Waktu adalah aset paling berharga yang dimiliki oleh setiap manusia, jauh melampaui nilai harta benda apa pun di muka bumi. Setiap detik yang beranjak pergi tidak akan pernah bisa diputar kembali. Namun ironisnya, banyak manusia justru terperdaya dan lalai dalam memanfaatkannya.
Merujuk pada bab Ahamiyyatus Zaman (Urgensi Waktu) dalam kitab Shaidul Khatir karya Al-Imam Ibnul Jauzi rahimahullah, kajian yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Hanif Beni Setyawan, M.H. حفظه الله (PONPES Al Ukhuwah) mengupas tuntas bagaimana seharusnya seorang mukmin menyikapi waktu, mengelola aktivitas, dan berpacu dalam ketaatan sebelum ajal menjemput.
Hakikat Nilai Waktu: Lebih Berharga daripada Harta
Al-Imam Ibnul Jauzi menegaskan bahwa sudah sepatutnya setiap insan menghayati kadar dan nilai waktunya. Ketika seseorang menyadari betapa mahal harga sebuah waktu, ia tidak akan rela menyia-nyiakan walau sekadar sedetik pun dalam hal yang tidak mendekatkan dirinya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dua nikmat utama yang sering kali melalaikan manusia—sebagaimana diingatkan oleh Rasulullah ﷺ dalam hadis riwayat Bukhari—adalah kesehatan dan waktu luang:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
“Dua nikmat yang kebanyakan manusia tertipu pada keduanya: kesehatan dan waktu luang.”
Karena waktu luang sering kali dibiarkan kosong tanpa agenda positif, ia berubah menjadi bumerang yang menjerumuskan pemiliknya ke dalam kelalaian.
Kiat Orang Berilmu: Memilih Amal yang Paling Utama
Orang yang cerdas dan berilmu bukanlah sekadar mereka yang tahu membedakan antara yang baik dan yang buruk, melainkan mereka yang mampu memilih di antara dua kebaikan (manakah yang paling utama/afdhal) untuk dikerjakan tatkala keduanya berbenturan waktu.
Selain itu, dalam setiap aktivitas dan amal kebaikan yang dilakukan, seorang mukmin senantiasa menyertakan niat yang ikhlas karena Allah. Sebagaimana kaidah para ulama: “Niat seorang mukmin lebih baik dari pada amalannya.” Amalan yang tampak kecil di mata manusia bisa bernilai sangat agung di sisi Allah karena lurusnya niat, begitu pula sebaliknya.
Peringatan Para Ulama tentang Bahaya Menyia-nyiakan Waktu
- Perkataan Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah:“Wahai anak Adam, sesungguhnya kalian hanyalah kumpulan hari-hari. Setiap kali satu hari berlalu, maka hilanglah sebagian dari diri kalian.”Beliau juga menceritakan bagaimana para ulama Salaf terdahulu jauh lebih “pelit” menjaga waktu mereka dibandingkan kekikiran mereka terhadap harta benda.
- Perkataan Imam Syafi’i rahimahullah : Dari pergaulannya dengan para ahli hikmah, beliau memetik dua mutiara berharga:
- Al-Waqtu saifun… *“Waktu adalah pedang; jika engkau tidak memotongnya (memanfaatkannya), maka ia yang akan memotong (mem binasakan)mu.”
- *“Jika dirimu tidak disibukkan dalam hal-hal yang baik dan bermanfaat, maka ia pasti akan menyibukkanmu dalam hal-hal yang sia-sia dan kebatilan.”
- Perkataan Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah:“Menyia-nyiakan waktu itu jauh lebih berbahaya daripada kematian. Sebab, kematian hanya memutuskanmu dari dunia dan penduduknya, sedangkan menyia-nyiakan waktu memutuskanmu dari Allah dan negeri akhirat.”
Semangat Ulama Salaf Berpacu dengan Waktu
Sejarah mencatat bagaimana para pendahulu saleh (Salafus صالح) sangat menjaga setiap detik umur mereka:
- Amir bin Abdul Qais pernah dimintai tolong oleh seseorang untuk menemaninya mengobrol sebentar. Beliau menjawab dengan nada satir: “Tahanlah perputaran matahari (waktu) agar berhenti dulu, baru aku akan menemanimu ngobrol!”
- Tsabit Al-Bunani menjelang detik-detik sakaratul mautnya berpesan kepada anaknya agar tidak menyibukkannya dengan hal lain kecuali membiarkannya merampungkan wirid dan dzikir harian terakhirnya.
- Sebagian ulama Salaf bahkan membiasakan anak-anak mereka untuk terus berzikir (bertasbih dan bertahmid) setiap kali berjalan bersama di sepanjang perjalanan menuju pohon-pohon tertentu.
Investasi Jangka Panjang: Amal Jariyah Sebelum Kematian
Ketika seseorang menyadari bahwa kematian akan menutup buku catatan amalnya secara permanen, ia akan berpacu menghadirkan amalan-amalan yang pahalanya terus mengalir (amal jariyah) meskipun raganya telah terbujur kaku di dalam kubur, di antaranya:
- Wakaf produktif: Mewakafkan harta, membangun sumur bor, atau mengalirkan manfaat untuk umat.
- Menanam pohon: Menanam tanaman yang buah atau kerindangannya dimanfaatkan oleh manusia dan hewan.
- Mendidik keturunan saleh: Memiliki anak-anak yang senantiasa mendoakan orang tuanya.
- Menulis karya ilmiah & menyebarkan ilmu: Buku dan risalah bermanfaat yang terus dipelajari generasi setelahnya laksana kehidupan kedua bagi sang penulis.
Penutup: Menyusun Arah dan Target Hidup
Waktu berjalan jauh lebih cepat daripada bergeraknya awan di langit. Tanpa terasa, usia terus merangkak senja dan ajal semakin mendekat.
Agar tidak tergolong orang-orang yang merugi, mulailah menyusun target dan rencana harian yang terarah, mengisi setiap rongga waktu luang dengan ketaatan, serta senantiasa memohon taufik kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar sisa usia kita diberkahi dan ditutup dengan Husnul Khatimah.

