Pemurnian Tauhid Yang Bermanfaat (Bagian ke-4)

Pemurnian Tauhid Yang Bermanfaat (Bagian ke-4)

  • Pemateri: Ustadz Aris Sugiyantoro حفظه الله
  • Penyelenggara: Ponpes Al Ukhuwah
  • Rujukan Kitab: Tajrid At-Tauhid Al-Mufid karya Al-Allamah Ahmad bin Ali Al-Maqrizi rahimahullah (Halaman 19)
  • Tautan Video: Pemurnian Tauhid Bagian 4

Pendahuluan & Pembagian Utama Syirik

Kajian diawali dengan melanjutkan pembacaan kitab Tajrid At-Tauhid Al-Mufid halaman 19. Syaikh Al-Maqrizi menukil penjelasan dari Al-Hafiz Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah dalam Madarijus Salikin bahwa kesyirikan yang terjadi pada umat ini terbagi menjadi dua jenis utama :

  1. Syirik fil Ilahiyah (Syirik dalam Ibadah): Kesyirikan yang paling banyak/dominan terjadi di tengah masyarakat atau orang-orang musyrik.
  2. Syirik fir Rububiyah: Kesyirikan dalam meyakini adanya tandingan bagi Allah dalam hal penciptaan, kekuasaan, dan pengaturan alam semesta.

1. Hakikat Syirik fil Ilahiyah / Ibadah

Syirik fil Ilahiyah adalah memalingkan bentuk peribadatan (seperti berdoa, takut/khauf, berharap/raja’, tawakal, menyembelih kurban, dan bernazar) kepada selain Allahسُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ.

Pelaku kesyirikan jenis ini terbagi dalam beberapa golongan;

  • Penyembah berhala: Patung, batu, kayu, dan benda mati lainnya.
  • Penyembah malaikat & bangsa jin.
  • Penyembah para masyaikh dan orang-orang saleh: Baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia.

Syubhat Utama Pelaku Syirik

Para penyembah orang saleh beralasan: “Kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dan memberikan syafaat bagi kami di sisi-Nya.” Mereka menganggap orang saleh memiliki kedudukan dan karamah di sisi Allah, sehingga dijadikan perantara doa.

Sanggahan Terhadap Qiyas Batil tentang Karamah & Wasilah

Ustadz Aris menjelaskan bahwa karamah para wali adalah haq menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah (seperti mukjizat Ashabul Kahfi, karamah Umar bin Khattab, Al-Ala’ al-Hadrami, dan Ibunda Maryam). Namun, mengkiaskan Allah dengan raja dunia—di mana seseorang harus melalui ajudan atau kerabat raja untuk menyampaikan hajat—adalah qiyas yang batil. Dalam Islam, berdoa dan beribadah wajib ditujukan langsung kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ

Peringatan Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah:

“Barangsiapa yang berdoa kepada siapa pun selain Allah, maka ia telah berbuat syirik, meskipun yang dimintai adalah Nabi Muhammad صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.” Jika berdoa kepada Nabi saja dilarang, maka terlebih lagi berdoa kepada orang saleh di bawah kedudukan beliau.

2. Kesepakatan Seluruh Kitab Suci & Para Rasul

Seluruh kitab suci ilahiyah dari awal hingga Al-Qur’anul Karim membatalkan dan menolak mazhab kesyirikan. Seluruh rasul (sejak Nabi Nuh عَلَيْهِ ٱلسَّلَامُ sebagai rasul pertama hingga Nabi Muhammad صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ sebagai rasul terakhir) bersepakat bahwa pelaku syirik adalah musuh-musuh Allah. Allah tidak membinasakan umat-umat terdahulu melainkan disebabkan oleh perbuatan syirik.

3. Akar Kesyirikan: Menyimpangkan Kecintaan (Mahabbah)

Akar utama timbulnya syirik berawal dari kesyirikan dalam rasa cinta (mahabbah).Berdasarkan QS. Al-Baqarah: 165,

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّتَّخِذُ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ اَنْدَادًا يُّحِبُّوْنَهُمْ كَحُبِّ اللّٰهِۗ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَشَدُّ حُبًّا لِّلّٰهِۙ وَلَوْ يَرَى الَّذِيْنَ ظَلَمُوْٓا اِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَۙ اَنَّ الْقُوَّةَ لِلّٰهِ جَمِيْعًاۙ وَّاَنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعَذَابِ ۝١٦٥

”Di antara manusia ada yang menjadikan (sesuatu) selain Allah sebagai tandingan-tandingan (bagi-Nya) yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat kuat cinta mereka kepada Allah. Sekiranya orang-orang yang berbuat zalim itu melihat, ketika mereka melihat azab (pada hari Kiamat), bahwa kekuatan itu semuanya milik Allah dan bahwa Allah sangat keras azab-Nya, (niscaya mereka menyesal)”

kaum musyrikin menjadikan tandingan-tandingan bagi Allah dan mencintai tandingan tersebut sebagaimana mereka mencintai Allah.

Penyesalan terbesar penghuni neraka kelak tercantum dalam QS. Asy-Syu’ara: 97-98:

تَاللّٰهِ اِنْ كُنَّا لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍۙ ۝٩

“Demi Allah, sungguh kita dahulu berada dalam kesesatan yang nyata, ketika kita menyamakan kalian (sesembahan selain Allah) dengan Rabb semesta alam.”

4. Syirik fir Rububiyah: Majusi, Filsafat, dan Qadariyah

Ustadz Aris menguraikan tiga kelompok utama yang terjerat dalam syirik fir Rububiyah :

  1. Kaum Majusi : Meyakini alam memiliki dua tuhan, yaitu tuhan pencipta kebaikan (Yazdan / Ahura Mazda) dan tuhan pencipta kejahatan (Ahriman).
  2. Kaum Filsuf (seperti Al-Farabi & Ibnu Sina) : Berpendapat bahwa sumber alam semesta berasal dari “Akal Aktif” (Al-Aqlul Fa’al / Active Intellect). Al-Imam Al-Maqrizi menegaskan bahwa ini adalah kesyirikan paling buruk di alam semesta karena mengandung ta’thil (penolakan sifat dan uluhiyah Allah).
  3. Kaum Qadariyah : Menolak takdir Allah dan meyakini bahwa manusia menciptakan perbuatannya sendiri. Berdasarkan atsar para sahabat (Ibnu Umar dan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma), kaum Qadariyah dijuluki sebagai “Majusinya umat ini” .

5. Pemurnian Tauhid dalam “Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in”

Ayat ke-5 Surah Al-Fatihah mengandung pemurnian tauhid (tajrid at-tauhid). Ayat ini membatalkan kesyirikan dalam:

  • Perbuatan (Af’al)
  • Ucapan (Alfaz)
  • Keinginan/Niat (Iradat)

Contoh Syirik dalam Perbuatan (Af’al) :

  • Sujud kepada selain Allah (batu, kayu, pohon besar, kuburan) .
  • Tawaf di tempat selain Ka’bah (seperti tawaf di kuburan orang saleh untuk ngalap berkah).
  • Mencium batu selain Hajar Aswad atau mencium dan mengusap-usap kuburan.
  • Menggundul rambut dengan niat ibadah dan ketundukan kepada selain Allah.

6. Ancaman Larangan Menjadikan Kuburan sebagai Masjid

Di akhir kajian, Ustadz Aris menyampaikan hadis-hadis Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mengenai larangan keras mengagungkan kuburan:

  • Laknat atas Yahudi & Nasrani : Rasulullah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda bahwa Allah melaknat Yahudi dan Nasrani karena mereka menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai tempat ibadah/masjid.
  • Seburuk-buruk Makhluk : Rasulullah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menegaskan bahwa orang-orang yang membangun masjid di atas kuburan orang saleh serta melukis atau membuat patung di atasnya adalah seburuk-buruk makhluk di sisi Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ pada hari kiamat.

Kesimpulan

Kajian bagian ke-4 ini menegaskan pentingnya Tajrid At-Tauhid (pemurnian tauhid) secara utuh, baik dalam ibadah maupun keyakinan rububiyah. Setiap muslim wajib menjauhi segala pintu yang menuju kesyirikan, termasuk penyimpangan dalam berdoa kepada selain Allah, tawaf di selain Ka’bah, serta menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah.