Di era digital saat ini, pemandangan satu keluarga duduk di ruangan yang sama namun sibuk dengan layar masing-masing sudah menjadi hal lumrah. Orang tua sibuk berselancar di media sosial, sementara anak asyik dengan gim atau video pendek. Melalui kajian parenting ini, Ustadz Dr. Hanif Beni Setyawan mengingatkan para orang tua tentang urgensi menjaga hak keluarga di tengah kepungan gawai.
Menunaikan Hak Keluarga: Teladan Hadits Abu Darda & Salman Al-Farisi
Landasan utama pembagian waktu dalam keluarga mengacu pada hadits shahih riwayat Al-Bukhari saat Salman Al-Farisi radhiyallahu ‘anhu menegur Abu Darda radhiyallahu ‘anhu yang terlalu larut dalam ibadah sunnah hingga melalaikan hak istri dan keluarganya:
“Sesungguhnya Rabbmu memiliki hak atasmu, dirimu memiliki hak atasmu, dan keluargamu memiliki hak atasmu. Maka berikanlah kepada setiap yang memiliki hak, haknya masing-masing.” (HR. Bukhari)
Rasulullah ﷺ pun membenarkan nasihat tersebut. Jika ibadah sunnah saja tidak boleh melalaikan hak keluarga, terlebih lagi hal-hal mubah atau sia-sia seperti bergawai tanpa batas.
Masalah Sebenarnya: Bukan Sekadar Waktu, Tapi Perhatian
Persoalan utama gawai bukan hanya berapa lama durasi layar (screen time), melainkan ke mana perhatian itu berpindah.
Dunia instan yang memicu cepat bosan: Aplikasi dan gim dirancang memberikan rangsangan cepat tanpa henti. Akibatnya, aktivitas dunia nyata—seperti membaca, menyimak nasihat, atau bermain biasa—terasa lambat dan membosankan bagi anak.
Kalah oleh notifikasi: Tanpa sadar, orang tua kerap memotong obrolan anak hanya demi melihat bunyi notifikasi ponsel. Anak menangkap pesan bahwa layar lebih berharga daripada dirinya.
Kehadiran semu: Fisik orang tua dan anak ada di satu rumah, namun pikiran dan ikatan batinnya berada di dunia yang berbeda.
Jangan Jadikan Gawai “Obat” Segala Masalah
Sering kali orang tua menyerahkan ponsel sebagai jalan pintas:
Anak menangis ➔ Diberi HP.
Anak rewel atau susah makan ➔ Disetelkan video.
Anak merasa bosan ➔ Disuruh main game.
Jika terus dibiasakan, ponsel berubah menjadi pelarian emosi. Padahal, anak perlu belajar menghadapi rasa bosan, belajar bersabar menanti, mengenali perasaan tidak nyaman, serta mencari solusi kreatif tanpa layar.
Keteladanan Lebih Kuat daripada Nasihat
Anak belajar lebih banyak dari apa yang dilihat, bukan sekadar apa yang didengar.
Mengatakan “Jangan main HP terus!” sementara tangan orang tua tetap menggulir linimasa adalah standar ganda yang membingungkan anak.
Daripada hanya bertanya “Berapa lama anak saya bermain HP?”, tanyakan pula “Berapa lama anak saya melihat saya sibuk dengan HP?”.
Solusi Praktis: Mengisi Waktu Berkualitas (Quality Time)
Mengurangi screen time tidak akan berhasil jika ponsel diambil tanpa memberi alternatif kegiatan. Anak membutuhkan kehadiran nyata orang tua:
Sediakan Aktivitas Pengganti: Ajak anak bersepeda, bermain permainan sederhana, membaca buku bersama, atau membantu pekerjaan rumah.
Ciptakan Zona & Waktu Bebas Gawai (No-Phone Zone):
Meja makan tanpa ponsel.
Menjelang waktu tidur (30 menit sebelum tidur untuk mengobrol dan evaluasi harian).
Saat anak bercerita atau sedang berbicara penting.
Meja Makan sebagai Madrasah: Mencontoh Rasulullah ﷺ saat membimbing adab makan Umar bin Abi Salamah, meja makan bisa menjadi ruang komunikasi, penanaman adab, dan rasa syukur.
Kualitas Mengalahkan Kuantitas: 10–15 menit penuh tatapan mata dan perhatian utuh jauh lebih berharga daripada berjam-jam duduk bersama namun mata terpaku ke layar.
Pesan Utama: Masa kecil anak tidak akan pernah berulang. Jangan menunggu muncul masalah baru mendekati anak. Kendalikanlah teknologi sebelum teknologi mengendalikan kehangatan rumah tangga kita.