Menuntut ilmu adalah kewajiban seumur hidup bagi setiap muslim, apa pun profesinya. Namun, tujuan utama belajar bukan sekadar memperbanyak koleksi atau wawasan teori, melainkan meraih ilmu yang bermanfaat (ilmun nafi’)—ilmu yang membuahkan amal saleh dan membawa keberkahan hidup.
Bahaya Sifat Rakus yang Merusak Tujuan Asal
Sebagaimana dipaparkan oleh Ibnul Jauzi rahimahullah, sikap rakus (syarah/tamak) sering kali justru menggagalkan tujuan yang ingin diraih:
Perumpamaan Pemburu Harta: Orang yang terlalu rakus menumpuk harta menghabiskan seluruh usia mudanya untuk bekerja. Begitu tua, ia kehilangan dua hal sekaligus: kehilangan umur dan kehilangan kesempatan menikmati hartanya karena fisik yang digerogoti penyakit.
Perumpamaan Pemburu Koleksi Kitab & Hadis: Ada orang yang sibuk mengumpulkan ratusan kitab, mencatat banyak riwayat sanad, namun tidak pernah memahami isi (matan) hadis, tidak tahu bagaimana menjawab persoalan agama, dan tidak mengamalkannya. Ia hanya sekadar mengoleksi, bukan menyerap ilmu.
Apa Hakikat Ilmu yang Bermanfaat?
Banyak orang salah kaprah mengira ilmu yang bermanfaat diukur dari:
Banyaknya hafalan semata,
Kepandaian dan kefasihan berbicara/berceramah di depan orang banyak, atau
Gelar dan titel akademis yang disandang.
Para sahabat dan ulama mendefinisikan ilmu yang hakiki secara berbeda:
Bukanlah ilmu itu dengan banyaknya riwayat/hafalan, akan tetapi hakikat ilmu adalah rasa takut kepada Allah (khasyatullah).” Beliau juga mengingatkan bahwa di akhir zaman akan banyak orang yang pandai berceramah, tetapi sedikit yang benar-benar berilmu dan bertakwa.
Al-Imam Ibnu Rajab Al-Hambali رحمه الله: Ilmu yang bermanfaat memiliki dua pilar:
Sumbernya Murni: Berakar dari Al-Qur’an dan Sunnah yang sahih sesuai dengan pemahaman para sahabat dan tabi’in (Salafus Shalih).
Meresap ke Lubuk Hati: Ilmu yang masuk ke dalam hati dan melahirkan ketenangan, ketundukan, rasa takut kepada dosa, serta kesadaran akan lemahnya diri di hadapan Allah ﷻ.
Langkah dan Kiat Meraih Ilmu Bermanfaat
Luruskan Niat (Bukan Sekadar Teori atau Pujian)Niatkan belajar untuk mengangkat kebodohan dari diri sendiri, mendekatkan diri kepada Allah, dan mengamalkannya dalam keseharian.
Pahami Kandungan, Jangan Berhenti di Kulit LuarFokuskan energi untuk memahami fikih dan makna ayat/hadis yang berkaitan dengan amalan sehari-hari (akidah, tata cara salat, halal-haram), bukan hanya berlomba mengoleksi buku atau mencari sanad tanpa paham.
Membiasakan Diri Mengamalkan Apa yang DipelajariIlmu yang tidak diamalkan bagaikan pohon tanpa buah. Zakatnya ilmu adalah diamalkan dan diajarkan kepada orang terdekat.
Jadikan Ilmu sebagai Penumbuh Rasa Takut (Khasyah) dan TawadukTanda utama ilmu seseorang berkah dan bermanfaat adalah akhlaknya kian santun, lisannya terjaga, dan hatinya semakin rendah hati di hadapan Allah dan manusia.
Kesimpulan:
Suksesnya seorang penuntut ilmu bukan dilihat dari seberapa banyak buku di raknya atau seberapa fasih ia berdebat, melainkan dari seberapa besar ilmu tersebut mengubah hatinya menjadi tunduk, takut, dan taat kepada Allah ﷻ.