Mendidik anak dalam Islam adalah amanah yang sangat besar. Sering kali kita sebagai orang tua hanya berfokus pada kewajiban anak untuk berbakti, namun melupakan bahwa orang tua pun bisa berbuat kekeliruan atau kelalaian (dosa sosial & pengasuhan) yang merusak kesehatan mental, emosional, serta spiritual anak.
Dalam kajian Fiqih Pendidikan Anak bersama Ustadz Dr. Hanif Beni Setyawan, M.H., dijelaskan poin-poin penting mengenai kekeliruan orang tua yang sering terjadi tanpa disadari:
- Pembukaan & Urgensi Fiqih Pendidikan Anak -Menjelaskan pentingnya niat dan landasan ilmu sebelum mendidik anak. Orang tua perlu menyadari bahwa pembentukan karakter anak berawal dari pola asuh di rumah.
- Dosa 1: Mencaci Maki dan Berkata Kasar Saat Marah – Mengeluarkan kata-kata kasar atau ucapan buruk (sumpah serapah) saat emosi. Ucapan orang tua adalah doa, dan emosi yang meluap bisa membekas menjadi trauma berkepanjangan pada anak.
- Dosa 2: Menghina dan Mempermalukan Anak di Depan Orang Lain – Menegur, memarahi, atau membicarakan keburukan anak di depan teman-temannya maupun kerabat. Hal ini meruntuhkan rasa percaya diri anak dan melukai hatinya secara mendalam.
- Dosa 3: Membanding-bandingkan Anak – Membandingkan anak dengan saudara kandung atau anak orang lain. Kebiasaan ini menciptakan rasa cemburu, ketidakpercayaan diri, serta jarak emosional antar saudara.
- Dosa 4: Mencintai dan Menyayangi Anak dengan Syarat – Memberikan kasih sayang hanya jika anak menuruti kemauan orang tua atau berprestasi saja. Anak akan merasa bahwa dirinya tidak berharga jika tidak memenuhi syarat tersebut.
- Dosa 5: Menelantarkan Pendidikan Agama dan Moral – Hanya berfokus pada kebutuhan fisik dan nilai akademik duniawi, namun mengabaikan pengajaran tauhid, shalat, dan akhlak mulia sejak dini.
- Dosa 6: Menuntut Anak Tanpa Memberi Teladan (Koreksi Diri) – Menuntut anak rajin shalat, mengaji, dan bersikap sopan, tetapi orang tua sendiri kerap melanggar atau menunjukkan contoh buruk di rumah.
- Dosa 7: Enggan Mendengarkan dan Memahami Perasaan Anak -Menutup ruang komunikasi dengan meremehkan curhatan atau keluh kesah anak, sehingga anak merasa tidak diakui dan mencari kenyamanan di luar rumah.
- Dosa 8: Berbuat Zalim/Pilih Kasih Antar Anak – Memberikan perhatian, pujian, atau materi secara tidak adil kepada anak-anak sehingga memicu kecemburuan sosial (jealousy) dalam keluarga.
- Dosa 9: Mendoakan Buruk untuk Anak – Melontarkan doa-doa jahat ketika merasa kesal atau kecewa. Padahal, doa orang tua termasuk doa yang paling mustajab di sisi Allahسُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ.
- Dosa 10: Menolak Minta Maaf Ketika Orang Tua Melakukan Kesalahan – Gengsi untuk meminta maaf kepada anak ketika orang tua keliru. Padahal, mau meminta maaf mengajarkan kerendahan hati dan nilai kejujuran kepada anak.
- Kesimpulan & Sesi Tanya Jawab – Penutup kajian mengenai bagaimana cara bertobat, memperbaiki pola komunikasi, dan membangun kembali rasa saling menghormati antara orang tua dan anak.
Kesimpulan
Mendidik anak adalah proses belajar yang tak pernah selesai. Mengakui kekeliruan dalam mengasuh anak bukanlah bentuk kelemahan, melainkan langkah awal menuju perbaikan (ishlah). Mari kita perbaiki pola interaksi dengan buah hati agar mereka tumbuh menjadi generasi yang berakhlak mulia dan mendoakan kebaikan bagi kita di dunia dan akhirat.
