Ustadz Dr. Hanif Beni Setyawan, MH
Setiap perbuatan dosa dan kemaksiatan senantiasa membawa dampak buruk bagi pelakunya. Selain memutuskan hubungan seorang hamba dengan Rabb-nya hingga membuat hati terasa gersang dan mati, kemaksiatan juga menjadi faktor utama terhapusnya keberkahan dalam urusan agama maupun dunia.
Dampak Kemaksiatan terhadap Berbagai Sendi Kehidupan
Imam Ibnul Qayyim rahimahullāh menjelaskan bahwa dosa dan maksiat melenyapkan berbagai bentuk keberkahan hidup :
- Menghapus Keberkahan Umur (Barakatul ‘Umr)Waktu berlalu begitu saja tanpa ada manfaat dan pahala yang bisa diraih.
- Menghapus Keberkahan Rezeki (Barakatur Rizq)Meskipun rezeki nominalnya banyak, rezeki tersebut tidak membawa ketenangan dan cepat habis tanpa kebaikan.
- Menghapus Keberkahan Ilmu (Barakatul ‘Ilm)Banyaknya ilmu yang didengar dan dicatat tidak membuahkan amal serta petunjuk.
- Menghapus Keberkahan Amal dan Ketaatan (Barakatul ‘Amal waṭ-Ṭā‘ah)Amal ibadah menjadi hampa dan ketaatan terasa berat.
Secara keseluruhan, tidak akan didapati keberkahan sedikit pun pada umur, agama, dan dunia orang yang terus-menerus bermaksiat kepada Allah.
Dalil-Dalil Al-Qur’an dan Hadits
Hilangnya keberkahan di muka bumi pada hakikatnya bersumber dari perbuatan maksiat makhluk. Hal ini ditegaskan dalam dalil-dalil syariat:
1. Keberkahan Bergantung pada Iman dan Takwa (QS. Al-A’raf: 96)
Allah Subhānahu wa Ta‘ālā berfirman:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ.
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi…”
Janji Kelapangan bagi yang Istiqamah
Allah menegaskan balasan rezeki berlimpah bagi hamba yang konsisten di atas jalan ketaatan:
QS. Al-Jinn: 16
وَأَن لَّوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُم مَّاءً غَدَقًا
“Dan sekiranya mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), niscaya Kami akan mencurahkan kepada mereka air yang cukup (rezeki yang banyak).”
Takwa Sebagai Kunci Jalan Keluar dan Rezeki
Kunci terbukanya pintu rezeki yang tak terduga adalah ketakwaan :
QS. At-Talaq: 2–3
وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.”
Dalil-Dalil dari Sunnah dan Hadits Nabi ﷺ
A. Dosa Menghalangi Datangnya Rezeki
Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa perbuatan maksiat menjadi penyebab tertahannya rezeki seorang hamba :
Hadits Riwayat Ahmad dan Ibnu Majah:
إِنَّ الْعَبْدَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ
“Sesungguhnya seorang hamba benar-benar terhalang dari rezekinya disebabkan dosa yang dilakukannya.”
B. Jaminan Rezeki dan Perintah Menjemputnya dengan Cara Halal
Jiwa seseorang tidak akan dicabut sebelum seluruh takaran rezekinya genap :
Hadits Riwayat Ibnu Hibban:
إِنَّ رُوحَ الْقُدُسِ نَفَثَ فِي رُوعِي أَنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقَهَا، فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ
“Sesungguhnya Ruhul Qudus (Jibril) membisikkan ke dalam jiwaku bahwa suatu jiwa tidak akan mati hingga disempurnakan seluruh rezekinya. Maka bertakwalah kepada Allah dan carilah rezeki dengan cara yang baik.”
4. Mengapa Maksiat Menghilangkan Berkah?
- Keterlibatan Setan dalam Kemaksiatan:Maksiat menempatkan manusia di bawah pengaruh dan kendali setan. Segala sesuatu yang di dalamnya bercampur campur tangan setan akan dicabut keberkahannya. Oleh sebab itu, syariat mengajarkan untuk senantiasa berdzikir dan menyebut asma Allah sebelum makan, minum, berkendara, maupun berhubungan.
- Hakikat Keberkahan Datang dari Allah Semata:Seluruh keberkahan bersumber dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Segala hal yang disandarkan kepada keridhaan Allah akan diberkahi, sedangkan apa pun yang jauh dari-Nya akan menjadi hampa berkah dan berpotensi mengundang laknat.
- Kuantitas Bukan Ukuran Utama:Kelapangan hidup dan umur panjang hakikatnya bukan dihitung dari sekadar banyaknya harta atau hitungan tahun murni, melainkan diukur dari seberapa besar keberkahan dan kebaikan yang terkandung di dalamnya.
Kesimpulan
Kehidupan manusia yang sesungguhnya terletak pada hidupnya hati dan ruh untuk mengenal, mencintai, serta beribadah kepada Allah semata. Menjaga diri dari perbuatan dosa dan maksiat serta meningkatkan takwa merupakan jalan utama agar umur, rezeki, dan ilmu kita senantiasa dipenuhi keberkahan di dunia dan akhirat.
