Ustadz Hanif Beni Setyawan, M.H. (membahas kitab Shaidul Khatir karya Ibnul Jauzi rahimahullah):
Banyak orang tanpa sadar terjebak dalam skala prioritas yang keliru: sibuk dengan perkara cabang (furu’) tapi mengabaikan pokok (ushul), atau bersemangat mengejar amalan sunnah tapi justru melalaikan kewajiban utama. Memahami skala prioritas syar’i adalah kunci agar amal kita tidak sia-sia.
Mengapa Prioritas Bisa Terbalik?
Menurut Ibnul Jauzi rahimahullah, ada dua penyebab utama:
- Kebiasaan buruk yang mendarah daging: Sering kali orang hanya mengikuti apa yang lazim atau tren di sekitarnya tanpa menimbang dalil.
- Kalah oleh hawa nafsu: Hawa nafsu membutakan akal sehat dan hati nurani, sehingga seseorang condong memilih hal yang disukainya, bukan hal yang diperintahkan Allah.
Contoh Nyata Prioritas yang Terbalik
- Teliti Najis Fisik, tetapi Gemar Ghibah: Sangat berhati-hati dari percikan kotoran atau najis di pakaian, namun lisannya bebas membicarakan aib saudara sendiri (padahal ghibah diibaratkan memakan bangkai manusia).
- Rajin Sedekah, tetapi Melakukan Riba: Semangat menyumbang panti, masjid, atau sosial, namun tidak peduli bahwa transaksi keuangannya masih bercampur riba yang dosanya tergolong dosa besar (kabair).
- Tahajud Semalam Suntuk, Kesiangan Salat Subuh: Begitu antusias mengejar amalan sunnah malam hari, namun akhirnya tertidur pulas hingga keluar waktu Subuh (padahal Subuh fardhu ‘ain, sedangkan tahajud sunnah).
- Fokus Casing/Lahiriah, Abai Hati: Sangat menjaga penampilan luar, namun membiarkan hati berpenyakit (iri, dengki, riya’), padahal Allah menilai hati dan amalan batin.
- Mengejar Dunia Fana, Melupakan Akhirat: Ibarat mencelupkan jari ke samudra luas, air yang menempel di jari itulah dunia, sedangkan samudra luas adalah akhirat. Banyak orang mati-matian mengejar setetes air dan melupakan samudra abadi.
- Sibuk Gadget/Medsos, Hubungan Nyata Terbengkalai: Menghabiskan waktu berjam-jam scrolling layar, namun enggan meluangkan waktu bercengkerama dengan keluarga, membaca Al-Qur’an, atau hadir di majelis ilmu.
- Cepat Merespons Perintah Manusia, Lambat Merespons Azan: Segera bergegas ketika dipanggil atasan karena takut dipotong gaji, namun berlambat-lambat bahkan mengabaikan panggilan salat dari Sang Pencipta.
Kaidah Meluruskan Skala Prioritas
- Dahulukan yang Wajib daripada yang Sunnah
Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan fardhu. Amalan sunnah berfungsi menyempurnakan, bukan menggantikan yang wajib. - Dahulukan yang Paling Pokok (Akidah & Ibadah Harian)
Dalam menuntut ilmu, benahi dulu tauhid dan akidah sebagai syarat sahnya iman, diikuti fikih ibadah harian yang mendesak (seperti tata cara salat). - Pilih yang Lebih Maslahat & Ikhlas
Saat dua amalan berbenturan (misal: salat sunnah dengan panggilan orang tua), dahulukan yang lebih wajib/bermaslahat (berbakti kepada orang tua wajib, salat sunnah bisa diganti). - Konsisten (Istiqamah) meski Sederhana
Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang berkesinambungan (adwamuhu wa in qalla), bukan yang berlebihan lalu putus di tengah jalan. - Jadikan Dalil sebagai Tolok Ukur, Bukan Mayoritas
Standar prioritas dalam Islam ditentukan oleh Al-Qur’an dan Sunnah, bukan sekadar perasaan logika atau tren kebanyakan orang.
Kesimpulan:
Seseorang yang bijak (faqih) adalah orang yang mampu melihat mana di antara dua kebaikan yang paling utama untuk dikerjakan lebih dulu, dan mana di antara dua madarat yang paling ringan untuk dihindari. Kunci meluruskan prioritas hidup adalah terus belajar ilmu syar’i.

