oleh Ustadz Dr. Hanif Beni Setyawan, MH حفظه الله
Banyak orang mengira bahwa kesempitan hidup hanya berkaitan dengan kurangnya harta atau himpitan ekonomi. Namun, Islam menjelaskan bahwa hakikat kesempitan hidup terletak pada hati yang gersang dan jauh dari Allah Ta’ala.
1. Dosa Memberi Jarak antara Manusia dan Hatinya
Dosa dan kemaksiatan menimbulkan dampak buruk yang sangat berbahaya bagi jiwa. Salah satu akibatnya adalah terciptanya penghalang (hijab) antara seseorang dengan hatinya sendiri serta antara dirinya dengan Rabb-nya.
- Hati menjadi tertutup sehingga tidak mampu melihat hal-hal yang dapat memperbaiki atau merusaknya.
- Pelaku maksiat akan kehilangan penyejuk hati (qurrata a’yun) serta ketenteraman jiwa.
2. Makna Kehidupan yang Sempit (Ma’isyatan Dhanka)
Allah Ta’ala berfirman dalam Surah Thaha ayat 124:
وَمَنْ اَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَاِنَّ لَهٗ مَعِيْشَةً ضَنْكًا وَّنَحْشُرُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اَعْمٰى ١٢٤
“Siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit. Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.”
Kesempitan hidup di sini mencakup tiga fase kehidupan :
- Di dunia: Hati senantiasa gelisah, hampa, hina, dan penuh kekecewaan yang menyiksa.
- Di alam barzakh (kubur): Mendapatkan azab dan himpitan kubur.
- Di akhirat: Dikumpulkan dalam keadaan buta dan terhalang dari melihat Allah Ta’ala.
3. Bergelimang Harta tapi Hati Merasa Sempit
Orang yang berpaling dari Allah akan merasakan kesempitan hidup sebanding dengan kadar keberpalingannya.
- Meskipun secara lahiriah hartanya melimpah, makanannya mewah, dan kedudukannya tinggi, batinnya tetap diliputi kecemasan dan angan-angan semu.
- Ketidaksadaran akan kondisi ini sering kali disebabkan oleh rasa “mabuk dunia” (mabuk syahwat, harta, dan jabatan). Mabuk jenis ini bahkan dinilai lebih berbahaya daripada mabuk khamar, karena orang yang mabuk dunia umumnya baru tersadar ketika maut menjemputnya di liang kubur.
4. Kenikmatan Hakiki: Kehidupan yang Baik (Hayatan Thayyibah)
Sebaliknya, Allah menjanjikan hayatan thayyibah (kehidupan yang baik) di dunia dan ganjaran terbaik di akhirat bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh (QS. An-Nahl: 97)
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةًۚ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ ٩٧
”Siapa yang mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia seorang mukmin, sungguh, Kami pasti akan berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang selalu mereka kerjakan”
- Kenikmatan Hakiki: Terletak pada ketenangan jiwa, kelapangan dada, cahaya hati, serta selamatnya batin dari syahwat haram dan syubhat yang batil.
- Kenikmatan fisik/materi sama sekali tidak sebanding dengan kelezatan iman di dalam hati.
5. Surga Dunia Sebelum Surga Akhirat
Para ulama menjelaskan bahwa di dunia ini terdapat “surga dunia” :
إنَّ في الدنيا جنةً من لم يدخلها؛ لم يدخل جنَّة الآخرة
“Barang siapa yang belum merasakan surga dunia, maka ia tidak akan memasuki surga akhirat.”
Surga dunia bukanlah kemewahan materi, melainkan kebahagiaan dan ketenteraman hati yang senantiasa dekat dengan Allah, serta aktif berada di majelis-majelis zikir dan ilmu.
Kesimpulan
Kesempitan hidup hakiki berawal dari maksiat dan berpalingnya hati dari peringatan Allah. Kebahagiaan sejati tidak diukur dari banyaknya materi, melainkan dari hati yang bertakwa, beriman, dan beramal saleh.
