Ustadz Dr. Hanif Beni Setyawan, MH حفظه الله
Mendidik anak (Tarbiyatul Aulad) adalah proses belajar seumur hidup. Sering kali, orang tua sibuk mengevaluasi anak, namun lupa mengevaluasi dirinya sendiri dalam menerapkan pola asuh . Padahal, anak belajar lebih banyak dari apa yang mereka lihat dan contoh dari orang tuanya dibandingkan dari sekadar nasihat.
Dalam kajiannya, Ustadz Dr. Hanif Beni Setyawan, MH menjabarkan beberapa kesalahan pola asuh yang sering tidak disadari atau luput dari perhatian orang tua:
1. Mengekspresikan Cinta Hanya dengan Materi (Mengabaikan Kebutuhan Rohani)
Banyak orang tua yang beranggapan bahwa wujud kasih sayang paling nyata adalah memenuhi segala permintaan materi anak, seperti membelikan gadget, menyekolahkan di tempat mahal, atau mengajak liburan. Memenuhi kebutuhan fisik memang kewajiban, namun orang tua sering luput memberikan nutrisi bagi kebutuhan rohani anak.
- Dampaknya: Hati anak yang tidak dididik (tidak ditazkiyah) rentan terserang penyakit hati seperti dengki, iri hati, dan kesombongan. Jika dibiarkan, saat dewasa antar saudara bisa bertengkar, putus silaturahmi, hingga berebut warisan.
- Solusi: Biasakan anak membaca Al-Qur’an, bimbing ibadahnya, dan didik karakternya agar saling menyayangi sesama saudara.
2. Tidak Memberi Kesempatan Anak Mengambil Keputusan
Orang tua sering kali mengambil alih semua keputusan anak, mulai dari menentukan baju, teman, kegiatan, hingga masa depan mereka dengan alasan “cinta” dan “takut anak salah pilih”.
- Dampaknya: Anak tumbuh menjadi pribadi yang patuh, namun tidak mandiri. Saat dewasa, mereka akan kebingungan dan ragu saat harus mengambil keputusan sendiri untuk hidupnya.
- Solusi: Latihlah kemandirian anak lewat keputusan-keputusan kecil. Tawarkan pilihan beserta konsekuensinya (misal: “Mau main dulu atau belajar dulu?”). Jika anak salah mengambil keputusan, jangan langsung dimarahi, tapi ajak mereka berpikir dan belajar dari kesalahan tersebut.
3. Memberikan Tuntutan yang Diam-Diam Membebani Anak
Sering tanpa sadar, orang tua menuntut anak secara berlebihan (misalnya: “Pokoknya kamu harus ranking satu!”). Orang tua cenderung hanya berorientasi pada hasil (juara, nilai 100), bukan pada proses atau usaha anak.
- Dampaknya: Anak menangkap kesimpulan yang salah: “Aku hanya dicintai jika aku berhasil, dan aku mengecewakan jika aku gagal” . Anak akan tumbuh menjadi pribadi yang takut gagal, cemas, dan kehilangan rasa aman. Terus-menerus membandingkan anak dengan saudaranya atau anak tetangga juga membuat mereka kehilangan identitas.
- Solusi: Hargailah prosesnya. Sampaikan bahwa yang terpenting adalah mereka sudah berusaha maksimal. Berikan rasa aman dari kegagalan agar anak tidak takut untuk mencoba lagi.
4. Pola Asuh yang Tidak Ikut Tumbuh Seiring Usia Anak
Anak terus tumbuh dan berkembang, namun kadang orang tua memperlakukan anak yang sudah dewasa sama seperti saat mereka masih kanak-kanak
- Dampaknya: Hubungan menjadi renggang karena anak merasa selalu didikte dan tidak dihargai kedewasaannya.
- Solusi: Sesuaikan pola asuh seiring bertambahnya usia anak. Jika saat kecil orang tua berperan sebagai pihak yang “mengatur”, maka saat anak mulai remaja dan dewasa, peran orang tua harus berubah menjadi “mendampingi” dan “menghargai”.
Kesimpulan: Hal Kecil yang Diingat Anak Seumur Hidup
Banyak orang tua mengira bahwa anak akan mengenang hal-hal besar seperti hadiah mahal atau liburan mewah. Padahal kenyataannya, yang akan menempel dalam ingatan anak selama puluhan tahun adalah hal-hal kecil dan sederhana.
Anak akan selalu mengingat bagaimana tatapan mata sang ibu saat mereka membawa pulang nilai jelek, pelukan hangat saat mereka menangis, serta kalimat penyemangat seperti “Nggak apa-apa Nak, besok kita coba lagi” . Jadikanlah momen ketika anak melakukan kesalahan sebagai kesempatan untuk mendidik mereka, bukan sekadar untuk menghukum.
