islamic live lecture youtube thu… 2k 20261022101500

Bangun dari Kelalaian: Menjadikan Akhirat sebagai Tujuan Utama

Sering kali manusia terlena dalam tidur panjang kelalaian—terbuai oleh panjangnya angan-angan, nikmatnya usia muda, serta kesibukan mengejar gemerlap dunia. Padahal, kematian bisa datang kapan saja secara tiba-tiba tanpa mengenal waktu dan usia.

Merujuk pada pembahasan bab Dawamil Yaqzhah (Selalu Sadar/Bangun dari Kelalaian) dalam kitab Shaidul Khatir karya Al-Imam Ibnul Jauzi rahimahullah, kajian yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Hanif Beni Setyawan, M.H. حفظه الله (PONPES Al Ukhuwah) mengajak kita untuk segera bangkit, mengevaluasi diri, dan meluruskan orientasi hidup sebelum ajal menjemput.

1. Hakikat Orang Berakal: Menyiapkan Bekal Perjalanan Akhirat

Al-Imam Ibnul Jauzi membuka pembahasannya dengan sebuah kaidah penting:

“Yang wajib diperhatikan oleh setiap orang yang berakal adalah menyiapkan bekal sebelum melakukan perjalanan menuju negeri akhirat.”

  • Orang yang Berakal: Ibarat musafir yang cerdas, ia selalu menyiapkan perbekalan (uang, kendaraan, dan bekal secukupnya) sebelum melangkah menempuh perjalanan panjang.
  • Orang yang Ceroboh: Ibarat orang yang nekat bersafar dengan tangan kosong tanpa membawa persiapan apa pun, padahal ia tidak tahu kapan takdir dan panggilan Allah akan menjemputnya.

Kematian tidak pernah datang dengan aba-aba. Malaikat maut bisa hadir seketika tatkala seseorang masih sibuk dengan angan-angan kosong dunianya.

2. Pesan Agung Al-Qur’an: Hisablah Dirimu Sebelum Dihisab

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ ۝١٨

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Hasyr: 18)

  • Tafsir Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah:
    Ayat ini adalah perintah tegas untuk menghitung-hitung diri (muhasabah) sebelum kita dihisab di hadapan Allah kelak. Bayangkan betapa malunya kita ketika menghadap Allah dengan membawa tumpukan amal buruk, sementara amal saleh yang kita persiapkan sangatlah sedikit.
  • Evaluasi Harian Sebelum Tidur:
    Ustadz Hanif mengingatkan betapa indahnya jika sebelum tidur di setiap malam, seseorang meluangkan waktu sejenak untuk bermuhasabah: Amal apa saja yang sudah kulakukan hari ini? Jika hari ini dipenuhi kebaikan, pujilah Allah dan bersyukurlah. Namun jika terselip dosa dan kelalaian, segeralah bertaubat, sebab tidur malam bisa jadi adalah tidur panjang yang menghantarkan pada kematian.

3. Dua Orientasi Hidup Manusia

Dalam memandang kehidupan dunia, manusia terbagi menjadi dua golongan besar dengan akhir kesudahan yang saling bertolak belakang:

A. Orang yang Menjadikan Akhirat sebagai Tujuan Utama
  • Sikapnya: Ia memposisikan dunia sekadar sebagai sarana, ladang, atau jembatan untuk mengumpulkan bekal akhirat. Ia hidup di dunia laksana orang asing (al-gharib) atau musafir yang sedang merantau.
  • Balasannya:
    • Allah akan menanamkan rasa kaya di dalam hatinya (ghina fi qalbihi) dan sifat qana’ah (merasa cukup).
    • Allah mudahkan dan kumpulkan urusan-urusannya.
    • Dunia justru akan mengejarnya dalam keadaan hina (datang melayaninya tanpa ia harus kehilangan prinsip akhirat).
B. Orang yang Menjadikan Dunia sebagai Tujuan Utama
  • Sikapnya: Sepanjang siang dan malam pikiran, ambisi, serta jerih payahnya hanya diorientasikan untuk menumpuk harta, mengejar jabatan, dan melampiaskan syahwat duniawi.
  • Akibatnya:
    • Allah jadikan kefakiran senantiasa terbayang di depan kedua matanya (selalu gelisah, takut miskin, dan tidak pernah merasa puas).
    • Allah cerai-beraikan urusannya, membuatnya hidup dalam kekalutan, kerumitan, dan kesulitan yang tidak ada habisnya. Sebagaimana nasihat Imam Ibnul Qayyim: Dunia adalah khamrnya (arak/kecanduan) setan; siapa yang mabuk karenanya, ia tidak akan sadar kecuali ketika sakaratul maut merenggut nyawanya.

4. Perumpamaan Indah: Hidup di Dunia Bagaikan Perantau

Rasulullah ﷺ pernah memberikan nasihat penuh makna kepada sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma sambil memegang kedua pundaknya:

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ

“Kuncilah hidupmu di dunia seakan-akan kamu adalah seorang asing atau seorang pengembara (musafir).” (HR. Bukhari)

  • Seorang perantau di negeri orang tidak akan tergiur untuk membangun istana megah atau mati-matian menanam investasi mati di tempat perantauannya, karena ia tahu ia akan segera pulang ke kampung halaman aslinya.
  • Begitu pula seorang mukmin; kampung halaman asalnya adalah surga (negeri akhirat). Dunia hanyalah tempat singgah sementara untuk beramal.

5. Kiat Praktis Keluar dari Kelalaian

  1. Jangan Menunda Taubat dan Amal Sholeh (Taswif):
    Jangan menunda-nunda kebaikan dengan alasan “Nanti sore saja”, “Besok pagi saja”, atau “Nanti kalau sudah tua baru taubat”. Betapa banyak orang di sore hari tertawa gembira, namun saat malam tiba kain kafannya sudah mulai ditenun, sementara ia sendiri tidak menyadarinya.
  2. Manfaatkan Waktu Sehat dan Usia Muda:
    Sebagaimana pesan Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu kepada Fudhalah bin ‘Ubaid, bahwa selama puluhan tahun manusia berjalan menuju Rabbnya, maka pergunakanlah sisa usia dan kesehatan sebelum datang masa sakit dan kematian.
  3. Mengingat Mati Secara Berkala:
    Merenungkan bahwa setiap detik yang berlalu membawa kita semakin dekat dengan liang lahad. Imam Syafi’i rahimahullah senantiasa mengingatkan dalam bait syairnya agar kita senantiasa berbekal takwa, sebab kita tidak pernah tahu apakah malam yang gelap akan mengantarkan kita sampai bertemu fajar keesokan harinya.

Penutup: Bangunlah Sebelum Terlambat

Kelalaian adalah duri dalam selimut yang melemahkan laju langkah menuju surga. Mari jadikan sisa napas dan detak jantung hari ini sebagai momentum kebangkitan ruhani—meninggalkan mimpi-mimpi kosong duniawi, memperbanyak istigfar, dan memohon keteguhan hati kepada Dzat Yang Maha Membolak-balikkan Hati (Yaa Muqallibal quluub, tsabbit qulubanaa ‘ala diinik).

Scroll to Top