Terwujudnya generasi muslim yang memahami ilmu syar’i dan mampu mengamalkannya serta mendakwahkannya sesuai metode yang benar
Memahami dan Mengatasi Overthinking pada Anak Menurut Perspektif Islam dan Pola Asuh
Menyelami Tingkatan Dosa dan Dampaknya bagi Kehidupan Hati
Pola Asuh yang Sering Luput dari Perhatian Orang Tua
Waspada! 3 Jenis Dosa Penyakit Hati yang Sering Tidak Kita Sadari
Ketika Keterbatasan Menjadi Kekuatan
Dua Kategori Utama Riba
Mengenal Hakikat Akad Pinjaman (Al-Qardh), Perbedaannya dengan Hutang (Ad-Dain), serta Adab Pelunasannya
Lelah Mencari Nafkah, Jangan Lelah Mendidik Anak
Hakikat Kehidupan Sempit (Ma’isyatan Dhanka) dan Obatnya
Maksiat Menghapus Keberkahan: Dampak Buruk Dosa terhadap Agama dan Dunia
Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan yang Hakiki
Luka yang Tak Terlihat: Ketika Hati Terluka Tanpa Suara
Malasmu, Celakamu: Ketika Menunda-nunda Menjadi Pembunuh Potensi Diri
Fatherless dan Masa Depan Anak
Mengapa Orang Tua Bisa “Durhaka Kepada Anak? 10 “Dosa” Orang Tua Tanpa Disadari
Pemurnian Tauhid Yang Bermanfaat (Bagian ke-4)
Suara Qur'an
Merupakan salah satu media dakwah milik Pondok Pesantren Al Ukhuwah Sukoharjo.
Istighfar adalah sarana terbaik untuk mengikis bintik-bintik hitam di hati.
Al-Qur’an bukan sekadar bacaan, tetapi juga Syifa (penyembuh) bagi penyakit-penyakit yang ada di dalam dada.
Ini adalah tingkatan dosa yang paling berbahaya karena pelakunya meniru sifat-sifat iblis. Dosa ini biasanya lahir dari kesombongan, tipu daya, dan kebencian terhadap kebaikan.
Iri dan Dengki (Hasad): Tidak suka melihat orang lain sukses atau bahagia, persis seperti iblis yang iri kepada Nabi Adam.
Menghalangi Kebaikan: Membenci syariat agama, nyinyir terhadap orang yang berbuat baik, atau mengemas kemaksiatan seolah-olah itu adalah sesuatu yang modern dan keren.
Doa orang yang merasa terbatas dan butuh bantuan Allah adalah doa yang sangat tulus dan memiliki kedudukan mulia di sisi-Nya.
Jika orang tua tidak mengambil peran untuk mendidik dan merangkul anak, maka lingkungan luar atau media sosial yang akan “mendidik” mereka—dan sering kali ke arah yang salah.
Kehidupan hakiki seorang manusia adalah kehidupan hatinya. Allah Ta’ala memuji Nabi Ibrahim ‘alaihis salam karena beliau menghadap Allah dengan hati yang bersih :
اِلَّا مَنْ اَتَى اللّٰهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍۗ ٨٩
Kecuali, orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.(QS. Asy-Syu’ara: 89)