1

ADAB #7 Kisah Semangat Para Ulama dalam Mengejar Kebaikan

kisah ulama semangat

Sesungguhnya diantara yang jadi sebab
tingginya ‘himmah’ (semangat) dan melangitnya dorongan jiwa ialah menelaah
mengambil pelajaran dari keadaan (kisah-kisah) dari orang yang mendahului kita
(dalam iman) dan mengenal lebih jauh ‘himmah-himmah’ kaum (salaf) terdahulu
tersebut.

Imam Ahmad bin Hanbal

Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal dahulunya
saat masih kecil suatu ketika hendak pergi ke halaqoh guru beliau sebelum waktu
shubuh. Maka tiba-tiba ibu beliau pun menarik baju beliau dan berkata dengan
penuh kasih sayang, “Tunggulah hingga manusia mengumandangkan adzan atau sudah
masuk waktu shubuh.”

Al Khotib Al Baghdadi

Suatu ketika Al Khotib Al Baghdadi
membacakan

kitab Shahih Al Bukhori secara keseluruhan

kepada (muridnya) Ismail Al Hiriy dalam
tiga kali majelis.

Dua majelisnya pada dua malam dari waktu
shalat maghrib

hingga waktu shalat shubuh.

Sedangkan di hari ketiga dari waktu dhuha
hingga waktu shalat maghrib

dilanjutkan dari maghrib hingga terbitnya
fajar (shubuh).

Abu Muhammad Ibnu At Tabban

Dahulu Abu Muhammad Ibnu At Tabban ketika
memulai belajar semalaman penuh maka ibu merasa kasihan sehingga melarang
beliau untuk membaca satu malam penuh. Maka beliaupun mengambil lentera
kemudian beliau jadikan di bawah ‘jafnah’ -suatu wadah yang besar- kemudian
beliau pura-pura seakan sudah tidur. Tatkala ibunya pun telah tertidur maka
beliau mengambil lentara (lampu) tersebut dan bersegera untuk belajar.

Maka jadilah orang yang kedua kakinya
menapak di atas tanah, akan tetapi cita-cita keinginannya menembus melebihi
bintang-bintang ‘ats tsuraya’ . Janganlah engkau jadi orang yang menua badan
menua pula lah ‘himmah’nya. Sesungguhnya himmah yang jujur benar tidaklah
luntur seiring bertambahnya usia.

Dulu Abul Wafa’ Ibnu ‘Uqoil -salah satu
‘Ulama yang cerdas dari ahli-ahli fiqih madzhab Hanbali- pernah menyandungkan
syair ketika beliau sudah berumur 80-an tahun,

ما
شاب عزمي ولا حزمي ولا خلقي

ولا
ولائي ولا ديني ولا كرمي

Tidak lah menua beruban keinginan kuatku,
tidak pula tekadku, tidak pula akhlaqku,

tidak pula wala’ ku, tidak pula agama ku,
tidak pula kemuliaan ku,

وإنما
اعتاض شعري غير صبغته

والشيب
في الشعر غير الشيب في الهمم

Hanyalah yang berubah rambutku tidak
seperti bentuknya,

dan uban di rambutku, bukan lah uban di
dalam ‘himmah’.

[Dikutip dari Khulashoh Ta’zhimil ‘Ilmi : 15-16]

kata kunci : kisah ulama semangat, kisah ulama semangat

.

~ ~ ~ ~ ~ ~

Dukung program & kegiatan Bidang Dakwah
Pondok Pesantren Al Ukhuwah Sukoharjo melalui donasi yang dapat disalurkan
melalui rekening kami BNI Syariah 0750020567 an. Yayasan Pendidikan Al Ukhuwah.
Konfirmasi via WA/SMS kirim ke 085229200443 (Ust. Mujiron, M.Pd.I)

Profil & Program Kegiatan :

http://bit.ly/dakwahalukhuwah




ADAB #6 Mengumpulkan ‘Himmah’ Semangat Kebaikan

Seri #6

Mengumpulkan semangat kebaikan

Mengumpulkan semangat kebaikan

Himmah dan usaha seseorang dalam meraih perkara bermanfaat BELUM DIKATAKAN MAKSIMAL bila belum mengumpulkan 3 hal ini:

1.
semangat kerja keras (tidak bermalas-malasan),

2.
meminta tolong kepada Allah,

3.
tidak lemah (terus kontinue, tidak kendor, putus asa & berusaha
mengatasi rintangan yang ada)

Tentunya
dengan syarat usaha yang ia memang dapat membuahkan MANFAAT yang ia
cita-citakan (cara & jalannya benar).

Berkata
Syaikh Sholih Al ‘Ushoimy -hafizhahullah,

“Himmah
(semangat, motivasi kuat) untuk meraih tujuan terkumpul pada tiga
perkara:

Pertama,

semangat berusaha keras terhadap perkara yang bermanfaat. Kapan saja seorang hamba itu diberi taufiq untuk menempuh perkara yang bermanfaat maka dia bersemangat dalam melaksanakannya.

Kedua,

memohon pertolongan pada Allah -azza wa jalla- dalam usahanya.

Ketiga,

tidak adanya lemah (rasa tidak akan mampu, putus asa, & penghalang lainnya dalam mencapai yang dicita-citakan tersebut)

Perkara
ini tiga-tiganya telah terkumpul dalam hadits Nabi yang diriwayatkan
oleh Imam Muslim dari Abu Huroiroh -radhiyallahu ‘anhu- bahwa Nabi
-shallallaahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

احرص
على ما ينفعك واستعن بالله ولا تعجز

“Berusaha
keras lah pada perkara yang memberimu manfaat, minta tolong lah pada
Allah dan janganlah kamu lemah.”

Berkata
Al Junayd -rahimahullah-,

“Tidaklah
seseorang menginginkan sesuatu sedang ia berusaha keras dan benar
dalam usahanya melainkan dia akan mendapatkan sesuatu tersebut, jika
ia tidak mendapatkan semuanya maka ia akan mendapatkan sebagiannya.”

Berkata
Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam kitab beliau “Al Fawaa-id”,

“Tatkala
telah terbit bintangnya ‘himmah’ di kegelapan malam yang sunyi,
dan mengiringinya bulannya al ‘azimah (tekad bulat) maka bumi
menjadi terah benderang dengan cahaya dari Rabbnya.”

-selesai
perkataan beliau Syaikh Sholeh Al ‘Ushoimy

[Lihat
Khulashoh Ta’zhimil ‘Ilmi : 14]

.

~
~ ~ ~ ~ ~

Dukung program & kegiatan Bidang Dakwah Pondok Pesantren Al Ukhuwah Sukoharjo melalui donasi yang dapat disalurkan melalui rekening kami

BNI Syariah 0750020567 an. Yayasan Pendidikan Al Ukhuwah. Konfirmasi via WA/SMS kirim ke 085229200443 (Ust. Mujiron, M.Pd.I)

Profil & Program Kegiatan :

https://bit.ly/dakwahalukhuwah

Kata kunci : mengumpulkan semangat kebaikan




ADAB #5 Kisah para Salaf dalam Mengobati Niat

Kata kunci : Kisah Ulama Mengobati Niat

Kata kunci : Kisah Ulama Mengobati Niat
Sudah semestinya bagi orang yang menghendaki keselamatan untuk meninjau kembali memeriksa asas yang mulia ini -yaitu ikhlash- dalam seluruh urusannya, yang remeh maupun yang agungnya, baik yang tersembunyi maupun yang tampak. Dan yang lebih dari sekedar memerikasa ikhlash ini ialah beratnya dalam mengobati niat.

Barangsiapa
menyia-nyiakan ikhlash maka ia akan kehilangan ilmu dan kebaikan yang
sangat banyak.

Sudah
semestinya bagi orang yang menghendaki keselamatan untuk meninjau
kembali memeriksa asas yang mulia ini -yaitu ikhlash- dalam seluruh
urusannya, yang remeh maupun yang agungnya, baik yang tersembunyi
maupun yang tampak. Dan yang lebih dari sekedar memerikasa ikhlash
ini ialah beratnya dalam mengobati niat.

Sufyan
Ats-Tsauri -rahimahullaah- berkata,

“Tidaklah
aku mengobati sesuatu yang lebih berat bagiku dibandingkan mengobati
niatku, dikarenakan niat tersebut terus menerus berbolak balik pada
diriku.”

Bahkan,
Sulaiman Al Hasyimi -rahimahullah- berkata,

“Seringkali
aku membawakan satu hadits

dan
padaku ada
suatu
niat,

lalu
tatkala aku masuk

sebagian
hadits lain

berubahlah
niatku,

hingga
dalam satu hadits

butuh
tiga atau lebih

niat
sekaligus.”

[Dikutip
& diterjemahkan dari kitab

Khulashoh
Ta’zhimil ‘Ilmi : 12-13

karya
Syaikh Shalih Al ‘Ushoimi

-hafizhahullah- ]

Kata kunci : Kisah Ulama Mengobati Niat, Kisah Ulama Mengobati Niat

.

~
~ ~ ~ ~ ~

Dukung
program & kegiatan Bidang Dakwah Pondok Pesantren Al Ukhuwah
Sukoharjo melalui donasi yang dapat disalurkan melalui rekening kami
BNI Syariah

0750020567
an. Yayasan Pendidikan Al Ukhuwah

Konfirmasi
via WA/SMS kirim ke 085229200443 (Ust. Mujiron, M.Pd.I)

Profil & Program Kegiatan :

http://bit.ly/dakwahalukhuwah




Adab #4 Cara Menggapai Ikhlash Menuntut Ilmu

Kata kunci : Ikhash Menuntut Ilmu

Adab #4 Cara Menggapai Ikhash dalam Menuntut Ilmu
Sungguh para salaf terdahulu rahimahumullah senantiasa takut hilangnya ikhlash dalam menuntut ilmu. Maka mereka senantiasa waro’ (sangat berhati-hati) dari mengaku-mengaku ikhlash, sekali-kali bukan karena mereka belum merealisasikan ikhlash itu dalam hati mereka.

Ikhlash
dalam menuntut ilmu tegak atas 4 pondasi yang dengan pondasi-pondasi
tersebut maka telah benar niat ilmu baginya, yaitu jika seseorang
yang mempelajari ilmu menjadikan tujuannya untuk empat hal ini :

Pertama,

mengangkat
kebodohan dari jiwanya, yaitu dengan pengenalan jiwa tersebut
terhadap apa yang diwajibkan padanya berupa perkara-perkara
peribadahan, dan ia bisa menjalankannya sesuai tujuan perintah dan
larangan.

Kedua,

mengangkat
kebodohan dari para makhluk, yaitu dengan mengajari mereka dan
memberikan pemahaman pada mereka terhadap apa-apa yang padanya
kemashlahtan dunia dan akhirat mereka.

Ketiga,

menghidupkan
ilmu dan menjaga ilmu tersebut dari hilang atau tersia-siakan.

Keempat,

mengamalkan
ilmu tersebut

Sungguh
para salaf terdahulu rahimahumullah
senantiasa
takut hilangnya ikhlash dalam menuntut ilmu. Maka mereka senantiasa
waro’ (sangat berhati-hati) dari mengaku-mengaku ikhlash,
sekali-kali bukan karena mereka belum merealisasikan ikhlash itu
dalam hati mereka.

Ditanyakan
kepada Imam Ahmad rahimahullah
,

“Sudahkah
engkau mencari ilmu karena Allah?”

Maka
beliau menjawab,

لله
عزيز !!
لكنه
شيء حبب إلي فطلبته

“Karena
Allah itu perkara yang berat,

akan
tetapi itu (ikhlash karena Allah)

hal yang aku sukai maka aku

berusaha
mendapatkannya.”

Barangsiapa
menyia-nyiakan ikhlash maka ia akan kehilangan ilmu dan kebaikan yang
sangat banyak.

[Dikutip
& diterjemahkan dari kitab

Khulashoh
Ta’zhimil ‘Ilmi hal.12

karya
Syaikh Shalih Al ‘Ushoimi

-hafizhahullah- ]

Kata kunci : Ikhash Menuntut Ilmu

.

~
~ ~ ~ ~ ~

Dukung
program & kegiatan Bidang Dakwah Pondok Pesantren Al Ukhuwah
Sukoharjo melalui donasi yang dapat disalurkan melalui rekening kami
BNI Syariah

0750020567
an. Yayasan Pendidikan Al Ukhuwah

Konfirmasi via WA / SMS kirim ke 085229200443 ( Ust. Mujiron, M.Pd.I )

Profil & Program Kegiatan :

http://bit.ly/dakwahalukhuwah




ADAB #3 Mulia Karena Niat yang Jujur dan Ikhlash

Suatu Kaum Mulia Karena Niat yang Jujur dan Ikhlash
Sesungguhnya ikhlash (meniatkan hanya karena Allah) dalam amalan perbuatan adalah pondasi diterimanya amalan tersebut serta merupakan tangga sampainya amalan tersebut (kepada Allah).

Sesungguhnya
ikhlash (meniatkan hanya karena Allah) dalam amalan perbuatan adalah
pondasi diterimanya amalan tersebut serta merupakan tangga sampainya
amalan tersebut (kepada Allah). Allah berfirman,

وما
أمروا إلا ليعبدوا الله مخلصين له الدين
حنفاء

“Tidaklah
mereka diperintah melainkan supaya menyembah beribadah kepada Allah
dengan meng-ikhlash-kan seluruh agama (amalan) hanya untuk-Nya dalam
keadaan hanif (condong pada kebenaran).” (QS. Al Bayyinah: 5)

Dalam
shahih Bukhori dan Muslim, dari ‘Umar -radhiyallahu ‘anhu-
bahwasanya Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

الأعمال
بالنية وكل امرئ ما نوى

“Seluruh
perbuatan (baik) itu dinilai dengan niatnya, dan pada setiap orang
akan mendapatkan balasan sesuai apa yang ia niatkan.”

Dan
tidaklah berlalu orang yang telah berlalu, dan tidaklah sampai orang
yang telah sampai (kepada kemuliaan & janji Allah) dari para
salaf (sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in) melainkan dengan
ikhlash kepada Allah Rabb semesta Allah.

Berkata
Abu Bakr Al Mawardiy -rahimahullah-,

“Aku
mendengar seseorang berkata

kepada
Imam Ahmad bin Hanbal

lalu
menyebutkan tentang

Shidqu
(kejujuran) dan Ikhlash,

maka
Imam Ahmad menjawab,

بهذا
ارتفع القوم

“Dengan
sebab ini (benar & ikhlasnya niat),

maka
suatu kaum akan tinggi mulia.”

Dan
hanyasaja seseorang itu akan meraih ilmu sesuai dengan kadar
keikhlasan dia (dalam menuntut ilmu).

[Diterjemahkan dari kitab Khulashoh Ta’zhimil ‘Ilmi hal.11 karya Syaikh Shalih Al ‘Ushoimi -hafizhahullah- dengan penambahan judul dari kami -pent.]

Kata kunci: mulia, niat, ikhlash

Kata kunci: mulia, niat, ikhlash

.

~
~ ~ ~ ~ ~

Dukung
program & kegiatan Bidang Dakwah Pondok Pesantren Al Ukhuwah
Sukoharjo melalui donasi yang dapat disalurkan melalui rekening kami
BNI Syariah

0750020567
an. Yayasan Pendidikan Al Ukhuwah

Konfirmasi
via WA/SMS kirim ke 085229200443 (Ust. Mujiron, M.Pd.I)

Profil & Program Kegiatan :

http://bit.ly/dakwahalukhuwah




PROGRAM PESANTREN SORE PEWARIS MASJID

Kata kunci : Program Pesantren Masjid

Kata kunci : Program Pesantren Masjid
Program Bidang Dakwah Al Ukhuwah “PESANTREN SORE PEWARIS MASJID” merupakan program memberantas buta huruf Al Qur’an, mengembalikan fungsi masjid, mencetak Para Pewaris Masjid berdasarkan Al Qur’an dan sunnah sesuai pemahaman rasul dan para sahabat.

Muqoddimah

Bentuk
infaq atau shodaqoh terbaik ialah yang paling banyak dibutuhkan serta
yang dapat terus menerus mengalir pahala jika kita ikhlash karena
Allah semata. Di antara contohnya ialah membantu keperluan penyebaran
ilmu & pengajaran Al Qur-an pada masyarakat luas di daerah-daerah
pelosok yang masih minim sekali pengajaran Al Qur-an dan kajian
ilmiah di sana.

Profil
Program

Program Bidang Dakwah Al Ukhuwah “PESANTREN SORE PEWARIS MASJID” merupakan program memberantas buta huruf Al Qur’an, mengembalikan fungsi masjid, mencetak Para Pewaris Masjid berdasarkan Al Qur’an dan sunnah sesuai pemahaman rasul dan para sahabat.

Kegiatan

Di
antara kegiatan pokok dengan adanya program ini ialah sebagai berikut
:

1.
pembinaan TPQ terpadu
2. pemberian gaji/mukafaah untuk guru-guru
TPQ
3. penyusunan kurikulum berjenjang
4. pengadaan materi,
kitab, buku panduan, & soal ujian
5. melakukan ujian &
evaluasi tiap semesternya
6. penetapan kelulusan & pemberian
sertifikat
7. pembentukan takmir remaja masjid
8.
mengadakan rihlah guru maupun santri TPQ
9. pelaksanaan kajian
bulanan, pertemuan rutin & pertemuan wali santri.

Pelaksanaan

Program yang sudah berjalan kurang lebih 3 tahun meliputi 35 titik pusat meliputi daerah Giriwoyo Wonogiri sebanyak 20 mitra, Kopeng Kab. Semarang sebanyak 6 mitra dan Bayat Klaten sebanyak 9 mitra, dan in syaa Allah akan dikembangkan di wilayah lainnya.

.

~
~ ~ ~ ~ ~

Dukung
program & kegiatan Bidang Dakwah Pondok Pesantren Al Ukhuwah
Sukoharjo dengan infaq / donasi yang dapat disalurkan melalui
rekening kami di BNI Syariah

0750020567

an.
Yayasan Pendidikan Al Ukhuwah

Konfirmasi
via WA/SMS ketik
Donasi#PesantrenSore#(Nominal)#(Nama)#(Alamat)

kirim
ke 085229200443 (Ust. Mujiron, M.Pd.I)

Profil
& Program Kegiatan :

http://bit.ly/dakwahalukhuwah

http://www.suaraquran.com




PROGRAM BULETIN JUM’AT AL MINHAJ

Kata kunci : buletin al minhaj

Buletin Al MINHAJ adalah buletin dakwah yang diterbitkan oleh Bidang Dakwah Pondok Pesantren Al Ukhuwah. Buletin ini sudah beredar 13 tahun lamanya sebagai upaya memberikan pemahaman ilmu dan Islam yang benar kepada masyarakat luas terutama di wilayah Sukoharjo dan Eks Karisidenan Surakarta, dan sekitarnya.

Muqoddimah

Buletin
Al MINHAJ adalah buletin dakwah yang diterbitkan oleh Bidang Dakwah
Pondok Pesantren Al Ukhuwah. Buletin ini sudah beredar 13 tahun
lamanya sebagai upaya memberikan pemahaman ilmu dan Islam yang benar
kepada masyarakat luas terutama di wilayah Sukoharjo dan Eks
Karisidenan Surakarta, dan sekitarnya.

Profil

• Terbit
tiap 1
bulan
4 edisi (4 judul) atau 1 judul tiap pekan

Jumlah sekali terbit hingga
14.000
eksemplar (28
rim)

Jumlah pelanggan aktif
hingga 75
tempat/masjid
• Kontributor: Ust. Fajri NS, Ust. Agung
AbdulAzhim, Ust. Feri Abu Sahl, Ust. Hanif Beni Setiawan

Cara Berlangganan

Bagi
Anda yang ingin berdakwah di kampung atau di Masjid dekat rumah/
Masjid kantor Anda bekerja dengan buletin Jum’at AL MINHAJ, Anda bisa
berlangganan buletin ini dengan menghubungi kami di 085235084141
dengan rincian minimal 100 eksemplar (4 edisi x 25 eks) cukup diganti
dg infaq Rp 20.000 utk Solo Raya atau Rp 25.000 utk luar Solo Raya.

Donasi

Bagi
anda yang ingin turut menopang keberlanjutan program penerbitan
buletin ini, Anda dapat menyalurkan Infaq/donasi Anda ke kantor
Dakwah Ponpes Al Ukhuwah Sukoharjo atau melalui transfer ke rekening
kami di
BNI Syariah

0750020567

an.
Yayasan Pendidikan Al Ukhuwah

Konfirmasi
via WA/SMS

kirim
ke 085229200443 (Ust. Mujiron, M.Pd.I)

Infaq anda sebesar Rp 100.000 (setara +/- 500 eks buletin) berarti anda turut membantu mendakwahkan ilmu dan pemahaman Islam yang benar hingga ke 500 orang.

Kata kunci : buletin al minhaj

.

~
~ ~ ~ ~

Profil
& Program Kegiatan :

http://bit.ly/dakwahalukhuwah

www.suaraquran.com




Adab #1 Membersihkan Wadahnya Ilmu

Kata kunci : membersihkan ilmu

“Siapa yang ingin penguasaan ilmu
maka hendaklah ia menghiasi batinnya,
dan membersihkan hatinya dari kotoran-kotoran.
Karna ilmu (agama) itu ibarat
permata yang sangat halus,
tidak layak melainkan
untuk hati yang bersih.”

Wadahnya
ilmu yaitu al Qolb (hati), sesuai dengan seberapa bersih hati
tersebut maka sesuai itulah ilmu akan masuk kepadanya. Jika bertambah
ia bersih maka akan bertambah pula kapasitasnya untuk menampung ilmu.

فمن أراد
حيازة العلم فليزيّن باطنه ويطهّر قلبه
من نجاسة

فالعلم جوهر
لطيف لا يصلح إلا للقلب النظيف

“Siapa yang ingin penguasaan ilmu

maka hendaklah ia menghiasi batinnya,

dan membersihkan hatinya dari kotoran-kotoran.

Karna ilmu (agama) itu ibarat

permata yang sangat halus,

tidak layak melainkan

untuk hati yang bersih.”

Dan kebersihan hati kembali pada 2 asas yang agung :

Salah satunya ialah bersihnya hati dari kotoran syubhat
(keragu-raguan, pemikiran sesat, dst -pent).

Adapun yang satunya lagi ialah bersihnya hati dari kotoran syahwat
(hawa nafsu).

[Diterjemahkan
dari kitab Khulashoh

Ta’zhimil
‘Ilmi hal.9

karya
Syaikh Shalih Al ‘Ushoimi hafizhahullah]

.

kata kunci : membersihkan ilmu

~
~ ~ ~ ~ ~

Dukung
program & kegiatan Bidang Dakwah Pondok Pesantren Al Ukhuwah
Sukoharjo melalui donasi yang dapat disalurkan melalui rekening kami
BNI Syariah

0750020567

an.
Yayasan Pendidikan Al Ukhuwah

Konfirmasi
via WA/SMS

kirim
ke 085229200443 (Ust. Mujiron, M.Pd.I)

Profil
& Program Kegiatan :

http://bit.ly/dakwahalukhuwah

www.suaraquran.com




Adab #2 Hati Tempat Allah Melihat Dirimu

Judul Artikel “Hati Tempat Allah Melihat Dirimu”

Hati Tempat Allah Melihat Dirimu
“Sesungguhnya Allah tidaklah
melihat pada rupa-rupa kalian,
tidak pula pada kekayaan kalian,
akan tetapi Allah melihat pada
hati-hati kalian dan amal-amal
kalian.”

Apabila engkau MALU dari pandangan makhluk yang semisalmu pada kotornya bajumu, maka MALU LAH engkau dari pandangan Allah kepada hatimu sedangkan didalamnya terdapat dengki, sakit hati, dosa-dosa, dan banyaknya kesalahan.

Di dalam shahih
Muslim dari shahabat Abu Huroiroh radhiyallahu
‘anhu bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

إن
الله لا ينظر إلى صوركم وأموالكم

ولكن ينظر
إلى قلوبكم وأعمالكم‏‏

“Sesungguhnya
Allah tidaklah

melihat
pada rupa-rupa kalian,

tidak
pula pada kekayaan kalian,

akan
tetapi Allah melihat pada

hati-hati
kalian dan amal-amal

kalian.”

[Hadits
Shahih riwayat Muslim no. 2564,

Siapa
yang membersihkan hatinya maka ilmu akan halal untuk berada didalam
hati tersebut, dan siapa yang tidak menghilangkan kotoran dari
hatinya maka ilmu akan meninggalkannya dan pergi jauh.

Berkata
Sahl bin ‘Abdillah rahimahullah, “Harom atas hati untuk masuk ke
hati tersebut cahaya apabila di hati tersebut ada perkara yang Allah
membencinya.”

[Diterjemahkan
dari kitab Khulashoh

Ta’zhimil
‘Ilmi hal.9-10

karya Syaikh Shalih Al ‘Ushoimi hafizhahullah]

Judul Artikel “Hati Tempat Allah Melihat Dirimu”

.

~
~ ~ ~ ~ ~

Dukung
program & kegiatan Bidang Dakwah Pondok Pesantren Al Ukhuwah
Sukoharjo melalui donasi yang dapat disalurkan melalui rekening kami
BNI Syariah

0750020567

an.
Yayasan Pendidikan Al Ukhuwah

Konfirmasi
via WA/SMS

kirim
ke 085229200443 (Ust. Mujiron, M.Pd.I)

Profil
& Program Kegiatan :

http://bit.ly/dakwahalukhuwah

www.suaraquran.com




Membalas Jasa Pejuang Muslim Indonesia

Alhamdulillah, para pendahulu kita pun telah menyadari hal ini, sehingga dalam teks pembukaan UUD 1945 pun tercantum dengan jelas, bahwa kemerdekaan kita adalah “atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa”. Sebuah pengakuan yang tegas, yang semoga keluar dari hati yang tulus.
Alhamdulillah, para pendahulu kita pun telah menyadari hal ini, sehingga dalam teks pembukaan UUD 1945 pun tercantum dengan jelas, bahwa kemerdekaan kita adalah “atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa”. Sebuah pengakuan yang tegas, yang semoga keluar dari hati yang tulus.

Kita do’akan mereka (pejuang Indonesia yang muslim) dan seluruh kaum muslimin, memintakan ampun atas semua dosa dan kesalahan, juga agar dijauhkan dari siksa qubur & api neraka kemudian dimasukkan ke surga Allah kelak di akhirat. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin

Tidak lupa kami ingatkan untuk senantiasa menyandarkan seluruh nikmat ini kepada Allah saja dan bukan semata-mata hasil usaha para pejuang, pahlawan, tokoh-tokoh bangsa, dsb.

~Admin FP Dakwah Al Ukhuwah

Jangan lupa pula,
diantara bentuk rasa syukur kita adalah dengan mendoakan
para pahlawan muslim yang telah berjuang untuk kemerdekaan
bangsa ini. Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam
mengatakan:

Siapa
yang telah berbuat baik kepada kalian, maka balaslah kebaikannya
!
Jika kalian tak mampu membalasnya, maka doakanlah dia
,
sehingga doa tersebut mencukupi
!
[HR. Abu Dawud]

Doakan agar Allah
memberikan kemudahan dan melapangkan kuburnya, mengampuni kesalahan
mereka dan menerima amalan-amalan mereka!