mengapa kita sering bersedih

Mengapa Kita Sering Bersedih? (La Tahzan)

Kesedihan, kegundahan, dan kecemasan sering kali melanda hati manusia bukan karena sedikitnya nikmat yang ia miliki, melainkan karena kelalaian dalam menyadari dan mensyukuri nikmat yang telah ada.

Kenapa Manusia Kerap Merasa Kurang?

Al-Imam Ibnul Jauzi rahimahullah menuturkan bahwa manusia memiliki tabiat unik:

رَأَيْتُ الْمُعَافَى لَا يَعْرِفُ قَدْرَ الْعَافِيَةِ إِلَّا فِي الْمَرَضِ، كَمَا لَا يَعْرِفُ شُكْرَ الْإِطْلَاقِ إِلَّا فِي الْحَبْسِ. وَتَأَمَّلْتُ عَلَى الْآدَمِيِّ حَالَةً

baru menyadari besarnya sebuah nikmat ketika nikmat tersebut telah lenyap.

  • Kesehatan: Orang yang sehat sering kali lupa bahwa tubuh bugarnya adalah mahkota yang sangat didambakan oleh orang yang sedang terbaring sakit.
  • Kebebasan & Keamanan: Rasa aman baru benar-benar terasa nilainya ketika negeri dilanda konflik, perang, atau masa karantina/terisolasi.
  • Keluarga: Kasih sayang orang tua atau pasangan terkadang baru dirindukan setelah mereka wafat atau tiada di sisi kita.
  • Fasilitas Harian: Air bersih dan listrik sering dihambur-hamburkan dan baru disadari kepentingannya saat air sumur surut atau listrik padam dalam waktu lama.

Dua Jebakan Pikiran Pemicu Kesedihan

Para ulama merumuskan bahwa sebagian besar kesedihan dan kecemasan bersumber dari dua hal:

  1. Terbelenggu oleh Masa Lalu (Al-Huzn)
    Menyesali kegagalan, kehilangan, atau kepahitan masa lalu yang sudah berlalu. Bersedih atas hal yang sudah terjadi tidak akan mampu mengembalikan air sungai ke hulunya atau memutar kembali waktu.
    • Solusinya: Jadikan masa lalu sebagai pelajaran (ibrah), perbaiki dosa-dosa terdahulu dengan taubat dan istighfar, lalu melangkahlah maju.
  2. Cemas Berlebihan terhadap Masa Depan (Al-Khauf / Al-Qalaq)
    Mencemaskan sesuatu yang belum terjadi: takut jatuh miskin di hari tua, khawatir terkena sakit berat, atau menebak-nebak musibah yang belum pasti. Padahal belum tentu umur kita sampai ke masa tersebut.
    • Solusinya: Berserah diri kepada ketentuan takdir Allah (tawakal) dan pahami bahwa masa depan ada di tangan-Nya.

Kiat Praktis Menepis Kesedihan

  • Fokus pada Hari Ini (Ibnu Waqtih)
    Jika berada di waktu pagi, jangan tunggu sampai sore; curahkan tenaga untuk beramal terbaik hari ini. Kebaikan yang kita tanam hari ini otomatis sedang membangun masa depan kita.
  • Hitung Kekayaan Fisik dan Jiwa yang Ada
    Apakah Anda rela menukar penglihatan Anda dengan emas sebesar Gunung Uhud? Atau menukar akal sehat Anda dengan istana mewah? Tentu tidak. Sadarilah bahwa kesempurnaan fisik dan iman yang kita miliki bernilai jauh melampaui seluruh harta duniawi.
  • Jangan Bandingkan Rumput Sendiri dengan Rumput Tetangga
    Fokus pada apa yang kita miliki, bukan pada apa yang dimiliki orang lain. Membandingkan pencapaian materi hanya akan membuat hati sempit dan melahirkan rasa dengki.
  • Ikhlas Ketika Kebaikan Tidak Dihargai Manusia
    Jika usaha atau kebaikan Anda tidak diapresiasi orang lain, jangan bersedih; niatkan sejak awal hanya mencari rida dan pahala di sisi Allah, bukan pujian manusia.
  • Perkuat Istiqamah dan Doa
    Mengingat Allah dan menjaga ketaatan adalah obat penenang jiwa yang paling manjur اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ ۗ ۝٢ (alā bidzikrillāhi tathma’innul qulūb). Orang yang istiqamah akan dihibur oleh malaikat bahkan hingga detik-detik sakaratul mautnya: “Janganlah takut dan janganlah bersedih hati” (QS. Fussilat: 30).

Kesimpulan:

Kunci ketenangan hidup adalah Fakkir Wasykur (Renungkan nikmat-nikmat Allah, lalu syukurilah). Badai kepedihan akan mereda saat kita berhenti meratapi apa yang hilang dan mulai mensyukuri apa yang masih ada di tangan kita.

Scroll to Top