RIYA´ MERUPAKAN SYIRIK KECIL 

RIYA´ MERUPAKAN SYIRIK KECIL

Alhamdulillah, wassholatu wassalamu ala rosulillah, wa ba´du ;

Sesungguhnya riya´ merupakan bagian dari perbuatan syirik kecil yang sering melintas dalam lubuk hati manusia, terkadang sulit lagi sedikit bagi seseorang untuk selamat dari nya.

Maka perlu bagi kita untuk mengetahui apakakah hakikat dari riya itu, sejauh mana bahaya riya terhadap suatu amalan dan bagaimanakah cara kita untuk selamat dari nya?

Riya´ adalah perbuatan syirik yang sangat lembut seperti seseorang menampakkan sesuatu ibadah yang ia lakukan kepada manusia untuk mendapatkan sekelumit dari dunia yaitu ia memperlihatkan ibadah yang ia kerjakan agar dilihat manusia hingga ia mendapatkan pujian.

Riya´ berasal dari kata ru´yah yaitu sesuatu yang dilihat dan dipandang, sebagaimana  Sum´ah berasal dari kata sima´ dan istima´ yaitu didengar sehingga apa yang ia lakukan agar dilihat dan didengar oleh para manusia.

Sehingga ia mendapatkan sanjungan dan pujian dari amal perbuatan nya tatkala didunia, ia berusaha agar disanjung atau dipuji sehingga sesungguh nya amal tersebut bukan murni ikhlas karena Allah Ta´ala , sehingga amal nya menjadi hancur tidak berbekas.

Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata, bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam :  Allah

 

: ((قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنْ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ))؛ رواه مسلم.

Allah Taba´roka wa Ta´ala berfirman :  Sesungguhnya Aku paling tidak membutuhkan tandingan dari sekutu sekutu, barang siapa yang beramal kemudian mensekutukan dengan selainku sungguh aku tinggalkan ia bersama sekutu nya.  (HR. Muslim)

Diriwayatkan dari sahabat Abu Said ibn abi Fadholah radhiyallahu anhu berkata bahwa Rosulullahi shollallahu alihi wa sallambersabda :

((إِذَا جَمَعَ اللَّهُ النَّاسَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لِيَوْمٍ لا رَيْبَ فِيهِ، نَادَى مُنَادٍ: مَنْ كَانَ أَشْرَكَ فِي عَمَلٍ عَمِلَهُ لِلَّهِ أَحَدًا، فَلْيَطْلُبْ ثَوَابَهُ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ، فَإِنَّ اللَّهَ أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنْ الشِّرْكِ))؛ رواه الترمذي وابن ماجه.

 

Apabila Allah Ta´ala mengumpulkan para makhluk dihari kiyamat yaitu hari yang tidak diragukan akan kejadian nya, maka diserukan oleh malaikat yang menyeru dengan lantang :
barang siapa yang mensekutukan Allah Ta´ala dalam amal perbuatan nya kepada makhluk, maka hendak nya ia meminta pahala kepada nya jangan kepada Allah Ta´ala, dikarenakan Allah Ta´ala tidak membutuhkan sekutu sebagai tandingan . (HR. At Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Maka ibadah apa saja yang seharusnya diperuntukkan kepada Allah Ta´ala namun ia berbuat riya´ atau mencari pandangan kepada selain Allah Ta´ala maka pahala nya akan sirna.

Disebutkan dalam hadist : Bahwasanya seseorang sahabat datang kepada Nabi shallallahu  alaihi wa sallam bertanya, wahai Rasulullah, bagaimana seseorang berperang untuk mendapatkan pahala dan agar dipuji, apa yang ia akan dapatkan? Maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Ia tidak akan mendapatkan apapun.

Maka ditanyakan berulang hingga tiga kali maka dijawab: Ia tidak akan mendapatkan apapun.

Kemudian Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

((إِنَّ اللَّهَ لا يَقْبَلُ مِنْ الْعَمَلِ إِلَّا مَا كَانَ لَهُ خَالِصًا وَابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ))؛ رواه الترمذي وأبو داود.

Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak akan menerima suatu amalan kecuali jika ia ikhlas dan hanya mencari wajah Allah Ta’ala. (HR. At Tirmidzi dan Abu Dawud)

Riya’ akan mengakibatkan akhir yang buruk, dikarenakan Allah Ta’ala akan menyingkap niyat buruk bagi orang orang yang riya’ dihadapan para makhluk semua nya.

Sebagaimana diriwayatkan oleh sahabat Jundub ibnu Abdillah radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

((مَن سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ به، ومَن راءَى راءَى اللَّهُ بهِ))

Barang siapa yang beramal agar didengar amal perbuatan nya maka Allah Ta’ala akan jadikan amal nya didengar manusia dan barang siapa yang beramal agar dilihat amal perbuatan nya maka Allah Ta’ala akan jadikan amal nya dilihat manusia.  (HR. Muslim)

Arti dari Hadits diatas adalah barang siapa yang menampakkan amal perbuatan nya untuk manusia riya’ agar dilihat, maka Allah Ta’ala akan tunjukkan niyat buruk nya pada hari  kiyamat dihadapan para makhluk semua, yang sebelumnya orang orang mengira bahwa ia telah melakukan kebaikan tatkala didunia.

Dan Al Imam Syufyan At Tsauri rahimahullahu  membaca firman Allah Ta’ala:

﴿وَبَدَا لَهُمْ مِنَ اللَّهِ مَا لَمْ يَكُونُوا يَحْتَسِبُونَ ﴾ [الزمر: 47]،

 

“Dan jelaslah bagi mereka azab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan.” (Q.S.39:47)

Kemudian ia berkata: Celaka bagi orang yang riya’ , celaka bagi orang yang riya’ ,celaka bagi orang yang riya’ , ini ayat bagi mereka dan inilah kisah mereka.

Dan tidak hanya hancur pahala orang orang yang riya’ dan niyat buruk mereka akan di ungkap dihadapan para makhluk pada hari kiyamat namun tempat kembali mereka adalah neraka, bukankah kalian mengetahui siapakah orang yang paling pertama diseret ke dalam neraka pada hari kiyamat?

Mereka adalah orang orang islam yang mengerjakan amalan yang  sangat mulia namun mereka riya’.

Diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

((أَنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ يَنْزِلُ إِلَى الْعِبَادِ لِيَقْضِيَ بَيْنَهُمْ، وَكُلُّ أُمَّةٍ جَاثِيَةٌ، فَأَوَّلُ مَنْ يَدْعُو بِهِ رَجُلٌ جَمَعَ الْقُرْآنَ، وَرَجُلٌ يَقْتَتِلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَرَجُلٌ كَثِيرُ الْمَالِ، فَيَقُولُ اللَّهُ لِلْقَارِئِ: أَلَمْ أُعَلِّمْكَ مَا أَنْزَلْتُ عَلَى رَسُولِي؟ قَالَ: بَلَى يَا رَبِّ، قَالَ: فَمَاذَا عَمِلْتَ فِيمَا عُلِّمْتَ؟ قَالَ: كُنْتُ أَقُومُ بِهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ، فَيَقُولُ اللَّهُ لَهُ: كَذَبْتَ، وَتَقُولُ لَهُ الْمَلائِكَةُ كَذَبْتَ، وَيَقُولُ اللَّهُ: بَلْ أَرَدْتَ أَنْ يُقَالَ إِنَّ فُلانًا قَارِئٌ، فَقَدْ قِيلَ ذَاكَ، وَيُؤْتَى بِصَاحِبِ الْمَالِ، فَيَقُولُ اللَّهُ لَهُ: أَلَمْ أُوَسِّعْ عَلَيْكَ حَتَّى لَمْ أَدَعْكَ تَحْتَاجُ إِلَى أَحَدٍ؟ قَالَ: بَلَى يَا رَبِّ، قَالَ: فَمَاذَا عَمِلْتَ فِيمَا آتَيْتُكَ؟ قَالَ: كُنْتُ أَصِلُ الرَّحِمَ وَأَتَصَدَّقُ، فَيَقُولُ اللَّهُ لَهُ: كَذَبْتَ، وَتَقُولُ لَهُ الْمَلائِكَةُ: كَذَبْتَ، وَيَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى: بَلْ أَرَدْتَ أَنْ يُقَالَ: فُلانٌ جَوَادٌ، فَقَدْ قِيلَ ذَاكَ، وَيُؤْتَى بِالَّذِي قُتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقُولُ اللَّهُ لَهُ: فِي مَاذَا قُتِلْتَ؟ فَيَقُولُ: أُمِرْتُ بِالْجِهَادِ فِي سَبِيلِكَ فَقَاتَلْتُ حَتَّى قُتِلْتُ، فَيَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى لَهُ: كَذَبْتَ، وَتَقُولُ لَهُ الْمَلائِكَةُ: كَذَبْتَ وَيَقُولُ اللَّهُ: بَلْ أَرَدْتَ أَنْ يُقَالَ فُلانٌ جَرِيءٌ فَقَدْ قِيلَ ذَاكَ))، ثُمَّ ضَرَبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى رُكْبَتِي، فَقَالَ: ((يَا أَبَا هُرَيْرَةَ، أُولَئِكَ الثَّلاثَةُ أَوَّلُ خَلْقِ اللَّهِ تُسَعَّرُ بِهِمْ النَّارُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ))؛ رواه الترمذي

Sesungguhnya pada hari kiamat Allah Ta’ala  akan turun kepada hamba-hamba-Nya untuk menetapkan keputusan di antara mereka. Setiap umat datang dengan membungkuk. Orang pertama yang dipanggil adalah orang yang menghafal Alquran, orang yang berjihad di jalan Allah, dan orang yang memiliki banyak harta.
Allah Ta’ala lalu bertanya kepada orang yang membaca atau menghafal Alquran: Bukankah Aku telah mengajarkan kepadamu apa yang telah Aku turunkan kepada utusan-Ku? Orang itu menjawab: Benar wahai Allah.
Allah Ta’ala kembali bertanya: Lantas apa yang telah kamu lakukan terhadap apa yang telah kamu ketahui? Orang itu menjawab: Aku bangun di waktu malam dan siang hari membaca ayat ayat Mu.
Allah Ta’ala berfirman kepadanya: Kamu telah berdusta. Malaikat berkata: Kamu telah berdusta.
Allah Ta’ala berfirman: Kamu hanya ingin dikatakan bahwa kamu adalah seorang pembaca Alquran yang baik. Dan sebutan itu sudah engkau dapatkan.
Lalu dihadapkan kepada Allah Ta’ala orang yang diberikan harta. Allah Ta’ala berfirman kepadanya: Bukankah Aku telah melapangkan rezeki bagimu hingga Aku tidak membiarkan dirimu mengemis kepada orang lain? Orang itu menjawab: Benar, wahai Allah.
Allah Ta’ala bertanya: Apa yang telah kamu lakukan terhadap apa yang telah Aku anugerahkan kepadamu? Orang itu menjawab: Aku menyambung silaturahim dan bersedekah untuk Mu.
Allah Ta’ala berfirman kepadanya: Kamu telah berdusta. Malaikat berkata kepadanya: Kamu telah berdusta.
Allah Ta’ala berfirman: Akan tetapi dirimu hanya ingin dikatakan bahwa engkau (dirimu) adalah orang yang dermawan. Sebutan itu pun telah  engkau dapatkan.
Lalu dihadapkan orang yang terbunuh di jalan Allah. Allah lalu bertanya kepadanya: Karena apa dirimu terbunuh? Orang itu menjawab: Aku diperintahkan untuk berjihad di jalan-Mu. Aku lalu berperang hingga terbunuh.
Allah Ta’ala berfirman kepadanya: Kamu telah berdusta. Malaikat berkata kepadanya: Kamu telah berdusta.
Allah Ta’ala berkata kepadanya: Akan tetapi kamu hanya ingin dikatakan bahwa engkau (dirimu) adalah orang yang pemberani. Sebutan itu telah engkau dapatkan.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam lalu memukul lututku dan bersabda: Wahai Abu Hurairah, mereka bertiga adalah makhluk Allah pertama yang merasakan api neraka pada hari kiamat nanti. (HR. At Tirmidzi)
Bukankah kalian melihat bagaimana orang yang riya diseret pertama kali kedalam neraka pada hari kiyamat?

Oleh karena itu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memberikan peringatan kepada umat ini dari terjerumus ke dalam perbuatan riya’ dan menjelaskan bahwa riya’ lebih berbahaya daripada fitnah Masiihid Dajjal.

Diriwayatkan oleh sahabat Abu Said Al Hudriyi radhiyallahu anhu bahwa suatu hari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam keluar bersama kami memperbincangkan tentang fitnah Al Masiih Ad Dajjal kemudian beliau bersabda:

((أَلا أُخْبِرُكُمْ بِمَا هُوَ أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ عِنْدِي مِنْ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ؟))، قَالَ: قُلْنَا: بَلَى، فَقَالَ: ((الشِّرْكُ الْخَفِيُّ، أَنْ يَقُومَ الرَّجُلُ يُصَلِّي فَيُزَيِّنُ صَلاتَهُ لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ رَجُلٍ))؛ رواه ابن ماجه.

Maukah kalian aku kabarkan tentang sesuatu yang aku lebih takutkan bagi kalian daripada fitnah Al Masiih Ad Dajjal?
Mereka menjawab: ia wahai Rasulullah….
Maka Beliau shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Syirik yang lembut, seperti seseorang mengerjakan sholat kemudian ia membaguskan sholat nya karena ia sedang dipandang oleh orang lain.  (HR Ibnu Majah)
Bentuk perbuatan riya’ yang terjadi pada masyarakat sangat banyak sekali, diantara manusia ada yang bersedekah pada jalan jalan kebaikan dengan niyat bukan hanya sekedar menjadi kudwah atau teladan dan contoh bagi saudara saudaranya yang kaya, namun tujuan nya agar namanya  terkenal dan dikenang sebagai donatur yang dermawan, sebahagian yang lain berbicara tentang amal perbuatan nya yang sholeh kepada manusia, seperti menyebutkan beberapa kali ia telah berhaji atau beberapa kali ia telah menunaikan ibadah umroh sedangkan ia tidak ditanya tentang perkara tersebut atau berapa banyak ia telah membantu para manusia dengan harta dan pangkatnya yang semua itu ia hanya mencari kedudukan di sisi manusia, atau agar ia terkenal sebagai muhsinin. Karena pada dasarnya tidak ada keperluan bagi kita untuk menceritakan amal ibadah kita kepada orang lain yang tidak kuasa untuk mendatangkan manfaat atau mudhorot, tidak kuasa atas kehidupan atau kematian atau kebangkitan….

Adapun orang orang yang soleh memiliki kebiasaan untuk mengerjakan amalan saleh dan tidak berharap untuk manusia balasan atau ucapan syukur, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ ٱللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَآءً وَلَا شُكُورًا ﴿٩﴾

Sesungguhnya kami memberikan makan kepada kalian hanyalah untuk mengharapkan keridoan Allah Ta’ala, kami tidak menghendaki balasan dari kalian tidak pula ucapan terima kasih. (Q.S 76 : 10)

Dan perbuatan riya’ merupakan sifat orang orang munafik yang Allah Ta’ala berfirman tentang mereka:

 

وَإِذَا قَامُوٓا۟ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ قَامُوا۟ كُسَالَىٰ يُرَآءُونَ ٱلنَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا ﴿١٤٢﴾

 

” Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.”  (Q.S.4:142)

Maka seyogyanya bagi kita untuk berhati-hati dengan jenis syirik ini dan hendaklah kita merasa takut dan kawatir terhadap amal amal kita dari penyakit riya’ ini serta senantiasa terus bertanya kepada jiwa kita: Apa yang engkau kehendaki dari mengerjakan amalan ini?

Apa yang engkau inginkan dari ucapan ini?

Apa yang menjadi tujuan dari melakukan ketaatan ini?

Karena sesungguhnya riya’ merupakan penyakit yang sangat berbahaya yang menjadi pintu syetan untuk menggoda orang Shalih, bahkan Nabi shallallahu alaihi wa sallam merasa takut dan kawatir terhadap para sahabat nya yang mereka merupakan sosok manusia yang paling bertakwa dari kalangan umat ini, bahkan lebih kawatir daripada fitnah Al Masih Ad Dajjal sebagaimana terdahulu hadist nya.

Dahulu para salaf senantiasa berusaha keras untuk mengusir godaan riya’ dari dalam hatinya dengan cara menyembunyikan amal ibadah mereka, dan mengerjakan amalan ketaatan tanpa diperlihatkan kepada siapa pun.

Namun di jumpai pula sebahagian orang karena takut nya terhadap riya’ menggiring mereka untuk meninggalkan amal, ia ingin membaca Al Qur’an di masjid namun syetan datang menggoda dan berkata kepada nya: Kamu berbuat riya’ jangan membaca Al Qur’an di hadapan manusia,  hingga ia meninggalkan dari membaca Al Qur’an.

Ini merupakan tipu daya syetan dan bisikan nya, karena syetan menghendaki agar manusia meninggalkan amal ibadah kepada Allah Ta’ala hingga amal kebaikan mereka sedikit, maka jika sekiranya kita menjumpai bisikan semacam ini hendaklah berlindung kepada Allah Ta’ala dan meneruskan amal ketaatan tersebut, dengan berlindung kepada Allah Ta’ala akan sirna bisikan bisikan tersebut dari hati kalian dari kawatir yang berlebihan dari riya’.

Bahkan terkadang di sunnahkan untuk mempelihatkan amal untuk suatu maslahat, seperti agar menjadi kudwah atau teladan dalam kebaikan, sebagai contoh seseorang bersedekah terang terangan di hadapan manusia agar mendorong orang orang  kaya lainnya andil bersedekah, maka dari sini diperbolehkan menampakkan suatu amalan jika terdapat maslahat dan tidak kawatir dari riya’ sehingga barangsiapa yang mencontohkan amalan kebaikan dan di ikuti oleh orang lain maka bagi nya mendapatkan pahala orang orang yang mengikuti nya hingga hari kiamat.

Singkat kata bahwasanya riya’ yang merupakan syirik kecil yaitu menghendaki suatu amalan ketaatan kepada selain wajah Allah Ta’ala dan engkau mengsekutukan Allah Ta’ala dengan lainnya dalam niyat dan ini merupakan perbuatan yang di murkai Allah Ta’ala dan akan diberikan hukuman serta akan menjadi sirna amal perbuatan nya tidak berbekas sedikit pun dan menjadi sia sia amal ibadah yang dikerjakan nya.

Riya’ merupakan pembatal suatu amalan yang akan menghancurkan amal yang ia riya’ didalamnya, maka lihatlah orang yang pandai membaca Al Qur’an yang ia rajin sholat malam bagaimana hancur tidak berbekas amalan nya dan tidak mendapatkan pahala sedikit pun.

Bagaimana jalan selamat agar amalan kita menjadi amal yang murni untuk wajah Allah Ta’ala tanda terjangkit penyakit riya’ atau terjerumus ke dalam kesombongan?

Disana terdapat tiga kunci keselamatan yaitu:

1) Hendaknya selalu melakukan muroqobah kepada Allah Ta’ala atau senantiasa merasa diawasi Allah Ta’ala dalam segala langkah nya, dan selalu meniatkan segala amal untuk Allah Ta’ala hanya mengharapkan pahala Allah Ta’ala dan tidak berharap suatu apapun dari makhluk termasuk pujian atau sanjungan, dan harus yakin bahwa makhluk tidak mampu memberikan kontribusi manfaat pada hari kiyamat kelak dan tidak akan memeberikan hasanah kebaikan satu pun kepada diri mu, sehingga mereka tidak akan pernah peduli mengetahui amal perbuatan mu atau tidak mengetahui, dahulu ketika di dunia memberikan pujian atau sanjungan kepada mu atau tidak.

Dan sungguh telah diriwayatkan dalam hadits shohih, bahwasanya pada hari kiyamat Allah Ta’ala berfirman kepada orang orang yang berbuat riya’ : Pergilah kalian kepada yang kalian harapkan riya’ pada nya, apakah kalian mendapatkan balasan pahala dari nya??

2) Senantiasa berusaha untuk menyembunyikan amal ibadah, sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam:

((من استطاع منكم أن يكونَ له خَبيءٌ من عملٍ صالحٍ فلْيَفْعلْ))

Barang siapa diantara kalian yang mampu untuk menyembunyikan suatu amalan saleh maka lakukanlah.

Dan ketahuilah bahwa semakin tersembunyi suatu amal shaleh tersebut maka semakin agung pahala nya, sebagaimana engkau ketahui bahwa barangsiapa yang mengerjakan sholat sunnah di suatu tempat tersembunyi yang tidak dilihat seseorang akan mendapatkan pahala duapuluh lima derajat berlipat ganda daripada seseorang yang mengerjakan sholat dihadapan manusia.

Sebagaimana diriwayatkan oleh sahabat Syuhaib Ar Rummy radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

 

 ((صلاة الرجل تطوُّعًا حيث لا يراه الناس تعدل صلاته على أعين الناس خمسًا وعشرين))؛ رواه أبو يعلى.

Sholat sunnah seseorang yang dikerjakan tidak terlihat oleh para manusia berlipat ganda duapuluh lima derajat jika dibandingkan sholat nya dilihat manusia. ( HR. Abu Ya’la)

Dan dahu para ahli hikmah tatkala ditanyakan kepada mereka, siapakah orang yang ikhlas itu ?

Maka dijawab: Orang yang ikhlas adalah orang yang menyembunyikan suatu amalan saleh mereka sebagaimana menyembunyikan keburukan mereka.

3) Agar senantiasa memperbanyak melantunkan doa :

اللهمَّ إني أعوذُ بك أنْ أُشرِكَ بك وأنا أعلمُ، وأستغفرُك لما لا أعلمُ.

Allahumma inni a’udzubika an usyrika bika ana a’lamu wa astagfiruka lima lagi a’lamu
Wahai ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari mensekutukan mu sedangkan aku mengetahuinya dan aku memohon ampunan mu jika diriku tidak mengetahui nya.
Ringkas kata yang bisa kita simpulkan dari uraian di atas bahwasanya kita wajib berhati-hati dan waspada terhadap bahaya riya’ yang terselubung, dikarenakan hal tersebut dapat meruntuhkan amal dan sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk berusaha sekeras mungkin untuk ikhlas beramal untuk Allah Ta’ala semata dan berupaya untuk menyembunyikan amal semampu mungkin dan tidak lupa agar senantiasa memanjatkan do’a yang diajarkan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam diatas dalam rangka berlindung dari perbuatan riya’.

Sumber :

رابط الموضوع: https://www.alukah.net/sharia/0/134761/#ixzz7AxTJ8hDx

Disampaikan Pada Kajian Bada Zuhur Sabtu 27 November 2021

Ustadz Rochmad Supriyadi, Lc Hafidzahullohu

Download PDF