Ustadz Dr. Hanif Beni Setyawan, M.H.
Dalam mendidik anak, visi dan misi merupakan landasan pokok yang menentukan keberhasilan pendidikan. Tanpa tujuan yang jelas, segala usaha, pengorbanan, dan kesibukan orang tua dalam mendidik anak akan menjadi sia-sia, ibarat pengendara kendaraan yang memacu mesinnya dengan kencang namun tidak memiliki alamat tujuan yang pasti.
1. Fenomena “Ilusi Sibuk”
Banyak orang tua saat ini terjebak dalam apa yang disebut sebagai Ilusi Sibuk. Mereka terlihat sangat aktif dan perhatian secara fisik—menyiapkan sarapan, memastikan seragam rapi, mengantar les, hingga mengecek PR—namun kehilangan “ruh” dan fokus pada hal yang paling mendasar.
- Salah Fokus: Orang tua sering kali lebih khawatir jika anaknya belum makan atau nilai akademiknya turun, namun lupa bertanya apakah anaknya sudah salat atau bagaimana kondisi imannya.
- Kerugian Amal: Mengacu pada Surah Al-Kahfi ayat 103-104, orang yang paling merugi adalah mereka yang merasa telah berbuat sebaik-baiknya di dunia, padahal perbuatannya sia-sia karena salah arah.
- Mengurus vs Mendidik: Mengurus hanya sebatas memenuhi fasilitas fisik, sedangkan mendidik adalah menanamkan iman, membentuk arah hidup, dan menuntun anak ke jalan Allah.
2. Meluruskan Visi Parenting dalam Islam
Visi parenting dalam Islam tidak boleh berhenti pada kesuksesan duniawi semata, melainkan harus menembus hingga ke akhirat.
- Keselamatan Akhirat: Fokus utama sesuai Surah At-Tahrim ayat 6 adalah menjaga diri dan keluarga dari api neraka. Prestasi akademik dan karier hanyalah sarana, bukan tujuan utama.
- Makna Qurrata A’yun: Penyejuk hati yang sesungguhnya bukanlah anak yang sekadar tampan, pintar, atau sukses secara materi, melainkan anak yang taat kepada Allah. Orang tua akan merasa tenang saat melihat anaknya salat tanpa disuruh dan menjaga adabnya.
3. Tanda-Tanda Parenting Tanpa Arah
Ada beberapa indikator yang menunjukkan bahwa orang tua telah kehilangan kompas dalam mendidik:
- Inkonsisten: Hari ini melarang sesuatu (seperti bermain gadget), namun besok membolehkannya hanya karena orang tua sedang lelah atau ingin tenang.
- Mudah Ikut Tren: Menjadikan lingkungan sebagai standar, bukan wahyu. Mengikuti kursus atau sekolah tertentu hanya karena “anak tetangga juga begitu” tanpa mempertimbangkan pengaruhnya terhadap kedekatan anak dengan Allah.
- Reaktif, Bukan Terencana: Baru bergerak atau panik saat masalah muncul (seperti anak kecanduan gadget atau mulai membantah), padahal sebelumnya tidak ada persiapan atau pembekalan sejak awal.
- Salah Prioritas: Lebih serius menanggapi nilai matematika yang turun daripada salat yang bolong-bolong.
4. Akar Masalah dan Dampaknya
Penyebab utama hilangnya visi ini adalah besarnya dunia di dalam hati, tekanan sosial (takut kalah dari orang lain), dan kurangnya ilmu parenting islami. Jika dibiarkan, dampaknya sangat serius bagi anak:
- Kehilangan Jati Diri: Anak tumbuh tanpa identitas dan nilai hidup yang jelas.
- Mudah Terbawa Arus: Karena tidak punya prinsip dan filter yang kuat, anak akan mudah mengikuti tren media sosial atau lingkungan yang tidak stabil.
Kesimpulan dan Solusi
Langkah pertama untuk memperbaiki arah adalah dengan meluruskan niat dan hati agar sepenuhnya menjadikan akhirat sebagai tujuan utama. Orang tua perlu menyusun kembali prioritas, menjaga konsistensi, dan terus membekali diri dengan ilmu agama. Anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna, namun mereka membutuhkan orang tua yang memiliki arah hidup yang jelas menuju rida Allah.
