Banyak orang tua mengira bahwa bentuk kasih sayang tertinggi kepada anak adalah dengan menuruti segala kemauan mereka, tidak memberi beban, dan selalu memproteksi anak dari segala kesulitan hidup. Padahal, anggapan ini keliru besar. Memanjakan anak bukanlah tanda sayang, melainkan jerat batin yang justru berpotensi merusak masa depan dan karakter sang anak.
Kajian parenting ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Hanif Beni Setyawan, M.H. حفظه الله (PONPES Al Ukhuwah) dengan mengupas tuntas bentuk-bentuk pemanjaan yang salah, dampaknya di masa depan, serta bagaimana pola asuh proporsional sesuai bimbingan Islam.
1. Apa Itu Bentuk Memanjakan Anak?
Kesalahan pola asuh sering kali bukan bersumber dari status ekonomi keluarga (kaya atau miskin), melainkan dari minimnya ilmu orang tua tentang metode pendidikan anak. Memanjakan anak umumnya tampil dalam tiga bentuk utama:
- Memproteksi Anak dengan 1001 Macam Perlindungan: Orang tua merasa tidak tega melihat anak menghadapi kesulitan sekecil apa pun. Selalu membela anak secara mutlak meskipun sang anak terbukti bersalah dalam perkelahian atau masalah dengan temannya.
- Memenuhi Segala Keinginan Tanpa Batas: Orang tua tidak memiliki ketegasan untuk mengatakan kata tidak. Semua permintaan anak dituruti seketika, sering kali karena takut melihat anak merengek, marah, atau membantah.
- Membiarkan Anak Berbuat Sekehendak Hatinya (“Virus Pembiaran”): Orang tua membiarkan anak melanggar aturan, tidak merapikan tempat tidur, atau membiarkan mainan berserakan dengan alasan “namanya juga anak-anak”.
2. Dampak Jangka Panjang Memanjakan Anak
Orang tua sering kali terlena karena dalam jangka pendek memanjakan anak membuat suasana rumah tenang (anak tidak rewel). Namun dalam jangka panjang, dampaknya sangat merusak mental dan kepribadian anak saat dewasa kelak:
- Memiliki Sifat Egois & Individualis: Anak terbiasa merasa bahwa dirinya adalah pusat perhatian dan kepentingan orang lain harus mengalah demi dirinya.
- Kehilangan Rasa Tanggung Jawab: Anak tumbuh menjadi pribadi yang bergantung penuh kepada orang tua atau orang lain, tidak mandiri, serta tidak memiliki inisiatif menyelesaikan masalahnya sendiri.
- Hilangnya Rasa Percaya Diri & Mental Cengeng: Karena selalu dibantu dan dimanja sejak kecil, anak menjadi mudah menyerah, putus asa, dan tidak tahan banting saat menghadapi rintangan hidup yang nyata.
- Tumbuh Menjadi Pribadi Pemberontak: Anak yang tidak pernah dibatasi dan ditegur saat salah akan menganggap semua keinginannya harus dituruti, sehingga ia menjelma menjadi pribadi yang tidak santun dan menentang otoritas orang tua.
- Buruk dalam Interaksi Sosial: Kesulitan beradaptasi di lingkungan luar (seperti di pesantren atau sekolah) karena terbiasa dilayani secara berlebihan di rumah.
3. Menyikapi Kebutuhan Bermain Anak dengan Proporsional
Dalam dunia parenting, orang tua kerap terjebak di antara dua kutub yang ekstrem:
- Ekstrem Kanan: Melarang anak bermain sama sekali dengan dalih agar anak fokus belajar, sehingga anak kehilangan hak dasar tumbuh kembangnya.
- Ekstrem Kiri: Membebaskan anak bermain tanpa batas waktu, termasuk membiarkan mereka bergaul dengan sembarang teman atau membiarkan mereka tenggelam dalam candu gawai (gadget).
Solusi Islami:
Islam mengajarkan keseimbangan. Rasulullah ﷺ sendiri adalah teladan agung yang meluangkan waktu untuk bercanda dan bermain dengan anak-anak (seperti kisah beliau berlari-lari kecil dan bercanda dengan cucunya, Husein ra., dalam riwayat Ahmad/Adabul Mufrad).
- Orang tua perlu menyediakan waktu untuk bermain bersama anak.
- Alokasikan waktu dengan tegas: ada jam khusus untuk belajar dan ada jam khusus untuk bermain.
- Hindari memanjakan anak dengan memberikan gawai (smartphone) secara bebas demi alasan agar anak “anteng”.
Penutup: Ketegasan Berbalut Kasih Sayang
Kasih sayang sejati seorang orang tua bukanlah dengan memuluskan seluruh jalan hidup anak dengan menuruti hawa nafsunya, melainkan dengan membentuk mental yang tangguh, kedisiplinan, ketundukan pada aturan, dan kemandirian.
Bekali anak dengan tarbiyah yang benar, keseimbangan antara kelembutan dan ketegasan, serta ajarkan mereka untuk bertanggung jawab sejak dini, agar kelak mereka tumbuh menjadi generasi saleh yang siap menghadapi beratnya tantangan zaman.
