Ustadz Dr. Hanif Beni Setyawan, MH
Dalam kehidupan sehari-hari, istilah overthinking kerap digunakan ketika seseorang terlalu banyak atau berlebihan memikirkan suatu hal. Namun, saat menghadapi anak yang banyak berpikir, orang tua sering kali keliru dalam membedakan antara proses berpikir yang sehat dan kondisi terjebak dalam pikiran sendiri (overthinking).
Melalui ceramah bimbingan pola asuh umahat, Ustadz Dr. Hanif Beni Setyawan, MH menekankan pentingnya orang tua menyikapi dinamika pikiran anak secara tepat, empati, serta sesuai tuntunan syariat Islam.
1. Membedakan Berpikir Sehat vs. Overthinking
Berpikir adalah bagian penting dari perkembangan anak. Otak anak yang tidak diasah untuk berpikir akan tumpul bagaikan pisau yang tidak pernah diasah.
- Berpikir Sehat: Anak belajar menimbang akibat perbuatan, mengambil keputusan, serta mencari solusi atas masalah yang dihadapi.
- Overthinking: Terjadi ketika pikiran terus berputar-putar tanpa titik temu (rumination), berfokus pada kekhawatiran skenario buruk (“bagaimana kalau…”), hingga menimbulkan rasa takut gagal dan gelisah.
“Anak yang kuat bukanlah anak yang tidak pernah cemas atau khawatir, melainkan anak yang diajarkan cara menghadapi kekhawatiran tersebut dan tahu kepada siapa ia bersandar.” — Ustadz Dr. Hanif Beni Setyawan, MH
2. Mengapa Anak Bisa Overthinking?
Beberapa pemicu utama di antaranya:
- Banjir Informasi dari Media Sosial/Internet: Paparan visual berita buruk atau standar hidup orang lain yang belum sanggup diolah oleh kedewasaan berpikir anak.
- Pola Asuh Terlalu Menuntut atau Standar Tinggi: Tuntutan berlebihan yang membuat anak cemas akan rasa bersalah atau kegagalan.
- Karakter Bawaan: Sifat dasar anak yang lebih sensitif, teliti, atau penuh pertimbangan. Karakter ini sebenarnya bisa diarahkan menjadi kekuatan (misalnya: anak teliti, berempati tinggi, atau kritis) jika dibimbing dengan tepat.
3. Kesalahan Orang Tua Saat Merespon Pikiran Anak
Sering kali niat orang tua membantu justru membuat kekhawatiran anak makin berkepanjangan:
- Mengucapkan “Wis, orausah dipikir!” (Sudah, jangan dipikirkan!): Kalimat ini tidak memberikan solusi teknis bagi anak tentang bagaimana cara menghentikan pusaran pikirannya.
- Melabeli “Kamu terlalu baper/cengeng”: Respon ini memvalidasi kekhawatiran anak seolah-olah perasaannya selalu salah, sehingga anak memilih memendam masalahnya.
- Menggunakan Ketakutan sebagai Alat Motivasi: Menakut-nakuti masa depan anak secara berlebihan (contoh: “Kalau tidak belajar nanti kamu gagal dan tidak jadi orang”).
- Ikut Menambahkan Bahan Pikiran: Ketika anak khawatir, orang tua justru memperpanjang daftar dampak buruk tanpa memberikan penyederhanaan masalah.
4. Landasan Islam: Pikiran Bukanlah Kenyataan
Dalam Islam, tidak semua lintasan pikiran harus dipercaya atau diikuti. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ لِي عَنْ أُمَّتِي مَا حَدَّثَتْ بِهِ أَنْفُسَهَا مَا لَمْ تَعْمَلْ أَوْ تَتَكَلَّمْ
“Sesungguhnya Allah memaafkan umatku apa yang terlintas dalam hati/pikiran mereka, selama tidak diamalkan atau diucapkan.” (HR. Bukhari & Muslim)
Pelajaran penting bagi anak adalah: Pikiran tidak selalu menggambarkan kenyataan. Orang tua perlu mendidik anak untuk bisa membentengi diri dari bisikan was-was setan serta tidak larut dalam hal-hal yang tidak bermanfaat (Ma La Ya’nih).
5. Solusi Praktis bagi Orang Tua
- Dengarkan Tanpa Langsung Menghukumi (Active Listening): Beri ruang agar isi pikiran anak keluar terlebih dahulu. Tanyakan dengan tenang: “Apa yang sebenarnya sedang kamu khawatirkan?”
- Pisahkan Antara Fakta dan Kekhawatiran: Bantu anak membedakan mana hal yang benar-benar sudah terjadi dan mana yang baru sekadar bayangan dalam pikiran.
- Fokus pada Hal dalam Kendali: Ajarkan anak untuk melatih hal-hal yang bisa diselesaikan atau dipersiapkan hari ini, bukan memikirkan hal di luar kendalinya.
- Ajarkan Konsep Tawakal: Lakukan bagian terbaik (belajar/berusaha), lalu serahkan hasil akhirnya kepada Allah $\text{SWT}$. Mengingat Allah akan mendatangkan ketenangan hati (Ala bidzikrillahi tatmainnul qulub).
- Edukasi Aturan dengan Empati & Komunikasi: Ketika membuat aturan rumah (seperti batasan jam HP atau pemakaian kendaraan), jelaskan alasan serta maslahatnya secara baik, bukan sekadar melarang secara otoriter.
Artikel ini disarikan dari ceramah Ustadz Dr. Hanif Beni Setyawan, MH pada kanal YouTube PONPES AL UKHUWAH.

