan syetan itu adalah sangat ingkar kepada Rabbnya. (QS Al Isra’:26-27).</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam ayat lain, Allah berfirman,</p>
<p style="text-align: justify;">Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (QS Al An’am:31).</p>
<p style="text-align: justify;">Dan masih banyak lagi ayat yang semakna dengan itu. Hindarilah perbuatan dosa dan maksiat pada hari yang suci dan agung ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Semoga kita termasuk hamba yang bertaqwa dan memperoleh ampunan setelah sebulan penuh melaksanakan ibadah puasa. Jangan lupa pula mengerjakan puasa Syawal enam hari, untuk memperoleh kesempurnaan dari amal puasa yang kita lakukan pada bulan Ramadhan. Rasulullah bersabda,</p>
<p style="text-align: justify;">Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan, lalu diikuti dengan puasa enam hari pada bulan Syawal, maka seolah ia telah berpuasa setahun penuh. [30]</p>
<p style="text-align: justify;">Demikianlah beberapa Sunnah Nabi yang dapat kami ketengahkan pada kesempatan ini. Semoga kita dapat mengamalkannya.</p>
<p>[Majalah As Sunnah 08/VII-1424H-2003M]</p>
<p>[1] Silakan lihat Majmu’ Fatawa 24/179-183 dan Subulus Salam II/141.</p>
<p>[2] Diriwayatkan oleh Imam Malik dalam kitab Al Muwaththa’, halaman 143 no. 428.</p>
<p>[3] Diriwayatkan oleh Al Faryabi dalam kitab Ahkamul ‘Iedain no. 18.</p>
<p>[4] Diriwayatkan oleh Imam Asy Syafi’i dalam Musnad-nya I/118-119.</p>
<p>[5] Al Istidzkar VII/11.</p>
<p>[6] Al Majmu’ I/7.</p>
<p>[7] Hadits riwayat Al Bukhari 948 dan Muslim 2068.</p>
<p>[8] Al Mughni II/228.</p>
<p>[9] Diriwayatkan oleh Al Harits dalam Musnad-nya, sebagaimana disebutkan dalam Bughyatul Bahits I/323, no. 207.</p>
<p>[10] Hadits riwayat Al Bukhaari 953.</p>
<p>[11] Hadits riwayat Ibnu Hibban 2814 dan Al Hakim I/294.</p>
<p>[12] Lihat Fathul Bari II/448.</p>
<p>[13] Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dalam Mushannaf 5734 dan Ibnul Mundzir dalam Al Ausath IV/254.</p>
<p>[14] Hadits-hadits di atas diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari 324 dan Muslim 890.</p>
<p>[15] Hadits riwayat Al Bukhari 977.</p>
<p>[16] Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf 5786 dan Ibnul Mundzir dalam Al Ausath IV/262-263 dengan sanad shahih.</p>
<p>[17] Diriwayatkan oleh Al Faryabi dalam Ahkamul ‘Iedain no. 27 dengan sanad hasan sampai kepada Az Zuhri.</p>
<p>[18] Hadits riwayat At Tirmidzi II/418.</p>
<p>[19] Hadits riwayat At Tirmidzi II/410 dan Ibnu Majah 1296.</p>
<p>[20] Ahkamul ‘Iedain no. 53.</p>
<p>[21] Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 5626 dengan sanad shahih.</p>
<p>[22] Silakan lihat Fathul Bari IX/33.</p>
<p>[23] Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 5645 dengan sanad shahih.</p>
<p>[24] Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Al Kubra III/316 dengan sanad shahih.</p>
<p>[25] Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf 5649 dengan sanad shahih.</p>
<p>[26] Hadits riwayat Al Bukhari 986.</p>
<p>[27] Majmu’ Fatawa 26/134.</p>
<p>[28] Al Muntaqa I/322.</p>
<p>[29] Su’alat Abu Dawud halaman 61.</p>
<p>[30] Hadits riwayat Muslim 1984.</p>
<p>Salafyoon.net</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suaraquran.com/mendulang-sunnah-nabi-pada-hari-raya-%e2%80%98iedul-fitri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>AUDIO Agar Puasa Dapat Mensucikan Jiwa Ust Abdulloh Taslim MA</title>
		<link>http://suaraquran.com/audio-agar-puasa-dapat-mensucikan-jiwa-ust-abdulloh-taslim-ma/</link>
		<comments>http://suaraquran.com/audio-agar-puasa-dapat-mensucikan-jiwa-ust-abdulloh-taslim-ma/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Sep 2010 06:56:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suaraquran</dc:creator>
				<category><![CDATA[Download]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[faidah shiyam]]></category>
		<category><![CDATA[puasa ampunan]]></category>
		<category><![CDATA[suara quran]]></category>
		<category><![CDATA[suaraquran]]></category>
		<category><![CDATA[tazkiyyah nafs]]></category>
		<category><![CDATA[tujuan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[ust abdullah taslim]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suaraquran.com/?p=1033</guid>
		<description><![CDATA[

Manfaatkan bulan Ramadhan dengan sesuatu yang terbaik yang pernah diturunkan didalamnya, yakni membaca Al-Qur&#8217;anul Karim. Sesungguhnya Jibril &#8216;alaihis salam pada setiap malam di bulan Ramadhan selalu menemui Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam untuk membacakan Al-Qur&#8217;an baginya. (HR. AL-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas radhiallahu &#8216;anhu).Dan pada diri Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam ada teladan yang baik bagi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://suaraquran.com/wp-content/uploads/2010/09/Shiyam.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-1034" title="Shiyam" src="http://suaraquran.com/wp-content/uploads/2010/09/Shiyam-300x256.jpg" alt="" width="300" height="256" /></a></p>
<ul>
<li style="text-align: justify;"><strong>Manfaatkan bulan Ramadhan dengan sesuatu yang terbaik yang</strong> pernah diturunkan didalamnya, yakni membaca Al-Qur&#8217;anul Karim. Sesungguhnya Jibril &#8216;alaihis salam pada setiap malam di bulan Ramadhan selalu menemui Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam untuk membacakan Al-Qur&#8217;an baginya. (HR. AL-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas radhiallahu &#8216;anhu).Dan pada diri Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam ada teladan yang baik bagi kita.</li>
</ul>
<ul>
<li>Jagalah lisanmu dari berdusta, menggunjing, mengadu domba, mengolok-olok serta perkataan mengada-ada. Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda:</li>
</ul>
<p>&#8220;Barangsiapa tidak meninggalkan pevkataan dan perbuatan dusta maka Allah tidak butuh terhadap puasanya dari makan dan minum.&#8221; (HR. Al-Bukhari)<br />
<span id="more-1033"></span><br />
Hendaknya puasa tidak membuatmu keluar dari kebiasaan. Misalnya cepat marah dan emosi hanya karena sebab sepele, dengan dalih bahwa engkau sedang puasa. Sebaliknya, mestinya puasa membuat jiwamu tenang, tidak emosional. Dan jika Anda diuji dengan seorang yang jahil atau pengumpat, jangan Anda hadapi dia dengan perbuatan serupa. Nasihati dan tolaklah dengan cara yang lebih baik. Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda:</p>
<p>&#8220;Puasa adalah perisai, bila suatu hari seseorang dari kama beupuasa, hendaknya ia tidak berkata buruk dan berteriak-teriak. Bila seseorang menghina atau mencacinya, hendaknya ia berkata &#8216;Sesungguhnya aku sedang puasa&#8221; (HR. Al- Bukhari, Muslim dan para penulis kitab Sunan)</p>
<p>Ucapan itu dimaksudkanagar ia menahan diri dan tidak melayani orang yang mengumpatnya Di samping, juga mengingatkan agar ia menolak melakukan penghinaan dan caci-maki.</p>
<ul>
<li>Hendaknya Anda selesai dari puasa dengan membawa taqwa kepada Allah, takut dan bersyukur pada-Nya, serta senantiasa istiqamah dalam agama-Nya.</li>
</ul>
<p>Hasil yang baik itu hendaknya mengiringi Anda sepanjang tahun. Dan buah paling utama dari puasa adalah taqwa, sebab Allah berfirman : &#8220;Agar kamu bertaqwa. &#8221;(Al-Baqarah: 183)</p>
<p>Jagalah dirimu dari berbagai syahwat (keinginan), bahkan meskipun halal bagimu. Hal itu agar tujuan puasa tercapai, dan mematahkan nafsu dari keinginan. Jabir bin Abdillah radhiallahu &#8216;anhu berkata :</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Jika kamu berpuasa, hendaknya berpuasa pula pendengaranmu, penglihatanmu dan lisanmu dari dusta dan dosa-dosa, tinggalkan menyakiti tetangga, dan hendaknya kamu senantiasa bersikap tenang pada hari kama beupuasa jangan pula kamu jadikan hari berbukamu sama dengan hari kamu berpuasa.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><a href="http://suaraquran.com/download/ust-abdulloh-taslim_puasa-penyuci-jiwa .mp3" target="_blank">Ust Abdulloh Taslim Agar Shiyam Bisa Menyucikan Jiwa</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suaraquran.com/audio-agar-puasa-dapat-mensucikan-jiwa-ust-abdulloh-taslim-ma/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Audio Kajian Adab dan Hukum I&#8221;tikaf Ust Abu Sulaiman</title>
		<link>http://suaraquran.com/audio-kajian-adab-dan-hukum-itikaf-ust-abu-sulaiman/</link>
		<comments>http://suaraquran.com/audio-kajian-adab-dan-hukum-itikaf-ust-abu-sulaiman/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Sep 2010 09:44:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suaraquran</dc:creator>
				<category><![CDATA[Download]]></category>
		<category><![CDATA[10 terakhir ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[hukum i'tikaf]]></category>
		<category><![CDATA[lailatul qodar]]></category>
		<category><![CDATA[suara quran]]></category>
		<category><![CDATA[suaraquran]]></category>
		<category><![CDATA[ust aris sugiyantoro]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suaraquran.com/?p=1015</guid>
		<description><![CDATA[


I’tikaf secara bahasa berarti menetap pada sesuatu. Sedangkan secara syar’i, i’tikaf berarti menetap di masjid dengan tata cara yang khusus disertai dengan niat.
Dalil Disyari’atkannya I’tikaf
Ibnul Mundzir mengatakan, “Para ulama sepakat bahwa i’tikaf itu sunnah, bukan wajib kecuali jika seseorang mewajibkan bagi dirinya bernadzar untuk melaksanakan i’tikaf.”
Dari Abu Hurairah, ia berkata,
كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://suaraquran.com/wp-content/uploads/2010/09/PAGI-ITIKAF.jpg"></a><a href="http://suaraquran.com/wp-content/uploads/2010/09/itikaf.jpeg"></a><a href="http://suaraquran.com/wp-content/uploads/2010/09/itikaf-1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1018" title="i'tikaf 1" src="http://suaraquran.com/wp-content/uploads/2010/09/itikaf-1.jpg" alt="" width="400" height="240" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><strong><br />
</strong></p>
<p>I’tikaf secara bahasa berarti menetap pada sesuatu. Sedangkan secara syar’i, i’tikaf berarti menetap di masjid dengan tata cara yang khusus disertai dengan niat.</p>
<p><strong>Dalil Disyari’atkannya I’tikaf</strong></p>
<p>Ibnul Mundzir mengatakan, “Para ulama sepakat bahwa i’tikaf itu sunnah, bukan wajib kecuali jika seseorang mewajibkan bagi dirinya bernadzar untuk melaksanakan i’tikaf.”</p>
<p>Dari Abu Hurairah, ia berkata,</p>
<h3>كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَعْتَكِفُ فِى كُلِّ رَمَضَانَ عَشْرَةَ أَيَّامٍ ، فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الَّذِى قُبِضَ فِيهِ اعْتَكَفَ عِشْرِينَ يَوْمًا</h3>
<p>“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa beri’tikaf pada bulan Ramadhan selama sepuluh hari. Namun pada tahun wafatnya, Beliau beri’tikaf selama dua puluh hari”.</p>
<p>Waktu i’tikaf yang lebih afdhol adalah di akhir-akhir ramadhan (10 hari terakhir bulan Ramadhan) sebagaimana hadits ‘Aisyah, ia berkata,</p>
<h3>أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ</h3>
<p>“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh hari yang akhir dari Ramadhan hingga wafatnya kemudian isteri-isteri beliau pun beri’tikaf setelah kepergian beliau.”</p>
<p>Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dengan tujuan untuk mendapatkan malam lailatul qadar, untuk menghilangkan dari segala kesibukan dunia, sehingga mudah bermunajat dengan Rabbnya, banyak berdo’a dan banyak berdzikir ketika itu.<br />
<span id="more-1015"></span><br />
<strong>I’tikaf Harus Dilakukan di Masjid</strong></p>
<p>Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala,</p>
<p>وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ</p>
<p>“(Tetapi) janganlah kamu campuri mereka sedang kamu beri’tikaf dalam masjid”(QS. Al Baqarah: 187). Demikian juga dikarenakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu juga istri-istri beliau melakukannya di masjid, dan tidak pernah di rumah sama sekali. Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Para ulama sepakat bahwa disyaratkan melakukan i’tikaf di masjid. Termasuk wanita, ia boleh melakukan i’tikaf sebagaimana laki-laki, tidak sah jika dilakukan selain di masjid.</p>
<p><strong>I’tikaf Boleh Dilakukan di Masjid Mana Saja</strong></p>
<p>Menurut mayoritas ulama, i’tikaf disyari’atkan di semua masjid karena keumuman firman Allah di atas (yang artinya) “Sedang kamu beri’tikaf dalam masjid”.</p>
<p>Imam Bukhari membawakan Bab dalam kitab Shahihnya, “I’tikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramdhan dan i’tikaf di seluruh masjid.” Ibnu Hajar menyatakan, “Ayat tersebut (surat Al Baqarah ayat 187) menyebutkan disyaratkannya masjid, tanpa dikhususkan masjid tertentu”.</p>
<p>Para ulama selanjutnya berselisih pendapat masjid apakah yang dimaksudkan. Apakah masjid biasa di mana dijalankan shalat jama’ah lima waktu ataukah masjid jaami’ yang diadakan juga shalat jum’at di sana?</p>
<p>Imam Malik mengatakan bahwa i’tikaf boleh dilakukan di masjid mana saja (asal ditegakkan shalat lima waktu di sana, pen) karena keumuman firman Allah Ta’ala,</p>
<h3>وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ</h3>
<p>“sedang kamu beri’tikaf dalam masjid”(QS. Al Baqarah: 187). Ini juga menjadi pendapat Imam Asy Syafi’i. Namun Imam Asy Syafi’i rahimahullah menambahkan syarat, yaitu masjid tersebut diadakan juga shalat Jum’at.Tujuannya di sini adalah agar ketika pelaksanaan shalat Jum’at, orang yang beri’tikaf tidak perlu keluar dari masjid.</p>
<p>Kenapa disyaratkan di masjid yang ditegakkan shalat jama’ah? Ibnu Qudamah katakan, “Shalat jama’ah itu wajib (bagi laki-laki). Jika seorang laki-laki yang hendak melaksanakan i’tikaf tidak berdiam di masjid yang tidak ditegakkan shalat jama’ah, maka bisa terjadi dua dampak negatif: (1) meninggalkan shalat jama’ah yang hukumnya wajib, dan (2) terus menerus keluar dari tempat i’tikaf padahal seperti ini bisa saja dihindari. Jika semacam ini yang terjadi, maka ini sama saja tidak i’tikaf. Padahal maksud i’tikaf adalah untuk menetap dalam rangka melaksanakan ibadah pada Allah.”</p>
<p><strong>Wanita Boleh Beri’tikaf</strong></p>
<p>Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan istri beliau untuk beri’tikaf.  ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,</p>
<p>كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَعْتَكِفُ فِى كُلِّ رَمَضَانَ ، وَإِذَا صَلَّى الْغَدَاةَ دَخَلَ مَكَانَهُ الَّذِى اعْتَكَفَ فِيهِ – قَالَ – فَاسْتَأْذَنَتْهُ عَائِشَةُ</p>
<p>“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa beri’tikaf pada bulan Ramadhan. Apabila selesai dari shalat shubuh, beliau masuk ke tempat khusus i’tikaf beliau. Dia (Yahya bin Sa’id) berkata: Kemudian ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha meminta izin untuk bisa beri’tikaf bersama beliau, maka beliau mengizinkannya.”</p>
<p>Dari ‘Aisyah, ia berkata,</p>
<p>أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ</p>
<p>“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh hari yang akhir dari Ramadhan hingga wafatnya kemudian isteri-isteri beliau pun beri’tikaf setelah kepergian beliau.”</p>
<p>Namun wanita boleh beri’tikaf di masjid asalkan memenuhi 2 syarat: (1) Meminta izin suami dan (2) Tidak menimbulkan fitnah (godaan bagi laki-laki) sehingga wanita yang i’tikaf harus benar-benar menutup aurat dengan sempurna dan juga tidak memakai wewangian.</p>
<p><strong>Lama Waktu Berdiam di Masjid</strong></p>
<p>Para ulama sepakat bahwa i’tikaf tidak ada batasan waktu maksimalnya. Namun mereka berselisih pendapat berapa waktu minimal untuk dikatakan sudah beri’tikaf.</p>
<p>Bagi ulama yang mensyaratkan i’tikaf harus disertai dengan puasa, maka waktu minimalnya adalah sehari. Ulama lainnya mengatakan dibolehkan kurang dari sehari, namun tetap disyaratkan puasa. Imam Malik mensyaratkan minimal sepuluh hari. Imam Malik  juga memiliki pendapat lainnya, minimal satu atau dua hari. Sedangkan bagi ulama yang tidak mensyaratkan puasa, maka waktu minimal dikatakan telah beri’tikaf adalah selama ia sudah berdiam di masjid dan di sini tanpa dipersyaratkan harus duduk.[</p>
<p>Yang tepat dalam masalah ini, i’tikaf tidak dipersyaratkan untuk puasa, hanya disunnahkan. Menurut mayoritas ulama, i’tikaf tidak ada batasan waktu minimalnya, artinya boleh cuma sesaat di malam atau di siang hari.[20] Al Mardawi rahimahullah mengatakan, “Waktu minimal dikatakan i’tikaf pada i’tikaf yang sunnah atau i’tikaf yang mutlak[21] adalah selama disebut berdiam di masjid (walaupun hanya sesaat).”</p>
<p><strong>Yang Membatalkan I’tikaf</strong></p>
<p>1. Keluar masjid tanpa alasan syar’i dan tanpa ada kebutuhan yang mubah yang mendesak.<br />
2. Jima’ (bersetubuh) dengan istri berdasarkan Surat Al Baqarah ayat 187. Ibnul Mundzir telah menukil adanya ijma’ (kesepakatan ulama) bahwa yang dimaksud mubasyaroh dalam surat Al Baqarah ayat 187 adalah jima’ (hubungan intim)</p>
<p><strong>Yang Dibolehkan Ketika I’tikaf</strong></p>
<p>1. Keluar masjid disebabkan ada hajat yang mesti ditunaikan seperti keluar untuk makan, minum, dan hajat lain yang tidak bisa dilakukan di dalam masjid.<br />
2. Melakukan hal-hal mubah seperti mengantarkan orang yang mengunjunginya sampai pintu masjid atau bercakap-cakap dengan orang lain.<br />
3. Istri mengunjungi suami yang beri’tikaf dan berdua-duaan dengannya.<br />
4. Mandi dan berwudhu di masjid.<br />
5. Membawa kasur untuk tidur di masjid.</p>
<p><strong>Mulai Masuk dan Keluar Masjid</strong></p>
<p>Jika ingin beri’tikaf selama 10 hari terakhir bulan Ramadhan, maka seorang yang beri’tikaf mulai memasuki masjid setelah shalat Shubuh pada hari ke-21 dan keluar setelah shalat shubuh pada hari ‘Idul Fithri menuju lapangan. Hal ini sebagaimana terdapat dalam hadits ‘Aisyah, ia berkata,</p>
<p>كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَعْتَكِفُ فِى كُلِّ رَمَضَانَ ، وَإِذَا صَلَّى الْغَدَاةَ دَخَلَ مَكَانَهُ الَّذِى اعْتَكَفَ فِيهِ – قَالَ – فَاسْتَأْذَنَتْهُ عَائِشَةُ</p>
<p>“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa beri’tikaf pada bulan Ramadhan. Apabila selesai dari shalat shubuh, beliau masuk ke tempat khusus i’tikaf beliau. Dia (Yahya bin Sa’id) berkata: Kemudian ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha meminta izin untuk bisa beri’tikaf bersama beliau, maka beliau mengizinkannya.”</p>
<p>Namun para ulama madzhab menganjurkan untuk memasuki masjid menjelang matahari tenggelam pada hari ke-20 Ramadhan. Mereka mengatakan bahwa yang namanya 10 hari yang dimaksudkan adalah jumlah bilangan malam sehingga seharusnya dimulai dari awal malam.</p>
<p><strong>Adab I’tikaf</strong></p>
<p>Hendaknya ketika beri’tikaf, seseorang menyibukkan diri dengan melakukan ketaatan seperti berdo’a, dzikir, bershalawat pada Nabi, mengkaji Al Qur’an dan mengkaji hadits. Dan dimakruhkan menyibukkan diri dengan perkataan dan perbuatan yang tidak bermanfaat</p>
<p><em><a href="http://suaraquran.com/download/adab-iktikaf_ust-aris-sugiyantoro.mp3" target="_blank"><strong>Adab I&#8217;tikaf Ust Abu Sulaiman Aris Sugiyantoro</strong></a></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suaraquran.com/audio-kajian-adab-dan-hukum-itikaf-ust-abu-sulaiman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
<enclosure url="http://suaraquran.com/download/adab-iktikaf_ust-aris-sugiyantoro.mp3" length="7098048" type="audio/mpeg" />
		</item>
		<item>
		<title>AUDIO Kajian SMS Berjawab Romadlon Ust Kholid Syamhudi</title>
		<link>http://suaraquran.com/audio-kajian-sms-berjawab-romadlon-ust-kholid-syamhudi/</link>
		<comments>http://suaraquran.com/audio-kajian-sms-berjawab-romadlon-ust-kholid-syamhudi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Aug 2010 02:41:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suaraquran</dc:creator>
				<category><![CDATA[Download]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[masalah puasa]]></category>
		<category><![CDATA[sms islam]]></category>
		<category><![CDATA[suara quran]]></category>
		<category><![CDATA[suaraquran]]></category>
		<category><![CDATA[tanya jawab puasa]]></category>
		<category><![CDATA[ust kholid syamhudi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suaraquran.com/?p=1002</guid>
		<description><![CDATA[
Assalamu&#8217;alaikum,ustadz,sholat tarowih yang kuat  2x5+1 atau 4.4.3 atau 2&#215;4+.3 mohon penjelasan terima kasih. Dari Rohmat m, di Jimbung.  Assallamualaikum Ustad,di desa saya shalat tarawihnya di baca cepat,tanpa peduli panjang pendek bacaan,sehingga shalat tidak khusyuk, apa  boleh shalat tarawih di rumah meskipun tanpa jamaah? Catur.Dari Abu Lutfi di Kalioso, apakah ketika imam sedang doa bersama ketika [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://suaraquran.com/wp-content/uploads/2010/08/ramadhan_sms.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1003" title="ramadhan_sms" src="http://suaraquran.com/wp-content/uploads/2010/08/ramadhan_sms-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Assalamu&#8217;alaikum,ustadz,sholat tarowih yang kuat  2</strong><strong>x</strong><strong>5+1</strong> <strong>atau 4.4.3 atau</strong> 2&#215;4+.3 mohon penjelasan terima kasih. Dari Rohmat m, di Jimbung.  Assallamualaikum Ustad,di desa saya shalat tarawihnya di baca cepat,tanpa peduli panjang pendek bacaan,sehingga shalat tidak khusyuk, apa  boleh shalat tarawih di rumah meskipun tanpa jamaah? Catur.Dari Abu Lutfi di Kalioso, apakah ketika imam sedang doa bersama ketika selesai witir.kemudian saya pergi meninggalkan pulang terlebih dahulu,tidak menunggu selesai dzikir tersebut, betulkah sikap ana ustadz?  Apakah termasuk rafats menggoda istri dengan kata-kata jorok/porno?sering bercumbu apa mengurangi pahala puasa? Syukron. Assalamu&#8217;alaikum  kakak laki-laki saya invalit, apa boleh menerima zakat  maal saya? boleh diberikan ke lembaga pendidikan tidak? Ummu Ahmad.</p>
<p><span id="more-1002"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Simak lebih lengkap pertanyaan serta jawaban dari pertanyaan seputar shiyam romadlon dalam rubrik kajian Radio SuaraQuran SMS Berjawab Romadlon bersama Ust Kholid Syamhudi Lc, ditayangkan langsung setiap senin jam 16.00. Pertanyaan diajukan melalui line sms 08564 757 5535.</p>
<p><a href="http://suaraquran.com/download/sms-berjawab-romadlon_ust-kholid-syamhudi.mp3" target="_blank"><strong>SMS Berjawab Romadlon Ust Kholid Syamhudi</strong></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suaraquran.com/audio-kajian-sms-berjawab-romadlon-ust-kholid-syamhudi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
<enclosure url="http://suaraquran.com/download/sms-berjawab-romadlon_ust-kholid-syamhudi.mp3" length="5038992" type="audio/mpeg" />
		</item>
		<item>
		<title>TAFSIR Al Baqarah 185 Tentang Keutamaan Romadlon dan Fiqh Shiyam</title>
		<link>http://suaraquran.com/tafsir-al-baqarah-185-tentang-keutamaan-romadlon-dan-fiqh-shiyam/</link>
		<comments>http://suaraquran.com/tafsir-al-baqarah-185-tentang-keutamaan-romadlon-dan-fiqh-shiyam/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Aug 2010 02:25:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suaraquran</dc:creator>
				<category><![CDATA[Download]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[ayat puasa]]></category>
		<category><![CDATA[hukum puasa orang sakit]]></category>
		<category><![CDATA[suara quran]]></category>
		<category><![CDATA[suaraquran]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir ayat shiyam]]></category>
		<category><![CDATA[ust abdul karim]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suaraquran.com/?p=993</guid>
		<description><![CDATA[ Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di  dalamnya diturunkan (permulaan) Al quran sebagai petunjuk bagi manusia  dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang  hak dan yang bathil). Karena itu barangsiapa di antara kamu hadir (di  negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://suaraquran.com/wp-content/uploads/2010/08/albaqarah185.gif"><img class="alignleft size-full wp-image-994" title="albaqarah185" src="http://suaraquran.com/wp-content/uploads/2010/08/albaqarah185.gif" alt="" width="472" height="177" /></a> <strong>B</strong><strong>eberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan </strong>Ramadhan, bulan yang di  dalamnya diturunkan (permulaan) Al quran sebagai petunjuk bagi manusia  dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang  hak dan yang bathil). Karena itu barangsiapa di antara kamu hadir (di  negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada  bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia  berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang  ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki  kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah  kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas  petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.(QS. 2:185)</p>
<p style="text-align: justify;">
<p><span id="more-993"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Pada ayat 185 ini, Allah mengulangi memperkuat ayat 184, bahwa walaupun  berpuasa diwajibkan, tetapi diberi kelonggaran bagi orang-orang yang  sakit dan musafir untuk tidak berpuasa pada bulan Ramadan dan  menggantikan pada hari-hari yang lain. Kemudian pada penutup ayat ini  Allah menekankan supaya disempurnakan bilangan puasa itu dan menyuruh  bertakbir serta bersyukur kepada Allah atas segala petunjuk-petunjuk  yang diberikan</p>
<p><strong><a href="http://suaraquran.com/download/ayat-shiyam-185_ust-abu-hasan.mp3" target="_blank">Tafsir Al Baqarah 185 Ust Abu Hasan Abdulkarim</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suaraquran.com/tafsir-al-baqarah-185-tentang-keutamaan-romadlon-dan-fiqh-shiyam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
<enclosure url="http://suaraquran.com/download/ayat-shiyam-185_ust-abu-hasan.mp3" length="0" type="audio/mpeg" />
		</item>
		<item>
		<title>14 CONTOH BID’AH DALAM SHALAT TARAWIH</title>
		<link>http://suaraquran.com/14-contoh-bid%e2%80%99ah-dalam-shalat-tarawih/</link>
		<comments>http://suaraquran.com/14-contoh-bid%e2%80%99ah-dalam-shalat-tarawih/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Aug 2010 01:00:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suaraquran</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[bid'ah tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[doa tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[keutamaan amalam tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[suara quran]]></category>
		<category><![CDATA[suaraquran]]></category>
		<category><![CDATA[tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[tuntunan sholat tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[ust zainal abidin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suaraquran.com/?p=981</guid>
		<description><![CDATA[ Disusun Oleh Ustadz Zainal Abidin bin Syamsuddin, Lc.
Dalam rubrik ini, saya akan menguraikan bahasan khusus seputar masalah bid’ah dalam shalat tarawih yang banyak menyebar di tengah masyarakat, dan diyakini sebagai perkara sunnah serta dianggap baik oleh sebagian besar orang awam. Akibatnya sunnah-sunnah shalat tarawih yang dianjurkan, banyak kehilangan bentuk dan kemurniannya. Di antara bid’ah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://suaraquran.com/wp-content/uploads/2010/08/tarawih-SHALAT.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-982" title="tarawih-SHALAT" src="http://suaraquran.com/wp-content/uploads/2010/08/tarawih-SHALAT-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a><em> Disusun Oleh Ustadz Zainal Abidin bin Syamsuddin, Lc.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Dalam rubrik ini, saya akan menguraikan bahasan khusus seputar </strong>masalah bid’ah dalam shalat tarawih yang banyak menyebar di tengah masyarakat, dan diyakini sebagai perkara sunnah serta dianggap baik oleh sebagian besar orang awam. Akibatnya sunnah-sunnah shalat tarawih yang dianjurkan, banyak kehilangan bentuk dan kemurniannya. Di antara bid’ah yang lazim terjadi di masyarakat seputar masalah shalat tarawih, ialah sebagai berikut.</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pertam</strong><strong>a</strong>. Shalat tarawih dengan cepat, laksana ayam mematuk makanan. Mayoritas imam masjid kurang memiliki akal sehat dan pengetahuan agama yang baik. Hal itu nampak dari cara melakukan shalat. Bahwa hampir semua shalat yang dilakukan, mirip dengan shalatnya orang yang sedang kesurupan, terutama ketika shalat tarawih. Mereka melakukan shalat 23 raka’at hanya dalam waktu 20 menit, dengan membaca surat Al ‘Ala atau Adh Dhuha. Menurut semua madzhab, dalam melakukan shalat tidak boleh seperti itu, karena ia merupakan shalat orang munafik, sebagaimana firmanNya: Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, maka mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya’ di hadapan manusia dan tidak menyebut Allah, kecuali hanya sedikit sekali. (QS An Nisa’:142). Bentuk dan cara shalat tarawih yang seperti itu, jelas bertentangan dengan cara shalat tarawih Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi Wasallam</em> , para sahabat dan ulama salaf.</p>
<p><span id="more-981"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Nabi  <em>Shallallahu &#8216;alaihi Wasallam </em>bersabda,</p>
<h3 style="text-align: center;">فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ</h3>
<p style="text-align: justify;">Maka berpegang teguhlah kepada sunnahku dan sunnah para Khulafaur Rasyidin yang memberi petunjuk, berpegang teguhlah kepadanya dan gigitlah dengan gigi geraham kalian. Waspadalah terhadap perkara-perkara baru (bid’ah), karena setiap perkara yang baru adalah bid’ah, dan setiap yang bid’ah adalah sesat. (Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah).</p>
<p style="text-align: justify;">Dan Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi Wasallam</em>n bersabda,</p>
<h3 style="text-align: justify;">صَلُّوْا كَمَا رَأَيْْتُمُوْنِيْ أُصَلِّي</h3>
<p style="text-align: justify;">Shalatlah kamu sekalian sebagaimana kalian melihat aku shalat. (HR Bukhari, Muslim, Ahmad. Lihat Irwaul Ghalil no: 213).</p>
<p style="text-align: justify;">Ad Darimy meriwayatkan, bahwa Abu Aliyah berkata,”Jika kami mendatangi seseorang untuk menuntut ilmu, maka kami akan melihat ia shalat. Jika ia shalat dengan benar, kami akan duduk untuk belajar dengannya. Dan kami berkata,’Dia akan lebih baik dalam masalah lain’. Sebaliknya, jika shalatnya rusak, maka kami akan berpaling darinya dan kami berkata,’Dia akan lebih rusak dalam masalah yang lain’.” Dan suatu hal yang menguatkan lagi, bahwa demikian itu menjadi perkara bid’ah, karena dikerjakan secara rutin dan permanen pada setiap bulan Ramadhan. Mereka beranggapan, bahwa hal itu merupakan cara terbaik dalam menunaikan shalat tarawih.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kedua</strong>. Membaca surat Al’An’am dalam satu raka’at dari shalat tarawih. Para ulama menganggap, bahwa membaca surat Al An’am dalam satu raka’at dari shalat tarawih termasuk perbuatan bid’ah, karena demikian itu tidak bersandarkankepada suatu dalil. Adapun hadits dari Ibnu Abbas dan Ubay bin Ka’ab bahwa Rasulullah bersabda:</p>
<p>أُنْزِلَتْ سُوْرَةُ الأَنْعَامِ جَمَّةً وَاحِدَةً يُشَيِّعُهَا سَبْعُوْنَ أَلْفَ مَلَكٍ بِالتَّسْبِيْحِ وَالتَّحْمِيْدِ.</p>
<p>&#8220;Surat Al’An’am diturunkan sekaligus dalam sekali tahapan yang dihantarkan oleh tujuh puluh ribu malaikat sambil membaca tasbih dan tahmid&#8221;.</p>
<p>Banyak orang awam yang tertipu dengan hadits ini. Padahal menurut Imam As Suyuthi, bahwa hadits di atas adalah dhaif. Andaikata pun hadits tersebut shahih, juga sedikitpun tidak ada anjuran yang bersifat sunnah dibaca dalam satu raka’at.</p>
<p>Membaca surat Al An’am dalam satu raka’at bisa dikatakan bid’ah karena beberapa alasan sebagai berikut. Pertama, mengkhususkan surat Al An’am menipu ummat, bahwa surat yang lain kurang afdhal atau tidak baik untuk dibaca pada waktu shalat tarawih. Kedua, bacaan tersebut hanya dikhususkan pada waktu shalat tarawih. Ketiga, memberatkan kaum muslimin terutama orang awam, sehingga mereka akan marah atau jengkel atau timbul kebencian terhadap ibadah. Keempat, yang demikian itu menyelisihi sunnah, sebab Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menganjurkan agar raka’at kedua lebih pendek daripada raka’at pertama, sementara bid’ah ini telah merubah secara tolal sunnah tersebut dan melawan syari’at.[5]</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">Ketiga : Bid’ah Mengumpulkan Ayat-Ayat Sajadah.<br />
Seorang imam mengumpulkan ayat-ayat sajadah ketika khataman Al Qur’an pada shalat tarawih dalam raka’at terakhir, kemudian ia sujud bersama makmum. [6]</p>
<p>Keempat : Membaca Beberapa Ayat Yang Disebut Ayat-Ayat Hirs (Perlindingan).<br />
Mengumpulkan beberapa ayat yang mereka sebut dengan nama ayat-ayat perlindungan, lalu dibaca secara keseluruhan di akhir raka’at dalam shalat tarawih.[7]</p>
<p>Kelima : Bid’ah Dzikir Dan Do’a Ketika Hendak Memulai Shalat Tarawih.<br />
Ucapan seorang bilal atau imam ketika hendak memulai shalat tarawih yang dibaca dengan berjama’ah dan suara keras.[8]</p>
<p>صَلاَةَ التَّرَاوِيْحِ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ رَحِمَكُمُ اللهُ.<br />
صَلاَةَ التَّرَاوِيْحِ آجَرَكُمُ اللهُ.</p>
<p>Kebid’ahan ini banyak sekali menyebar di negeri ini. Dianggap sebagai sesuatu yang baik dan sunnah, padahal hal tersebut tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dan sahabat. Padahal setiap cara ibadah dan praktek agama yang tidak ada dalil atau landasan hukumnya, maka tertolak dan dinyatakan sebagai perbuatan bid’ah. Beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda.</p>
<p>مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَالَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ.</p>
<p>&#8220;Barangsiapa yang membuat-buat ibadah dalam ajaran kami ini (Islam) yang bukan merupakan bagian darinya, maka amalan itu tertolak&#8221;. [HR Bukhari].</p>
<p>Keenam : Berdzikir Dengan Dipandu Seorang Bilal.<br />
Berdzikir dengan dipandu seorang bilal setiap selesai shalat dua raka’at dari shalat tarawih, maka perbuatan seperti ini termasuk bid’ah. Namun terkadang bacaan dzikir dilakukan sendiri-sendiri dengan ringan, atau terkadang dzikir tersebut dibaca secara berjama’ah.[9]</p>
<p>Dzikir dengan cara ini termasuk bid’ah, karena beberapa alasan berikut. Pertama, karena membuat tata cara baru dalam beribadah yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam merupakan perbuatan bid’ah. Dari Jabir bin Abdullah diriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda : &#8220;Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad. Seburuk-buruk ibadah adalah yang dibikin-bikin, dan setiap bid’ah itu adalah sesat&#8221;. [10] Kedua, dzikir tersebut hanya dikhususkan pada waktu shalat tarawih saja, padahal mengkhususkan suatu ibadah yang tidak berdasarkan dalil, maka hal itu termasuk perbuatan bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat. Ketiga, tindakan itu boleh jadi memberatkan kaum muslimin terutama orang awam, sehingga menimbulkan sikap kebencian terhadap ibadah. Keempat, perbuatan itu dengan jelas telah menyelisihi sunnah. Sebab Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam tidak pernah menganjurkan membaca dzikir secara berjama’ah dalam shalat tarawih. Begitu pula beliau n tidak pernah mengajarkan bacaan dzikir-dzikir tersebut. Maka bentuk dzikir seperti itu bertentangan dengan sunnah Rasulullah dan kebiasaan para sahabat.</p>
<p>Ketujuh : Mengkhususkan Membaca Qunut Pada Shalat Tarawih.<br />
Mengkhususkan qunut hanya pada pertengahan Ramadhan dalam shalat tarawih. Yang demikian itu tidak pernah dicontohkan Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Imam Malik dalam kitab Mudawwanah Al Kubra menyatakan,”Tidak ada dalil shahih yang bisa digunakan sebagai sandaran bagi orang yang mengkhususkan qunut dalam shalat tarawih pada bulan Ramadhan, baik pada awal maupun akhir Ramadhan, atau pada shalat witir [11].</p>
<p>Kedelapan : Shalat Tarawih Bersama-Sama Antara Kaum Laki-Laki Dan Kaum Wanita Dalam Satu Masjid.<br />
Diantara kebid’ahan dan kemungkaran dalam masjid yang berkaitan dengan shalat -terutama shalat tarawih- yaitu melakukan shalat berjamaah campur-baur antara kaum laki-laki dan kaum wanita dalam satu masjid [12].</p>
<p>Kesembilan : Dzikir Dengan Suara Keras Dan Berjama’ah Seperti Koor.<br />
Dzikir berjama’ah dengan suara keras seperti koor pada setiap waktu istirahat dalam shalat tarawih, merupakan perbuatan bid’ah [13]. Adapun lafadz dzikir yang mereka baca secara berbeda-beda sesuai dengan perbedaan tempat dan daerah, maka perbuatan seperti ini termasuk mengumpulkan berbagai macam keburukan dan kebid’ahan, antara lain: Pertama, bid’ah dzikir berjama’ah dengan suara koor. Kedua, bid’ah dalam menggunakan lafadz-lafadz dzikir yang tidak diajarkan oleh Rasulullah. Ketiga, mengganggu kaum muslimin dengan suara keras, dan boleh jadi dzikir tersebut disampaikan lewat mikrofon atau pengeras suara. Keempat, membuat praktek ibadah baru dalam shalat tarawih yang tidak pernah dicontohkan Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Padahal beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ.</p>
<p>&#8220;Barangsiapa yang melakukan amalan yang tidak sesuai dengan ajaran kami, maka ibadahnya itu tertolak&#8221;. [HR Muslim].</p>
<p>Kesepuluh : Dzikir Berjama’ah Dengan Suara Keras Saat Akan Dimulainya Raka’at Baru Dalam Shalat Tarawih.<br />
Bacaan dzikir yang diamalkan setiap selesai salam dari dua raka’at shalat tarawih, dan (kemudian) hendak memulai raka’at yang baru, (dzikir seperti ini)termasuk perbuatan bid’ah. Tata cara dan bacaan dzikir tersebut antara lain:<br />
Seorang bilal membaca:</p>
<p>فَضْلٌ مِنَ اللهِ وَالنِّعْمَةُ يَا تَوَّابُ يَا وَاسِعَ الْمَغْفِرَةِ . أَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ.</p>
<p>Lalu dijawab oleh para jama’ah shalat tarawih secara bersama-sama dengan suara keras</p>
<p>صَلُّوْا عَلَيْهِ, &#8230;&#8230;. أَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ. &#8230;&#8230;.</p>
<p>Kemudian pada raka’at-raka’at yang akhir mereka mendo’akan kepada khulafaurrasyidin yang empat.</p>
<p>Kesebelas : Bid’ah Do’a Berjama’ah Ketika Istirahat Antara Shalat Tarawih Dengan Shalat Witir.<br />
Do’a berjama’ah pada saat istirahat antara shalat tarawih dengan shalat witir merupakan perbuatan bid’ah yang munkar. Begitu juga ketika hendak shalat witir, bilal atau imam mengucapkan:</p>
<p>صَلُّوْا سُنَّةَ الْوِتْرِ رَحِمَكُمُ اللهُ أَوْ آجَرَكُمُ اللهُ.</p>
<p>Kebanyakan mereka yang mengamalkan bid’ah ini telah membuat bacaan do’a secara khusus, yang tidak bersandar kepada satu dalilpun, dan tidak pernah diajarkan oleh para ulama salaf mapun imam sunnah [14].</p>
<p>Keduabelas : Melazimkan Surat Al Ikhlas Dan Mu’awidzatain Dalam Setiap Raka’at Akhir Dari Shalat Witir.<br />
Melazimkan surat Al Ikhlas dan Muawidzatain dalam setiap raka’at terakhir dari shalat witir, termasuk perbuatan bid’ah. Hal tersebut tidak pernah dicontohkan Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dan ulama salaf dari kalangan para sahabat dan tabi’in. Sementara sebagai orang awam terpesona dengan hadits Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam yang diriwayatkan Imam Ath Thabrani dalam Mu’jamul Ausath, dari Abu Hurairah dengan sanad yang lemah, karena terdapat seorang perawi As Sary bin Ismail dan Miqdam bin Daud, yang keduanya merupakan perawi yang dhaif. Begitu juga hadits serupa diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dalam Sunan-nya dan Imam At Tirmidzi dalam Sunan-nya, serta Ibnu Majah dalam Sunan-nya, dari hadits Aisyah dengan sanad yang lemah.</p>
<p>Imam Al Mundziri berkata, bahwa hadits ini diriwayatkan Abu Daud dan Tirmidzi serta Ibnu Majah dari Aisyah dari Khushaif bin Abdurahman Al Harrani; telah dinyatakan sebagai perawi yang lemah oleh kebanyakan para imam ahli hadits.</p>
<p>Ibnul Jauzi berkata,”Imam Ahmad dan Yahya Ibnu Main telah mengingkari dengan keras tambahan Muawidzatain dalam raka’at akhir dari shalat witir [15].</p>
<p>Ketigabelas : Berhenti Dari Shalat Qiyamul Lail Atau Shalat Tarawih Setelah Khataman Al-Qur’an.<br />
Sebagian umat Islam ada yang menghentikan qiyamul lail atau shalat tarawih setelah menyelesaikan khataman Al Qur’an, padahal perbuatan tersebut termasuk bid’ah [16].</p>
<p>Keempatbelas : Membaca Dua Juz Atau Lebih Dari Al-Qur’an Pada Shalat Tarawih Terakhir.<br />
Membaca dua juz atau lebih pada malam terakhir dalam shalat tarawih. Ada juga yang melazimkan dari mulai surat Adh Dhuha hingga selesai [17].</p>
<p>Demikianlah penjelasan beberapa bid’ah seputar shalat tarawih, yang secara umum sudah banyak tersebar di tengah masyarakat. Maka demi menjaga keutuhan ajaran Islam dan melestarikan sunnah, serta memelihara pahala ibadah -terutama shalat tarawih- maka saya mengajak kepada seluruh umat Islam agar meninggalkan kebiasaan buruk dan perbuatan bid’ah dalam setiap bidang agama. Al Qur’an dan Sunnah Rasul dengan tegas memperingatkan tentang bahaya bid’ah. Begitu pula para sahabat dan para tabi’in yang mengikuti Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dengan melakukan kebajikan juga memperingatkan bahaya bid’ah dengan tegas</p>
<p>Diantara dalil dari Al Qur’an yang memperingatkan tercelanya bid’ah, antara lain sebagai berikut.</p>
<p>DALIL-DALIL DARI AL-KITAB<br />
Allah berfirman, &#8216;Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa&#8221;. ([Al An’Am : 153].</p>
<p>Jalan yang lurus adalah jalan Allah yang wajib diikuti. Jalan itu adalah Sunnah. Sedangkan jalan yang beraneka ragam dan corak itu hanyalah jalan ahli bid’ah yang melenceng dari jalan yang lurus.</p>
<p>DALIL-DALIL DARI AS-SUNNAH<br />
Nabi bersabda,</p>
<p>إِنِّيْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا لَا يَزِيغُ عَنْهَا بَعْدِي إِلَّا هَالِكٌ</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya aku telah meninggalkan untuk kalian ajaran putih bersih. Malamnya laksana siangnya. Dan tidaklah seseorang yang menjauhinya, kecuali pasti akan mengalami kehancuran&#8221;. [HR Ahmad dan Ibnu Majah].</p>
<p>مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ</p>
<p>&#8220;Barangsiapa memberi contoh yang baik dalam Islam, maka ia mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengerjakan perbuatan baik tersebut, tanpa mengurangi pahala-orang itu sedikitpun. Dan barangsiapa memberi contoh yang buruk dalam Islam, maka ia mendapatkan dosa dan dosa orang yang mengerjakan perbuatan dosa itu setelahnya, tanpa mengurangi dosa orang-orang itu sedikitpun&#8221;. [HR Muslim]</p>
<p>Dari Abdullah bin Mas’ud berkata, bahwa pernah pada suatu ketika Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam membuat suatu garis, lalu bersabda,”Ini adalah jalan Allah yang lurus,” kemudian beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam membuat garis-garis di sebelah kanan dan kirinya, lalu bersabda,”Ini adalah jalan-jalan, dan setiap jalan tersebut terdapat syetan yang mengajak kepada jalan itu,” kemudian beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam membacakan firman Allah: &#8220;Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa&#8221;. (Al An’am:153)&#8221;. [HR Ahmad dalam Musnad, Ad Darimi, Al Hakim dalam Mustadrak dan Ibnu Abu Ashim dalam As Sunnah].</p>
<p>[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi, 07/Tahun VII/1424/2003M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183)</p>
<p style="text-align: justify;">_______<br />
Footnote<br />
[1]. Mu’jamul Maqayis Fil Lughah, Ibnu Faris halaman 119.<br />
[2]. Al I’tisham, oleh Asy Syatibi 1:49. Lihat juga Mufradat Al Fazhil Qur’an, Ar Raghib Al Asfahani, materi kata bada’a, halaman 111.<br />
[3]. Fatawa Ibnu Taimiyah IV 107-108<br />
[4]. As Sunnan Wal mubtadat, Syaikh Muhammad bin Abdussalam, Darul Fikr<br />
[5]. Al Amru bin Ittiba’ Wan Nahyu Anil Ibtida’, Imam As Suyuthi, Maktabatul Qur’an.<br />
[6]. Al Amru bin Ittiba’ Wan Nahyu Anil Ibtida’, Imam As Suyuthi, Maktabatul Qur’an.<br />
[7]. Al Baits Ala Inkaril Bida’ Wal Hawadits, Abu Syamah Al Maqdisy, Darur Rayyah, Riyadh.<br />
[8]. Mu’jamul Bida’, Raid bin Sabri bin Abi ‘Alfah, Darul Ashimah, halaman 98.<br />
[9]. Al Hawadits Wal Bida’, Imam Abu Bakar At Thurthusy, Dal Ibnul Jauzy, Riyadh.<br />
[10]. Diriwayatkan oleh Muslim dalam Kitab Al Jumu’ah; meringkas shalat dan khutbah 1:592 dengan nomor 867.<br />
[11]. Al Hawadits Wal Bida’, Imam Abu Bakar At Thurthusy, Dal Ibnul Jauzy, Riyadh.<br />
[12]. Bidaul Qurra’, Syaikh Bakr Abu Zaid, Darul Faruq Saudi.<br />
[13]. Bidaul Qurra’, Syaikh Bakr Abu Zaid, Darul Faruq saudi.<br />
[14]. Al Hawadits Wal Bida’, Imam Abu Bakar Ath Thurthusy, Dar Ibnul Jauzy, Riyadh, halaman 64.<br />
[15]. Lihat Aunul Ma’bud Syah Sunan Abi Daud, Darul Kutubul Ilmiyah, Beirut Libanon. Bab Ma Yuqrqa’ Fil Witr.<br />
[16]. Bidaul Qurra’, Syaikh Bakr Abu Zaid, Darul Faruq, Saudi.<br />
[17]. Al Madkhal, Ibnul Haj 2/294, Darul Hadits, Mesir.</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber : <a href="http://almanhaj.or.id/content/2802/slash/0">http://almanhaj.or.id/content/2802/slash/0</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suaraquran.com/14-contoh-bid%e2%80%99ah-dalam-shalat-tarawih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>AUDIO Ust Abdul Hakim Hadits Dloif Seputar Ramadhan</title>
		<link>http://suaraquran.com/audio-ust-abdul-hakim-hadits-dloif-seputar-ramadhan/</link>
		<comments>http://suaraquran.com/audio-ust-abdul-hakim-hadits-dloif-seputar-ramadhan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Aug 2010 03:10:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suaraquran</dc:creator>
				<category><![CDATA[Download]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[doa buka puasa]]></category>
		<category><![CDATA[hadits dloif ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[hdaits dhoif]]></category>
		<category><![CDATA[suara quran]]></category>
		<category><![CDATA[suaraquran]]></category>
		<category><![CDATA[ust abdulhakim]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suaraquran.com/?p=969</guid>
		<description><![CDATA[HADIST PERTAMA
Dari Ibnu Abbas, ia berkata : Adalah Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam apabila berbuka (puasa) beliau mengucapkan :
Allahumma Laka Shumna wa ala Rizqika Aftharna, Allahumma Taqabbal Minna Innaka Antas Samiul &#8216;Alim
(artinya  : Ya Allah ! untuk-Mu aku berpuasa dan atas rizkqi dari Mu kami  berbuka.  Ya Allah ! Terimalah amal-amal kami, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>HADIST PERTAMA</strong><a href="http://suaraquran.com/wp-content/uploads/2010/08/DOA-BUKA-PUASA-yang-lemah2.jpg"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-976" title="DOA BUKA PUASA yang lemah" src="http://suaraquran.com/wp-content/uploads/2010/08/DOA-BUKA-PUASA-yang-lemah2-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a><br />
<strong>Dari Ibnu Abbas, ia berkata : Adalah Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</strong> apabila berbuka (puasa) beliau mengucapkan :</p>
<p>Allahumma Laka Shumna wa ala Rizqika Aftharna, Allahumma Taqabbal Minna Innaka Antas Samiul &#8216;Alim</p>
<p>(artinya  : Ya Allah ! untuk-Mu aku berpuasa dan atas rizkqi dari Mu kami  berbuka.  Ya Allah ! Terimalah amal-amal kami, sesungguhnya Engkau Maha  Mendengar, Maha Mengetahui)&#8221;.<br />
[Riwayat : Daruqutni di kitab  Sunannya, Ibnu Sunni di kitabnya 'Amal Yaum wa-Lailah No. 473.  Thabrani  di kitabnya Mu'jamul Kabir]<br />
Sanad hadits ini sangat Lemah/Dloif</p>
<p><span id="more-969"></span><br />
<strong>HADITS KEDUA</strong></p>
<h2><strong><span><strong><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">( &#8230;شهرٌ أوله رحمة, وأوسطه مغفرة, وآخره عتق من النار&#8230; ) </span></strong></span></strong></h2>
<p>&#8220;Artinya  : Awal bulan Ramadhan merupakan rahmat, sedang pertengahannya merupakan  magfhiroh (ampunan), dan akhirnya merupakan pembebasan dari api  neraka&#8221;. [Riwayat : Ibnu Abi Dunya, Ibnu Asakir, Dailami dll. dari jalan  Abu Hurairah]<br />
Derajat hadits ini : DLAIFUN JIDDAN (sangat lemah).<br />
Periksalah kitab : Dla&#8217;if Jamius Shagir wa Ziyadatihino. 2134, Faidhul Qadir No. 2815.</p>
<p><strong>HADITS KETIGA</strong></p>
<h2><strong><span><strong><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"> <strong>الصائم في عبادة وإن كان نائماً على فراشه ) الضعيفة حديث رقم</strong>653</span></strong></span></strong></h2>
<p>&#8220;Artinya : Orang yang berpuasa itu tetap didalam ibadat meskipun ia tidur di atas kasurnya&#8221;.<br />
[Riwayat : Tamam]<br />
Sanad Hadits ini DLA&#8217;IF.<br />
Karena  di sanadnya ada : Yahya bin Abdullah bin Zujaaj dan Muhammad bin Harun  bin Muhammad bin Bakkar bin Hilal.  Kedua orang ini gelap keadaannnya  karena kita tidak jumpai keterangan tentang keduanya di kitab-kitab Jarh  Wat-Ta&#8217;dil (yaitu kitab yang menerangkan cacat/cela dan pujian  tiap-tiaprawi hadits).  Selain itu di sanad hadits ini juga ada Hasyim  bin Abi Hurairah Al-Himsi seorang rawi yang Majhul (tidak dikenal  keadaannya dirinya).  Sebagaimana diterangkan Imam Dzahabi di kitabnya  Mizanul I&#8217;tidal, dan Imam &#8216;Uqail berkata : Munkarul Hadits !!</p>
<p>Lebih Lengkap Klik <a href="http://www.saaid.net/mktarat/ramadan/29.htm" target="_blank">di sini</a> dan <a href="http://majdah.maktoob.com/vb/majdah34623/" target="_blank">sini</a></p>
<p><a href="http://suaraquran.com/download/hadits-palsu-lemah-romadlon_ust-abdulhakim-abdat.mp3" target="_blank"><strong>Hadits Dloif Seputar Ramadhan Ust Abdul Hakim Abdat</strong></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suaraquran.com/audio-ust-abdul-hakim-hadits-dloif-seputar-ramadhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
<enclosure url="http://suaraquran.com/download/hadits-palsu-lemah-romadlon_ust-abdulhakim-abdat.mp3" length="7032384" type="audio/mpeg" />
		</item>
		<item>
		<title>ADAB-Adab Sunnah Dalam Shiyam</title>
		<link>http://suaraquran.com/adab-adab-sunnah-dalam-shiyam/</link>
		<comments>http://suaraquran.com/adab-adab-sunnah-dalam-shiyam/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Aug 2010 01:41:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suaraquran</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[adab shiyam]]></category>
		<category><![CDATA[amalan orang puasa]]></category>
		<category><![CDATA[larangan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[puasa sempurna]]></category>
		<category><![CDATA[ramadhan bermakna]]></category>
		<category><![CDATA[suara quran]]></category>
		<category><![CDATA[suaraquran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suaraquran.com/?p=963</guid>
		<description><![CDATA[Menjalankan puasa memiliki beberapa adab atau tata cara, di mana puasa ini tidaklah  sempurna terkecuali  dengan mengerjakannya dan tidak juga lengkap terkecuali dengan menjalankannya. Bebrapa adab ini terbagi menjadi dua bagian;  adab yang bersifat wajib, yang harus dipelihara dan dijaga oleh orang yang berpuasa. Dan adab yang bersifat sunnah yang juga harus dipelihara dan dijaga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><a href="http://suaraquran.com/wp-content/uploads/2010/08/ramadan-1.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-965" title="ramadan (1)" src="http://suaraquran.com/wp-content/uploads/2010/08/ramadan-1-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Menjalankan puasa memiliki beberapa adab atau tata cara, di mana </strong>puasa ini tidaklah  sempurna terkecuali  dengan mengerjakannya dan tidak juga lengkap terkecuali dengan menjalankannya. Bebrapa adab ini terbagi menjadi dua bagian;  adab yang bersifat wajib, yang harus dipelihara dan dijaga oleh orang yang berpuasa. Dan adab yang bersifat sunnah yang juga harus dipelihara dan dijaga olehnya. Berikut ini pembahasannya lebih lanjut.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>1. Mengakhirkan Sahur</strong><br />
Sahur berarti makan di akhir malam. Disebut sahur karena ia dilakukan pada waktu sahur. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri telah memerintahkan untuk makan sahur, di mana beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p style="text-align: justify;">“<em>Makan sahurlah kalian, karena sesungguhnya pada makan sahur itu terdapat keberkahan</em>.” [Shahiih al-Bukhari (III/76) dan Shahiih Muslim (III/130]</p>
<p><span id="more-963"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Hendaklah seseorang berniat mengikuti perintah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sahurnya itu, sekaligus memperkuat puasanya agar sahur yang dilakukannya itu bisa menjadi ibadah. Dan hendaklah dia mengakhirkan sahur selama tidak khawatir terhadap terbit fajar, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melakukan hal ter-sebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari Anas bin Malik, dari Zaid bin Tsabit, dia berkata: “Kami pernah makan sahur bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau berangkat menunaikan shalat, maka kami tanyakan, ‘Berapa lama jarak antara adzan dan makan sahur?’ Beliau menjawab, ‘Sekitar (waktu yang cukup untuk membaca) lima puluh ayat…” [Shahiih al-Bukhari (III/26) dan Shahiih Muslim (III/131]</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>2. Menyegerakan Berbuka Puasa</strong><br />
Disunnahkan bagi orang yang berpuasa untuk menyegerakan berbuka jika matahari sudah benar-benar terbenam, dengan melihatnya langsung atau dengan memperkirakan hal tersebut, atau dengan terdengarnya adzan, karena adzan merupakan berita yang paling dapat dipercaya.</p>
<p style="text-align: justify;">Disunnahkan bagi orang yang berpuasa untuk berbuka dengan kurma ruthab (kurma basah), jika tidak maka boleh dengan tamr (kurma kering), dan jika tidak ada juga, maka hendaklah dengan meneguk air. Demikianlah yang biasa dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam</p>
<p style="text-align: justify;">Dari Sahl bin Sa’ad Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:</p>
<p style="text-align: justify;">“<em>Manusia ini akan senantiasa baik selama mereka menyegerakan berbuka puasa</em>.” [Shahiih al-Bukhari (III/33) dan Shahiih Muslim (III/131]</p>
<p style="text-align: justify;">Dan disunnahkan bagi orang yang berpuasa untuk memanjatkan do’a pada saat akan berbuka dengan do’a-do’a yang mudah diucapkannya, karena pada saat itu merupakan waktu dikabul-kannya do’a. Oleh karena itu, seorang muslim harus memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya dari waktu-waktu ketaatan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>3. Menjaga Lisan dari Kata-Kata yang Tidak Bermanfaat</strong><br />
Orang yang berpuasa harus menjaga lisannya dari kata-kata yang tidak bermanfaat, karena lisan merupakan sumber dari banyaknya dosa. Orang-orang mukmin sebenarnya adalah yang selalu menghindari pembicaraan yang tidak berarti dan senantiasa menghiasi diri dengan adab-adab Islam dalam ucapan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;">“<em>Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna</em>. ” [Al-Mu'-minuun: 3]</p>
<p style="text-align: justify;">Selain itu, Dia juga berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;">“<em>Tidak ada suatu ucapan pun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya Malaikat pengawas yang selalu hadir</em>.” [Qaaf: 18]</p>
<p style="text-align: justify;">Orang yang berpuasa harus mempuasakan (menahan) juga anggota tubuhnya dari segala macam perbuatan dosa, lisannya dari dusta, kata-kata keji, dan sumpah palsu, serta kata-kata yang tidak berarti. Juga mempuasakan perutnya dari makanan dan minuman, dan kemaluannya dari perbuatan keji. Kalau memang dia harus berbicara, maka dia akan berbicara dengan kata-kata yang tidak akan merusak puasanya. Jika dia berbuat maka dia akan berbuat hal-hal yang tidak akan merusak puasanya, sehing-ga yang keluar darinya adalah ucapan yang baik dan amal perbuatan yang shalih.</p>
<p style="text-align: justify;">Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan kepada setiap muslim yang berpuasa untuk menghiasi diri dengan akhlak yang mulia dan baik serta menjauhkan diri dari kata-kata dan perbuatan keji serta hina. Setiap muslim dilarang mengerjakan semua hal yang buruk tersebut di atas pada setiap saat, tetapi larangan itu lebih ditekan-kan lagi pada saat dia menjalankan ibadah puasa.</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, seperti yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu :</p>
<p style="text-align: justify;">“<em>Puasa itu adalah perisai. Oleh karena itu, jika datang hari puasa, maka janganlah salah seorang di antara kalian melakukan rafats (berbicara kotor atau hubungan badan/jima’) dan tidak juga membuat kegaduhan. Dan jika ada orang yang mencaci atau menyerangnya, maka hendaklah dia mengatakan, ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa</em>.’” [Shahiih al-Bukhari (III/24) dan Shahiih Muslim (no. 1151 (163]</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Hafizh Ibnu Hajar al-’Asqalani rahimahullah mengatakan,”….Secara lahiriah, telah muncul musykilah (masalah) bahwa kata mufa’alah menuntut adanya perbuatan dari dua belah pihak. Orang yang berpuasa tidak akan muncul darinya perbuatan yang dapat memancing reaksi, khususnya pertikaian. Sedangkan yang dimaksud dengan mufa’alah adalah kesiapan untuk menanggapinya. Artinya, jika seseorang siap untuk melakukan penyerangan terhadapnya atau caci-maki terhadapnya, maka hendaklah dia mengatakan, ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa.’ Jika dia mengatakan hal tersebut, maka dimungkinkan baginya untuk menahan diri darinya (pertikaian) …..Apakah boleh dikatakan dengan ucapan: ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa,’ kepada orang yang menyerangnya atau dengan mengatakannya sendiri? Dalam hal ini terdapat dua pendapat. Imam an-Nawawi mengatakan, ‘Menyatukan keduanya adalah lebih baik.’” [Fat-hul Baari IV/105]</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>4. Ghadhdhul Bashar (Menundukkan Pandangan)</strong><br />
Orang yang berpuasa haruslah menundukkan pandangannya dari apa-apa yang diharamkan oleh Allah Ta’ala. Karena sebagaimana anggota tubuh lainnya, mata juga mempunyai hak puasa, dan puasa mata adalah dengan menundukkannya dari hal-hal yang haram.</p>
<p style="text-align: justify;">Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;">“<em>Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Mahamengetahui apa yang mereka perbuat.’ Katakanlah kepada wanita yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangan mereka dan memelihara kemaluan mereka</em>.” [An-Nuur: 30-31]</p>
<p style="text-align: justify;">Bulan puasa merupakan lembaga pendidikan yang paling baik bagi orang-orang yang diuji dengan berbagai keinginan syahwat dan ketamakan terhadap pujian manusia. Dia akan menghindari semua itu jika dia memahami hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala serta mencermati hikmah-Nya serta kegigihannya untuk memperbaiki puasanya dan menggapai pahalanya. Pada bulan tersebut, dia akan melatih diri untuk menundukkan pandangan serta menahan anggota tubuhnya dari hal-hal yang buruk dan menyibukkan hati dengan memikirkan ayat-ayat Allah sekaligus mengingat nikmat-nikmat-Nya yang telah dikaruniakan kepadanya, seraya mengintrospeksi diri dalam mensyukurinya dengan mengalokasikannya sebaik-baiknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Adapun orang-orang yang suka melakukan perbuatan sia-sia yang melepaskan pandangan mereka pada hal-hal yang haram serta tidak menjaga kesucian bulan tersebut, maka mereka tidak akan mendapatkan sesuatu untuk diri mereka, kecuali kerugian dan penyesalan di dunia serta mendapatkan siksa yang sangat pedih di akhirat kelak.</p>
<p style="text-align: justify;">Benarlah ungkapan seorang penyair , di mana dia mengungkapkan:</p>
<p style="text-align: justify;">“Kapan saja engkau melepaskan pandangan ke semua mata,<br />
maka engkau akan dibuat lelah oleh pemandangan.<br />
Engkau akan mendapatkan yang semuanya engkau tidak mampu<br />
menahannya dan tidak juga dari sebagiannya engkau mampu bersabar.”</p>
<p style="text-align: justify;">[Badaa-i’ul Fawaa-id (II/271), Ibnul Qayyim]</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Di antara Adab Sunnah yang Dilakukan oleh Orang yang Berpuasa:</strong></p>
<p style="text-align: justify;">1. Memperbanyak bacaan al-Qur-an, berdzikir, berdo’a, shalat, serta shadaqah.<br />
2. Mengingat semua nikmat yang telah diberikan oleh Allah Ta’ala kepadanya, di mana Dia telah memperkenankan para hamba-Nya untuk menjalankan ibadah puasa serta memberikan kemudahan dalam menunaikannya. Berapa banyak orang yang berangan-angan agar bisa menjalankan puasa, tetapi tidak mudah baginya untuk menjalankannya.<br />
3. Menjaga semua anggota tubuh dari segala hal yang buruk, di mana seorang yang sedang berpuasa tidak akan mengerjakan apa yang dapat menodai puasanya. Anggota tubuh yang diperintahkan untuk selalu dijaga adalah lisan, mata, telinga, perut, kemaluan, tangan, dan kaki. Oleh karena itu, jika seorang muslim telah menjaga anggota tubuhnya dari segala macam bentuk dosa, maka puasanya akan sempurna dan pahalanya pun akan dilipatgandakan.<br />
4. Disunnahkan bagi orang yang berpuasa untuk memberikan makanan dan minuman untuk berbuka kepada seseorang atau lebih yang telah berpuasa meski hanya dengan satu buah tamr (kurma kering) atau seteguk air. Yang demikian itu merupakan shadaqah yang paling utama pada bulan Ramadhan.<br />
5. Disunnahkan bagi orang yang berpuasa untuk memakai siwak. Tidak ada perbedaan waktu antara awal siang dan di akhir siang -berdasarkan apa yang kami tarjih- karena siwak itu dapat membersihkan mulut sekaligus mendapatkan keridhaan Allah.</p>
<p style="text-align: justify;">Demikianlah sebagian dari adab puasa yang bersifat wajib dan sunnah yang harus dipegang dan dijadikan hiasan oleh orang yang berpuasa agar dia bisa benar-benar beruntung, pada hari di mana sebagian orang beruntung dan sebagian lainnya menga-lami kerugian.</p>
<p style="text-align: justify;">Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Orang-orang yang berpuasa itu terdiri dari dua tingkatan:</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pertama</strong>: Orang yang meninggalkan makan dan minum serta nafsu syahwatnya karena Allah Ta’ala dengan mengharapkan Surga sebagai gantinya dari sisi-Nya. Demikianlah perniagaan dan mu’amalah dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, di mana Dia tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang paling baik amal perbuatannya. Tidak akan merugi orang yang bermu’amalah dengan-Nya, tetapi justru dia akan mendapatkan keuntungan yang besar….</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kedua</strong>: Di antara orang yang berpuasa itu terdapat orang yang berpuasa di dunia dari segala sesuatu selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, dimana dia menjaga kepala dan semua yang ada padanya, perut dan semua yang dikandungnya, mengingat kematian, dan menghendaki akhirat maka dengan begitu dia meninggalkan perhiasan dunia. Inilah ‘Idul Fithrinya, hari pertemuan dengan Rabb-nya, dan kegembiraannya dengan melihat-Nya.” [Fii Aadaabish Shaum li Thaa-ifil Ma’aarif, karya Ibnu Rajab (hal. 185),  al-Muhallaa (VI/541), al-Hidaayah (I/129), I’laa-us Sunan (IX/146),  asy-Syarhush Shaghiir (II/228), Majmuu’ Fataawaa (VI/359), al-Mughni  (IV/432), Fat-hul Baari (IV/137) dan Nailul Authaar (IV/207).]</p>
<p style="text-align: justify;">[Disalin dari buku Meraih Puasa Sempurna, Diterjemahkan dari kitab Ash-Shiyaam, Ahkaam wa Aa-daab, karya Dr. Abdullah bin Muhammad bin Ahmad ath-Thayyar, Penerjemah Abdul Ghoffar EM, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir] <em>Courtesy of almanhaj.or.id</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suaraquran.com/adab-adab-sunnah-dalam-shiyam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>BEBERAPA MASALAH YANG BERKAITAN DENGAN  PUASA RAMADHAN</title>
		<link>http://suaraquran.com/beberapa-masalah-yang-berkaitan-dengan-puasa-ramadhan/</link>
		<comments>http://suaraquran.com/beberapa-masalah-yang-berkaitan-dengan-puasa-ramadhan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Aug 2010 03:01:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suaraquran</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[fiqh shiyam]]></category>
		<category><![CDATA[hukum seputar puasa]]></category>
		<category><![CDATA[masalah puasa]]></category>
		<category><![CDATA[puasa ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[suara quran]]></category>
		<category><![CDATA[suaraquran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suaraquran.com/?p=932</guid>
		<description><![CDATA[

NIAT

Wajibnya Berniat Puasa Sebelum Terbit Fajar Shadiq (Waktu Subuh) Ketika Puasa Wajib
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda: “Barangsiapa yang tidak berniat sebelum fajar untuk puasa maka tidak ada puasa baginya.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, Al Baihaqi. Sanadnya shahih)
Beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam juga bersabda: “Barangsiapa yang tidak berniat puasa pada malam harinya maka tidak ada puasa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: right;"><strong><a href="http://suaraquran.com/download/masail-shiyam.pdf" target="_blank"><img class="alignright size-full wp-image-936" title="pdf-logo" src="http://suaraquran.com/wp-content/uploads/2010/08/pdf-logo2.jpg" alt="" width="46" height="46" /></a></strong></p>
<p style="text-align: right;">
<p style="text-align: left;"><strong><a href="http://suaraquran.com/wp-content/uploads/2010/08/Romadlon-Mosque.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-943" title="Romadlon Mosque" src="http://suaraquran.com/wp-content/uploads/2010/08/Romadlon-Mosque-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>NIAT<br />
</strong></p>
<p><strong>Wajibnya Berniat Puasa Sebelum Terbit Fajar Shadiq (Waktu Subuh) Ketika Puasa Wajib</strong></p>
<p>Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda: <strong><em>“Barangsiapa yang tidak berniat sebelum fajar untuk puasa maka tidak ada puasa baginya.” </em></strong><em>(HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, Al Baihaqi. Sanadnya shahih)</em></p>
<p>Beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam juga bersabda: <strong><em>“Barangsiapa yang tidak berniat puasa pada malam harinya maka tidak ada puasa baginya.” </em></strong><em>(HR.An Nasa-i, AL baihaqi, Ibnu Hazm. Hadits shahih)</em></p>
<p>Kewajiban untuk berniat sejak malam itu (<em>sebelum terbit fajar shadiq</em>) khusus bagi puasa wajib. Bagaimana dengan puasa sunnah, maka disini niat untuk puasa sunnah bisa dilakukan setelah terbit fajar shadiq (pagi atau siang hari), karena Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam pernah mendatangi ‘Aisyah radhiallahu ‘anha (pada bulan lain) selain bulan Ramadhan, beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam berkata: <strong><em>“Apakah engkau mempunyai santapan siang? Kalau tidak ada aku berpuasa.” </em></strong><em>(HR. Muslim)</em><br />
<span id="more-932"></span><br />
<strong>WAKTU PUASA</strong></p>
<p>Waktu puasa adalah dari terbit fajar shadiq (waktu subuh) sampai terbenam matahari (waktu maghrib) berdasarkan firman Allah dan sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam:</p>
<p><strong>Benang Putih dan Benang Merah</strong></p>
<p><a title="ayat110.jpg" href="http://abuzubair.files.wordpress.com/2007/09/ayat110.jpg"></a></p>
<p>“<strong><em>Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” </em></strong><em>(QS. Al Baqarah :187)</em></p>
<p>Ketika turun ayat tersebut sebagian sahabat Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam senagaja mengambil ‘iqal (tali yang dipakai untuk mengikat onta), kemudian mereka letakkan dibawah bantal-bantal mereka, atau mereka ikatkan di kaki mereeka. Dan mereka terus makan dan minum hingga jelas terlihat kedua ‘iqal tersebut (membedakan antara yang putih dari yang hitam)</p>
<p>Dari ‘Adiy bin Hatim radhiallahu anhu berkaya: “Ketika turun ayat:”…<em>hingga terang bagimu benang putih dari benag hitam.”</em> Aku mengambil ‘iqal hitam digabungkan dengan ‘iqal putih, aku letakkan di bawah bantalku, aku terus melihatnya pada waktu malam hingga jelas bagiku (tampak yang putih dari yang hitam). Pagi harinya aku pergi menemui Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dan kuceritakan kepada beliau perbuatanku tersebut. Beliaupun bersabda: <strong><em>“Maksud ayat tersebut adalah hitamnya malam dan putihnya siang.” </em></strong><em>(HR. Bukhari dan Muslim)</em></p>
<p><strong>Kemudian Menyempurnakan Puasa Hingga Malam (Terbenam Matahari)</strong></p>
<p>Dari Umar radhiallahu ‘anhu berkata, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda: <strong><em>“Jika malam datang dari sini, siang menghilang dari sini, dan telah terbenam matahari, maka berbukalah orang yang puasa.” </em></strong><em>(HR. Bukhari dan Muslim)</em></p>
<p><strong>SAHUR</strong></p>
<p><strong>1. Definisi</strong></p>
<p>Sahur adalah makan pada akhir malam yang merupakan sunnah Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam. Ketika sahur hendaklah seseorang berniat melaksanakan perintah Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dan meniru perbuatannya sehingga sahurnya menjadi ibadah dan berniat pula agar sahur menjadikannya kuat ketika berpuasa sehingga mendapat pahala karenanya. <em>(Majelis Syahr Ramadhan, Syaikh Utsaimin 77-78)</em></p>
<p><strong>2. Hikmahnya</strong></p>
<p>Dari Amr bin ‘Ash radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:</p>
<p><a title="ayat29.jpg" href="http://abuzubair.files.wordpress.com/2007/09/ayat29.jpg"></a></p>
<p>“<strong><em>Pembeda antara puasa kita dengan puasanya Ahlul Kitab adalah makan sahur.” </em></strong><em>(HR. Muslim)</em></p>
<p><strong>3. Keutamaannya</strong></p>
<p><strong>a) Sahur adalah barokah</strong></p>
<p>Dari Abdullah bin Al Harits radhiallahu ‘anhu dari seorang sahabat Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam berkata: “Aku masuk menemui Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam ketika beliau maka sahur, lalu beliau bersabda: “<strong><em>Sesungguhnya makan sahur adalah barokah yang Allah berikan kepadamu maka janganlah kamu tinggalkan.” </em></strong><em>(HR. An Nasa-i dan Ahmad. Sanadnya shahih)</em></p>
<p>Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:</p>
<p><a title="ayat38.jpg" href="http://abuzubair.files.wordpress.com/2007/09/ayat38.jpg"></a></p>
<p>“<strong><em>Bersahurlah, karena sesungguhnya ada barokah padanya.” </em></strong><em>(Muttafaq ‘alaih)</em></p>
<p>Keberadaan sahur sebagai barokah sangatlah jelas, karena dengan makan sahur berarti mengikuti sunnah, menguatkan dalam puasa, menjadikan seseorang semangat untuk selalu puasa karena merasa ringan, dan makan sahur juga menyelisihi Ahlul Kitab karena mereka tidak melakukannya.</p>
<p><strong>b) Allah dan para Malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang sahur</strong></p>
<p>Boleh jadi barokah sahur terbesar adalah Allah meliputi orang-orang yang sahur dengan ampunan-Nya, memenuhi mereka dengan rahmat-Nya, malaikat-lmalaikat Allah memintakan ampunan bagi mereka, berdo’a kepada Allah agar memaafkan mereka, agar mereka termasuk orang-orang yang dibebaskan oleh Allah di bulan Ramadhan.</p>
<p>Dari Abu Said Al Khudri radhiallahu ‘anhu berkata, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:</p>
<p><a title="ayat46.jpg" href="http://abuzubair.files.wordpress.com/2007/09/ayat46.jpg"></a></p>
<p>”<strong><em>Sahur itu makanan yang barokah, janganlah kamu meninggalkannya walaupun hanya minum seteguk air, karena Allah dan para Malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang sahur.”</em></strong> <em>(HR.Ibnu Abi Syibah dan Ahmad)</em></p>
<p><strong>4. Mengakhirkan Sahur</strong></p>
<p>Disunnahkan mengakhirkan sahur sesaat sebelum fajar, karena Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dan Zaid bin Tsabit radhiallahu ‘anhu melakukan sahur dan ketika selesai makan sahur, Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bangkit untuk shalat subuh dan jarak (selang waktu) antara sahur dan masuknya shalat kira-kira lamanya seseorang membaca lima puluh ayat Al Qur’an.</p>
<p>Anas radhiallahu ‘anhu meriwayatkan dari Zaid bin Tsabit radhiallahu ‘anhu : “Kami makan sahur bersama Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, kemudian beliau shalat. Aku (Anas) bertanya:” Berapa lama jarak antara adzan (Subuh) dan sahur? Beliau (Zaid bin Tsabit) menjawab: “Kira-kira membaca lima puluh ayat Al Qur’an.” <em>(HR. Bukhari dan Muslim)</em></p>
<p>Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha bahwa Bilal mengumandangkan adzan di malam hari (adzan pertama), lalu Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:</p>
<p><a title="ayat54.jpg" href="http://abuzubair.files.wordpress.com/2007/09/ayat54.jpg"></a></p>
<p>“<strong><em>Makan dan minumlah hingga Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan adzan, karena ia tidak mengumandangkan adzan kecuali bila terbit fajar (adzan Subuh).” </em></strong><em>(HR. Bukhari)</em></p>
<p>Mengakhirkan makan sahur lebih mengenakkan bagi orang yang berpuasa dan lebih selamat dari tidur kembali sehingga bisa menyebabkan ketinggalan shalat subuh.</p>
<p><strong>BERBUKA</strong></p>
<p><strong>1. Kapan Orang yang Puasa Berbuka?</strong></p>
<p>Waktu berbuka puasa bagi orang yang puasa adalah ketika matahari telah terbenam. Hal ini berdasarkan hadits dari Umar radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:</p>
<p>“<strong><em>Jika malam datang dari sini, siang menghilang dari sini, dan telah terbenam matahari, maka berbukalah orang yang puasa.” </em></strong><em>(HR. Bukhari dan Muslim)</em></p>
<p><strong>2. Menyegerakan Puasa</strong></p>
<p>Amr bin Maimun Al Audiy berkata: “Para sahabat Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam adalah orang-orang yang paling bersegera dalam berbuka dan paling akhir dalam sahur.” <em>(Riwayat Abdur Razaq dan al Haitsami)</em></p>
<p>Dari Sahl bin Sa’ad radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:</p>
<p><a title="ayat65.jpg" href="http://abuzubair.files.wordpress.com/2007/09/ayat65.jpg"></a></p>
<p>“<strong><em>Manusia terus berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.”</em></strong><em> (HR. Bukhari dan Muslim)</em></p>
<p>Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:</p>
<p>“<strong><em>Agama ini akan senantiasa menang selama manusia menyegerakan berbuka, karena orang-orang Yahudi dan Nashrani mengakhirkannya.” </em></strong><em>(HR. Abu Dawud dan Ibnu Hibban. Sanadnya hasan)</em></p>
<p>Dari Sahl bin Sa’ad radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:</p>
<p>“<strong><em>Umatku akan senantiasa dalam sunnahku selama mereka tidak menunggu bintang ketika berbuka (puasa).” </em></strong><em>(HR. Ibnu Hibban, dg sanad shahih)</em></p>
<p><strong>3. Berbuka Dengan Apa?</strong></p>
<p>Disunnahkan agar berbuka dengan menggunakan ruthab (kurma basah/segar). Kalaupun tidak ada bisa menggunakan tamr (kurma kering), jika tidak ada bisa berbuka dengan beberapa teguk air.</p>
<p>Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata:</p>
<p><a title="ayat74.jpg" href="http://abuzubair.files.wordpress.com/2007/09/ayat74.jpg"></a></p>
<p>“Adalah Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam berbuka dengan beberapa butir ruthab (kurma segar) sebelum shalat (Maghrib), jika tidak ada ruthab maka berbuka dengan beberapa butir tamar (kurma kering), jika tidak ada tamar maka beliau minum dengan beberapa tegukan air.” <em>(HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Khuzaimah, At Tirmidzi. Sanadnya shahih)</em></p>
<p>Jika tidak ada ruthab, tamr, maupun air, maka beliau berbuka puasa dengan makanan atau minuman apa saja yang ada, asalkan halal. Jika tidak mendapatkan sesuatu yang bisa dimakan, maka beliau meniatkan berbuka dengan hati, namun tidak mengisap jari atau menghimpun air liur lalu menelannya, seperti yang dilakukan oleh sebagian orang awan.</p>
<p><strong>4. Yang Diucapkan Ketika Berbuka</strong></p>
<p>Dari Abdullah bin Amr bin Al ‘Ash radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda”</p>
<p>“<strong><em>Sesungguhnya orang yang puasa ketika berbuka memiliki do’a yang tidak akan ditolak.” </em></strong><em>(HR. Ibnu Majah, Al Hakim, Ibnu Sunni, Ath Thayasi. Shahih)</em></p>
<p>Do’a yang paling afdhol adalah do’a yang ma’tsur dari Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam. Seseorang juga diperbolehkan berdo’a apa saja yang ia sukai dari kebaikan dunia dan akhirat.</p>
<p><em>(Untuk do’a ketika berbuka puasa bisa di lihat pada blogs ana di kategori Do’a dan wirid)</em></p>
<p><strong>5. Memberi Makan Orang Yang Puasa</strong></p>
<p>Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:</p>
<p>“<strong><em>Barangsiapa memberi buka orang yang puasa, ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun.” </em></strong><em>(HR. Ahmad, At Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban, dishahihkan oleh At Tirmidzi)</em></p>
<p><em>(Untuk do’a2 yang berhubungan denganorang yg dberi makan kpd orang lain, do’a apabila berbuka di rumah orang lain bisa di lihat dib logs kategori Do’a dan wirid)</em></p>
<p><strong>Maraji’</strong>:</p>
<p>Kitab Kajian Ramadhan, penulis Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin</p>
<p>Kitab Fiqih Ramadhan, penulis Ustadz Abdullah Shalih al Hadromi, penerbit Majelis Taklim dan Dakwah Husnul Khatimah, Malang</p>
<p>sumber : abuzubair.net</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suaraquran.com/beberapa-masalah-yang-berkaitan-dengan-puasa-ramadhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

