Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan yang Hakiki

Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan yang Hakiki

Ustadz Dr. Hanif Beni Setiawan, M.H., M.A.

Kemerdekaan adalah salah satu nikmat terbesar yang dirasakan oleh bangsa Indonesia. Namun, sering kali momentum kemerdekaan hanya dimaknai sebatas perayaan seremonial, perlombaan fisik, maupun hiburan semata. Sebagai seorang mukmin, kemerdekaan harus disikapi dan disyukuri secara mendalam sesuai tuntunan syariat Islam.

Tiga Rukun Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan

Dalam kajian tersebut, Ustadz Dr. Hanif Beni Setiawan menjelaskan bahwa syukur yang benar mencakup tiga dimensi utama

  1. Syukur dengan Hati (Asy-Syukru bil Qalb)
    Menyadari dan meyakini dengan sepenuh hati bahwa nikmat kemerdekaan semata-mata merupakan karunia dan anugerah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini sejalan dengan Pembukaan UUD 1945 alinea ketiga: “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa…
  2. Syukur dengan Lisan (Asy-Syukru bil Lisan)
    Memperbanyak pujian kepada Allah dengan kalimat Alhamdulillah dalam setiap kondisi, baik saat lapang maupun saat diuji dengan kesempitan
  3. Syukur dengan Anggota Badan (Asy-Syukru bil Jawarih)
    Menggunakan seluruh potensi, raga, dan nikmat yang diberikan untuk ketaatan, beribadah kepada Allah, serta menjauhi segala bentuk kemaksiatan.

Perlombaan yang Sebenarnya: Fastabiqul Khairat

Perayaan kemerdekaan identik dengan berbagai perlombaan duniawi. Namun, perlombaan yang sesungguhnya bagi seorang mukmin adalah perlombaan mengumpulkan bekal akhirat (fastabiqul khairat).

Sebagaimana pesan tabi’in Hasan Al-Bashri:

إِذَا رَأَيْتَ الرَّجُلَ يُنَافِسُكَ فِي الدُّنْيَا فَنَافِسْهُ فِي الْآخِرَةِ

“Jika engkau melihat seseorang mengunggulimu dalam urusan dunia, maka kalahkanlah dia dalam urusan akhirat.

Ketinggian derajat di surga kelak ditentukan oleh banyaknya amal saleh dan ketakwaan, bukan oleh luasnya tanah, tingginya jabatan, atau banyaknya harta di dunia.

Tiga Dimensi Kemerdekaan yang Hakiki

Mengutip penjelasan para ulama seperti Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, “Al-‘ubudiyyah lillah hiya haqiqatul hurriyyah” (Menjadi hamba Allah yang sejati adalah hakikat kemerdekaan yang sebenarnya). Orang yang paling merdeka adalah mereka yang:

  1. Merdeka dari Penghambaan kepada Selain Allah (Merdeka dari Kesyirikan)
    Bebas dari peribadahan kepada jin, setan, kuburan, pohon besar, jimat, dan sesajen, lalu memurnikan tauhid hanya kepada Allah.
  2. Merdeka dari Belenggu Hawa Nafsu
    Tidak menjadi budak syahwat atau keinginan berbuat maksiat, melainkan mampu menahan diri karena takut kepada Allah.
  3. Merdeka dari Fitnah Dunia Menjadikan dunia di tangan dan bukan di hati, sehingga tidak menjadi budak harta sebagaimana hadis:
    • تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ، وَعَبْدُ الدِّرْهَمِ، وَعَبْدُ الْخَمِيصَةِ، إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ، وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ “Celakalah hamba dinar, hamba dirham, dan hamba pakaian” .

Dalil-Dalil Al-Qur’an yang Dibahas

Berikut adalah ayat-ayat Al-Qur’an yang dijadikan rujukan utama dalam ceramah tersebut:

Perintah Bersegera Menuju Ampunan dan Surga

  • QS. Ali ‘Imran: 133
    • {وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُ ۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَ}
  • “Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.”

Berlomba-lomba Meraih Kenikmatan Surga

  • QS. Al-Muthaffifin: 26
    {خِتٰمُهٗ مِسْكٌ ۗوَفِيْ ذٰلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُوْنَ}
  • “…dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.”

Menahan Hawa Nafsu Sebagai Kunci Surga

  • QS. An-Nazi’at: 40–41
    {وَاَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهٖ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوٰى ۙ فَاِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوٰى}
  • “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya, maka sungguh, surgalah tempat tinggal(nya).”

Hakikat Kehidupan Dunia yang Semu

  • QS. Al-Hadid: 20
    {اِعْلَمُوْٓا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ وَّزِيْنَةٌ وَّتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِ ۗكَمَثَلِ غَيْثٍ اَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهٗ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرٰىهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُوْ حُطَامًا ۗ…}
  • “Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur…”

Menjaga Persatuan dan Kesatuan Bangsa

  • QS. Ali ‘Imran: 103
    {وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا ۖ}
  • “Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai…”

Implementasi Nyata Mengisi Kemerdekaan

Di akhir pemaparannya, Ustadz Hanif mengajak seluruh jemaah untuk mengisi kemerdekaan dengan :

  • Memperbanyak tobat, istigfar, dan meninggalkan dosa agar terhindar dari bencana dan musibah.
  • Menaati para pemimpin dalam perkara yang makruf serta mendoakan kebaikan dan hidayah bagi mereka.
  • Menjaga kerukunan, persatuan, serta stabilitas keamanan nasional dari paham-paham yang menyimpang dan merusak.