1

Mensyukuri Nikmat Kemerdakaan & Rasa Aman dari Allah

Alhamdulillah
atas nikmat Islam dan Sunnah. Salawat dan salam semoga tercurah
kepada nabi kita Muhammad, para sahabatnya, dan segenap pengikut
setia mereka. Amma
ba’du.

Menjadi
bangsa yang hidup dalam kemerdekaan adalah nikmat. Sebuah kenikmatan
yang sangat besar bagi kita. Sehingga semestinya kita menjadikan
kemerdekaan itu sebagai jalan untuk menggapai tujuan hidup kita.

Allah
Ta’ala
berfirman:

((
وَمَاخَلَقْتُ
الْجِنَّ وَاْلإِنسَ إِلاَّلِيَعْبُدُونِ
))

“Tidaklah
Aku ciptakan jin dan manusia
,
melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”
 [QS.
AdzDzariyat:
56
]

Ayat
ini dengan jelas dan gamblang menjelaskan kepada kita tentang hakikat
dan tujuan hidup kita di dunia. Bahwa, hidup kita di dunia ini
semestinya dijalani dengan ketundukan kepada Allah dan mengabdi
kepada-Nya.

Ibadah,
sebagaimana diterangkan oleh para ulama mencakup segala sesuatu yang
dicintai dan diridhai Allah;
berupa ucapan dan perbuatan, yang tampak maupun yang tersembunyi.
Inilah cakupan makna ibadah. Adapun hakikat daripada ibadah adalah
perendahan dan ketundukan sepenuhnya kepada Allah dengan dibarengi
puncak kecintaan dan pengagungan dalam bentuk pelaksanaan perintah
dan menjauhi larangan-Nya.

Semata-mata
merdeka bukanlah nikmat,
apabila dengan kemerdekaan itu kita justru mempersekutukan Allah dan
berbuat kerusakan di muka bumi. Sebagaimana dikatakan oleh salah
seorang ulama salaf yang bernama Abu Hazim rahimahullah.

Beliau
mengatakan:

“Setiap
nikmat yang tidak mendekatkan diri kepada Allah maka itu adalah
malapetaka.”

Kemerdekaan
(sebagaimana nikmat-nikmat Allah yang lain, semacam kesehatan dan
waktu luang) adalah nikmat yang harus kita pertanggungjawabkan di
hadapan Allah kelak di akhirat. Apakah kita menggunakan nikmat-nikmat
ini dalam ketaatan kepada Allah; ataukah justru sebaliknya?

Kemerdekaan
bangsa kita dari tangan penjajah merupakan sebuah nikmat dan karunia
yang sangat besar. Bukan semata-mata karena kegigihan para pejuang,
namun yang paling utama ini adalah pemberian dan anugerah Allah
kepada kita. Tanpa pertolongan Allah dan bantuan dari-Nya maka tidak
ada kemerdekaan yang bisa kita dapatkan.

Allah-lah
yang memberikan nikmat kemerdekaan ini kepada kita. Allah-lah
yang membebaskan kita dari belenggu penjajahan. Oleh sebab itu,
semestinya kita pun bersyukur kepada Allah dengan melakukan apa-apa
yang dicintai Allah dan menjauhi apa-apa yang dibenci oleh-Nya.
Bukanlah syukur kepada Allah,
apabila kita justru melakukan apa-apa yang dibenci oleh-Nya.

Apalah
artinya kemerdekaan ini jika kita justru mengisi hari demi hari
dengan maksiat dan kekafiran? Apalah artinya kemerdekaan ini jika
semakin hari kita semakin jauh dari ajaran Kitabullah dan Sunnah
Rasul-Nya? Apalah artinya kemerdekaan jika hari demi hari kita
semakin larut dan tenggelam dalam penyimpangan dari jalan yang lurus?

Allah
Ta’ala
berfirman:

((
قَالَ
اهْبِطَا مِنْهَا جَمِيعًا بَعْضُكُمْ
لِبَعْضٍ عَدُوٌّ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم
مِّنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ
فَلاَ يَضِلُّ وَلاَيَشْقَى
))

 “Barangsiapa
yang mengikuti petunjuk-Ku maka niscaya dia tidak akan sesat dan
tidak pula celaka.”
 [QS.
Thaha:
123
]

Lantas, bagaimana
mensyukuri nikmat kemerdekaan dan keamanan ini?

Para
ulama menjelaskan, bahwa hakikat syukur itu adalah:

(1)
– Mengakui
di dalam hati,
bahwa nikmat berasal dari Allah;

(2)
– Mengucapkan
dengan lisan dengan memuji Allah atas nikmat itu;

(3)
– Menggunakan
nikmat hanya dalam ketaatan.

Sehingga,
hakikat syukur yang
sebenarnya adalah
dengan melakukan amal salih dan meninggalkan maksiat. Dengan
demikian, melakukan maksiat adalah perkara yang merusak syukur dan
bertentangan dengan perintah Allah.

[A]
– Mensyukuri Dengan Hati

Bersyukur dengan
hati adalah dengan mengakui secara tulus,
bahwa nikmat kemerdekaan dan kemanan ini adalah datang dari Allah
semata. Simple memang,
namun ini bentuk syukur yang sangat penting,
karena hati adalah penggerak. Ketika hati benar-benar bersyukur
dengan mengakui, bahwa kenikmatan adalah
dari Allah, maka akan mudah bagi lisan dan anggota badan untuk
menunaikan kewajiban bersyukurnya. Sebaliknya, kalau hati
mengingkari, akan berat bagi lisan dan anggota badan untuk bersyukur.
Kalaupun bersyukur, hanya alakadarnya saja, bahkan bisa terjerumus ke
dalam kemunafikan. Bahkan, hati inilah yang
menjadi pembeda orang yang benar-benar bersyukur dan orang yang
benar-benar ingkar.

Allah berfirman
dalam sebuah hadits qudsi (yang artinya):

“Pada pagi hari,
hamba-Ku ada yang beriman dan ada yang kufur pada-Ku. Mereka yang
mengatakan, ‘Kita
diberi hujan
, karena rahmat
Allah dan karunia
Nya.’
Maka, dia beriman pada-Ku dan kufur
pada bintang-bintang.

Adapun,
mereka (ada pula) yang mengatakan, ‘Kita
diberi hujan
, karena sebab
bintang ini dan itu
.’Maka,
dia telah kufur kepada-Ku dan beriman pada
bintang-bintang.” [HR.
Al Bukhari dan Muslim]

[B]
– Mensyukuri Dengan Lisan

Bersyukur dengan
lisan adalah dengan menyebut-nyebut nikmat tersebut dalam rangka
mensyukuri semua yang telah diberikan Allah
kepada kita.

Allah berfirman:

(( وَأَمَّا
بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ
))

Dan
terhadap nikmat Tuhan-mu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya
(dengan bersyukur).
[QS. Adh Dhuha: 11]

Alhamdulillah,
para pendahulu kita pun telah menyadari hal ini, sehingga dalam teks
pembukaan UUD 1945 pun tercantum dengan jelas, bahwa kemerdekaan kita
adalah “atas
berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa
”. Sebuah pengakuan
yang tegas, yang semoga keluar dari hati yang tulus.

Jangan lupa pula,
diantara bentuk rasa syukur kita adalah dengan mendoakan
para pahlawan muslim yang telah berjuang untuk kemerdekaan
bangsa ini. Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam
mengatakan:

Siapa
yang telah berbuat baik kepada kalian, maka balaslah kebaikannya
!
Jika kalian tak mampu membalasnya, maka doakanlah dia
,
sehingga doa tersebut mencukupi
!
[HR. Abu Dawud]

Doakan agar Allah
memberikan kemudahan dan melapangkan kuburnya, mengampuni kesalahan
mereka dan menerima amalan-amalan mereka!

[C]
– Mensyukuri Dengan Raga

Mensyukuri dengan
raga ini adalah pengejawantahan terbesar,
serta bukti dari rasa syukur kita terhadap nikmat kemerdekaan dan
keamanan ini. Mensyukuri dengan raga adalah mengisi kemerderkaan ini
dengan segala yang Allah perintahkan dan menjauhi segala yang Allah
larang. Diantaranya adalah dengan menegakkan Islam pada diri
pribadi dan masyarakat kita.
Sejenak, marilah kita melihat kondisi negara-negara lain; betapa
banyak diantara mereka yang sulit mengumandangkan azan, sulit mencari
makanan halal, kaum muslimahnya sulit untuk berpakaian syari, sulit
untuk menegakkan shalat berjamaah, bahkan untuk shalat sendiri-pun
sulit. Adapun kita, teramat mudah melakukan
berbagai macam ibadah-ibadah, baik yang
bersifat pribadi maupun berjamaah, masya
Allah
..

Selain menjalankan
ibadah yang sesuai dengan tuntunan Islam, rasa syukur ini pula perlu
kita wujudkan dengan dakwah. Mengajak masyarakat kita dari mulai yang
paling dekat untuk sama-sama taat, untuk sama-sama beramal kebaikan,
untuk sama-sama menegakkan Islam serta menjauhi segala bentuk
kesyirikan dan kekufuran, segala bentuk dosa dan maksiat.

Allah
Ta’ala berfirman:

( وَمَنْ
أَحْسَنُ قَوْلاً مِّمَّن دَعَآ إِلَى
اللهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِى
مِنَ الْمُسْلِمِينَ
))

Siapakah
yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada
Allah, mengerjakan amal yang shalih dan berkata: ‘Sesungguhnya aku
termasuk orang-orang yang berserah diri.’.”
[QS.
Fushshilat: 33]

Sebab, kebaikan
berupa aqidah yang benar dan amalan yang shalih, tidak cukup
dikerjakan sendiri saja, namun harus disebarkan, sehingga seluruh
penduduk negeri ini bisa sama-sama mengerjakannya dan barulah Allah
bukakan pintu berkah-Nya dari langit dan bumi.

(( وَلَوْ
أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى ءَامَنُوا
وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم
بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَآءِ وَاْلأَرْضِ
وَلَكِن كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ
بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
))

Jikalau
sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami
akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi
mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka
disebabkan perbuatannya.”
 [QS. Al A’raf: 96]

[D]
– Efek Kalau Tak Bersyukur

Apa yang terjadi
seandainya nikmat kemerdekaan ini tidak disyukuri?
Bencana,
musibah yang akan terjadi. Lihatlah,
bagaimana Allah berikan kekuasaan kepada Fir’aun!
Bukannya bersykur, Fir’aun malah sombong, sampai-sampai mengatakan:

(( فَقَالَ
أَنَا رَبُّكُمُ اْلأَعْلَى
))

Akulah
tuhanmu yang paling tinggi.”
 [QS. An Nazi’at:
24]

Akhirnya,
Allah-pun mengazab Fir’aun.

(( فَأَخَذْنَاهُ
وَجُنُودَهُ فَنَبَذْنَاهُمْ فِي الْيَمِّ
وَهُوَ مُلِيمٌ
))

Maka,
Kami siksa Fir’aun dan tentaranya
,
lalu Kami tenggelamkan mereka ke dalam laut
. [QS.
Adz Dzariyat: 40
]

Lihat pula kawan
sependeritaan Fir’aun, Qarun, nama yang
diabadikan dalam Al Qur-an dengan harta dan
kekayaan yang melimpah:

(( إِنَّ
قَارُونَ كَانَ مِن قَوْمِ مُوسَى فَبَغَى
عَلَيْهِمْ وَءَاتَيْنَاهُ مِنَ الْكُنُوزِ
مَآإِنَّ مَفَاتِحَهُ لَتَنُوأُ
بِالْعُصْبَةِ أُوْلِى الْقُوَّةِ إِذْ
قَالَ لَهُ قَوْمُهُ لاَتَفْرَحْ إِنَّ
اللهَ لاَيُحِبُّ الْفَرِحِينِ
))

Dan,
Kami telah menganugerahkan kepada Qarun perbendaharaan harta yang
kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang
kuat-kuat
. [QS.
Al Qashash: 76
]

Bukannya bersyukur
dan mengeluarkan hak harta tersebut untuk membantu orang lain, Qarun
malah sombong dan berbangga-bangga seraya mengatakan:

(( قَالَ
إِنَّمَآ أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِندِي
))

Qarun
berkat
a, ‘Sesungguhnya aku
hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku
.’
[QS. Al
Qashash: 78
]

Walhasil, Allah-pun
menenggelamkan Qarun bersama harta kekayaan yang disombongkannya ke
dalam perut bumi:

(( فَخَسَفْنَا
بِهِ وَبِدَارِهِ اْلأَرْضَ فَمَا كَانَ
لَهُ مِن فِئَةٍ يَنصُرُونَهُ مِن دُونِ
اللهِ وَمَاكَانَ مِنَ الْمُنتَصِرِينَ
))

Maka,
Kami benamkan
Qarun beserta
rumahnya ke dalam bumi. Maka
,
tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya dari azab
Allah
.” [QS.
Al Qashash: 81]

[E]
– Foya-Foya Bukan Wujud Rasa Syukur

Apabila kita
renungkan, ketika mengingat kemerdekaan, seringnya kita melakukan
berbagai macam hal-hal yang tidak ada hikmahnya. Justru
pemborosan dan buang-buang uang yang seharusnya tidak dilakukan,
apalagi di zaman yang serba susah,
seperti sekarang ini. Ada lilin
dijejer banyak, kemudian dinyalakan
apinya, lalu ditiup lagi.
Itupun hanya dipakai setaun sekali. Krupuk
digantungkan, dimakan sedikit-sedikit sambil berdiri
dan tidak habis. Belum lagi pesta pora semalam suntuk dengan
menggelar musik yang tidak jarang berujung pada bentrok antara
pemuda. Maka, ini semua bukanlah wujud rasa syukur, bahkan bisa
menjadikan kita temannya setan:

(( إِنَّ
الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ
الشَّيَاطِينَ وَكَانَ الشَّيْطَانُ
لِرَبِّهِ كَفُورًا
))

Sesungguhnya
pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan, dan setan itu
adalah sangat ingkar kepada Tuhan-nya
.
[QS. Al Isra: 27]

Andai
saja, uang tersebut digunakan untuk membantu janda-janda dan
veteran-veteran pejuang Islam yang tak jarang nasibnya sangat
memprihatinkan, membantu fakir miskin yang masih sangat banyak
bertebaran di sekitar kita, memberikan beasiswa kepada cucu-cucu para
pejuang agar bisa mendapatkan fasilitas belajar yang layak, tentunya
jauh lebih baik.

Kita memohon kepada
Allah agar memberi kita petunjuk untuk senantiasa bersyukur
kepada-Nya dengan hati kita, lisan kita, dan anggota tubuh kita. Kita
pun memohon agar Dia senantiasa memberikan nikmat-Nya pada kita dan
jangan menjadikan musibah yang turun sebagai azab bagi
kita. Aamien, yaa mujiibas saa–ilien.

| Artikel Buletin At
Tauhid

| Oleh: Ustadz
Amrullah Akadhinta, S.T.

|
Pimpinan Yayasan Pendidikan Islam Al Atsari ; Alumni Ma’had
Al ‘Ilmi Yogyakarta




Kisah Menakjubkan Imam Nawawi dalam Menghargai Waktu

Sepertinya
tidak ada yang tidak kenal dengan Imam Nawawi. Nama aslinya adalah
Yahya bin Syarof. Lahir pada tahun 631 H. Oleh Imam Dzahabi dijuluki
sebagai Al-Imam,
Al-Hafizh, Syaikhul Islam, ‘Alamul ‘Ulama (lambangnya para
ulama).

Setiap
harinya

Imam Nawawi mempunyai 12
majelis ilmu yang didatangi
.
Imam Nawawi tidak pernah menyia-nyiakan waktu sedikitpun. Siang malam
menyibukkan diri dengan ilmu. Bahkan dalam perjalanan pun beliau
mengulang-ulang hafalan ilmunya.

Beliau
menjalani ini semua selama 6 tahun. Setelah itu beliau mulai menulis,
mengajar, memberi nasehat dan menegakkan kebenara, amar ma’ruf nahi
munkar. Beliau juga menyibukkan diri dengan amalan-amalan sunnah,
seperti dzikir, puasa, shalat sunnah. Bahkan beliau juga sabar dengan
kesederhanaan hidup.

Pernah suatu ketika Imam Nawawi ‘disalahkan’ dalam penukilan dari kitab ‘Al-Wasith’. Lalu Imam Nawawi mengatakan: “Apakah kamu mendebatku dalam hal penukilan ini? Sedangkan aku telah meneliti kitab ‘Al-Wasith’ sebanyak 400 kali?”

[Sumber: Artikel Buletin AL MINHAJ No.41 tahun XIII, Dzulhijjah 1440 H | Agustus 2019]




Masuk Islam Secara ‘Kafah’

Masuk Islam Secara ‘Kafah’

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ كَاۤفَّةً ۖوَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ – ٢٠٨

“Hai
orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah
kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata
bagimu.”

(Al-Baqarah:
208)

Ayat-ayat Sebelumnya

Dengan memperhatikan ayat-ayat
sebelumnya, kita akan mendapatkan satu pelajaran penting berkaitan dengan
Al-Qur’an, yaitu keindahan Al-Qur’an dari sisi maknanya.

Mulai dari ayat 204 sampai 206,
Allah menyebutkan tentang orang-orang munafik di zaman Nabi, yang mana hati
mereka tidak beriman akan tetapi menampakkan di hadapan umat Islam seolah-olah
beriman. Padahal itu semua hanya pura-pura, dengan niat yang jelek. Di
antaranya adalah untuk membuat ‘kekacauan’ di tengah-tengah umat Islam.

Kemudian, di ayat ke 207 Allah
menyebutkan tentang orang beriman yang keimanannya lahir batin. Yang salah satu
sifatnya adalah mengorbankan segala yang dimilikinya demi mencari ridho Allah.

Kemudian di ayat ke 208, Allah
menjelaskan tentang bagaimana beragama Islam yang benar, yaitu dengan cara
masuk Islam secara ‘kafah’ (menyeluruh). Dengan melihat makna-makna ayat ini
maka kita mengetahui bagaimana keindahan susunan makna ayat-ayat Al-Qur’an.

Berikut ini ayat-ayat tersebut:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُّعْجِبُكَ قَوْلُهٗ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَيُشْهِدُ اللّٰهَ عَلٰى مَا فِيْ قَلْبِهٖ ۙ وَهُوَ اَلَدُّ الْخِصَامِ – ٢٠٤

وَاِذَا تَوَلّٰى سَعٰى فِى الْاَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيْهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ ۗ وَ اللّٰهُ لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ – ٢٠٥

وَاِذَا قِيْلَ لَهُ اتَّقِ اللّٰهَ اَخَذَتْهُ الْعِزَّةُ بِالْاِثْمِ فَحَسْبُهٗ جَهَنَّمُ ۗ وَلَبِئْسَ الْمِهَادُ – ٢٠٦

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّشْرِيْ نَفْسَهُ ابْتِغَاۤءَ مَرْضَاتِ اللّٰهِ ۗوَاللّٰهُ رَءُوْفٌۢ بِالْعِبَادِ – ٢٠٧

“Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan
dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi
hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras.

Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk
mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak,
dan Allah tidak menyukai kebinasaan.

Dan apabila dikatakan kepadanya: “Bertakwalah kepada
Allah”, bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka
cukuplah (balasannya) neraka Jahannam. Dan sungguh neraka Jahannam itu tempat
tinggal yang seburuk-buruknya.

Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena
mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” (Al-Baqarah:
204-207)

Asbabun Nuzul

Tentang Asbabun Nuzul ayat ini, di
dalam kitab ‘Tafsir Jalalain’ disebutkan:

نَزَلَ فِي عَبْد اللَّه بْن سَلَام وَأَصْحَابه لَمَّا عَظَّمُوا
السَّبْت وَكَرِهُوا الْإِبِل بَعْد الْإِسْلَام

“Ayat ini turun berkenaan
dengan Abdullah bin Salam dan sahabat-sahabatnya ketika mereka
mengagung-agungkan hari Sabtu dan mengharamkan onta setelah mereka masuk
Islam.”

Hal yang sama juga disebutkan dalam
kitab tafsir ‘Al-Wajiz’, karya Imam Al-Wahidi rahimahullah.

Penjelasan:

Abdullah bin Salam adalah orang yang
beragama Yahudi kemudian masuk Islam. Hanya saja, ketika masuk Islam dia masih
menjalankan sebagian ajaran agama Yahudi, misalnya mengagungkan hari Sabtu dan
tidak makan onta.

Padahal menurut ajaran Islam hari
yang paling agung adalah hari Jum’at. Dan menurut ajaran Islam onta halal
dimakan.

Karena itu Allah meluruskan
pemahamannya melalui ayat ini. Dan pelajarannya untuk kita adalah semua ajaran
yang bertentangan dengan ajaran Islam maka harus ditinggalkan. Dan inilah makna
‘masuk Islam secara menyeluruh’.

Tafsir

Tentang makna ayat ini syaikh Jabir
Al-Jazairi di dalam kitab ‘Aisarut Tafasir’ mengatakan:

ينادي الحق تبارك وتعالى عباده المؤمنين آمراً إياهم الدخول في
الإسلام دخولاً شمولياً، بحيث لا يتخيرون بين شرائعه وأحكامه ما وافق مصالحهم
وأهواءهم قبلوه وعملوا به، وما لم يوافق ردوه أو تركوه وأهملوه، وإنما عليهم أن
يقبلوا شرائع الإسلام وأحكامه كافة، ونهاهم عن اتباع خطوات الشيطان في تحسين
القبيح وتزيين المنكر

“Allah memanggil hamba-hamba Nya
yang beriman, memerintah mereka untuk masuk ke dalam agama Islam secara
menyeluruh, yaitu dengan tidak memilih-milih ajaran-ajaran atau hukum-hukum;
yang sesuai dengan kepentingan-kepentingan dan hawa nafsu maka mereka
menerima, dan yang tidak sesuai maka mereka menolaknya atau meninggalkannya
atau menyia-nyiakannya
.

Kewajiban mereka hanyalah menerima
ajaran-ajaran Islam dan hukum-hukumnya secara keseluruhan. Dan Allah melarang
mereka dari mengikuti visi misi setan dalam menganggap baik sesuatu yang jelek
dan menganggap jelek sesuatu yang baik.”

Di dalam kitab ‘Taisirul Karimir
Rahman’ ada tambahan penjelasan sebagai berikut:

وأن
يفعل كل ما يقدر عليه، من أفعال الخير، وما يعجز عنه، يلتزمه وينويه، فيدركه
بنيته.

“… melakukan semua kebaikan yang
disanggupi. Dan yang dia tidak sanggup melakukannya maka bertekad kuat untuk
melakukan (ketika mampu) dan niat melakukannya, sehingga dia mendapatkan
pahalanya dengan niatnya.”

Berdasarkan penjelasan ini maka jika
misalnya saat ini kita belum mampu untuk haji, dikarenakan belum memiliki uang
yang cukup untuk haji, kita harus mempunyai cita-cita dan niat untuk
melakukannya ketika ada kemampuan. Dengan demikian kita telah masuk Islam
secara menyeluruh. Meskipun saat ini kita belum melakukan ibadah haji.

Di dalam kitab ‘Shofwatut Tafasir’,
ada penjelasan yang hampir sama dengan tambahan penjelasan sebagai berikut:

ادخلوا في الإِسلام بكليته في جميع أحكامه وشرائعه، فلا تأخذوا حكماً
وتتركوا حكماً، لا تأخذوا بالصلاة وتمنعوا الزكاة مثلاً فالإسلام كل لا يتجزأ

“Masuklah ke dalam agama
Islam secara keseluruhan, di semua hukum-hukumnya dan ajaran-ajarannya. Jangan
hanya menerima ajaran tertentu dan meninggalkan ajaran Islam yang lainnya.
Misalnya: Jangan hanya menerima ajaran shalat, tapi menolak ajaran zakat.
Karena ajaran agama Islam itu ‘satu kesatuan’ dan tidak terpisah-pisah.”

Berdasarkan penjelasan
ini maka tidak benar jika seandainya ada seorang wanita muslimah yang tidak
suka dengan syari’at ‘jilbab’. Meskipun dia menerima syari’at Islam yang
lainnya, misalnya shalat, puasa Ramadhan dan lain-lain. Karena perintah Allah
untuk masuk Islam secara menyeluruh konsekwensinya adalah menerima semua ajaran
Islam.

Di dalam kitab tafsir ‘At-Tashil Li
‘Ulumit Tanzil’ ada penjelasan tambahan bahwa ayat ini juga mengandung makna
supaya teguh di atas agama Islam. Maksudnya masuk Islam secara
menyeluruh juga mengandung arti supaya kita mempertahankan keyakinan ini sampai
akhir hayat.

Di dalam kitab ‘Zadul Masir’ karya
Ibnul Jauzi, ada penjelasan tambahan bahwa ayat ini ada yang menafsirkan:
Perintah agar masuk Islam ‘lahir’ dan ‘batin’. Maksudnya, lesan dan perbuatan
menyatakan Islam dan hati juga meyakininya. Wallahu a’lam

Penjelasan Tentang ‘Langkah-langkah’
Setan

Di akhir ayat tentang perintah masuk
Islam secara menyeluruh ada peringatan dari Allah supaya kita menjauhi
langkah-langkah setan. Menurut syaikh As-Sa’di, hal ini memberi pelajaran bahwa
untuk bisa ‘masuk Islam secara menyeluruh’ harus menjauhi langkah-langkah setan
ini.

Maka sangat penting kita mengetahui
apa yang dimaksud ‘langkah-langkah setan’ di ayat ini. Menurut syaikh Jabir
Al-Jazairi, ‘langkah-langkah setan’ adalah ajakan-ajakan setan untuk melakukan
kesesatan dan untuk menganggap baik sesuatu yang jelek. Sedangkan menurut
syaikh As-Sa’di, langkah-langkah setan di ayat ini adalah maksiat-maksiat.

Hikmah dan Pelajaran dari Ayat

Berikut ini beberapa hikmah dari
ayat tentang ‘Islam Kafah’ dari kitab ‘Aisarut Tafasir’:

  1. Wajib menerima
    semua ajaran Islam dan tidak boleh memilih-milih ajaran sesuka hati.
  2. Orang yang
    menghalalkan sesuatu yang haram atau mengharamkan sesuatu yang halal maka dia
    telah mengikuti setan. Wallahu a’lam

Fajri NS

Download PDF : [sdm_download id=”1319″ fancy=”0″]




Terus Do’akan Pemimpin Negeri Ini

Hendaknya kita berbaik sangka berhusnuzhon saja pada taqdir Allah dengan tetap mendoakan yg terbaik & menasihati pemimpin secara khusus langsung (tidak terang-terangan maupun di depan umum) atau mengkoreksi kesalahan secara umum dengan tanpa menyebutkan nama ataupun mencela pribadinya.

Alhamdulillah jarang-jarang kita dikaruniai Allah mendapat pemimpin (wakil presiden) dari “Ulama” yang sebelumnya menjabat sebagai ketua Majelis Ulama Indonesia.

Hendaknya kita berbaik sangka berhusnuzhon saja pada taqdir Allah dengan tetap mendoakan yg terbaik & menasihati pemimpin secara khusus langsung (tidak terang-terangan maupun di depan umum) atau mengkoreksi kesalahan secara umum dengan tanpa menyebutkan nama ataupun mencela pribadinya.

Mudah-mudahan Allah Melindungi pemimpin-pemimpin dan pemegang urusan (ulil amri) kita dari penasehat, menteri, dan teman bergaul yang buruk, serta Memberinya petunjuk untuk melaksanakan kebijakan yang bermanfaat bagi Islam dan kaum muslimin.

Aamiin ya Rabb

(Disalin dari status dr. Bryan Pandu Permana dengan beberapa perubahan)




[VIDEO] Kajian Ahad Pagi Masjid Agung Baturetno, Wonogiri “Meraih Kebahagiaan” – Ust. Aris Sugiyantoro, Lc

[VIDEO] Kajian Ahad Pagi Masjid Al Ghaniy, Baturetno, Wonogiri “Meraih Kebahagiaan” – Ust. Aris Sugiyantoro, Lc

Alhamdulilllah wa shalatu wa salaamu ‘alaa rosulillah,
berikut kami hadirkan video kajian ahad pagi bersama Al Ustadz Aris Sugiyantoro, Lc (Mudir Ponpes Al Ukhuwah, Sukoharjo) di Masjid Al Ghoniy, Baturetno, Wonogiri pada Ahad, 26 Mei 2019

Selamat mendengarkan…




Saat Allah Memberimu Harta

Abu Muhammad Sahl bin Abdillah At-Tustari rahimahullah berkata,

إن أعطاك الله المال تشاغلت بحفظه، وإن لم يعطك تشاغلت بطلبه، فمتى تتفرغ له؟

“Ketika Allah memberikan harta untukmu, engkau pun akan sibuk
mengurusinya. Ketika Allah tidak memberikannya untukmu niscaya engkau
menjadi sibuk mencarinya. Lalu kapan engkau memiliki waktu untuk-Nya?”

(Tafsir At-Tustari 1/169)




4 Macam Manusia dan Cara Menghadapinya

Al-Khalil bin Ahmad rahimahullah pernah berkata,

الرجال أربعة رجل يدري ويدري أَنه يدري فذلك عالم فاتبعوه وسلوه، ورجل لا
يدري ويدري أنه لا يدري فذلك جاهل فعلموه، ورجل يدري ولا يدري أَنه يدري
فذلك عاقل فنبهوه، ورجل لا يدري ولا يدري أنه لا يدري فذلك مائق فاحذروه

“Manusia itu ada empat jenis;
[1] Seseorang yang tahu dan menyadari bahwa ia adalah orang yang
mengetahui, dialah orang yang alim, maka ikuti dan bertanyalah padanya.
[2] Seseorang yang yang tidak tahu dan menyadari bahwa ia adalah orang
yang tidak mengetahui, dialah orang yang jahil (awam), maka ajarilah
dia.
[3] Seseorang yang tahu akan tetapi tidak sadar bahwa ia adalah
orang yang mengetahui, dialah orang yang memiliki akal (tetapi lalai),
maka ingatkanlah dia.
[4] Seseorang yang tidak tahu akan tetapi
tidak sadar bahwa ia adalah orang yang tidak mengetahui, dialah orang
yang sok tahu, berhati-hatilah darinya.”

(Jami’ Bayan Al-Ilmi wa Fadhlihi 2/820 no. 1530 karya Ibnu Abdil Barr melalui Maktabah Syamilah)

~ ~ ~ * — * ~ ~ ~
Donasikan sebagian rizki anda untuk kegiatan Dakwah al Ukhuwah melalui
BNI Syariah 0750020567 an. Bidang Dakwah al Ukhuwah
Profil : http://suaraquran.com/index.php/program/
CP : 08170457004 (Ustadz Abu Yusuf al Atsari)

Fanspage www.facebook.com/suaraquransq
Instagram @suaraquran_solo
Youtube suaraquran channel

www.suaraquran.com

Al-Khalil bin Ahmad rahimahullah pernah berkata, الرجال أربعة رجل يدري ويدري أَنه يدري فذلك عالم فاتبعوه وسلوه، ورجل لا يدري ويدري أنه لا يدري فذلك جاهل فعلموه، ورجل يدري ولا يدري أَنه يدري فذلك عاقل فنبهوه، ورجل لا يدري ولا يدري أنه لا يدري فذلك مائق فاحذروه "Manusia itu ada empat jenis; [1] Seseorang yang tahu dan menyadari bahwa ia adalah orang yang mengetahui, dialah orang yang alim, maka ikuti dan bertanyalah padanya. [2] Seseorang yang yang tidak tahu dan menyadari bahwa ia adalah orang yang tidak mengetahui, dialah orang yang jahil (awam), maka ajarilah dia. [3] Seseorang yang tahu akan tetapi tidak sadar bahwa ia adalah orang yang mengetahui, dialah orang yang memiliki akal (tetapi lalai), maka ingatkanlah dia. [4] Seseorang yang tidak tahu akan tetapi tidak sadar bahwa ia adalah orang yang tidak mengetahui, dialah orang yang sok tahu, berhati-hatilah darinya." (Jami' Bayan Al-Ilmi wa Fadhlihi 2/820 no. 1530 karya Ibnu Abdil Barr melalui Maktabah Syamilah) ~ ~ ~ * --- * ~ ~ ~ Donasikan sebagian rizki anda untuk kegiatan Dakwah al Ukhuwah melalui BNI Syariah 0750020567 an. Bidang Dakwah al Ukhuwah Profil : http://suaraquran.com/index.php/program/ CP : 08170457004 (Ustadz Abu Yusuf al Atsari) Fanspage www.facebook.com/suaraquransq Instagram @suaraquran_solo Youtube suaraquran channel www.suaraquran.com
Al-Khalil bin Ahmad rahimahullah pernah berkata,

الرجال أربعة رجل يدري ويدري أَنه يدري فذلك عالم فاتبعوه وسلوه، ورجل لا يدري ويدري أنه لا يدري فذلك جاهل فعلموه، ورجل يدري ولا يدري أَنه يدري فذلك عاقل فنبهوه، ورجل لا يدري ولا يدري أنه لا يدري فذلك مائق فاحذروه

“Manusia itu ada empat jenis;
[1] Seseorang yang tahu dan menyadari bahwa ia adalah orang yang mengetahui, dialah orang yang alim, maka ikuti dan bertanyalah padanya.
[2] Seseorang yang yang tidak tahu dan menyadari bahwa ia adalah orang yang tidak mengetahui, dialah orang yang jahil (awam), maka ajarilah dia.
[3] Seseorang yang tahu akan tetapi tidak sadar bahwa ia adalah orang yang mengetahui, dialah orang yang memiliki akal (tetapi lalai), maka ingatkanlah dia.
[4] Seseorang yang tidak tahu akan tetapi tidak sadar bahwa ia adalah orang yang tidak mengetahui, dialah orang yang sok tahu, berhati-hatilah darinya.”

(Jami’ Bayan Al-Ilmi wa Fadhlihi 2/820 no. 1530 karya Ibnu Abdil Barr melalui Maktabah Syamilah)

~ ~ ~ * — * ~ ~ ~
Donasikan sebagian rizki anda untuk kegiatan Dakwah al Ukhuwah melalui
BNI Syariah 0750020567 an. Bidang Dakwah al Ukhuwah
Profil : http://suaraquran.com/index.php/program/
CP : 08170457004 (Ustadz Abu Yusuf al Atsari)

Fanspage www.facebook.com/suaraquransq
Instagram @suaraquran_solo
Youtube suaraquran channel

www.suaraquran.com




Menjelang 10 Hari Terakhir Ramadhan

Perbagus ibadah dan ajak
serta keluarga kita untuk memanfaatkan sisa hari-hari ini dengan
sebaik-baiknya. Sebagaimana Nabi Muhammad juga bersungguh-sungguh dan
membangunkan keluarga beliau yang mulia untuk ibadah,

عَنْ
عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ:- أَنَّ اَلنَّبِيَّ – صلى الله
عليه وسلم – كَانَ يَعْتَكِفُ اَلْعَشْرَ اَلْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ,
حَتَّى تَوَفَّاهُ اَللَّهُ, ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ –
مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwasanya Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam biasa beri’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan
Ramadhan hingga beliau diwafatkan oleh Allah. Lalu istri-istri beliau
beri’tikaf setelah beliau wafat. Muttafaqun ‘alaih.

(HR. Bukhari no. 2026 dan Muslim no. 1172)

~ ~ ~ * — * ~ ~ ~
Bagi anda yang ingin memberikan infaq terbaik untuk kegiatan i’tikaf,
ifthar (memberi makan berbuka) & memberikan makan sahur, serta
kajian di 10 hari terakhir bulan Ramadhan di Masjid Ibnu ‘Utsaimin PP Al
Ukhuwah bisa melalui donasi ke rekening

BNI Syariah
0750020567
an. Yayasan Pendidikan Al Ukhuwah

Konfirmasi via WA tujuan infaq donasi ke
08170457004 (Ust. Abu Yusuf Suharno)
/ 085229200443 (Ust. Mujiran, M.Pd.I)

Profil & Program : http://bit.ly/dakwahalukhuwah
Fanspage : Dakwah Al Ukhuwah
Instagram : @SuaraQuran_Solo
Youtube : SuaraQuran Channel

www.suaraquran.com




Bagaimana Agar Dibukakan Kelapangan HATI ??

Jangan lupa ikhlash agar hati lapang dan bahagia. Diantaranya dengan memperbagus amalan di kala sendiri.

Al Imam Malik bin Anas rahimahullah berkata,
من أحب أن تفتح له فرجة في قلبه فليكن عمله في السر أفضل منه في العلانية

“Barangsiapa yang menginginkan agar dibukakan celah pada hatinya, maka hendaklah amalannya saat bersendiri lebih baik daripada ketika ia di tengah keramaian.”
(Tartib Al-Madarik wa Taqrib Al-Masalik li-Ma’rifat A’lam Mazhab Malik 2/60 karya Al-Qadhi ‘Iyadh)

~ ~ ~ * — * ~ ~ ~
Bagi anda yang ingin berkontribusi dalam tersebarnya dakwah Islam dan Sunnah di tengah masyarakat dapat melalui infaq dan donasi pada program dan layanan Dakwah Al Ukhuwah melalui transfer ke rekening

BNI Syariah
0750020567
an. Yayasan Pendidikan Al Ukhuwah

Konfirmasi ke
08170457004 (Ust. Abu Yusuf Suharno)
/ 085229200443 (Ust. Mujiran, M.Pd.I)

Profil & Program : http://bit.ly/dakwahalukhuwah
Fanspage : Dakwah Al Ukhuwah
Instagram : @SuaraQuran_Solo
Youtube : SuaraQuran Channel

www.suaraquran.com




Profil & Program Bidang Dakwah Ponpes Al Ukhuwah Sukoharjo

LAYANAN & PROFIL BIDANG DAKWAH AL UKHUWAH

Bismillah,
Senantiasa kita memuji dan menyajung Allah Ta’ala Rabb alam semesta atas semua nikmat-Nya.Tak lupa semoga shalawat Allah dan kesalamatan dari-Nya tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Bidang Dakwah merupakan salah satu unit Pondok Pesantren Al Ukhuwah Sukoharjo yang dengan tujuan menjadi wadah kegiatan dakwah yang diselenggarakan oleh ponpes al Ukhuwah baik yang berkaitan dengan civitas Pesantren maupun masyarakat luas.

Struktur Organisasi
Ketua : Ust. Abu Yusuf Suharno
Sekretaris : Ust. Ali Mukti Z.K., S.Pd.I
Dakwah Internal : Ust. Abdani
Dakwah Eksternal & Bendahar : Ust. Mujiran, M.Pd.I
Dakwah InsanTV dan IT : Muhammad Ali Aziz

LAYANAN & PROGRAM BIDANG DAKWAH AL UKHUWAH
1. Insan TV Sukoharjo
2. Streaming radio SuaraQuran
3. Website www.suaraquran.com
4. Penerbitan buletin jum’at AL MINHAJ
5. Penerbitan buku gratis
6. Pengiriman khotib khutbah jum’at di area Sukoharjo
7. Pengiriman da’i kajian rutin
8. Pengiriman da’i kegiatan ramadhan dan khutbah Idul Adha
9. Pembinaan guru TPQ
10. Penyelenggaraan musabaqoh (perlombaan) antar TPQ
11. Kajian Ahad Pagi Ponpes Al Ukhuwah
12. Kajian Bulanan karyawan
13. Tabligh Akbar
14. Dauroh/Seminar Muslimah
15. Dauroh/Seminar Pelajar dan Mahasiswa
16. Dauroh Syar’iyyah/Mulataqo du’at (pertemuan para da’i)
17. Bakti sosial dan pengiriman relawan peduli bencana
18. Pembuatan poster, banner, dan stiker dakwah
19. Safari Dakwah (Pacitan, Lombok, Palu, Bayat Klaten)
20. Khitanan Massal (Semin, Gunungkidul)
21. Pesantren Sore Pewaris Masjid di wilayah Bayat, Klaten, dan Gunung Kidul

Bagi kaum muslimin ingin mendapatkan manfaat dari layanan dan program kami bisa berkunjung ke Kantor Dakwah Ponpes Al Ukhuwah, Joho, Sukoharjo (selatan alun alun kota Sukoharjo) atau menghubungi via WA ke 085229200443 (Ust. Mujiran)

Demikian, mudah-mudahan Allah jadikan ini sebagai wasilah tersebarnya dakwah islam yang haq ke tengah-tengah manusia dan menjadikannya amalan yang ikhlash dan pahala yang tidak terputus-putus.

~ ~ ~ * — * ~ ~ ~

Bagi anda yang ingin berkontribusi dalam tersebarnya dakwah Islam dan Sunnah di tengah masyarakat dapat melalui infaq dan donasi pada program dan layanan Dakwah Al Ukhuwah melalui transfer ke rekening

BNI Syariah
0750020567
an. Yayasan Pendidikan Al Ukhuwah

Konfirmasi ke
08170457004 (Ust. Abu Yusuf Suharno)
/ 085229200443 (Ust. Mujiran, M.Pd.I)

Profil & Program : http://bit.ly/dakwahalukhuwah
Fanspage : Dakwah Al Ukhuwah
Instagram : @SuaraQuran_Solo
Youtube : SuaraQuran Channel

www.suaraquran.com