1

Beberapa Masalah Penting Tentang Puasa Ramadhan


       Puasa Ramadhan adalah salah satu rukun dari rukun-rukun Islam, salah satu kewajiban dari perintah-perintah yang Allah wajibkan, dan telah diketahui tentang hal ini secara otomatis dalam ajaran agama Islam.

1. Definisi puasa menurut istilah

        Menurut Dr. Shalih Al-Fauzan definisi puasa adalah :

الإمْسَاكُ بِنِيَّةٍ عَنْ أَشْيَاءَ مَخْصُوْصَةٍ مِنْ أَكْلٍ وَ شُرْبٍ وَ جِمَاعٍ وَ غَيْر ذَلِكَ مِمَّا وَرَدَ بِهِ الشَّرْعُ وَ يَتْبَعُ ذَلِكَ الإِمْسَاكُ عَن الرَّفَثِ وَ الْفُسُوقِ

       “Menahan diri yang disertai niat ; dari beberapa hal yang khusus, seperti : makan, minum, jima’, dan hal-hal lain yang ada di dalam syari’at. Termasuk hal itu ; menahan diri dari ucapan kotor dan kefasikan.”

2. Orang yang wajib puasa Ramadhan

       Muslim – Mampu melaksanakan – Dewasa – Sehat – Muqim (bukan musafir).

Catatan tambahan :

  1. Orang kafir tidak diwajibkan puasa Ramadhan dan tidak sah
  2. Jika orang kafir tiba-tiba masuk Islam di pertengahan bulan Ramadhan ; dia wajib puasa di sisa hari bulan Ramadhan dan tidak wajib meng-qadha’ puasa yang tidak dia lakukan ketika masih kafir.
  3. Anak kecil tidak wajib puasa, dan puasa anak kecil yang memasuki usia ‘tamyiz‘ dianggap sah, meskipun tidak wajib.
  4. Orang gila tidak wajib puasa dan tidak sah ; karena tidak adanya niat.
  5. Orang yang sakit yang tidak sanggup puasa ; tidak wajib puasa. Begitu juga musafir.
  6. Orang yang sakit mengganti puasanya di hari lain ketika sudah tidak sakit. Sedangkan musafir mengganti puasa di hari lain ketika tidak safar

3. Orang yang junub ketika sahur

      Orang yang bangun tidur di waktu sahur dalam keadaan hadats besar ; sebaiknya memulai dengan sahur, dan menunda pelaksanaan mandi wajib setelah terbitnya fajar.

4. Salah satu bentuk kesalahan ketika sahur

Yaitu begadang di sebagian besar malam, kemudian makan sahur, dan tidur beberapa jam sebelum terbit fajar. Dari kebiasaan yang salah ini muncul beberapa dampak buruk :

  • Mereka memulai puasa sebelum waktunya.
  • Tidak shalat Subuh berjama’ah.
  • Menunda pelaksanaan shalat Subuh sampai terbitnya matahari.

5. Waktu niat puasa dan status orang yang tidak sempat sahur

            Syaikh Shalih Al-Fauzan berkata :

    “Harus meniatkan puasa wajib di malam hari. Dan seandainya dia niat puasa lalu terbangun dari tidurnya setelah terbit fajar ; dia cukup menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa, dan puasanya sah, sempurna, in syaa Allah.”

6. Buka puasa

            Dianjurkan menyegerakan buka puasa jika matahari benar-benar telah tenggelam. Kepastian tenggelamnya matahari bisa didapatkan dari :

Pertama, melihat langsung tenggelamnya matahari. Kedua, persangkaan kuat, dari pemberitahuan orang yang bisa dipercaya, melalui suara adzan atau selainnya.

Sebagian kesalahan ketika buka puasa

Sebagian orang ketika buka puasa sekaligus makan malam, dan tidak shalat Maghrib berjama’ah di masjid. Dengan melakukan hal itu berarti dia melakukan kesalahan yang besar, yaitu sengaja tidak shalat berjama’ah di masjid. Yang disyari’atkan adalah buka puasa, kemudian pergi ke masjid, kemudian makan malam setelah itu.

7. Hal-hal yang Merusak Puasa

  1. Pertama : Jima’ (hubungan suami istri)
  • Kewajiban orang puasa yang melakukan jima’ :
  1. Pertama, meng-qadha puasanya di hari lain.
  2. Kedua, membayar ‘kafarat’. Dengan urutan sebagai berikut :
  • Pertama, memerdekakan budak.
  • Kedua, jika tidak menemukan budak ; membayar uang seharga budak.
  • Ketiga, puasa dua bulan berturut-turut.
  • Keempat, jika tidak sanggup karena udzur ; memberi makan 60 orang miskin. Setiap satu orang ; satu sho’ makanan pokok di negaranya.

Kedua : Dengan sengaja mengeluarkan air mani

Jika orang yang puasa sengaja mengeluarkan air mani dengan cara apapun ; misalnya dengan ‘taqbil‘ (ciuman), atau ‘lams‘ (sentuhan), atau ‘istimna‘ (onani), atau ‘tikrarun nazhar‘ (pandangan yang berulang-ulang) ; puasanya batal, dan dia wajib meng-qadha’ di hari lain, tanpa membayar ‘kafarah’.

 Adapun orang yang mimpi basah ; tidak ada kewajiban apa-apa untuk dirinya, puasanya sah, karena hal itu bukan dari pilihannya sendiri, akan tetapi dia tetap wajib mandi junub.

Ketiga : Dengan sengaja makan atau minum.

Beberapa hal yang hukumnya disamakan dengan ‘makan atau minum’

  • Memasukkan air ke lambung melalui hidung
  • Memasukkan zat makanan ke dalam tubuh melalui urat
  • Tranfusi darah
  • Suntikan zat makanan
  • Mengeluarkan darah dari tubuh melalui ‘bekam’ atau cara lain
  • Mendonorkan darah untuk yang membutuhkan

Pengecualian :

 –  Mengeluarkan sedikit darah untuk diagnosa penyakit ; tidak membatalkan puasa

 –  Keluar darah tanpa kesengajaan ; tidak membatalkan puasa

Empat : Muntah dengan sengaja

8. Hal-hal yang Sebaiknya Dihindari Ketika Puasa

  • Memakai celak atau menggunakan tetes mata.
  • Tidak terlalu dalam ketika memasukkan air ke hidung saat wudhu.
  • Suntikan selain bahan makanan.
  • Beberapa hal ini tidak membatalkan puasa, akan tetapi sebaiknya dihindari untuk menjaga amalan puasa

9.Hukum Fiqih Berkaitan dengan Qadha’ Puasa (Mengganti puasa)

  1. Qadha’ puasa hukumnya wajib bagi yang tidak puasa Ramadhan karena sebab yang boleh atau sebab yang tidak boleh.
  2. Dianjurkan segera melunasi hutang puasa dan berturut-turut.
  3. Boleh tidak segera melunasi hutang puasa ; karena waktu untuk melunasi sangat lama (muwassa’).
  4. Boleh tidak segera melunasi hutang puasa dengan syarat ; bertekad kuat melunasinya.
  5. Jika sisa bulan Sya’ban hanya cukup untuk melunasi hutang, ulama sepakat ; wajib melunasi hutang puasa secara berturut-turut.
  6. Orang yang belum melunasi hutang puasa sampai datang Ramadhan berikutnya :
    • Pertama : Jika ada ‘udzur (alasan yang dibenarkan syari’at) ; dia melaksanakan puasa yang saat itu dan setelahnya melunasi hutang puasa.
    • Kedua : Jika tidak ada ‘udzur ; selain melunasi hutang puasa tahun lalu, dia juga harus memberi makan orang miskin sebanyak setengah sho’ makanan pokok negaranya.
  7. Orang yang mempunyai hutang puasa sebelum masuk Ramadhan tahun berikutnya ; tidak ada kewajiban apapun, karena menurut syari’at dia boleh mengakhirkan melunasi hutang puasa di bulan-bulan yang dia meninggal di dalamnya.
  8. Jika seseorang mempunyai hutang puasa dan dia meninggal setelah datang Ramadhan tahun berikutnya ; perinciannya sebagai berikut :
    • Jika sikapnya menunda pelunasan hutang puasa itu karena ‘udzur syar’i, misalnya sakit atau safar ; maka tidak ada kewajiban apapun.
    • Jika bukan karena ‘udzur syar’i ; wajib dibayarkan kafarat dari harta warisannya, berupa makanan satu orang miskin untuk satu hari yang ditinggalkan.

10. Kewajiban bagi yang tidak puasa karena usia tua atau sakit

Orang yang tidak mampu puasa, dan tidak mampu melunasi hutang puasa di hari lain seperti ; orang yang tua renta dan pikun atau sakit yang tidak diharapkan kesembuhannya ; Allah memberi keringanan kepadanya untuk mengganti puasa yang dia tinggalkan berupa : Memberi makan satu orang miskin dengan ukuran setengah sho’ ; untuk satu hari.

Fajri NS, Lc

Sumber :

Kitab Al-Mulakhas Al-Fiqhi, karya Dr. Shalih Al-Fauzan

 




RIYA´ MERUPAKAN SYIRIK KECIL 

RIYA´ MERUPAKAN SYIRIK KECIL

Alhamdulillah, wassholatu wassalamu ala rosulillah, wa ba´du ;

Sesungguhnya riya´ merupakan bagian dari perbuatan syirik kecil yang sering melintas dalam lubuk hati manusia, terkadang sulit lagi sedikit bagi seseorang untuk selamat dari nya.

Maka perlu bagi kita untuk mengetahui apakakah hakikat dari riya itu, sejauh mana bahaya riya terhadap suatu amalan dan bagaimanakah cara kita untuk selamat dari nya?

Riya´ adalah perbuatan syirik yang sangat lembut seperti seseorang menampakkan sesuatu ibadah yang ia lakukan kepada manusia untuk mendapatkan sekelumit dari dunia yaitu ia memperlihatkan ibadah yang ia kerjakan agar dilihat manusia hingga ia mendapatkan pujian.

Riya´ berasal dari kata ru´yah yaitu sesuatu yang dilihat dan dipandang, sebagaimana  Sum´ah berasal dari kata sima´ dan istima´ yaitu didengar sehingga apa yang ia lakukan agar dilihat dan didengar oleh para manusia.

Sehingga ia mendapatkan sanjungan dan pujian dari amal perbuatan nya tatkala didunia, ia berusaha agar disanjung atau dipuji sehingga sesungguh nya amal tersebut bukan murni ikhlas karena Allah Ta´ala , sehingga amal nya menjadi hancur tidak berbekas.

Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata, bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam :  Allah

 

: ((قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنْ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ))؛ رواه مسلم.

Allah Taba´roka wa Ta´ala berfirman :  Sesungguhnya Aku paling tidak membutuhkan tandingan dari sekutu sekutu, barang siapa yang beramal kemudian mensekutukan dengan selainku sungguh aku tinggalkan ia bersama sekutu nya.  (HR. Muslim)

Diriwayatkan dari sahabat Abu Said ibn abi Fadholah radhiyallahu anhu berkata bahwa Rosulullahi shollallahu alihi wa sallambersabda :

((إِذَا جَمَعَ اللَّهُ النَّاسَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لِيَوْمٍ لا رَيْبَ فِيهِ، نَادَى مُنَادٍ: مَنْ كَانَ أَشْرَكَ فِي عَمَلٍ عَمِلَهُ لِلَّهِ أَحَدًا، فَلْيَطْلُبْ ثَوَابَهُ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ، فَإِنَّ اللَّهَ أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنْ الشِّرْكِ))؛ رواه الترمذي وابن ماجه.

 

Apabila Allah Ta´ala mengumpulkan para makhluk dihari kiyamat yaitu hari yang tidak diragukan akan kejadian nya, maka diserukan oleh malaikat yang menyeru dengan lantang :
barang siapa yang mensekutukan Allah Ta´ala dalam amal perbuatan nya kepada makhluk, maka hendak nya ia meminta pahala kepada nya jangan kepada Allah Ta´ala, dikarenakan Allah Ta´ala tidak membutuhkan sekutu sebagai tandingan . (HR. At Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Maka ibadah apa saja yang seharusnya diperuntukkan kepada Allah Ta´ala namun ia berbuat riya´ atau mencari pandangan kepada selain Allah Ta´ala maka pahala nya akan sirna.

Disebutkan dalam hadist : Bahwasanya seseorang sahabat datang kepada Nabi shallallahu  alaihi wa sallam bertanya, wahai Rasulullah, bagaimana seseorang berperang untuk mendapatkan pahala dan agar dipuji, apa yang ia akan dapatkan? Maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Ia tidak akan mendapatkan apapun.

Maka ditanyakan berulang hingga tiga kali maka dijawab: Ia tidak akan mendapatkan apapun.

Kemudian Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

((إِنَّ اللَّهَ لا يَقْبَلُ مِنْ الْعَمَلِ إِلَّا مَا كَانَ لَهُ خَالِصًا وَابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ))؛ رواه الترمذي وأبو داود.

Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak akan menerima suatu amalan kecuali jika ia ikhlas dan hanya mencari wajah Allah Ta’ala. (HR. At Tirmidzi dan Abu Dawud)

Riya’ akan mengakibatkan akhir yang buruk, dikarenakan Allah Ta’ala akan menyingkap niyat buruk bagi orang orang yang riya’ dihadapan para makhluk semua nya.

Sebagaimana diriwayatkan oleh sahabat Jundub ibnu Abdillah radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

((مَن سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ به، ومَن راءَى راءَى اللَّهُ بهِ))

Barang siapa yang beramal agar didengar amal perbuatan nya maka Allah Ta’ala akan jadikan amal nya didengar manusia dan barang siapa yang beramal agar dilihat amal perbuatan nya maka Allah Ta’ala akan jadikan amal nya dilihat manusia.  (HR. Muslim)

Arti dari Hadits diatas adalah barang siapa yang menampakkan amal perbuatan nya untuk manusia riya’ agar dilihat, maka Allah Ta’ala akan tunjukkan niyat buruk nya pada hari  kiyamat dihadapan para makhluk semua, yang sebelumnya orang orang mengira bahwa ia telah melakukan kebaikan tatkala didunia.

Dan Al Imam Syufyan At Tsauri rahimahullahu  membaca firman Allah Ta’ala:

﴿وَبَدَا لَهُمْ مِنَ اللَّهِ مَا لَمْ يَكُونُوا يَحْتَسِبُونَ ﴾ [الزمر: 47]،

 

“Dan jelaslah bagi mereka azab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan.” (Q.S.39:47)

Kemudian ia berkata: Celaka bagi orang yang riya’ , celaka bagi orang yang riya’ ,celaka bagi orang yang riya’ , ini ayat bagi mereka dan inilah kisah mereka.

Dan tidak hanya hancur pahala orang orang yang riya’ dan niyat buruk mereka akan di ungkap dihadapan para makhluk pada hari kiyamat namun tempat kembali mereka adalah neraka, bukankah kalian mengetahui siapakah orang yang paling pertama diseret ke dalam neraka pada hari kiyamat?

Mereka adalah orang orang islam yang mengerjakan amalan yang  sangat mulia namun mereka riya’.

Diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

((أَنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ يَنْزِلُ إِلَى الْعِبَادِ لِيَقْضِيَ بَيْنَهُمْ، وَكُلُّ أُمَّةٍ جَاثِيَةٌ، فَأَوَّلُ مَنْ يَدْعُو بِهِ رَجُلٌ جَمَعَ الْقُرْآنَ، وَرَجُلٌ يَقْتَتِلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَرَجُلٌ كَثِيرُ الْمَالِ، فَيَقُولُ اللَّهُ لِلْقَارِئِ: أَلَمْ أُعَلِّمْكَ مَا أَنْزَلْتُ عَلَى رَسُولِي؟ قَالَ: بَلَى يَا رَبِّ، قَالَ: فَمَاذَا عَمِلْتَ فِيمَا عُلِّمْتَ؟ قَالَ: كُنْتُ أَقُومُ بِهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ، فَيَقُولُ اللَّهُ لَهُ: كَذَبْتَ، وَتَقُولُ لَهُ الْمَلائِكَةُ كَذَبْتَ، وَيَقُولُ اللَّهُ: بَلْ أَرَدْتَ أَنْ يُقَالَ إِنَّ فُلانًا قَارِئٌ، فَقَدْ قِيلَ ذَاكَ، وَيُؤْتَى بِصَاحِبِ الْمَالِ، فَيَقُولُ اللَّهُ لَهُ: أَلَمْ أُوَسِّعْ عَلَيْكَ حَتَّى لَمْ أَدَعْكَ تَحْتَاجُ إِلَى أَحَدٍ؟ قَالَ: بَلَى يَا رَبِّ، قَالَ: فَمَاذَا عَمِلْتَ فِيمَا آتَيْتُكَ؟ قَالَ: كُنْتُ أَصِلُ الرَّحِمَ وَأَتَصَدَّقُ، فَيَقُولُ اللَّهُ لَهُ: كَذَبْتَ، وَتَقُولُ لَهُ الْمَلائِكَةُ: كَذَبْتَ، وَيَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى: بَلْ أَرَدْتَ أَنْ يُقَالَ: فُلانٌ جَوَادٌ، فَقَدْ قِيلَ ذَاكَ، وَيُؤْتَى بِالَّذِي قُتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقُولُ اللَّهُ لَهُ: فِي مَاذَا قُتِلْتَ؟ فَيَقُولُ: أُمِرْتُ بِالْجِهَادِ فِي سَبِيلِكَ فَقَاتَلْتُ حَتَّى قُتِلْتُ، فَيَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى لَهُ: كَذَبْتَ، وَتَقُولُ لَهُ الْمَلائِكَةُ: كَذَبْتَ وَيَقُولُ اللَّهُ: بَلْ أَرَدْتَ أَنْ يُقَالَ فُلانٌ جَرِيءٌ فَقَدْ قِيلَ ذَاكَ))، ثُمَّ ضَرَبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى رُكْبَتِي، فَقَالَ: ((يَا أَبَا هُرَيْرَةَ، أُولَئِكَ الثَّلاثَةُ أَوَّلُ خَلْقِ اللَّهِ تُسَعَّرُ بِهِمْ النَّارُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ))؛ رواه الترمذي

Sesungguhnya pada hari kiamat Allah Ta’ala  akan turun kepada hamba-hamba-Nya untuk menetapkan keputusan di antara mereka. Setiap umat datang dengan membungkuk. Orang pertama yang dipanggil adalah orang yang menghafal Alquran, orang yang berjihad di jalan Allah, dan orang yang memiliki banyak harta.
Allah Ta’ala lalu bertanya kepada orang yang membaca atau menghafal Alquran: Bukankah Aku telah mengajarkan kepadamu apa yang telah Aku turunkan kepada utusan-Ku? Orang itu menjawab: Benar wahai Allah.
Allah Ta’ala kembali bertanya: Lantas apa yang telah kamu lakukan terhadap apa yang telah kamu ketahui? Orang itu menjawab: Aku bangun di waktu malam dan siang hari membaca ayat ayat Mu.
Allah Ta’ala berfirman kepadanya: Kamu telah berdusta. Malaikat berkata: Kamu telah berdusta.
Allah Ta’ala berfirman: Kamu hanya ingin dikatakan bahwa kamu adalah seorang pembaca Alquran yang baik. Dan sebutan itu sudah engkau dapatkan.
Lalu dihadapkan kepada Allah Ta’ala orang yang diberikan harta. Allah Ta’ala berfirman kepadanya: Bukankah Aku telah melapangkan rezeki bagimu hingga Aku tidak membiarkan dirimu mengemis kepada orang lain? Orang itu menjawab: Benar, wahai Allah.
Allah Ta’ala bertanya: Apa yang telah kamu lakukan terhadap apa yang telah Aku anugerahkan kepadamu? Orang itu menjawab: Aku menyambung silaturahim dan bersedekah untuk Mu.
Allah Ta’ala berfirman kepadanya: Kamu telah berdusta. Malaikat berkata kepadanya: Kamu telah berdusta.
Allah Ta’ala berfirman: Akan tetapi dirimu hanya ingin dikatakan bahwa engkau (dirimu) adalah orang yang dermawan. Sebutan itu pun telah  engkau dapatkan.
Lalu dihadapkan orang yang terbunuh di jalan Allah. Allah lalu bertanya kepadanya: Karena apa dirimu terbunuh? Orang itu menjawab: Aku diperintahkan untuk berjihad di jalan-Mu. Aku lalu berperang hingga terbunuh.
Allah Ta’ala berfirman kepadanya: Kamu telah berdusta. Malaikat berkata kepadanya: Kamu telah berdusta.
Allah Ta’ala berkata kepadanya: Akan tetapi kamu hanya ingin dikatakan bahwa engkau (dirimu) adalah orang yang pemberani. Sebutan itu telah engkau dapatkan.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam lalu memukul lututku dan bersabda: Wahai Abu Hurairah, mereka bertiga adalah makhluk Allah pertama yang merasakan api neraka pada hari kiamat nanti. (HR. At Tirmidzi)
Bukankah kalian melihat bagaimana orang yang riya diseret pertama kali kedalam neraka pada hari kiyamat?

Oleh karena itu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memberikan peringatan kepada umat ini dari terjerumus ke dalam perbuatan riya’ dan menjelaskan bahwa riya’ lebih berbahaya daripada fitnah Masiihid Dajjal.

Diriwayatkan oleh sahabat Abu Said Al Hudriyi radhiyallahu anhu bahwa suatu hari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam keluar bersama kami memperbincangkan tentang fitnah Al Masiih Ad Dajjal kemudian beliau bersabda:

((أَلا أُخْبِرُكُمْ بِمَا هُوَ أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ عِنْدِي مِنْ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ؟))، قَالَ: قُلْنَا: بَلَى، فَقَالَ: ((الشِّرْكُ الْخَفِيُّ، أَنْ يَقُومَ الرَّجُلُ يُصَلِّي فَيُزَيِّنُ صَلاتَهُ لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ رَجُلٍ))؛ رواه ابن ماجه.

Maukah kalian aku kabarkan tentang sesuatu yang aku lebih takutkan bagi kalian daripada fitnah Al Masiih Ad Dajjal?
Mereka menjawab: ia wahai Rasulullah….
Maka Beliau shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Syirik yang lembut, seperti seseorang mengerjakan sholat kemudian ia membaguskan sholat nya karena ia sedang dipandang oleh orang lain.  (HR Ibnu Majah)
Bentuk perbuatan riya’ yang terjadi pada masyarakat sangat banyak sekali, diantara manusia ada yang bersedekah pada jalan jalan kebaikan dengan niyat bukan hanya sekedar menjadi kudwah atau teladan dan contoh bagi saudara saudaranya yang kaya, namun tujuan nya agar namanya  terkenal dan dikenang sebagai donatur yang dermawan, sebahagian yang lain berbicara tentang amal perbuatan nya yang sholeh kepada manusia, seperti menyebutkan beberapa kali ia telah berhaji atau beberapa kali ia telah menunaikan ibadah umroh sedangkan ia tidak ditanya tentang perkara tersebut atau berapa banyak ia telah membantu para manusia dengan harta dan pangkatnya yang semua itu ia hanya mencari kedudukan di sisi manusia, atau agar ia terkenal sebagai muhsinin. Karena pada dasarnya tidak ada keperluan bagi kita untuk menceritakan amal ibadah kita kepada orang lain yang tidak kuasa untuk mendatangkan manfaat atau mudhorot, tidak kuasa atas kehidupan atau kematian atau kebangkitan….

Adapun orang orang yang soleh memiliki kebiasaan untuk mengerjakan amalan saleh dan tidak berharap untuk manusia balasan atau ucapan syukur, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ ٱللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَآءً وَلَا شُكُورًا ﴿٩﴾

Sesungguhnya kami memberikan makan kepada kalian hanyalah untuk mengharapkan keridoan Allah Ta’ala, kami tidak menghendaki balasan dari kalian tidak pula ucapan terima kasih. (Q.S 76 : 10)

Dan perbuatan riya’ merupakan sifat orang orang munafik yang Allah Ta’ala berfirman tentang mereka:

 

وَإِذَا قَامُوٓا۟ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ قَامُوا۟ كُسَالَىٰ يُرَآءُونَ ٱلنَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا ﴿١٤٢﴾

 

” Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.”  (Q.S.4:142)

Maka seyogyanya bagi kita untuk berhati-hati dengan jenis syirik ini dan hendaklah kita merasa takut dan kawatir terhadap amal amal kita dari penyakit riya’ ini serta senantiasa terus bertanya kepada jiwa kita: Apa yang engkau kehendaki dari mengerjakan amalan ini?

Apa yang engkau inginkan dari ucapan ini?

Apa yang menjadi tujuan dari melakukan ketaatan ini?

Karena sesungguhnya riya’ merupakan penyakit yang sangat berbahaya yang menjadi pintu syetan untuk menggoda orang Shalih, bahkan Nabi shallallahu alaihi wa sallam merasa takut dan kawatir terhadap para sahabat nya yang mereka merupakan sosok manusia yang paling bertakwa dari kalangan umat ini, bahkan lebih kawatir daripada fitnah Al Masih Ad Dajjal sebagaimana terdahulu hadist nya.

Dahulu para salaf senantiasa berusaha keras untuk mengusir godaan riya’ dari dalam hatinya dengan cara menyembunyikan amal ibadah mereka, dan mengerjakan amalan ketaatan tanpa diperlihatkan kepada siapa pun.

Namun di jumpai pula sebahagian orang karena takut nya terhadap riya’ menggiring mereka untuk meninggalkan amal, ia ingin membaca Al Qur’an di masjid namun syetan datang menggoda dan berkata kepada nya: Kamu berbuat riya’ jangan membaca Al Qur’an di hadapan manusia,  hingga ia meninggalkan dari membaca Al Qur’an.

Ini merupakan tipu daya syetan dan bisikan nya, karena syetan menghendaki agar manusia meninggalkan amal ibadah kepada Allah Ta’ala hingga amal kebaikan mereka sedikit, maka jika sekiranya kita menjumpai bisikan semacam ini hendaklah berlindung kepada Allah Ta’ala dan meneruskan amal ketaatan tersebut, dengan berlindung kepada Allah Ta’ala akan sirna bisikan bisikan tersebut dari hati kalian dari kawatir yang berlebihan dari riya’.

Bahkan terkadang di sunnahkan untuk mempelihatkan amal untuk suatu maslahat, seperti agar menjadi kudwah atau teladan dalam kebaikan, sebagai contoh seseorang bersedekah terang terangan di hadapan manusia agar mendorong orang orang  kaya lainnya andil bersedekah, maka dari sini diperbolehkan menampakkan suatu amalan jika terdapat maslahat dan tidak kawatir dari riya’ sehingga barangsiapa yang mencontohkan amalan kebaikan dan di ikuti oleh orang lain maka bagi nya mendapatkan pahala orang orang yang mengikuti nya hingga hari kiamat.

Singkat kata bahwasanya riya’ yang merupakan syirik kecil yaitu menghendaki suatu amalan ketaatan kepada selain wajah Allah Ta’ala dan engkau mengsekutukan Allah Ta’ala dengan lainnya dalam niyat dan ini merupakan perbuatan yang di murkai Allah Ta’ala dan akan diberikan hukuman serta akan menjadi sirna amal perbuatan nya tidak berbekas sedikit pun dan menjadi sia sia amal ibadah yang dikerjakan nya.

Riya’ merupakan pembatal suatu amalan yang akan menghancurkan amal yang ia riya’ didalamnya, maka lihatlah orang yang pandai membaca Al Qur’an yang ia rajin sholat malam bagaimana hancur tidak berbekas amalan nya dan tidak mendapatkan pahala sedikit pun.

Bagaimana jalan selamat agar amalan kita menjadi amal yang murni untuk wajah Allah Ta’ala tanda terjangkit penyakit riya’ atau terjerumus ke dalam kesombongan?

Disana terdapat tiga kunci keselamatan yaitu:

1) Hendaknya selalu melakukan muroqobah kepada Allah Ta’ala atau senantiasa merasa diawasi Allah Ta’ala dalam segala langkah nya, dan selalu meniatkan segala amal untuk Allah Ta’ala hanya mengharapkan pahala Allah Ta’ala dan tidak berharap suatu apapun dari makhluk termasuk pujian atau sanjungan, dan harus yakin bahwa makhluk tidak mampu memberikan kontribusi manfaat pada hari kiyamat kelak dan tidak akan memeberikan hasanah kebaikan satu pun kepada diri mu, sehingga mereka tidak akan pernah peduli mengetahui amal perbuatan mu atau tidak mengetahui, dahulu ketika di dunia memberikan pujian atau sanjungan kepada mu atau tidak.

Dan sungguh telah diriwayatkan dalam hadits shohih, bahwasanya pada hari kiyamat Allah Ta’ala berfirman kepada orang orang yang berbuat riya’ : Pergilah kalian kepada yang kalian harapkan riya’ pada nya, apakah kalian mendapatkan balasan pahala dari nya??

2) Senantiasa berusaha untuk menyembunyikan amal ibadah, sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam:

((من استطاع منكم أن يكونَ له خَبيءٌ من عملٍ صالحٍ فلْيَفْعلْ))

Barang siapa diantara kalian yang mampu untuk menyembunyikan suatu amalan saleh maka lakukanlah.

Dan ketahuilah bahwa semakin tersembunyi suatu amal shaleh tersebut maka semakin agung pahala nya, sebagaimana engkau ketahui bahwa barangsiapa yang mengerjakan sholat sunnah di suatu tempat tersembunyi yang tidak dilihat seseorang akan mendapatkan pahala duapuluh lima derajat berlipat ganda daripada seseorang yang mengerjakan sholat dihadapan manusia.

Sebagaimana diriwayatkan oleh sahabat Syuhaib Ar Rummy radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

 

 ((صلاة الرجل تطوُّعًا حيث لا يراه الناس تعدل صلاته على أعين الناس خمسًا وعشرين))؛ رواه أبو يعلى.

Sholat sunnah seseorang yang dikerjakan tidak terlihat oleh para manusia berlipat ganda duapuluh lima derajat jika dibandingkan sholat nya dilihat manusia. ( HR. Abu Ya’la)

Dan dahu para ahli hikmah tatkala ditanyakan kepada mereka, siapakah orang yang ikhlas itu ?

Maka dijawab: Orang yang ikhlas adalah orang yang menyembunyikan suatu amalan saleh mereka sebagaimana menyembunyikan keburukan mereka.

3) Agar senantiasa memperbanyak melantunkan doa :

اللهمَّ إني أعوذُ بك أنْ أُشرِكَ بك وأنا أعلمُ، وأستغفرُك لما لا أعلمُ.

Allahumma inni a’udzubika an usyrika bika ana a’lamu wa astagfiruka lima lagi a’lamu
Wahai ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari mensekutukan mu sedangkan aku mengetahuinya dan aku memohon ampunan mu jika diriku tidak mengetahui nya.
Ringkas kata yang bisa kita simpulkan dari uraian di atas bahwasanya kita wajib berhati-hati dan waspada terhadap bahaya riya’ yang terselubung, dikarenakan hal tersebut dapat meruntuhkan amal dan sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk berusaha sekeras mungkin untuk ikhlas beramal untuk Allah Ta’ala semata dan berupaya untuk menyembunyikan amal semampu mungkin dan tidak lupa agar senantiasa memanjatkan do’a yang diajarkan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam diatas dalam rangka berlindung dari perbuatan riya’.

Sumber :

رابط الموضوع: https://www.alukah.net/sharia/0/134761/#ixzz7AxTJ8hDx

Disampaikan Pada Kajian Bada Zuhur Sabtu 27 November 2021

Ustadz Rochmad Supriyadi, Lc Hafidzahullohu

Download PDF

[sdm_download id=”2925″ fancy=”0″]




Sujud Syukur dan Sujud Tilawah

Sujud Syukur dan Sujud Tilawah

 

Pembahasan Pertama : Sujud Syukur

Nikmat Allah kepada kita tidak pernah berhenti, dan tidak terhingga jumlahnya. Tugas kita sebagai hamba- Nya adalah mensyukuri nikmat-nikmat tersebut. Allah berfirman :

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا

“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.” (Ibrahim : 34)

Salah satu cara mensyukuri nikmat Allah adalah dengan melakukan sujud syukur. Sebagaimana yang pernah Nabi praktekkan.

 

Dalil-dalil Sujud Syukur

Dari Abu Bakrah, beliau berkata :

كَانَ إذَا جَاءَهُ خَبَرٌ يَسُرُّهُ خَرَّ سَاجِدًا لِلَّهِ

“Setiap kali ada suatu berita yang membuat Nabi bergembira; beliau sujud untuk Allah.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, Tirmidzi)

Dari ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata :“Nabi pernah sujud, dan memperlama sujudnya, kemudian mengangkat kepalanya, dan bersabda :

إنَّ جِبْرِيلَ أَتَانِي، فَبَشَّرَنِي، فَسَجَدْتُ لِلَّهِ شُكْرًا

“Sesungguhnya malaikat Jibril datang kepadaku dan memberi kabar gembira kepadaku, maka dari itu aku sujud untuk Allah, karena bersyukur.” (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Imam Al-Hakim)

Di dalam riwayat yang lain terdapat penjelasan bahwa kabar gembira yang disampaikan malaikat Jibril adalah tentang pahala besar yang didapatkan bagi umat Nabi Muhammad yang bershalawat kepadanya.

Di kesempatan yang lainnya, Nabi pernah sujud syukur karena sebab lain.

Dari Al-Barra’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu :

“Suatu ketika Nabi mengutus ‘Ali bin Abi Thalib ke Yaman. Setelah beberapa lama, ‘Ali menulis surat tentang penduduk Yaman yang masuk Islam. Ketika Nabi membaca surat tersebut, beliau sujud, karena bersyukur kepada Allah Ta’ala atas hal itu.” (HR. Al-Baihaqi)

Begitu juga sahabat Nabi mempraktekkan sujud sahwi. Salah satunya adalah Ka’ab bin Malik; yaitu ketika Allah menurunkan satu ayat yang menjelaskan bahwa Allah menerima taubatnya.

Imam Shan’ani di dalam kitab Subulus Salam mengatakan bahwa ini membuktikan; sujud syukur adalah sesuatu yang biasa dilakukan oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhum.

Berdasarkan hadits-hadits ini Imam Syafi’i dan Ahmad berpendapat dianjurkannya sujud syukur.

 

Kriteria Nikmat yang Dianjurkan Sujud Syukur

Melihat penjelasan para ahli fiqih di dalam kitab-kitab fiqih; ternyata tidak semua jenis kenikmatan kita dianjurkan sujud syukur.

Imam Nawawi rahimahullah di dalam kitab Minhajut Thalibin berkata :

وَ تُسَنُّ لِهُجُوْمِ نِعْمَةٍ أَوْ انْدِفَاعِ نِقْمَةٍ أَوْ رُؤْيَةِ مُبْتَلَى أَوْ عَاصٍ

“Sujud syukur dianjurkan karena suatu nikmat yang besar yang datang tiba-tiba atau karena tertolaknya suatu musibah atau ketika melihat orang yang diuji Allah dengan ‘kekurangan’ pada dirinya atau karena melihat pelaku maksiat …”

Di dalam kitab Kanzur Raghibin, ada penjelasan tambahan :

Contoh kenikmatan yang besar dan datang tiba-tiba adalah ketika mengetahui istrinya hamil, atau ditemukannya orang yang sebelumnya hilang. Sedangkan contoh dari tertolaknya musibah adalah selamat dari reruntuhan bangunan atau selamat dari tenggelam.

Adapun yang dimaksud dengan sujud syukur ketika melihat orang yang mempunyai ‘kekurangan’ pada dirinya adalah kita bersyukur karena Allah menyelamatkan kita dari ‘kekurangan’ tersebut.

 

Pembahasan Kedua : Sujud Tilawah

Dalil-dalil Sujud Tilawah

Imam Muslim meriwayatkan hadits dengan sanadnya, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan :“Kami sujud bersama Nabi ketika beliau membaca surat ‘Al-Insyiqaq’ dan surat ‘Al-‘Alaq’.”

Ini adalah salah satu hadits yang menjadi dasar disyari’atkannya sujud tilawah. Yaitu sujud ketika membaca atau mendengar ayat-ayat tertentu yang ada makna ‘sujud’ di dalamnya. Yang ayat-ayat ini diistilahkan dengan ‘ayat sajadah’.

Hukum Sujud Tilawah

Ulama berbeda pendapat tentang hukumnya. Menurut mayoritas ulama sujud tilawah hukumnya sunnah. Di antara dalilnya adalah perkataan ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari:

يا أيها الناس إنا لم نؤمر بالسجود فمن سجد فقد أصاب ومن لم يسجد فلا إثم عليه

   “Wahai manusia, kami tidak diwajibkan untuk sujud tilawah. Siapa yang menghendaki sujud tilawah maka dia benar, dan siapa yang tidak sujud maka dia tidak berdosa.”

Selain itu, ulama juga berbeda pendapat tentang surat-surat apa saja yang ada di dalamya ada ayat ‘sajadah’.

Surat-surat yang Ada ‘Ayat Sajadah’ nya

Di dalam kitab Al-Iqna’ Fi Halli Alfazhi Abi Syuja’ disebutkan ; ada 14 ayat-ayat sajadah di Al-Qur’an :

Al-Hajj ayat 18 dan 77. Surat An-Najm ayat 62, Al-Insyiqaq ayat 21, Al-‘Alaq ayat 19, Al-A’raf ayat 206, Ar-Ra’d ayat 15, An-Nahl ayat 49, Al-Isra’ ayat 107, Maryam ayat 58, Al-Furqan ayat 60, An-Naml ayat 25, As-Sajdah ayat 15, dan Fushilatayat 37.

 

Siapa saja yang dianjurkan sujud tilawah ?

Menurut mayoritas ulama yang dianjurkan sujud tilawah adalah orang yang membaca dan mendengar ayat-ayat sajadah.

Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma mengatakan : “Suatu ketika Rasulullah membacakan Al-Qur’an kepada kami. Ketika melewati ayat sajadah, beliau sujud dan kami juga sujud.” (HR. Abu Dawud dan Al-Baihaqi)

 

Apakah disyaratkan ‘suci’ ketika sujud tilawah ?

Menurut mayoritas ulama; yang menjadi syarat-syarat sah shalat juga berlaku pada sujud tilawah. Sehingga sebelum sujud tilawah harus wudhu terlebih dahulu. Begitu juga harus menghadap kiblat. Dan juga harus menutup aurat.

Satu-satunya sahabat Nabi Muhammad yang berpendapat bolehnya sujud tilawah meskipun tidak wudhu; adalah Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma.

 

Dzikir yang dibaca ketika sujud tilawah

Syaikh Sayyid Sabiq di dalam kitab Fiqhus Sunnah mengatakan bahwa dzikir saat sujud tilawah yang shahih dari Nabi adalah riwayat dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata : “Rasulullah ketika sujud tilawah membaca :

سَجَدَ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ خَلَقَهُ وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ بِحَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ فَتَبَارَكَ اللهُ أَحْسَنُ الخَالِقِيْنَ

Hadits ini riwayat Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa-i. Dan di dalam riwayat Imam Al-Hakimdan dishahihkan Imam Tirmidzi ; ada penjelasan bahwa dzikir ini dibaca sebanyak tiga kali.

Fajri NS, Lc

Sumber :

  1. Kitab Al-Iqna’
  2. Kitab Subulus Salam
  3. Kitab Fiqhus Sunnah

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 




Islam (Definisi, Keistimewaan, Pokok Ajarannya)

Islam

(Definisi, Keistimewaan, Pokok Ajarannya)

 

  1. Definisi Islam

Islam adalah ajaran agama para Rasul; dari Rasul pertama, sampai yang terakhir, yaitu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Para Rasul menyeru umat manusia untuk menyembah Tuhan yang satu, yaitu Allah ‘Azza wa Jalla.

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“ Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu …”(An-Nahl : 36)

Dilihat dari ajaran tauhid ini, ada ulama yang mengatakan bahwa Islam adalah :

“Menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah dengan cara mentauhidkan-Nya, tunduk kepada- Nya dengan melakukan ketaatan, dan menjauhi kemusyrikan dan orang-orang yang melakukannya.”

Akan tetapi jika dilihat dari ‘pondasi-pondasi’ ajarannya, Islam juga bisa didefinisikan dengan :

“Bersaksi bahwa hanya Allah yang berhak disembah, dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Menegakkan shalat, membayar zakat, puasa Ramadhan, dan haji bagi yang sanggup melakukannya.”

Lima hal ini kemudian dikenal dengan istilah ‘Rukun Islam’.

Dan jika ditinjau dari kelengkapan ajaran Islam yang mencakup semua sisi kehidupan. Islam juga bisa didefinisikan dengan :

“Kumpulan ajaran dari Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad, yang berupa aqidah, akhlak, ibadah, mu’amalah, dan berita-berita yang disampaikan Nabi kepada umat manusia.”

  1. Keistimewaan Islam

Bersumber dari Allah

Sumber dan yang menggariskan ajaran Islam adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ajaran tersebut adalah wahyu yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Dengan keistimewaan ini maka syariat Islam tidak bisa disamakan dengan jalan hidup atau undang-undang buatan manusia. Karena sumbernya adalah manusia, sedangkan syariat Islam sumbernya adalah ‘Tuhannya manusia’.

Dan karena Islam bersumber dari Allah yang Maha Sempurna, maka demikian juga ajaran Islam, sempurna dan tidak ada cacat sedikitpun di dalamnya.

Menyeluruh

Menyeluruhnya ajaran Islam tidak menerima pengecualian sama sekali. Dalam arti mencakup semua sisi kehidupan. Maka tidak dibenarkan seorang muslim berkata: “Dalam masalah ini aku mempunyai prinsip sendiri, dan tidak mau terikat dengan ajaran Islam.”

Sekilas tentang menyeluruhnya ajaran Islam, sebagai berikut :

Hukum Islam terbagi menjadi empat kelompok besar : Pertama, hukum Islam berkaitan dengan akidah. Kedua, hukum Islam berkaitan dengan akhlak. Ketiga, hukum Islam berkaitan dengan hal-hal yang mengatur hubungan antara hamba dengan Allah. Keempat, hukum Islam berkaitan dengan hal-hal yang mengatur hubungan antara hamba dengan sesamanya.

Poin keempat ini paling luas pembahasannya, sehingga dibagi lagi ke dalam beberapa bagian :

  1. Hukum Islam berkaitan dengan keluarga.
  2. Berkaitan dengan muamalah, seperti jual beli, sewa menyewa dan lain-lain.
  3. Berkaitan dengan kehakiman.
  4. Hukum Islam berkaitan dengan hak-hak non muslim yang hidup di wilayah muslim.
  5. Berkaitan dengan hubungan negara Islam dengan negara-negara selainnya. Dalam hal perdamaian atau sebaliknya.
  6. Berkaitan dengan tata negara.
  7. Berkaitan dengan pengaturan ekonomi negara.
  8. Berkaitan dengan pidana.

 

Balasan dan Hukuman

Ajaran Islam bukan hanya berisi tentang bimbingan dan arahan. Akan tetapi ajaran Islam juga membahas tentang ‘balasan’ atau ‘hukuman’, dari setiap perbuatan yang dilakukan seorang hamba Allah di dunia.

Pada asalnya balasan atau hukuman ini berlaku di akherat. Akan tetapi karena beberapa sebab yang mendesak, Islam menetapkan beberapa balasan di dunia. Sebab-sebab tersebut diantaranya:

Keseimbangan dan kenyamanan dalam hidup di masyarakat, hubungan antar individu dan jaminan hak setiap manusia, dan lain-lain. Karena sebab-sebab inilah Islam menetapkan balasan-balasan atau hukuman-hukuman yang diberlakukan di dunia.

Pada asalnya hukuman di dunia tidak menghalangi adanya hukuman di akherat, bagi orang yang bermaksiat. Kecuali jika dia iringi maksiatnya itu dengan taubat yang sebenar-benarnya.

Dan dengan mengetahui adanya hukuman akherat ini seorang muslim terdorong untuk tunduk dan patuh terhadap hukum-hukum syari’at, baik ketika bersama orang lain maupun ketika sendirian, karena takut siksa Allah di akherat.

Ajaran Islam ‘Universal’ Untuk Seluruh Umat Manusia di Semua Zaman dan Tempat

Allah berfirman :

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (Saba’ : 28)

Karena ‘universal’ nya Islam ini maka Islam dan ajarannya bisa mewujudkan kemaslahatan umat manusia. Islam juga sanggup memenuhi apa yang menjadi kebutuhan mereka. Hal ini berdasarkan beberapa bukti :

Pertama, Islam sangat perhatian dengan ‘maslahat’ atau kebaikan dalam ajaran-ajarannya.

Kedua, Islam mempunyai prinsip-prinsip dasar dan kaidah-kaidah yang mengandung hukum-hukum yang memungkinkan diterapkan umat manusia di setiap zaman dan tempat. Di antara contoh prinsip dasar ini adalah : ‘Prinsip Musyawarah’, ‘Prinsip Persamaan’, ‘Prinsip Keadilan’, dan ‘Prinsip Tidak Boleh Membahayakan Orang lain’.

Ketiga, Islam mempunyai sumber-sumber hukum yang dengannya menjadikan ajaran-ajaran Islam ‘fleksibel’ dan bisa menyesuaikan perkembangan zaman. Sumber hukum Islam ada yang merupakan sumber pokok, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dan ada sumber hukum yang merupakan percabangan dari keduanya. Misalnya dalil yang diistilahkan dengan ‘ijma’ (kesepakatan ulama), atau sarana untuk ‘ijtihad’, misalnya ‘qiyas’.

Maka dengan sumber-sumber hukum ini Islam mampu menentukan hukum dan sikap untuk kejadian-kejadian yang ada di setiap zamannya, yang sebelumnya tidak ada di zaman Nabi.

Islam Mendorong Untuk Menjadi yang Terbaik dan Realistis

Termasuk keistimewaan ajaran Islam adalah ajarannya yang mendorong seorang muslim untuk menjadi yang ‘terbaik’. Akan tetapi di sisi lain Islam juga ‘realistis’, dalam arti tetap memperhatikan kenyataan yang ada pada diri manusia. Seorang muslim dituntut meraih tingkatan ‘paling sempurna’ dalam setiap amalan, sesuai dengan kemampuan yang dia miliki. Islam mengajarkan untuk bersikap ‘seimbang’, yaitu tidak melampaui batas dan tidak meremehkan.

  1. Pokok Ajaran Islam

Para ulama Islam dari zaman ke zaman menegaskan bahwa inti ajaran Islam adalah mendatangkan kebaikan dan menolak keburukan.

Imam Al-‘Izz bin ‘Abdus Salam berkata :

إِنَّ الشَّرِيْعَةَ كُلُّهَا مَصَالِحٌ؛ إِمَّا دَرْءُ مَفَاسِد، أَوْ جَلْبُ مَصَالِح

“Sesungguhnya syariat Islam semuanya adalah kebaikan; adakalanya menolak keburukan-keburukan atau mendatangkan kebaikan-kebaikan.”

Allah berfirman :

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (Al-Anbiya’ : 107)

Syaikh ‘Abdul Karim Zaidan mengataan bahwa ayat ini adalah salah satu dalil yang menunjukkan inti ajaran Islam yaitu mendatangkan maslahat dan menolak keburukan. Inilah yang dimaksud ‘rahmat’ untuk semester alam, yang karenanya Nabi Muhammad diutus.

Kemudian ulama mengatakan bahwa ‘maslahat’ ada tiga macam ; pertama, maslahat yang bersifat ‘darurat’, dalam arti harus dan wajib ada masalahat ini. Kedua, maslahat yang bersifat ‘kebutuhan’, yang diistilahkan dengan ‘maslahah hajiyyah’. Dan yang ketiga, maslahat yang sifatnya ‘tambahan’, yang diistilahkan dengan ‘maslahah tahsiniyyah’.

Semua ajaran Islam ada untuk mewujudkan tiga maslahat ini. Dengan demikian kebahagiaan manusia bisa terealisasi di dunia maupun di akherat.

 

Fajri Nur Setyawan, Lc

Sumber :

Kitab ‘Ushul Ad-Da’wah’; Dr. ‘Abdul Karim Zaidan

 

 

 

 

 




SABAR DAN  BERMURAH HATI

SABAR DAN  BERMURAH HATI

 

Diriwayatkan oleh Abu Ya’la dalam Musnad-nya, dan Ibnu Abi Syaibah dalam Mushonaf-nya, dari Sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhuma:

أنّ النَّبيّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- سُئِل: أيُّ الإيمان أفضل؟ قال: الصَّبر والسَّماحة

Bahwasanya nabi sallallahu alaihi wa sallam suatu hari ditanya tentang Iman yang bagaimanakah yang paling utama? Maka beliau shallallahu alaihi wa sallam bersabda : ” Sabar dan murah hati “.

Hadist ini adalah hadits yang derajatnya hasan yang sah riwayatnya dari nabi shallallahu alaihi wa sallam dan memiliki jalur riwayat yang lain yang menguatkan.

Diantaranya yang diriwayatkan oleh sahabat Ubadah ibnu Shomith radhiyallahu ‘anhu yang dibawakan oleh Imam Ahmad dalam Musnad nya no : 22717.

Diantaranya yang diriwayatkan oleh sahabat Amrin ibnu Absah radhiyallahu ‘anhu yang tercantum dalam kitab Musnad Imam Ahmad no : 19435.

Diantaranya pula yang diriwayatkan oleh sahabat Qotadah Al-Laitsy radhiyallahu ‘anhu yang dibawakan oleh Imam Al-Hakim dalam kitab Mustadrak nya : 3 / 626.

Tentu sebagian dari kita bertanya-tanya:  Mengapa sabar dan murah hati memiliki kedudukan yang tinggi dari perkara iman dan begitu istimewa dalam cakupan agama. ..?

Jawabannya adalah: Bahwasanya sabar dan murah hati adalah perangai jiwa manusia yang sangat dibutuhkan dalam seluruh sendi – sendi agama dan segenap maslahat yang berkaitan dengan amalan atau perbuatan.

Maka sesungguhnya tidak dapat seseorang meninggalkan sabar dan murah hati dalam segala urusan, sehingga dibutuhkan dalam semua perkara yang bersangkutan dengan perkara agama.

Oleh karena itu Al-Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata :

وهـذا من أجمع الكَلام وأعظمه بُرهانًا وأوعبه لمقامات الإيمان من أوّلها إلى آخرها؛ فإنَّ النَّفس يُراد منها شيئان:

* بذْل ما أُمِرت به وإعطاؤه، فالحامل عليه السَّماحة.

* وترك ما نُهيت عنه والبُعد منه فالحامل عليه الصَّبر

“Dan ini merupakan ungkapan yang paling sederhana lagi memiliki makna yang dalam yang sangat agung, yang sangat terang dan luas dalam cakupan agama dari pertama hingga paling terakhir, dikarenakan jiwa manusia dituntut dua perkara, yaitu :

  • Berusaha menunaikan sesuatu yang diperintahkan sehingga membutuhkan untuk bermurah hati agar mampu melaksanakan.
  • Meninggalkan sesuatu yang dilarang dan berusaha untuk menjauhi nya, maka ini membutuhkan kesabaran.

وقد سُئل الحسن البصري -رحمه الله تعالى- وهو أحد روَّاة هـذا الحديث قيل له: ما الصَّبر وما السَّماحة؟

قال: ((الصبر عن معصية الله، والسماحة بأداء فرائض الله عز وجل)) رواه أبو نعيم في الحلية (2/156(

Al-Imam Al – Hasan Al-Basri rahimahullah – salah satu perawi hadist ini – pernah ditanya tentang arti : sabar dan murah hati.. .?

Maka beliau menjawab : “Sabar dari tergiur untuk bermaksiat kepada Allah Ta’ala, dan murah hati tatkala menjalankan kewajiban yang Allah Ta’ala fardhukan “. (HR. Abu Nuaim dalam Al-Hilyah 2 / 156).

Jika kita merenungkan tentang hadits yang agung ini dan kandungan-nya yang sangat agung, maka sesungguhnya hadits ini mencakup seluruh perkara agama semuanya, dikarenakan seorang mukmin senantiasa diperintahkan untuk melakukan perbuatan ketaatan dan ibadah yang beraneka ragam dan ini membutuhkan untuk bermurah hati. Dan asal kata murah hati adalah mudah, semangat dan tekun, jika hati seseorang sedemikian rupa keadaannya maka niscaya ia akan tunduk dan patuh serta mampu merealisasikan segala perintah dan tidak membantah atau menolak.

Dan jiwa manusia juga diperintahkan untuk menjauhi dan meninggalkan segala larangan dan bentuk – bentuk maksiat, sehingga ia membutuhkan kepada kesabaran.

Dan arti sabar adalah mencegah serta  menahan diri, jika jiwa ini tidak mampu mencegah dan menahan diri maksiat  maka niscaya ia akan terjerumus dan terjebak dari apa yang telah Allah Ta’ala larang.

وبهذا يُعلم أنَّ من لا صبر عنده لا يستطيع أن يقاوم، ومن لا سماحة لديه لا يستطيع أن يقوم.

Dengan demikian maka diketahui bahwasanya orang-orang yang tidak memiliki kesabaran maka ia tidak mampu untuk menahan diri, dan barangsiapa yang tidak bermurah hati maka ia tidak akan mampu melaksanakan tugas dan perintah.

نعم من لا صبر عنده لا يستطيع أن يقاوم النَّفس من رعونتها عند حلول البلاء، ولا يستطيع أن يقاوم النَّفس من انفلاتها عند دواعي الشَّهوات والأهواء.

Memang benar, barangsiapa yang tidak memiliki kesabaran maka ia tidak mampu untuk menahan diri tatkala dihadapkan kepada ujian dan cobaan, dan tidak dapat membentengi diri ketika syahwat dan hawa nafsu bergejolak.

ومن كان لا سماحة لديه لا يستطيع أن يقوم؛ لأنّ نفسه غير السمحة لا تنهض للقيام بالأوامر والاستجابة لداعي الطَّاعات، فإذا دُعيت نفسه إلى طاعة شحَّت، وإذا أُمرت بفضيلة تأبَّت، وبهذا يكون من المحرُومين.

Dan demikian juga jika seseorang tidak bermurah hati maka ia tidak dapat membentengi diri, karena jiwanya tidak memiliki kelonggaran sehingga tidak mampu untuk melakukan suatu perintah ketaatan dan memenuhi panggilan kebajikan, jika ia diajak berbuat taat maka ia akan berat, dan jika diperintahkan untuk perkara yang memiliki keutamaan niscaya ia akan meronta, sehingga ia tergolong sebagai orang-orang yang terharamkan kebajikan.

فمن لا صبر عنده ولا سماحة لا يتأتى له النُّهوض بمصالحه والقيام بأعماله والامتناع عمَّا ينبغي عليه الامتناع منه.

Maka barangsiapa yang tidak memiliki kesabaran dan murah hati maka ia tidak akan bangkit untuk menggapai kebaikan dan menunaikan amalan amalan, dan menghindari apa yang menjadi larangan bagi jiwanya.

فما أحوجنا إلى أن نكون من أهل الصّبر والسّماحة لتنهض نفوسنا قيامًا بطاعة الله جلَّ وعلا، ولتمتنع نفوسنا عمَّا نُهيت عنه من المحارم والآثام، والتَّوفيق بيد الله وحده لا شريك له، فنسأله سبحانه ونلجأ إليه وحده متوسِّلين إليه بأسمائه الحُسنى وصفاته العُليا أن يمنَّ علينا بهـذا الإيمان العظيم: الصّبر والسّماحة.

Maka alangkah butuhnya diri kita untuk menjadi golongan orang-orang yang sabar dan murah hati sehingga kita mampu untuk menegakkan segala perintah ketaatan kepada Allah Ta’ala dan menjauhi segala bentuk larangan dan dosa, dan sesungguhnya hidayah taufik semata-mata di tangan Allah Ta’ala dan tiada sekutu bagi-Nya, maka kita sepantasnya memohon dan berharap kepada Allah Ta’ala dengan bertawasul melalui nama-nama Allah Yang Indah dan sifat-sifat-Nya Yang Agung, agar kita diberikan limpahan iman, sabar dan murah hati.

 

Asy-Syaikh Prof.DR Abdurrozak Al-Badr hafidhohullah Ta’ala.

Alih Bahasa : Ust. Rochmad Supriyadi,  Lc.




Informasi Penerimaan Santri Baru (PSB) Pondok Pesantren Al Ukhuwah Sukoharjo – TP. 2021/2022

PROGRAM PENDIDIKAN
**Raudhatul Athfal (RA)
• Setingkat TK, Non Asrama
Madrasah Salafiyah Ula (MSU)/ Fullday
• Setingkat SD, Asrama
• Terakreditasi A BAN PAUD/PNF Tahun 2018
Madrasah Salafiyah Wustha (MSW)
• Setingkat SMP
• Terakreditasi A BAN PAUD/PNF Tahun 2018
• Wajib Asrama
Takhashus Bahasa Arab (TBA)
• Persiapan Bahasa Arab 1 Tahun
• Bagi Lulusan SMP Umum
• Wajib Asrama
Madrasah Aliyah (MA)
• Setingkat SMA
• Terakreditasi A BAN S/M
• 3 Tahun Belajar
• Khidmah 1 Tahun
• Wajib Asrama
I’dad Du’at (ID)
• Kaderisasi Dai (Khushus Putra)
• 3 Tahun Belajar
• 1 Tahun Khidmah,
• Asrama/ Non Asrama
I’dad Muhaffizhin/at (IM Putra/i)
• Kaderisasi Guru Hafalan Al Quran Putra/i
• 2 Tahun Belajar
• 1 Tahun Khidmah
• Wajib Asrama

SYARAT PENDAFTARAN

  1. Mengisi Formulir Pendaftaran di www.alukhuwah.com
  2. Membayar Biaya Pendaftaran
    • RA, MSU Non Asrama, ID, IM : Rp. 100.000,-
    • MSU Asrama, MSW, TBA, MA : Rp. 300.000,-
  3. Sanggup mengumpulkan berkas persyaratan fisik, setelah dinyatakan diterima (langsung, atau dikirim).
  4. Syarat Khusus Calon Santri
    a. MSW, TBA dan ID : Lancar Membaca Al Quran
    b. IM Putra dan Putri : Lancar Membaca Al Quran, Hafal Minimal 1 Juz, Usia Minimal 17 Tahun, Belum Menikah.
    c. Madrasah Aliyah : Lancar Bahasa Arab (Membaca, Menulis, Mendengar dan Berbicara)

PENDAFTARAN ONLINE

  1. Mengisi Formulir Pendaftaran di www.alukhuwah.com
  2. Mengirim Biaya Pendaftaran (Menunggu Konfirmasi)
  3. Test/ Seleksi Secara Online Sesuai jadwal.
  4. Hasil Test akan diumumkan di Ukhuwah

SELEKSI ONLINE
• Test Seleksi dilakukan secara online dari rumah masing-masing.
• Materi, jadwal dan mekanisme pelaksaan Test Seleksi akan diinformasikan menyusul.

DAFTAR ULANG

  1. Membayar Biaya Daftar Uang.
  2. Menyerahkan (Bisa Kirim via Pos):
    • Photo Copy Ijazah/ Rapor 4 Semester Terakhir.
    • Photo Copy Akte Kelahiran (2 lembar).
    • Pas Photo 3 x 4 Berwarna (2 lembar).
    • Photo Copy Kartu Keluarga (KK) 2 lembar
    • Copy KTP Orang Tua 2 lembar.
    • Surat Pindah (Bagi Santri Pindahan).

SYAHRIYYAH
Biaya Pendidikan Per Bulan (Pilihan)
Raudhatul Athfal (RA): Rp. 100.000,-
MSU Non Asrama: Rp.. 250.000,- | Rp. 300.000,- | Rp. 350.000,- | Lebih
MSU Asrama, MSW, TBA, MA *): Rp. 850.000,- | Rp. 1.000.000,- | Rp. 1.100.000,- | Lebih
I’dad Du’at (ID) dan IM *): Rp. 300.000,- | Lebih

*) Untuk Syahriyah Santri MSU Asrama, MSW, TBA, MA, I’dad Du’at dan IM sudah termasuk Uang Makan, SPP Bulanan (Biaya Pendidikan, Uang Asrama, Kesehatan Ringan dan Londry (khusus untuk MSU)..

INFORMASI
Kantor – (0271) 590 448 – Telkom
Ust. Abu Yunus – wa.me/6281390335665 – Simpati
Ust. Arif Nurrohim – wa.me/6285229075177 – As
Abu Layla Supry – wa.me/6285642394904 – IM3




Nasehat Untuk Yang Shalatnya Cepat

[A] – Tergesa-gesa Adalah Salah Satu Sifat yang
Tidak Baik

Allah
Ta‘ala berfirman:

(( خُلِقَ اْلإِنسَانُ مِنْ عَجَلٍ سَأُورِيكُمْ ءَايَاتِي فَلاَ
تَسْتَعْجِلُونَ ))

“Manusia
telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa. Kelak akan Aku perIihatkan kepadamu
tanda-tanda azab-Ku. Maka, janganlah kamu minta kepada-Ku mendatangkannya
dengan segera!”
[QS. Al Anbiyaa’: 37]

Betapa banyak urusan duniawi terbengkalai karena sifat ini, betapa
sering kecelakaan di jalan raya sebabnya adalah tergesa-gesa, betapa banyak
tugas yang tidak terselesaikan lantaran tergesa-gesa dan masih banyak lagi dari
urusan-urusan duniawi lainnya yang terbengkalai.

Jika kita mengakui betapa besar kerugian yang menimpa orang yang
tergesa-gesa dalam urusan duniawi, maka bagaimana sekiranya dia tergesa-gesa
dalam melaksanakan urusan-urusan agamanya, seperti shalat?

Tentu lebih besar kerugian yang dia dapatkan. Dia memang shalat,
hanya saja dia shalat dengan cepat dan tergesa-gesa.

[B]- Perintah untuk Mengulangi Shalatnya

Dari
Abu Hurairah radhiyallahuanhu:

“Suatu
hari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam masuk masjid. Lalu,
seseorang masuk masjid dan shalat, kemudian mendatangi Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam
, lantas mengucapkan salam kepada beliau shallallahu
‘alaihi wasallam
.

Maka,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab salamnya, lalu bersabda,
 ‘Kembali dan shalatah, karena
sesugguhnya kamu belum shalat!’

Lalu,
orang tadi kembali dan shalat sebagaimana sebelumnya, kemudian kembali kepada
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan memberi salam kepada beliau shallallahu
‘alaihi wasallam
.

Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya, ‘Alaikassalam.’

Kemudian
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Kembalilah dan shalatlah,
karena sesungguhnya engkau belum shalat!’

Hingga
orang tadi melakukannya tiga kali, lalu berkata: ‘Demi (Allah) yang mengutusmu
dengan (membawa) kebenaran, aku tidak bisa shalat yang lebih baik dari ini,
maka dari itu ajari aku!’

Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Jika engkau hendak shalat,
maka bertakbirlah; kemudian baca surat dari Al Qur-an yang mudah yang kamu
hafal; kemudian ruku’-lah, hingga kamu tenang dalam posisi ruku’; kemudian
angkat (kepalamu), hingga kamu tenang dalam posisi berdiri; kemudian sujud-lah,
hingga kamu tenang dalam posisi sujud; kemudian duduklah, hingga kamu tenang
dalam posisi duduk; kemudian lakukan seperti ini dalam shalatmu semuanya.’
.”[HR.
Abu Dawud, no. 856]

Hadits
ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Al Bukhari, Muslim, Ibnu Majah, At Tirmidzy
dan An Nasaa-i.

Dalam kitab Aunul Ma’bud penjabaran dari Kitab Sunan Abu Dawud
halaman 426 disebutkan:

“Dengan
hadits ini diambil satu dalil akan wajibnya ‘tuma’ninah’ (tenang) pada
semua rukun shalat dan dengan (pendapat) inilah jumhur ulama (mayoritas ulama)
berpendapat.”

Bahkan,
dalam Kitab At Taqrib, salah satu kitab fiqh yang terkenal di kalangan ‘Syafi’iyyah’
disebutkan:

“Dan
rukun-rukun shalat ada 18 rukun, (yaitu): (1) Niat; (2) Berdiri, jika mampu;
(3) Takbiratul ihram; (4) Membaca Al Fatihah dan ‘Bismillahirrahmanirrahim’
termasuk ayat dari Surat Al Fatihah; (5) Ruku’; (6) Tuma’ninah (tenang) saat
ruku’; (7) Mengangkat kepala setelah ruku’ dan i’tidal; (8) Tuma’ninah  saat i’tidal; (9) Sujud; (10) Tuma’ninah
saat sujud; (11) Duduk antara dua sujud; (13) Tuma’ninah saat duduk
antara dua sujud; (14) Duduk terakhir; (15) Tasyahhud dan shalawat kepada Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam
saat duduk terakhir; (16) Salam yang pertama; (17) Niat
keluar dari shalat; (18) Tertib (urut) dalam melaksanakan seluruh rukun,
sebagaimana yang telah disebutkan.”

[C] -Shalat Cepat Adalah Shalatnya Orang
Munafik

Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Itu adalah shalatnya orang munafik, ia duduk-duduk mengintai
matahari, hingga ketika matahari berada di atas dua tanduk setan dia berdiri
shalat dan melakukannya dengan cepat sebanyak 4 rakaat, tidak mengingat Allah
di dalamnya, kecuali sedikit sekali.”
[HR. Muslim]

[D] – Shalat Cepat Mengakibatkan Tidak Khusyu’

Sebagian para ulama terdahulu menjelaskan, bahwa khusyu’
dalam shalat artinya (اَلسُّكُنُ فِيْهَا) ‘as sukunu fihaa’, yaitu tenang di dalam shalat. Khusyu’
tidak hanya dalam hati, tapi juga di badan. Maka orang yang khusyu’,
adalah ‘orang yang tenang hati dan anggota badannya ketika shalat’. Dengan
kata lain, orang yang khusyu’ adalah ‘orang yang mampu menghadirkan
hatinya ketika shalat’
. Yang dengan hadirnya hati, maka anggota badanpun
tenang. [Taudhihul Ahkam (1/453)]

Tentu orang yang cepat shalatnya tidak bisa meraih kekhusyu’an,
sebagaimana mereka yang mendambakan Surga Firdaus. Karena khusyu’ ternyata
identik dengan ketenangan. Bahkan, khusyu’ adalah ruh-nya shalat.

Dalam
Kitab Mukhtashar Minhajul Qashidin disebutkan:

“Shalat
tanpa khusyu’ dan tanpa hadirnya hati (konsentrasi), seperti tubuh yang telah
menjadi mayat, tidak ada ruh di dalamnya.”

[E] -Shalat Cepat Menggambarkan Tidak Beradab
di Hadapan Allah

Perlu diketahui, bahwa orang yang shalat pada hakekatnya dia sedang
berdiri di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam
bersabda:

“Ketika salah seorang diantara kamu shalat, sesungguhnya
dia sedang bermunajat dengan Rabbnya, atau Rabbnya diantara dirinya dan kiblat…”
[HR. Al Bukhari, Kitabush Shalah, Bulughul Maram, no.
193]

Jika di hadapan orang yang kita hormati saja kita menjaga kesopanan
dan ketenangan dalam ucapan maupun perbuatan, maka di hadapan Allah lebih pantas
untuk tenang dalam ucapan maupun gerakan. Karena yang seperti ini menunjukkan
adab dan hormat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, semua
perbuatan yang menunjukkan ketidakhormatan saat shalat terlarang.

Dari
Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu, beliau berkata:

أَنَّهُ – صلى الله عليه وسلم- نَهَى أَنْ يُصَلِّىَ
الرَّجُلُ مُخْتَصِرًا

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam melarang seseorang shalat mukhtashiran (tangan diletakkan di pinggang).”
[HR. Al Bukhari dan Muslim]

Para ulama mengatakan, bahwa perbuatan seperti ini dilarang, karena
di dalamnya terdapat unsur kesombongan dan juga menyerupai orang Yahudi. Sedangkan
ketika shalat, kita menghadap kepada Allah Yang Maha Mulia, sehingga
kita dilarang berlagak sombong di hadapan-Nya. Sehingga kita mengetahui, bahwa
ketika shalat, wajib menampakkan ketundukan dan kerendahan diri kita kepada
Allah Subhanahu wa Ta’ala. [Taudhihul Ahkam (1/455)]

Imam
Ahmad rahimahullah pernah ditanya, apa makna sedekap ketika shalat?

Beliau
rahimahullah menjawab:

ذِلٌّ
بَيْنَ يَدَيِّ اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ

“Merendahkan
diri di hadapan Allah Yang Maha Mulia dan Maha Perkasa.” [Kitab Mawa’izh Al Imam
Ahmad bin Hanbal, hal. 55]

[F] – Shalat Cepat Mengakibatkan Tidak Bisa
Memahami Bacaan Shalat Serta Menghayatinya

Memahami bacaan shalat, baik surat, doa, maupun dzikir yang dibaca
ketika shalat merupakan perkara yang membantu untuk khusyu’ dalam
shalat. Orang yang cepat shalatnya dapat dipastikan tidak bisa memahami dan
menghayati bacaan shalat. Dan tidak memahami bacaan shalat termasuk salah satu
bentuk shalatnya orang munafik. Allah Ta’ala berfirman:

(( إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ
وَإِذَاقَامُوا إِلَى الصَّلاَةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَآءُونَ النَّاسَ
وَلاَيَذْكُرُونَ اللهَ إِلاَّ قَلِيلاً ))

“Dan
apabila mereka (orang-orang munafik) berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan
malas. Mereka bermaksud riya’ (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah
mereka mengingat Allah, kecuali sedikit sekali.”
[QS.
An Nisaa, 142]

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

“Maksudnya,
mereka tidak khusyu’ dalam shalatnya, tidak memahami apa yang mereka ucapkan
(dari bacaan-bacaan shalat), bahkan mereka lalai dalam shalatnya serta tidak
serius. Dan mereka berpaling (tidak berminat) terhadap kebaikan yang dijanjikan
kepada mereka.”

[G] – Alasan Orang yang Shalatnya Cepat dan
Jawaban Untuk Mereka

Diantara alasan orang yang shalatnya cepat adalah agar konsentrasi
dan tidak memikirkan sesuatu di dalam shalat. Mereka menyamakan orang yang
shalat dengan orang yang naik sepeda? Laa haula walaa quwwata illaa billaah…

Kita mengetahui, bahwa orang yang naik sepeda dengan cepat, niscaya
sampai pada tempat tujuan dengan lebih cepat, sedangkan orang yang naik sepeda
dengan perlahan, atau pelan tidak sampai ke tempat tujuan dengan segera, karena
seringnya dia melihat ke kanan dan ke kiri. Inikah alasan mereka?

Kita katakan, bahwa orang yang shalat cepat (tergesa-gesa) tidak
mungkin bisa konsentrasi. Karena konsentrasi yang dimaksud adalah seseorang
bisa mengingat Allah saat shalat, mengingat mati dan memahami, serta menghayati
bacaan shalat. Konsentrasi itu bukanlah mengosongkan pikiran, karena tidak
mungkin ada yang bisa mengosongkan pikiran, kecuali orang yang telah hilang
akalnya.

Suatu kesalahan yang sangat fatal berdalil dengan akal, atau logika
semata untuk urusan agama, terlebih lagi menyangkut Rukun Islam ke-dua, yaitu
shalat. Seharusnya orang yang beriman itu berdalil dengan menggunakan firman
Allah, maupun hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Sedangkan hadits-hadits
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan, bahwa wajib tenang dalam
shalat.

Perlu diketahui, yang pertama kali menggunakan logika untuk melawan
dalil dari Allah adalah Iblis. Yaitu, ketika dia diperintah Allah untuk sujud
penghormatan kepada Adam, ia menolak seraya mengatakan, “Aku lebih baik
dari-nya (Adam). Engkau ciptakan aku dari api sedangkan ia Engkau ciptakan dari
tanah.”

Lihatlah! Iblis menggunakan logika, padahal firman Allah ada di
depan mata. Yang pada akhirnya dia (Iblis) rusak logikanya. Karena, bukankah
tanah lebih baik dari api?
Betapa banyak tumbuh-tumbuhan yang tumbuh di
atasnya. Belum lagi, jika kita menggali kekayaan alam yang ada di dalam tanah. Bukankah
kita semua berpijak di atas tanah?

Seandainya logika mereka diterima. Kita katakana, bahwa orang yang
mengendarai sepeda dengan cepat beresiko tinggi kecelakaan di jalan.
Sebagaimana juga orang yang cepat shalatnya, celaka di dalam shalatnya. Karena
menurut Ibnu Katsir rahimahullah salah satu gambaran orang yang celaka
dalam shalatnya yang disebutkan dalam Surat Al Ma’un adalah yang shalat, akan
tetapi tidak mengerjakan rukun-rukun shalat. Salah satu rukun shalat adalah tuma’ninah
(tenang dalam ruku’, i’tidal, sujud, dll).

Ada alasan lain yang diutarakan orang yang shalatnya cepat, yaitu hadits
shahih tentang shalat sunnah dua rakaat sebelum subuh. Disebutkan dalam hadits,
bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakannya dua rakaat
dengan ringan. Shalat ringan yang dimaksud bukanlah shalat yang cepat. Shalat
yang ringan yang dimaksud adalah shalat dengan tidak panjang, membaca surat
yang pendek. Oleh karena itu, dalam riwayat disebutkan, bahwa Nabi Muhammad shallallahu
‘alaihi wasallam
pada rakaat pertama membaca Al Kafirun dan pada rakaat ke-dua
membaca Surat Al Ikhlash. Dan perlu diketahui, ringannya shalat Nabi Muhammad shallallahu
‘alaihi wasallam
tidak sama dengan ringannya shalat kita.

|
Wallahu a’lam bish-shawab

| Oleh: Fajri N.S.

Donwload PDF




Kepemimpinan Suami dan Sifat Istri Shalihah

الرِّجَالُ
قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ
وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ
لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ
فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ
أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا
كَبِيرًا

“Kaum laki-laki
(para suami) itu adalah pemimpin bagi kaum wanita (para istri), oleh karena
Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain
(wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta
mereka.Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi
memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara
(mereka) …” (An-Nisaa’ : 34)

Kandungan Ayat
dan Kaitannya dengan Ayat-ayat Sebelumnya

Ayat-ayat
sebelumnya menjelaskan tentang hukum-hukum berkaitan dengan warisan. Kemudian
tentang wanita-wanita yang haram dinikahi. Kemudian di ayat ini Allah
menjelaskan tentang hak-hak dari masing-masing pasangan suami istri. Sekaligus
bimbingan untuk suami dalam menghadapi istri yang membangkang, dengan cara-cara
yang diridhai Allah.

Tafsir Ayat

Menurut syaikh As-Sa’di, ayat ini
adalah pemberitahuan sekaligus perintah. Pemberitahuan bahwa
suami adalah pemimpin istri karena beberapa sebab. Dan perintah agar suami
memimpin istri dengan baik. Syaikh As-Sa’di menjelaskan bahwa suami memimpin
istri dalam urusan dunia maupun urusan agama.

Urusan dunia misalnya urusan yang
berkaitan dengan nafkah, pakaian, tempat tinggal, dan hal-hal yang berkaitan
dengan itu semua.

Sedangkan urusan agama misalnya:

  • Memerintah
    istri untuk melaksanakan hak-hak Allah dan kewajiban-kewajiban agama.
  • Mencegah
    istri dari berbuat maksiat dan hal-hal jelek lainnya.
  • Memperbaiki
    keadaan istri dengan mengajarinya akhlak mulia serta adab-adab yang manfaat.

Kedudukan suami ini adalah anugerah
dari Allah sekaligus amanah yang wajib ditunaikan dengan baik. Dan suami
mendapatkan kedudukan yang tinggi seperti ini karena dua hal:

Pertama, kelebihan-kelebihan yang Allah berikan kepada mereka.

Ke dua, kebaikan-kebaikan yang mereka lakukan. Terutama kepada istri
mereka.

Contoh kelebihan-kelebihan dari
Allah adalah kekuatan fisik, akal, pemahaman dan kesabaran. Maka secara umum
para lelaki melebihi para wanita dalam hal ini.

Contoh kebaikan-kebaikan yang mereka
lakukan adalah seperti mahar yang mereka berikan kepada istri saat akad nikah. Begitu
juga nafkah selama hidup bersamanya. Dan juga kebaikan suami yang sifatnya
umum, seperti sedekah, infak dan lain-lain. Maka
secara umum, para suami kebaikannya lebih banyak dari para istri.

Oleh karena itu, banyak
kewajiban-kewajiban syari’at yang ditugaskan hanya untuk para lelaki. Seperti
kewajiban berjihad, kewajiban shalat Jum’at. Dan semua bentuk ‘perwalian’ hanya
untuk para lelaki. Bahkan para
Nabi dan Rasul, tidak ada yang wanita. Semuanya berasal dari golongan lelaki.

Karena sangat besarnya kedudukan
suami ini, hingga para ulama mengumpamakan seorang suami itu seperti ‘penguasa’
atau ‘majikan’ bagi istrinya. Demikian
ringkasan dari penjelasan syaikh di dalam kitabnya ‘Taisirul Lathifil Mannan’.

Meskipun demikian para suami juga
tidak boleh bertindak semena-mena terhadap istrinya. Nabi bersabda:

كَفَى
بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يَحْبِسَ، عَمَّنْ يَمْلِكُ قُوتَهُ

“Seorang
(suami) dianggap berdosa ketika dia tidak memberikan nafkah kepada siapa saja
yang kebutuhan hidupnya ditanggung olehnya.” (Shahih Muslim, no. 40 (996))

Menurut Imam Muslim, suami yang
menyia-nyiakan istrinya juga berdosa. Hal ini bisa dipahami dari judul bab yang
dicantumkan Imam Muslim di dalam kitab ‘Shahih Muslim’.

Suami Menjaga dan Memperhatikan
Istri

Di dalam kitab ‘Aisarut Tafasir’,
syaikh Abu Bakr Jabir Al-Jazairi menyebutkan kalimat yang singkat, namun
maknanya padat. Dalam menggambarkan kewajiban seorang suami selaku pemimpin:

وَهُوَ مَنْ يَقُومُ عَلَى الشَّيْءِ رِعَايَةً وَحِمَايَةً وَإِصْلاَحاً

“Al-Qawwam (pemimpin) adalah orang yang mengurusi sesuatu dalam
bentuk pemeliharaan, penjagaan dan perbaikan.”

Tentu tugas berat suami ini sedikit
lebih ringan jika dia mampu menjadi contoh yang baik bagi istrinya dalam
kebaikan, sebelum dia memerintah dan mengarahkan.

Kewajiban Nafkah Menyesuaikan
Kemampuan

Di dalam surat Ath-Thalaq, ayat 7:

لِيُنْفِقْ
ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا
آتَاهُ اللَّهُ لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آتَاهَا سَيَجْعَلُ
اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا

“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya.
Dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang
diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang
melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan
kelapangan sesudah kesempitan.”

Di dalam kitab
tafsir ‘At-Tashil Li ‘Ulumit Tanzil’ disebutkan bahwa:

أمر بأن ينفق كل واحد على مقدار حاله، ولا يكلف الزوج ما لا يطيق،
ولا تضيّع الزوجة بل يكون الحال معتدلا. وفي الآية دليل على أن النفقة تختلف
باختلاف أحوال الناس

“Ini adalah perintah kepada
setiap orang untuk memberi nafkah sesuai dengan kondisi keuangannya. Seorang
suami tidak dibebani dengan sesuatu yang tidak dia sanggupi. Dan seorang istri
tidak boleh disia-siakan. Akan tetapi yang benar adalah ‘seimbang’. Dan di
dalam ayat ini ada dalil bahwa besarnya nafkah berbeda-beda, sesuai dengan
perbedaan kondisi manusia.”

Syaikh As-Sa’di di dalam
kitab tafsirnya mengatakan:

لينفق الغني من غناه، فلا ينفق نفقة الفقراء

“Suami yang kaya wajib
menafkahi istri sesuai dengan kekayaannya. Tidak boleh suami yang kaya memberi
nafkah istrinya seperti nafkahnya orang-orang yang miskin.”

Di dalam kitab tafsir
‘Aisarut Tafasir’ ada penjelasan tambahan bahwa seandainya terjadi perselisihan
antara suami istri tentang besarnya nafkah, maka hakim yang menentukannya.

Sifat-sifat Istri
Shalihah

Setelah menyebutkan
tentang kepemimpinan seorang suami, selanjutnya Allah menjelaskan tentang sifat
istri yang shalihah. Di dalam ayat ini ada dua sifat yang Allah sebutkan, yaitu
‘taat’ dan ‘menjaga’.

Allah berfirman:

فَالصَّالِحَاتُ
قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ

“Sebab itu,
maka wanita yang saleh ialah yang taat (kepada
Allah) dan menjaga
(
diri) ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara
(mereka).”

Tentang makna
‘taat’, di dalam kitab tafsir ‘At-Tashil Li ‘Ulumit Tanzil’ ada
penjelasan bahwa maknanya adalah taat kepada suaminya. Atau taat kepada Allah
dengan menunaikan apa yang menjadi hak-hak suami. Maksudnya, ketika dia menaati
suaminya, niatnya adalah dalam rangka menaati Allah. Sehingga dengan ini seorang istri
mendapatkan dua pahala sekaligus. Pahala taat kepada Allah dan taat kepada suami.

Di dalam kitab
tafsir ‘Jalalain’ disebutkan bahwa yang dimaksud dengan sifat ‘taat’
adalah taat kepada suaminya. Sedangkan sifat ‘menjaga’ maksudnya adalah menjaga
kehormatan diri dan yang lainnya, yang wajib dijaga oleh istri.

Di dalam kitab
tafsir ‘Aisarut Tafasir’ ada penjelasan bahwa, termasuk yang wajib dijaga oleh istri adalah harta
milik suaminya
.

Di dalam kitab
tafsir ‘Shafwatut Tafasir’ ada penjelasan bahwa, termasuk yang wajib
dijaga oleh istri adalah rahasia rumah tangganya dengan suaminya.

Termasuk dalam
cakupan makna ‘menjaga’ adalah menjaga keluarga dengan ‘tarbiyah hasanah’ (pendidikan
yang baik). Hal ini seperti yang dijelaskan syaikh As-Sa’di di dalam kitab
tafsirnya.

Kemudian di
akhir ayat ini Allah menjelaskan tentang tuntunan-Nya yang sangat baik dan hikmah untuk suami dalam menghadapi istri
yang tidak lagi mentaati suaminya.

Sungguh
menakjubkan ayat-ayat Allah dan begitu indah hukum-hukumnya. Meskipun hanya potongan satu ayat, akan tetapi
kandungan ayatnya sangat luas dan manfaat untuk kehidupan. Inilah salah satu
bentuk kemukjizatan ayat-ayat Al-Qur’an. Adil hukum-hukumnya dan benar
berita-beritanya.

Fajri Nur Setyawan, Lc
Buletin Al Minhaj Edisi 30, Bulan April 2020 / Sya’ban 1441 H




Tanya Jawab Obat Iri, Cemburu Dalam Hal Ilmu

Tanya Jawab Kajian Sawang Sinawang Obat Iri, Cemburu Dalam Hal Ilmu Ustadz Abdullah Zaen, Lc, M.A




SAWANG SINAWANG

Download MP3

SAWANG SINAWANG Al-Ustadz Abdullah Zaen, MA – hafizhahullah – MP3

Ringkasan Pengajian Akbar Al-Ustadz Abdullah Zaen,Lc, MA – hafizhahullah –
Masjid Agung Baiturrahmah Sukoharjo
06 Rajab 1441 H / 01 Maret 2020

Mencari kambing hitam ketika terjadi masalah adalah kebiasaan buruk. Lebih-lebih jika yang dijadikan kambing hitam adalah benda mati. Seperti orang yang menyalahkan batu ketika jatuh.

Seharusnya seseorang itu introspeksi diri ketika terjadi masalah. Bukan malah menyalahkan orang lain.

Orang yang selalu mencari kambing hitam ketika terjadi masalah tidak akan terdidik menjadi baik.

Allah berfirman,

ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِّعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلَىٰ قَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ ۙ وَأَنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“(Siksaan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan meubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu meubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Anfal 53)

Jadi ketika ada nikmat yg tercabut dari seseorang. Maka sebabnya adalah diri dia sendiri. Maka ayat ini mengajarkan kita agar introspeksi ketika terjadi masalah dan tidak mengkambing hitamkan orang lain.

Di antara pemicu terjadinya berbagai masalah, adalah suka membanding-bandingkan.

Contoh, seorang suami yang membanding-bandingkan kecantikan istri dengan wanita lain. Maka jadilah kebahagiaan di rumah tangga semakin pudar.

Contoh lain, membanding-bandingkan harta yg sudah dimiliki dengan yang ada pada orang lain. Akhirnya dia tidak bersyukur atas nikmat yang telah Allah berikan.

Allah berfirman,

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

“Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal.” (Thaha: 131)

Makna ayat ini, Allah melarang kita dari sikap mudah terpesona dengan kenikmatan yg telah Allah berikan kepada orang lain.

Ketika seseorang menganggap orang lain dalam keadaan yg lebih baik dari dirinya, bisa jadi orang itu menganggap kita lebih baik dari dia. Inilah yang dimaksud dari kalimat (pepatah Jawa) SAWANG SINAWANG.

“Urip iku sawang sinawang. Mulakno ojo mung nyawang sing kesawang.”

Artinya:
Hidup itu adalah permasalahan melihat dan dilihat. Maka jangan hanya menilai dari apa yang terlihat.

Maksudnya, jangan mudah menyimpulkan sesuatu berdasarkan apa yang kita lihat.

Maka jangan suka buru-buru menyimpulkan apa yang dilihat dari orang lain. Terlebih lagi manusia sering mengenakan “topeng” dalam hidupnya. Tertawa untuk menutupi kesedihan, menangis untuk menutupi kebahagiaan.

Dalam Islam, terdapat petunjuk dalam menyikapi perbedaan dalam kehidupan.

  1. Kita harus yakin bahwa perbedaan di muka bumi adalah sunnatullah, yaitu kodrat ilahi yang tidak bisa diubah.
    Contoh, perbedaan adanya yang kaya ada yang miskin, ada yang jadi atasan ada bawahan, ada tawa ada tangis… dan lain sebagainya.

Dan adanya perbedaan ini adalah karena Allah maha adil. Karena Allah menginginkan dari perbedaan ini agar kehidupan manusia bisa berjalan dg sebaik mungkin.
Contoh, seandainya Allah menjadikan semua orang menjadi kaya semua, maka kehidupan tidak akan berjalan.

Hal ini telah diisyaratkan dalam Al-Quran,

نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُم مَّعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۚ وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِّيَتَّخِذَ بَعْضُهُم بَعْضًا سُخْرِيًّا ۗ وَرَحْمَتُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ

“Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (Az-Zukhruf: 32)

  1. Menyikapi perbedaan yang ada dengan bersyukur.
    Ketika kita melihat orang lain lebih kaya maka hendaknya kita bersyukur, yaitu dengan melihat orang yang levelnya di bawah kita.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ ؛ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ

“Lihatlah kepada orang yang lebih rendah dari kamu, jangan lihat kepada yang lebih tinggi. Hal itu lebih pantas agar kamu tidak meremehkan nikmat Allah.” (HR. Muslim no. 2963)

Contoh, orang yang punya motor butut melihat orang yang hanya punya sepeda ontel, orang yang punya sepeda ontel melihat kepada orang yang kemana-mana berjalan kaki. Orang yang hanya berjalan kaki melihat kepada orang yang tidak bisa jalan. Dengan demikian setiap orang akan mensyukuri nikmat yang Allah berikan kepadanya.

Aun ibnu Abdillah – rahimahullah – pernah bercerita.
Dulu aku hanya bergaul dg orang-orang kaya. Maka ketika itu aku merasa susah dan tidak tenang. Setiap aku bergaul dengan mereka ternyata tunggangan mereka lebih bagus dari tungganganku, dan baju mereka lebih bagus dari bajuku. Lalu aku pun bergaul dengan orang-orang miskin. Maka aku merasa nyaman dalam hidup.

Maka wajar Nabi shallallahu alaihi wa sallam berdoa,
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ، وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ، وَحُبَّ الْمَسَاكِينِ …
“Ya Allah, aku memohon kepada Mu (untuk bisa) melakukan kebaikan, dan meninggalkan kemungkaran, dan mencintai orang-orang miskin…” (HR. At-Tirmidzi, dan dia berkata Hadits hasan shahih)

Catatan : Melihat orang yg levelnya di bawah kita adalah dalam urusan dunia. Adapun dalam urusan agama dan akhirat maka hendaknya melihat yg levelnya di atas agar bisa berlomba-lomba dalam kebaikan.

Contoh, Umar melihat kepada Abu Bakr dalam rangka utk berlomba-lomba dalam sedekah, sebagaimana dalam kisah yg telah makruf.

Sebagian ulama salaf berkata, “Apabila kamu kalah dari temanmu dalam urusan dunia, maka kalahkan dia dalam urusan akhirat.”

Catatan lain : pembahasan ini bukan berarti kita tidak perlu memajukan perekonomian umat. Sebagai bukti, bahwa para salaf dulu ada yang kaya, seperti Abu Bakr, Utsman, Abdurrahman bin Auf, dan yang lain. Akan tetapi mereka tidak saling iri hati.

Dan para sahabat dahulu, pikiran mereka adalah bagaimana mengalahkan orang lain dalam urusan akhirat, bukan dunia. Sebagaimana dahulu orang-orang yang miskin datang kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan menyampaikan rasa “iri” mereka kepada orang-orang kaya bukan karena kekayaan mereka, tetapi karena mereka (orang-orang kaya) bisa bersedekah dengan kekayaan yang ada pada mereka.

  1. Pergunakan nikmat dengan benar.
    Ini merupakan bagian dari syukur. Yaitu bersyukur dengan amalan.

Kebanyakan orang yang suka membanding-bandingkan pada umumnya karena tidak menggunakan waktu untuk yang bermanfaat. Maka gunakanlah waktu dalam amalan-amalan yg bermanfaat. Dan sungguh masih sangat banyak sekali amalan-amalan bermanfaat yang belum kita lakukan. Contohnya, seperti amalan mentadabburi Al-Quran.

Syaikh Abdurrazzaq al-Badr berkata,
“Seandainya tingkat intensitas (keseringan) kita untuk mengkaji dan tadabbur Al-Quran seperti tingkat intensitas kita dalam membuka HP, niscaya akan terjadi perubahan dahsyat dalam hidup kita.”

Wallahu a’lam bish shawaab.

Diringkas oleh panitia Pengajian Akbar SAWANG SINAWANG.