Banyak orang terjebak dalam penyesalan berkepanjangan bukan karena mereka tidak tahu mana yang benar dan salah, melainkan karena ketidakmampuan melihat akhir dari sebuah perbuatan sebelum memulainya. Mata dan nafsu sering kali hanya tertuju pada manisnya kenikmatan di awal langkah, lalu dibutakan dari pahitnya akibat yang menanti di ujung jalan.
Merujuk pada bab Taqdirul ‘Awaqib (Memperhitungkan Akibat) dan Mata’ul Ghurur dalam kitab Shaidul Khatir karya Al-Imam Ibnul Jauzi rahimahullah, kajian yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Hanif Beni Setyawan, M.H. حفظه الله (PONPES Al Ukhuwah) menguraikan kaidah emas bagi setiap insan yang ingin hidup selamat di dunia dan akhirat.
Hakikat Orang Cerdas vs Tertipu Hawa Nafsu
Al-Imam Ibnul Jauzi merumuskan sebuah kaidah mendalam:
“Barang siapa yang memandang dengan mata batinnya pada akhir kesudahan suatu perkara sejak dari permulaannya, niscaya ia akan memetik kebaikannya dan selamat dari keburukannya. Dan barang siapa yang tidak memikirkan akibat akhir, ia akan dikalahkan oleh dorongan indrawinya (hawa nafsu); sehingga apa yang awalnya ia cari demi keselamatan justru berbalik menjadi rasa sakit, dan apa yang ia harapkan membawa ketenangan justru berbuah keletihan.”
- Orang Berakal (Al-‘Aaqil): Menggunakan akal dan ilmunya sebagai teropong masa depan. Sebelum bertindak, ia bertanya: “Apa akibatnya bagiku di kubur nanti? Apa dampaknya bagi masa depan dan hisabku di hadapan Allah?”
- Orang yang Tertipu (Al-Mughtarr): Berpikir pendek dan reaktif. Ia hanya peduli pada kesenangan saat ini tanpa peduli bahwa tindakan tersebut sedang menggali lubang kehancurannya sendiri.
Mengukur Masa Depan Lewat Cermin Masa Lalu
Untuk melatih kepekaan hati dalam memperhitungkan akibat, Ibnul Jauzi mengajak kita merenungi dua kondisi yang pasti pernah kita alami:
- Kemanakah Kelezatan Dosa yang Dulu Pernah Diperbuat?
Kelezatan, tawa, dan kepuasan maksiat yang pernah dilakukan di masa lalu telah lenyap tanpa bekas. Namun, catatannya tidak hilang: yang tersisa hanyalah rasa bersalah, noda hitam di hati, dan ancaman hisab di akhirat. - Kemanakah Rasa Lelah dalam Menjalankan Ibadah?
Rasa kantuk saat bangun malam, lelahnya menuntut ilmu, dan lapar dahaga saat berpuasa telah hilang seketika begitu kita beristirahat. Namun, pahala, kemuliaan derajat, dan keberkahannya tetap abadi di sisi Allah.
Kalaulah dosa itu hilang seiring berhentinya perbuatan, tentu ringan urusannya. Namun yang terjadi justru sebaliknya: kenikmatannya musnah seketika, sedangkan tanggung jawab dan dosanya tetap tertinggal.
Pahitnya Buah Penyesalan di Ambang Kematian
Kenapa manusia harus terus merenungi akibat perbuatan? Karena penyesalan terbesar sering kali datang terlambat, yaitu di saat sakaratul maut tiba (saa’atul maut).
Ibnul Jauzi melukiskan betapa mengerikannya kondisi orang yang baru tersadar di ranjang kematian:
- Rasa manis dari seluruh kesenangan duniawi yang pernah ia kejar secara haram seketika berubah menjadi buah pahit (hanzhal).
- Yang tersisa di dada hanyalah sesak dan pahitnya kepedihan penyesalan tanpa ada obat penawarnya.
- Ia menyadari bahwa tubuh yang selama ini dimanja dengan memperturutkan hawa nafsu sebentar lagi akan terbujur kaku di liang lahad dan dimakan ulat tanah.
Pemandangan jenazah yang diusung ke liang kubur semestinya menjadi cermin nyata: bahwa cepat atau lambat, giliran kitalah yang akan menempati liang sempit bertanah tersebut. Orang yang berakal tidak akan menunggu hingga sakaratul maut tiba untuk mulai menyesal.
Bahaya Tertipu Kesehatan dan Masa Muda
Di antara tipuan dunia yang paling banyak menggelincirkan manusia adalah merasa aman dengan kesehatan dan usia muda:
- Merasa tubuh masih bugar sehingga berani menunda taubat dan amal saleh, padahal sakit dan kematian dapat menyergap dalam sekejap tanpa aba-aba.
- Merasa diri aman dari takdir karena merasa sanggup menyembunyikan keburukan, padahal kekuasaan Allah tidak pernah bisa dihalangi oleh tirai apa pun.
- Lebih takut pada omongan atau celaan manusia daripada murka Allah yang menciptakan langit dan bumi.
Penutup: Kaidah Emas Menjaga Diri
Kunci keberhasilan meniti kehidupan dunia dirangkum dalam satu nasihat ringkas Ibnul Jauzi:
فَرَقِبِ العَوَاقِبَ تَسْلَمْ، وَلَا تَمِلْ مَعَ هَوَى الحِسِّ فَتَنْدَمْ
“Perhitungkanlah akibat-akibat dari setiap perbuatanmu niscaya engkau akan selamat, dan jangan sekali-kali condong menuruti hawa nafsu sesaat niscaya engkau akan menyesal.”
Sebelum lisan berucap, sebelum tangan bertransaksi, dan sebelum langkah melangkah menuju perkara syubhat atau maksiat, berhentilah sejenak. Renungkan bagaimana kesudahannya di hadapan Allah. Menahan pahitnya sabar dalam ketaatan selama hidup di dunia jauh lebih ringan daripada menanggung getirnya penyesalan yang abadi di akhirat kelak.

