Penyakit hati adalah jenis penyakit yang paling berbahaya karena dampaknya tidak hanya merusak hubungan sosial di dunia, tetapi juga menghancurkan amal ibadah dan keselamatan di akhirat. Di antara sekian banyak penyakit hati, hasad (dengki dan iri hati) menempati posisi teratas sebagai penyakit yang sangat destruktif.
Merujuk pada pembahasan bab Al-Hasad wa Mansya’uh (Hakikat Hasad dan Sumbernya) dalam kitab Shaidul Khatir karya Al-Imam Ibnul Jauzi rahimahullah, kajian yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Hanif Beni Setyawan, M.H. حفظه الله (PONPES Al Ukhuwah) mengupas tuntas akar permasalahan hasad, bahayanya, serta bagaimana cara membersihkan jiwa darinya.
1. Apa Itu Hasad dan Apa Akarnya?
Hasad secara definisi adalah rasa benci dan tidak suka melihat kenikmatan, kesuksesan, atau kelebihan yang diperoleh oleh orang lain. Puncaknya, orang yang hasad tidak hanya merasa tidak suka, tetapi juga berkeinginan agar kenikmatan tersebut lenyap dari saudaranya.
Al-Imam Ibnul Jauzi menuturkan bahwa setelah direnungkan secara mendalam, akar utama penyebab penyakit hasad adalah hubbud dunya (cinta dunia yang berlebihan).
- Orang yang orientasi hidupnya murni untuk akhirat tidak akan merasa tersaingi ketika melihat saudaranya mendapatkan kebaikan, kemajuan, atau ilmu yang luas. Hati mereka bersih, saling mencintai, dan mendoakan kebaikan (sebagaimana teladan kaum Muhajirin dan Ansar).
- Sebaliknya, orang yang hatinya dipenuhi orientasi duniawi akan merasa terancam jika ada orang lain yang setara dengannya (sesama profesi, sesama pedagang, atau sesama penuntut ilmu) mengungguli pencapaian duniawinya. Di sinilah bibit dengki mulai bersemi.
2. Bahaya Besar Penyakit Hasad
- Hasad Lebih Berbahaya daripada Kikir (Bukhľ):
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan bahwa orang yang kikir hanya menahan hartanya agar tidak diberikan kepada orang lain, namun orang yang hasad membenci karunia Allah yang diberikan kepada orang lain. - Protes kepada Takdir Allah:
Pada hakikatnya, orang yang hasad sedang tidak ridha dengan pembagian dan ketetapan takdir yang telah ditentukan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. - Penyebab Dosa Pertama di Langit dan di Bumi:
Hasad adalah motor penggerak kejahatan pertama: iblis enggan sujud kepada Adam karena hasad, dan Qabil membunuh Habil pun karena dipicu oleh rasa dengki.- “Tidak ada jasad manusia yang benar-benar bersih dari potensi hasad,” terang Syaikhul Islam. Namun, orang yang mulia adalah mereka yang berusaha menyembunyikan dan melawan hasadnya, sementara orang yang tercela adalah yang menampakkan hasadnya lalu berbuat zalim kepada saudaranya.
- Melahap Amal Kebaikan:
Rasulullah ﷺ memperingatkan bahwa hasad dapat memakan amal kebaikan manusia laksana api melahap kayu bakar yang kering, karena hasad biasanya menyeret pelakunya berbuat ghibah, mencela, dan merendahkan martabat orang yang dihasatinya.
3. Kisah Teladan: Amalan Hati Pengantar Surga
Ustadz Hanif mengisahkan hadis riwayat Imam Ahmad tentang seorang sahabat Ansar yang dipuji oleh Nabi Muhammad ﷺ sebanyak tiga kali berturut-turut sebagai penduduk surga.
Ketika sahabat Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma menginap di rumahnya selama tiga hari untuk memantau amal ibadahnya, ia mendapati bahwa amalan sunnah orang tersebut tidaklah terlalu banyak—ia tidur di malam hari dan hanya berzikir sekadarnya saat terjaga.
Ketika ditanya apa amalan utamanya, sahabat tersebut menjawab:
“Aku tidak pernah menemukan dalam hatiku perasaan dengki atau hasad kepada seorang pun dari kaum muslimin atas kebaikan yang Allah berikan kepadanya.”
Abdullah bin Amr pun berkata: “Inilah amalan yang mengantarkanmu menjadi penduduk surga, dan inilah amalan yang tidak mampu kami lakukan.”
4. Kiat Praktis Mengobati Penyakit Hasad
Bagi seorang mukmin yang mendapati percikan rasa iri atau dengki di dalam dadanya, para ulama merumuskan penawar ampuh untuk membersihkannya:
- Ilmu dan Perenungan:
Menyadari bahwa hasad adalah siksaan mental yang menyiksa diri sendiri sebelum menyakiti orang lain. Orang yang hasad hidupnya selalu tersiksa setiap kali melihat saudaranya mendapat nikmat baru. - Melakukan Perbuatan yang Berlawanan (I’laj Amali):
Jika hasad mendorong seseorang untuk merendahkan atau menjauhi saudaranya, maka lawanlah dengan memberinya hadiah, mendoakannya secara rahasia, dan memuji kebaikannya. Tindakan ini terbukti efektif melembutkan hati yang keras. - Memperbanyak Doa Rahasia untuk Sesama:
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa doa seorang muslim untuk saudaranya di tempat yang tersembunyi (tanpa sepengetahuan orang tersebut) akan diaminkan oleh malaikat, dan kebaikan itu akan berbalik kepada dirinya sendiri (HR. Muslim).
5. Pengecualian: Ketika Hasad Menjadi Iri yang Terpuji (Ghibthah)
Tidak semua rasa ingin seperti orang lain itu tercela. Islam membolehkan bahkan memuji jenis iri yang disebut ghibthah (atau munafasah), yaitu berkeinginan untuk mendapatkan nikmat yang sama seperti orang lain (seperti ilmu agama yang bermanfaat atau harta yang diinfakkan di jalan Allah), tanpa sedikit pun mengharapkan nikmat tersebut lenyap dari orang lain (HR. Bukhari & Muslim).
Penutup: Membersihkan Hati Menyongsong Keabadian
Dunia ini sempit bagi mereka yang hatinya dipenuhi ketamakan, namun akhirat sangatlah luas dan lapang bagi orang-orang yang ikhlas. Mari kikis habis rasa hasad, iri, dan dengki dari dalam dada.
Gantilah ia dengan lapang dada, rasa qana’ah, dan doa kebaikan untuk sesama, agar kita layak menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan membawa qolbun salim (hati yang selamat dan bersih).

