ADAB #7 Kisah Semangat Para Ulama dalam Mengejar Kebaikan

kisah ulama semangat

Sesungguhnya diantara yang jadi sebab tingginya ‘himmah’ (semangat) dan melangitnya dorongan jiwa ialah menelaah mengambil pelajaran dari keadaan (kisah-kisah) dari orang yang mendahului kita (dalam iman) dan mengenal lebih jauh ‘himmah-himmah’ kaum (salaf) terdahulu tersebut.

Imam Ahmad bin Hanbal

Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal dahulunya saat masih kecil suatu ketika hendak pergi ke halaqoh guru beliau sebelum waktu shubuh. Maka tiba-tiba ibu beliau pun menarik baju beliau dan berkata dengan penuh kasih sayang, “Tunggulah hingga manusia mengumandangkan adzan atau sudah masuk waktu shubuh.”

Al Khotib Al Baghdadi

Suatu ketika Al Khotib Al Baghdadi membacakan

kitab Shahih Al Bukhori secara keseluruhan

kepada (muridnya) Ismail Al Hiriy dalam tiga kali majelis.

Dua majelisnya pada dua malam dari waktu shalat maghrib

hingga waktu shalat shubuh.

Sedangkan di hari ketiga dari waktu dhuha hingga waktu shalat maghrib

dilanjutkan dari maghrib hingga terbitnya fajar (shubuh).

Abu Muhammad Ibnu At Tabban

Dahulu Abu Muhammad Ibnu At Tabban ketika memulai belajar semalaman penuh maka ibu merasa kasihan sehingga melarang beliau untuk membaca satu malam penuh. Maka beliaupun mengambil lentera kemudian beliau jadikan di bawah ‘jafnah’ -suatu wadah yang besar- kemudian beliau pura-pura seakan sudah tidur. Tatkala ibunya pun telah tertidur maka beliau mengambil lentara (lampu) tersebut dan bersegera untuk belajar.

Maka jadilah orang yang kedua kakinya menapak di atas tanah, akan tetapi cita-cita keinginannya menembus melebihi bintang-bintang ‘ats tsuraya’ . Janganlah engkau jadi orang yang menua badan menua pula lah ‘himmah’nya. Sesungguhnya himmah yang jujur benar tidaklah luntur seiring bertambahnya usia.

Dulu Abul Wafa’ Ibnu ‘Uqoil -salah satu ‘Ulama yang cerdas dari ahli-ahli fiqih madzhab Hanbali- pernah menyandungkan syair ketika beliau sudah berumur 80-an tahun,

ما شاب عزمي ولا حزمي ولا خلقي

ولا ولائي ولا ديني ولا كرمي

Tidak lah menua beruban keinginan kuatku, tidak pula tekadku, tidak pula akhlaqku,

tidak pula wala’ ku, tidak pula agama ku, tidak pula kemuliaan ku,

وإنما اعتاض شعري غير صبغته

والشيب في الشعر غير الشيب في الهمم

Hanyalah yang berubah rambutku tidak seperti bentuknya,

dan uban di rambutku, bukan lah uban di dalam ‘himmah’.

[Dikutip dari Khulashoh Ta’zhimil ‘Ilmi : 15-16]

kata kunci : kisah ulama semangat, kisah ulama semangat

.

~ ~ ~ ~ ~ ~

Dukung program & kegiatan Bidang Dakwah Pondok Pesantren Al Ukhuwah Sukoharjo melalui donasi yang dapat disalurkan melalui rekening kami BNI Syariah 0750020567 an. Yayasan Pendidikan Al Ukhuwah. Konfirmasi via WA/SMS kirim ke 085229200443 (Ust. Mujiron, M.Pd.I)

Profil & Program Kegiatan :

http://bit.ly/dakwahalukhuwah

image_pdfimage_print