Kesempurnaan akal seseorang tidak diukur dari seberapa banyak harta yang ia kumpulkan, melainkan dari seberapa tinggi cita-cita, ambisi, dan orientasi hidupnya (Uluwwul Himmah). Orang yang memiliki himmah tinggi akan memandang dunia dengan visi besar, sementara orang yang berjiwa kerdil akan mudah merasa puas dengan pencapaian yang rendah dan hina.
Merujuk pada pembahasan bab Da’watu Ila Uluwwil Himmah (Seruan Memiliki Cita-Cita Tinggi) dalam kitab Shaidul Khatir karya Al-Imam Ibnul Jauzi rahimahullah, kajian yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Hanif Beni Setyawan, M.H. حفظه الله (PONPES Al Ukhuwah) mengupas tuntas pentingnya memiliki cita-cita luhur dan bagaimana cara membangkitkannya dalam diri seorang mukmin.
1. Tanda Kesempurnaan Akal: Cita-Cita Tinggi (Uluwwul Himmah)
Al-Imam Ibnul Jauzi menegaskan bahwa indikator utama kesempurnaan akal adalah uluwwul himmah (cita-cita yang tinggi). Sebaliknya, rela dan mudah puas dengan sesuatu yang rendah, receh, serta tidak produktif adalah bentuk kehinaan jiwa.
Sangat disayangkan ketika seseorang memiliki potensi besar—kecerdasan, kesehatan, waktu luang, dan kesempatan—namun ia mencukupkan diri dengan kehidupan yang biasa-biasa saja tanpa arah dan prestasi akhirat.
2. Teladan Cita-Cita Luhur: Kisah Rabi’ah bin Ka’ab al-Aslami
Sebagai bentuk ilustrasi cita-cita ukhrawi yang paling agung, Ustadz Hanif mengisahkan sahabat Rabi’ah bin Ka’ab al-Aslami radhiyallahu ‘anhu:
- Ia adalah seorang pelayan Rasulullah ﷺ yang hidup dalam kefakiran dan tidur di emperan Masjid Nabawi.
- Ketika Rasulullah ﷺ memberikan kebebasan kepadanya untuk meminta apa saja sebagai bentuk penghargaan atas pelayanannya (“Mintalah, niscaya akan Aku berikan”), Rabi’ah tidak meminta harta, istana, atau kekuasaan duniawi.
- Dengan kecerdasan ruhaninya, ia berkata: “Aku memohon agar Engkau memberikan syafaat bagiku agar aku terbebas dari neraka, dan memohon agar aku bisa menemanimu di dalam surga.”
- Nabi ﷺ mengabulkannya dengan syarat agar Rabi’ah memperbanyak sujud (shalat sunnah) sebagai wujud perjuangan meraih cita-cita tersebut.
3. Cita-Cita Duniawi yang Mulia: Kisah Para Pemuda di Dekat Kabah
Dalam ranah pencapaian dunia, cita-cita tinggi juga harus diarahkan pada hal yang mendatangkan kemaslahatan umat. Ustadz Hanif menceritakan kisah sekumpulan pemuda hebat—termasuk Abdullah bin Zubair, Mush’ab bin Zubair, Abdul Malik bin Marwan, dan Urwah bin Zubair rahimahullah—yang berkumpul di dekat Kabah dan mengemukakan ambisi besar mereka.
Ketika yang lain bercita-cita menjadi penguasa wilayah dan khalifah dunia, Urwah bin Zubair memilih cita-cita yang berbeda:
“Aku ingin menjadi seorang yang alim, menguasai ilmu agama, mengajarkannya kepada manusia, dan meraih rida Allah hingga masuk ke dalam surga-Nya.”
Berkat kesungguhan dan himmah-nya yang tinggi, Urwah bin Zubair benar-benar menjelma menjadi salah satu dari Fuqaha Sab’ah (tujuh ulama fikih utama di Madinah) yang menjadi rujukan umat Islam pada masanya.
4. Jebakan Himmah yang Rendah dalam Menuntut Ilmu dan Dakwah
Cita-cita yang rendah kerap menyusup ke dalam aktivitas mulia jika niatnya tidak diluruskan:
- Dalam Menuntut Ilmu: Orang yang ber-himmah rendah menuntut ilmu sekadar untuk mencari ijazah, mengejar pekerjaan duniawi, atau sekadar berdebat demi memamerkan kecerdasan. Padahal, himmah penuntut ilmu sejati adalah mengharapkan jalan kemudahan menuju surga.
- Dalam Berdakwah: Dai yang ber-himmah rendah akan mudah ciut nyali, berhenti menyerukan kebenaran, atau putus asa ketika menghadapi rintangan dan sedikitnya pengikut. Padahal, ukuran keberhasilan dakwah bukanlah banyaknya massa, melainkan kesesuaian dengan sunnah dan keteguhan di atas kebenaran (al-haq).
5. Faktor-Faktor yang Membentuk Uluwwul Himmah
Tinggi atau rendahnya cita-cita seseorang dipengaruhi oleh beberapa elemen penting dalam kehidupannya:
- Potensi Tabiat & Fitrah: Mengenali bakat dan kelebihan diri (seperti kekuatan hafalan atau strategi) untuk kemudian dioptimalkan di jalan ketaatan, sebagaimana para sahabat yang dioptimalkan potensinya oleh Rasulullah ﷺ.
- Peran Orang Tua & Pendidikan Keluarga: Ibu dan ayah adalah sekolah pertama (madrasatul ula) dalam menanamkan nilai-nilai besar dan ambisi positif kepada anak-anak sejak dini.
- Lingkungan Masyarakat (Biah) & Guru yang Shalih: Bergaul dengan orang-orang yang produktif dan memiliki visi akhirat akan menular secara positif pada semangat hidup seseorang.
- Keimanan kepada Hari Akhir: Keyakinan akan adanya surga yang mahal harganya (Inna silatallahi jannah) menjadi bahan bakar utama yang tidak pernah padam.
- Membaca Sirah & Sejarah Para Ulama Salaf: Menelaah biografi orang-orang besar masa lalu akan mencambuk semangat yang sedang melemah dan membangkitkan kembali keberanian untuk bercita-cita besar.
Penutup: Jangan Puas dengan Capaian yang Rendah
Uluwwul Himmah adalah pembeda antara orang yang hidup sekadar mengalir mengikuti arus dengan orang yang menorehkan sejarah keberkahan. Jangan biarkan potensi diri Anda terkubur oleh rasa malas, angan-angan kosong, atau ketakutan yang tidak beralasan.
Gantungkan cita-cita setinggi bintang di langit dengan kaki yang tetap berpijak kokoh pada ketakwaan di bumi, serta iringi setiap langkah perjuangan dengan sujud dan doa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
