1

Para Pemuda Istimewa di Sekeliling Nabi Muhammad ﷺ

Lembar-lembar sejarah Nabi Muhammad ﷺ tidak sepi dari nama-nama para pemuda. Di usia mereka yang masih belia tersebut, telah memiliki peran besar dalam agama. Hal ini tidaklah mustahil jika kita melihat siapa guru mereka. Dia adalah manusia yang paling mulia, Nabi Muhammad ﷺ.

Semua sahabat Nabi adalah orang yang mulia. Apakah yang pertama-tama masuk Islam, atau yang hijrah atau yang dari kaum Anshar, dan para sahabat Nabi yang lainnya. Allah telah meridhai mereka semua.

Allah berfirman:

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (At-Taubah : 100)

Berikut ini contoh-contoh para pemuda dari kalangan para sahabat Nabi dengan keistimewaan masing-masing dari mereka:

Ali bin Abi Thalib

 Di awal-awal masa kenabian, Ali bin Abi Thalib diberi tugas oleh Nabi dengan tugas yang berat dan sangat beresiko. Yaitu menginap di rumah Nabi, untuk mengecoh orang-orang musyrik yang berencana membunuh Nabi di rumahnya. Dengan begitu maka mereka mengira yang di dalam rumah itu adalah Nabi, padahal sebenarnya ‘Ali bin Abi Thalib.

Sementara Nabi Muhammad dan Abu Bakar berhasil lolos dari pantauan orang-orang musyrik. Nabi dan Abu Bakar berhasil meninggalkan Mekah menuju Madinah.

Tentunya tugas yang diemban Ali bin Abi Thalib sangat berbahaya, karena bisa saja para pemuda musyrik tersebut tiba-tiba memasuki rumah Nabi dan langsung menebaskan pedang mereka.

Dan alhamdulillah hal ini tidak terjadi. Ali bin Abi Thalib menyelesaikan tugas ini dengan baik dan selamat. Tidak terluka sedikitpun.

‘Abdullah bin ‘Abbas (Ibnu ‘Abbas)

 Sebuah kemuliaan besar yang dimilikinya dan tidak semua orang bisa mendapatkannya, adalah kekerabatannya dengan Nabi Muhammad dan didoakan oleh Nabi Muhammad ﷺ. Dia mendapatkan doa supaya Allah menganugerahinya ilmu ‘tafsir Al-Qur’an’.

Doa ini dia dapatkan tidak ‘gratis’. Nabi memperhatikannya, di usia yang masih sangat muda itu sangat semangat mendapatkan ilmu syar’i. Akhirnya Nabi mendoakannya. Hingga akhirnya dia dikenal sebagai ‘habrul ummah’, yaitu ulamanya umat Nabi Muhammad ﷺ.

‘Abdullah bin ‘Umar bin Khathab (Ibnu ‘Umar)

 Ayahnya adalah khalifah ke dua. Ibnu ‘Umar  masuk  Islam sejak kecil, ketika masih di Mekah. Perang yang pertama kali diikuti adalah perang Khandaq’. Meski masih sangat muda, Ibnu ‘Umar dikenal dengan sifat kesederhanaan dan zuhud terhadap kehidupan dunia. Ibnu ‘Umar termasuk deretan alim ulama dari kalangan para sahabat Nabi Muhammad ﷺ.

‘Abdullah bin Mas’ud (Ibnu Mas’ud)

 Dia termasuk sahabat Nabi Muhammad ﷺ yang pertama-tama masuk Islam. Dia juga merupakan pelayan Nabi Muhammad ﷺ. Imam Dzahabi mengatakan : “Abdullah bin Mas’ud adalah Imam Rabbani. Nabi merekomendasikan bacaan Al-Qur’an ‘Abdullah bin Mas’ud untuk dicontoh. Sebagaimana Ibnu ‘Abbas, Ibnu Mas’ud juga termasuk ulamanya para sahabat Nabi Muhammad ﷺ.

 Anas bin Malik

 Orang tuanya telah merelakannya untuk menjadi pelayan Nabi Muhammad ﷺ. Sebuah anugerah yang tidak semua orang mendapatkannya. Anas bin Malik hidup bersama Nabi, menjadi pelayannya semenjak dia berusia 10 tahun. Dia termasuk sahabat Nabi Muhammad yang berusia panjang.

Ada yang mengatakan Anas bin Malik meninggal pada usia 103 tahun. Namun menurut Imam Ibnu ‘Abdil Barr, Anas bin Malik meninggal pada usia 99 tahun.

Abdurrahman bin Abu Bakar Ash-Shidiq

Dia adalah putra dari khalifah Abu Bakar Ash-Shidiq. Perannya sangat penting dalam melancarkan hijrah Nabi dari Mekah ke Madinah. Abdurrahman diberi tugas Nabi untuk mengamati perkembangan yang terjadi di Mekah selama Nabi dan Abu Bakar berjalan menuju Madinah.

Abdurrahman bertugas mengumpulkan informasi penting di Mekah dan menyampaikannya kepada Nabi yang berada di luar Mekah.

Mu’adz bin Jabal

Di usia 18 tahun dia telah menjadi seorang hakim. Di daerah Yaman. Dia juga dipercaya oleh Nabi untuk menyimpan zakat dari para petugas penarik zakat. Selain itu, dia juga dipercaya Nabi untuk menjadi guru, di Yaman.

Bahkan setelah Nabi Muhammad wafat, ketika Umar bin Khathab menjadi khalifah, dia dipercaya sebagai gubernur untuk wilayah Syam.

Malik bin Khuwairits

Dia dan beberapa pemuda lainnya, jauh dari Madinah, datang menemui Nabi Muhammad ﷺ untuk mendalami ilmu tentang shalat. Hingga akhirnya dia dan beberapa sahabat Nabi yang lainnya tinggal di Madinah, selama 20 hari, mempelajari ilmu tentang shalat.

Mu’adz bin ‘Amr dan Mu’awwidz bin ‘Afra’

Dua sahabat Nabi ini masih sangat muda akan tetapi sangat pemberani. Keduanya termasuk mendapatkan kemuliaan tersendiri karena mengikuti perang Badar. Jasa besar kedua pemuda ini adalah keberhasilan mereka berdua membunuh tokoh musyrik Mekah, yaitu Abu Jahl. Dari sejak awal dua pemuda sudah mentargetkan untuk membunuh Abu Jahl. Karena mereka tahu bahwa Abu Jahl ini pernah menghina Nabi Muhammad ﷺ.

Maka begitu perang Badar ‘pecah’. Kedua pemuda ini langsung melesat bagaikan anak panah, langsung menyerang Abu Jahl.

Usamah bin Zaid

Tentara Romawi sejak zaman dahulu terkenal dengan kekuatan pasukan perangnya. Maka untuk menghadapinya tentu membutuhkan seorang panglima perang yang sangat tangguh. Dan ternyata ketika itu Nabi Muhammad ﷺ menunjuk Usamah bin Zaid untuk memimpin pasukan perang yang sangat besar, menghadapi Romawi.

Para sahabat Nabi yang lainnya sempat meragukan kemampuan Usamah bin Zaid, karena usianya yang masih sangat muda. Melihat hal ini Nabi Muhammad meyakinkan mereka akan keistimewaan Usamah bin Zaid. Hingga akhirnya mereka semua tenang dipimpin Usamah bin Zaid.

Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib, ‘Abdullah bin Rawahah

Ketiga pemuda ini diberi amanah yang sangat besar oleh Nabi Muhammad ﷺ. Mereka ditunjuk untuk memimpin pasukan besar di perang Mu’tah. Peperangan ini sangatlah berat. Karena yang dihadapi adalah pasukan Romawi dengan 100 ribu pasukan mereka. Ditambah lagi dengan pasukan lain yang membantu mereka dalam jumlah yang sama.

Padahal ketika itu pasukan kaum muslimin hanya 3 ribu. Ketiga pemuda ini gugur di medan perang, mendapatkan kemuliaan mati syahid dari Allah. Yang kemudian Khalid bin Walid mengambil alih untuk memimpin pasukan, dan dengan izin Allah kaum muslimin menang.

Sejak saat itu, musuh-musuh Allah semakin takut dengan pasukan kaum muslimin. Dan agama Allah semakin kokoh di atas muka bumi.

 

Fajri NS

Sumber bacaan: 

  1. Kitab ‘Subulus Salam’, karya Ash-Shan’ani.
  2. Kitab ‘Al-Fushul Fi Siratir Rasul’, karya Imam Ibnu Katsir.
  3. Kitab ‘Ar-Rahiq Al-Makhtum’, karya syaikh Almubarakfuri. Dan lain-lain.



Tiga Akhlak Mulia Nabi Di Dalam Satu Ayat

Tiga Akhlak Mulia Nabi Di Dalam Satu Ayat

  

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (At-Taubah : 128)

Ayat yang Membahas Akhlak Nabi Muhammad

Ayat ini menggambarkan kesempurnaan akhlak Nabi ﷺ. Sebagaimana yang dikatakan oleh syaikh Jabir Al-Jazairi di dalam kitab ‘Aisarut Tafasir’:

بَيَانُ كَمَالِ أَخْلاَقِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Ayat ini berisi penjelasan tentang sempurnanya akhlak Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Nabi Muhammad ﷺ adalah anugerah bagi orang-orang beriman dan rahmat bagi semesta alam. Seperti yang dikatakan oleh Imam Ibnu Katsir ketika membuka tafsir ayat ini:

يَقُولُ تَعَالَى مُمْتَنًّا عَلَى الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَرْسَلَ إِلَيْهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ

“Allah Ta’ala berfirman, dengan menampakkan anugerah Nya yang berupa diutusnya seorang Rasul kepada mereka, dari golongan mereka sendiri.”

Orang-orang Musyrik Mekah Sangat Mengenal Kemuliaan Akhlak Nabi

 Orang-orang musyrik mulai membenci Nabi ketika diajak hanya menyembah Allah dan meninggalkan berhala; mereka ini sebenarnya sangat mengenal Nabi. Mereka mengetahui bagaimana akhlak mulia Nabi. Mereka sangat paham bahwa Nabi orang yang jujur. Nabi bisa dipercaya, dan bukan tipe orang yang ‘haus’ kekuasaan.

Hal ini ditunjukkan firman Allah:

رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ

“… Rasul dari kaummu sendiri …”

Ada ulama ahli tafsir yang mengatakan, maknanya adalah Nabi Muhammad ﷺ itu termasuk orang yang sangat kalian kenal. Ada juga ulama yang mengatakan, maksudnya adalah Nabi Muhammad ﷺ berasal dari jenis yang sama dengan kalian, yaitu sama-sama manusia.

Syaikh As-Sa’di menjelaskan, hikmahnya adalah semua manusia sanggup meneladani dan mencontoh Nabi Muhammad ﷺ . Karena Nabi Muhammad ﷺ juga berasal dari jenis manusia. Bukan malaikat ataupun jin.

Nabi Mendapat Kehormatan Memasang Hajar Aswad

 Ada peristiwa penting sebelum Nabi Muhammad ﷺ diperintah Allah menjadi seorang Rasul. Tepatnya di usia 35 tahun. Yaitu ketika orang-orang musyrik Mekah merenovasi Ka’bah. Di situ nampak sekali bagaimana orang-orang musyrik Mekah sangat menghormati Nabi.

Imam Ibnu Katsir di dalam kitabnya ‘Al-Fushul Fi Siratir Rasul’ menceritakan:

Ketika Nabi Muhammad ﷺ memasuki usia ke 35, orang-orang musyrik Mekah merenovasi Ka’bah. Setelah beberapa saat, proses renovasi hampir selesai. Hanya tersisa satu pekerjaan yang sangat penting, yang semua menginginkannya, yaitu memasang ‘hajar aswad’.

Mereka berselisih, siapa yang memasangnya. Mereka semua menginginkannya, karena mereka sangat menghormati Ka’bah dan Hajar Aswad. Karena hal itu akhirnya mereka menyepakati, bahwa yang memasangnya adalah ‘seseorang’ yang lewat di sini.

Setelah menunggu beberapa saat, ternyata yang lewat ketika itu adalah Nabi Muhammad ﷺ. Spontan mereka mengatakan:

جَاءَ الأَمِيْنُ

“Telah datang orang yang sangat bisa dipercaya.”

Setelah mendengar penjelasan mereka, Nabi Muhammad ﷺ tidak langsung memasang hajar aswad. Ketika itu terlihat sekali kebijaksanaannya. Di mana beliau meminta diambilkan kain besar, kemudian hajar aswad diletakkan di atasnya, dan semua perwakilan dari masing-masing kabilah bersama-sama mengangkat dan Nabi mengambil hajar aswad dari kain tersebut, lalu memasangnya di Ka’bah.

Nabi Muhammad Sangat Sedih Jika Ada Umatnya yang Kesusahan

 Allah berfirman:

عَزِيْزٌ عَلَيْه مَا عَنِتُّم

“Terasa berat olehnya penderitaanmu …”

Perasaan Nabi Muhammad ﷺ sangat halus. Akan tetapi bukan sekedar perasaan halus. Lebih dari itu perasaan yang dibarengi ilmu yang lurus. Ketika ada yang menolak ajakannya untuk beriman kepada Allah dan akherat, Nabi sangat sedih. Bukan karena merasa ‘gagal’ dalam berdakwah, akan tetapi karena Nabi mengetahui bahwa dengan sebab kekafiran, seseorang akan mendapatkan kesusahan, baik di dunia, terlebih lagi di akherat.

Berkaitan dengan makna penggalan ayat di atas, Ibnul Jauzi di dalam kitab ‘Zadul Masir’, mengatakan bahwa ada dua pendapat ulama ahli tafsir:

Pertama, hal-hal yang membuat susah umatnya, juga membuat susah Nabi Muhammad ﷺ .

Kedua, penolakan dakwah dari orang-orang yang diajak beriman, membuat Nabi ﷺ sedih.

Oleh karena itu selain sangat gigih dalam berdakwah, Nabi Muhammad ﷺ juga dikenal sangat senang membantu fakir miskin. Nabi dikenal sangat dermawan. Perumpamaan kedermawanan Nabi seperti angin yang berhembus ke segala arah. Hingga ada yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah orang yang suka memberi dan tidak takut miskin.

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan:

“Nabi adalah orang yang paling dermawan. Dan paling dermawannya Nabi adalah ketika di bulan Ramadhan.”

Bahkan ketika ada yang meminta kepada Nabi sesuatu, dan saat itu Nabi tidak punya apa-apa, maka Nabi mengatakan kepadanya:

“Aku (saat ini) tidak punya sesuatu yang bisa diberikan. Beli-lah sesuatu atas nama aku. Jika ada uang, aku akan membayarnya.” (Riwayat Tirmidzi, di dalam kitab ‘Asy-Syamail’)

Ajaran Agam Islam Tidak Menyusahkan Umatnya

 Menurut Imam Ibnu Katsir, berdasarkan firman Allah: “Terasa berat olehnya penderitaanmu”,  bisa diambil kesimpulan bahwa ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad tidak ada yang menyusahkan umatnya.

Ibnu Katsir mengatakan:

وَشَرِيعَتَهُ كُلَّهَا سَهْلَةٌ سَمْحَةٌ كَامِلَةٌ، يَسِيرَةٌ عَلَى مَنْ يَسَّرَهَا اللَّهُ تَعَالَى عَلَيْهِ

“Ajaran Islam seluruhnya mudah, lapang dan sempurna. Mudah bagi siapa saja yang diberi kemudahan oleh Allah ta’ala.”

Nabi Muhammad Bahagia Ketika Umatnya Bahagia

 Salah satu sifat yang menggambarkan ketulusan Nabi adalah merasa senang ketika umatnya senang. Allah berfirman:

حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ

“Sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu …”

Disebutkan di dalam kitab ‘Tafsir Jalalain’, makna ayat ini adalah Nabi Muhammad sangat menginginkan kita semua mendapatkan hidayah.

Adapun menurut Imam Ibnu Katsir, makna ayat ini luas, mencakup kebaikan dunia maupun akherat. Imam Ibnu Katsir mengatakan:

أَيْ: عَلَى هِدَايَتِكُمْ وَوُصُولِ النَّفْعِ الدُّنْيَوِيِّ وَالْأُخْرَوِيِّ إِلَيْكُمْ

“Maksudnya adalah Nabi sangat menginginkan kalian mendapat hidayah dan sangat menginginkan kebaikan dunia dan akherat sampai pada kalian.”

Hal ini dibuktikan dengan usaha keras Nabi dalam berdakwah, yang tidak mengenal lelah, seberat apapun rintangan dan hambatannya. Setelah pamannya yang bernama Abu Thalib meninggal, orang-orang musyrik semakin berani kepada Nabi Muhammad  ﷺ. Sehingga dakwah di dalam Mekah mengalami hambatan. Hingga akhirnya Nabi mencoba berdakwah di luar Mekah. Salah satunya ada berdakwah di daerah yang bernama Tha-if.

Ketika Nabi dakwah ke daerah Tha-if, Nabi mengalami cobaan yang sangat berat. Karena penduduk Tha-if bukan hanya menolak dakwah. Akan tetapi mereka juga menyakiti Nabi. Mereka semua, dari yang tua hingga yang muda, bahkan anak-anak, berkumpul di pinggir jalan yang dilewati Nabi Muhammad ﷺ. Lalu mereka melempari Nabi dengan batu. Namun Nabi tidak putus asa karenanya. Dari sini sangat jelas terlihat bagaimana kesungguhan dan ketulusan Nabi Muhammad ﷺ.

Fajri Nur Setyawan, Lc