thumbnail (5)

Mudahkanlah Urusan Orang Lain

RINGKASAN KAJIAN AKBAR DI MASJID JAMI’ IBNU UTSAIMIN PONDOK PESANTREN AL-UKHUWAH SUKOHARJO

Tema : Mudahkanlah Urusan Orang Lain
Pemateri : Al-Ustadz Dr. Abdullah Roy, Lc., M.A., hafidzahullahu ta’ala.

A. Pembukaan : Al-Ustadz Abu Sulaiman Aris Sugiyantoro hafidzahullahu ta’ala (Pimpinan Ponpes Al-Ukhuwah Sukoharjo)

  1. Alhamdulillah malam hari ini kita hadir dalam majlis ilmu bersama ustadz kita Al-Ustadz Abdullah Roy, Lc., M.A., hafidzahullahu ta’ala dengan tema – Memudahkan urusan orang lain.
  2. Dan semoga Allah selalu memberikan kemudahan bagi urusan-urusan kita.

B. Materi : Al-Ustadz Dr. Abdullah Roy, Lc., M.A., hafidzahullahu ta’ala.

  1. Satu perkara dari amal shalih yang sangat mudah dilakukan oleh siapapun tanpa menunggu kaya, menjadi ustadz atau perkara yang lain adalah memudahkan urusan orang lain.
  2. Salah satu kaidah yang disebutkan oleh para ulama adalah :

الجَزَاءُ مِنْ جِنْسِ العَمَلِ

“Balasan itu sesuai dengan jenis amal seseorang”

Dan dari kaidah ini maka barangsiapa yang memudahkan urusan orang lain maka Allah akan membalas dengan dimudahkan urusannya.

  1. Di dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ

“Siapa yang menyelesaikan kesulitan seorang mukmin dari berbagai kesulitan-kesulitan dunia, niscaya Allah akan memudahkan kesulitan-kesulitannya pada hari kiamat. Siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya akan Allah mudahkan baginya di dunia dan akhirat…”. (HR. Muslim)

Kesulitan di akhirat tidak bisa disamakan dengan kesulitan di dunia. Dan semakin banyak kemudahan seseorang kepada orang lain, maka semakin banyak pula kemudahan yang akan di dapatkan di akhirat kelak.

Ini semua adalah janji dan pahala yang besar dari Allah kepada hamba-hamba-Nya yang mau memudahkan urusan orang lain.

  1. Terkait dengan memberikan kemudahan kepada orang lain, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda :

يَسِّرُوْا وَلاَ تُعَسِّرُوْا وَبَشِّرُوْا وَلاَ تُنَفِّرُوْا

“Permudahlah dan jangan mempersulit, berikanlah kabar gembira dan jangan membuat orang lari.” (HR. Al-Bukhari & Muslim).

  1. Ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam memudahkan urusan orang, diantaranya :

A. Jangan sampai keinginan untuk memudahkan urusan orang lain lalu melanggar syariat Allah.

B. Memperhatikan profesionalitas dengan tanpa melanggar aturan negara dan hal-hal yang terkait.

C. Tidak berprinsip mau menolong jika dia juga di tolong orang lain. Karena ibadah ini Allah sendiri yang akan membalasnya.

Sehingga memudahkan urusan orang lain adalah perkara yang memiliki batasan dan tidak boleh dilakukan dengan melanggar aturan agama dan juga negara.

  1. Sebagai penutup, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

السَّاعِى عَلَى الأَرْمَلَةِ وَالْمِسْكِينِ كَالْمُجَاهِدِ فِى سَبِيلِ اللَّهِ

“Orang yang berusaha menghidupi para janda dan orang-orang miskin laksana orang yang berjuang di jalan Allah..” (HR. Bukhari dan Muslim)

C. Faidah Tanya-jawab

Pertanyaan : “Bagaimana kiat mendidik anak akan menjadi anak-anak yang shalih dan shalihah?”.

Jawaban : “Mendidik anak adalah termasuk amal shalih dan diantara kiat-kiatnya adalah : Orang tua harus memiliki bekal ilmu lalu menanamkan tauhid kepada anak.”

Pertanyaan : “Apakah membantu menjawab PR teman termasuk memudahkan urusan orang lain?”

Jawaban : “Tadi sudah disampaikan bahwa memudahkan urusan orang lain adalah perkara yang tidak boleh dilakukan jika melanggar aturan agama. Jika PR itu dari awal tidak boleh diberitahu orang lain, maka membantunya tidak boleh. Namun jika tidak dipersyaratkan seperti diatas maka boleh membantunya dan itu termasuk memudahkan urusan orang lain.”

Pertanyaan : “Bagaimana cara memilih teman yang baik?”

Jawaban: “Diantara caranya adalah dengan memperhatikan shalatnya terlebih dahulu. Karena jika shalatnya baik maka bisa dijadikan patokan baiknya amalan lain dari orang tersebut. Dan itulah diantara yang dilakukan para salaf dalam memilih guru atau teman”.

Pertanyaan : “Bagaimana caranya membantu teman yang terjerumus dalam kemaksiatan agar segera sadar?

Jawaban: “Caranya adalah dengan memberikan peringatan. Karena peringatan itu penting bagi orang beriman. Allah berfirman :

وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَىٰ تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” (Adz-Dzariyat : 55)

Jika dengan memberikan peringatan tidak bisa dilakukan sendirian, maka bisa meminta bantuan orang lain dan diantara caranya juga adalah dengan mendoakannya.

Pertanyaan : “Apakah termasuk menyulitkan orang lain ketika seorang pengajar memberikan soal yang sulit saat ujian?”

Jawaban : “Seorang guru juga dituntut untuk memberikan kemudahan bagi murid-muridnya dalam memberikan soal (sebagaimana hadits diatas). Namun juga jangan terlalu berlebihan (bermudah-mudahan), karena terkadang dengan soal-soal itu murid bisa mendapatkan ilmu dan pemahaman. Seorang pengajar hendaknya membuat soal dengan bervariasi dengan adanya soal yang sulit dan yang mudah disertai dengan niat dan tujuan baik dalam membuatnya.”

Pertanyaan : “Bagaimana cara mengatasi futur dalam menuntut ilmu?”

Jawaban : “Diantara caranya adalah dengan meninggalkan kemaksiatan. Karena kemaksiatan itu dapat melemahkan semangat dalam menuntut ilmu agama. Kemaksiatan akan memberikan titik hitam (kotoran) dalam hati seseorang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِى قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَاا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ

“Sesungguhnya, jika seorang mukmin melakukan sebuah dosa, muncullah di dalam hatinya sebuah titik hitam. Jika dia bertobat, meninggalkan dosa tersebut, dan beristighfar, hilanglah titik hitam tersebut dari hatinya. Jika dosanya bertambah, bertambah pula titik tersebut sampai menutupi seluruh hatinya.” (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan lainnya).

(Kamis, 1 Oktober 2026 M – 20 Rabiuts Tsani 1448 H)

Scroll to Top