Hidup tidak selamanya berjalan mulus. Sering kali ketika kita melihat kesuksesan, harta melimpah, rumah megah, atau jabatan tinggi yang diraih oleh orang lain—sementara diri kita masih berkecukupan atau hidup sederhana—timbul rasa gundah, sedih, dan iri di dalam dada. Mengapa orang lain tampak begitu mudah bersenang-senang, sedangkan kita harus berdarah-darah?
Merujuk pada pembahasan bab ketenangan jiwa dalam kitab Shaidul Khatir karya Al-Imam Ibnul Jauzi rahimahullah, kajian yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Hanif Beni Setyawan, M.H. حفظه الله (PONPES Al Ukhuwah) mengupas tuntas bagaimana seharusnya seorang mukmin menyikapi rasa sedih atas nikmat dunia yang luput darinya, agar hidupnya tidak berujung pada penyesalan yang sia-sia.
1. Realitas Dunia: Kenikmatan Semu yang Melelahkan
Al-Imam Ibnul Jauzi menuturkan bahwa ketika beliau merenungkan keadaan orang-orang saleh dan mulia, mereka umumnya hidup dalam kesederhanaan dan jauh dari gemerlap kemewahan dunia. Sebaliknya, orang-orang yang mengejar dunia dengan ambisi membabi buta sering kali adalah mereka yang orientasinya rendah.
Perlombaan mengejar dunia adalah perlombaan yang tidak ada garis finish-nya. Manusia tidak akan pernah merasa puas dengan harta; sabda Nabi ﷺ mengingatkan bahwa seandainya seseorang memiliki satu lembah berisi emas, ia pasti ingin memiliki lembah kedua, dan perut manusia tidak akan pernah puas sampai tanah kuburan memenuhi mulutnya (HR. Bukhari & Muslim).
Mengejar dunia secara berlebihan tidak hanya melelahkan fisik, tetapi juga merusak agama. Banyak orang bersenang-senang di masa mudanya dengan menuruti syahwat, namun di masa tua mereka harus menanggung kepahitan penyakit akibat ulah mereka sendiri.
2. Mengapa Kita Tidak Perlu Bersedih Saat Dunia Luput?
Ustadz Hanif Beni Setyawan memaparkan beberapa alasan logis dan syar’i mengapa seorang mukmin tidak layak berlarut-larut dalam kesedihan ketika orang lain mendapatkan kesenangan dunia yang tidak ia miliki:
- Bisa Jadi Itu Bukan Maslahat Bagi Kita:
Sesuatu yang tidak kita miliki hari ini belum tentu buruk; justru itulah yang terbaik dan paling maslahat bagi agama kita. Kalau kita menjadi kaya, barangkali kita akan sombong atau lalai dari ibadah. Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَࣖ ٢١٦ (QS. Al-Baqarah: 216). - Jatah Dunia Manusia Sangat Sedikit Dibandingkan Hewan:
Binatang ternak menikmati rezeki Allah di muka bumi dengan rasa aman tanpa beban stres dan rasa takut, sementara manusia sering kali menikmati dunia dengan rasa cemas, takut kolesterol, takut bangkrut, dan penuh perhitungan yang melelahkan. - Dunia Hanyalah Permainan (Mainan Anak-anak):
Sebagaimana anak kecil yang menangis histeris karena kehilangan mainannya, kita pun akan menganggap kelucuan yang sama saat kelak menyadari betapa remehnya kesedihan kita terhadap kehilangan harta benda duniawi. Al-Qur’an menegaskan bahwa kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah permainan dan senda gurau وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ ۗ (QS. Al-An’am: 32).
3. Empat Obat Mujarab Mengatasi Rasa Sedih & Iri pada Dunia
Bagi Anda yang kerap merasa tertinggal atau menyesal karena dunia luput dari genggaman, amalkan empat langkah penenang hati ini:
Pertama: Kuatkan Iman kepada Takdir (Qadha & Qadar)
Segala sesuatu di bumi maupun pada diri kita telah tertulis rapi di Lauhul Mahfuz sebelum diciptakan. Hikmah penetapan takdir ini ditegaskan Allah dalam Al-Qur’an:
لِّكَيْلَا تَأْسَوْا عَلٰى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوْا بِمَآ اٰتٰىكُمْ ۗ
“(Yang demikian itu kami tetapkan) agar kamu tidak bersedih terhadap apa yang luput dari kamu dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.” (Al-Hadid · Ayat 23)
Apa yang ditakdirkan untuk kita tidak akan pernah luput, dan apa yang luput dari kita tidak akan pernah menjadi takdir kita.
Kedua: Alihkan Perlombaan Menuju Akhirat
Jika teman atau tetangga Anda mengungguli Anda dalam urusan dunia (mobil baru, rumah megah, jabatan tinggi), maka unggulilah mereka dalam urusan akhirat. Sebagian salaf berkata: “Jika engkau melihat seseorang mengunggulimu dalam urusan dunia, maka unggulilah ia dalam urusan akhirat.” Jangan bersedih tertinggal harta, bersedihlah ketika Anda tertinggal dalam hafalan Al-Qur’an, majelis ilmu, dan amal saleh.
Ketiga: Jangan Terlalu Silau dengan Penampilan Orang Lain
Jangan berandai-andai ingin memiliki kekayaan seperti Qorun yang keluar dengan kemegahan luar biasa, yang membuat orang-orang berorientasi dunia tergiur memujinya. Allah memperingatkan agar kita tidak memanjakan pandangan kita pada kemewahan semu yang diberikan kepada segolongan orang, karena itu hanyalah ujian (fitnah) semata (QS. Thaha: 131).
Keempat: Sadari Bahwa Dunia Hanyalah Tempat Singgah (Musafir)
Rasulullah ﷺ menggambarkan diri beliau di dunia bagaikan seorang musafir yang berteduh sejenak di bawah pohon, lalu pergi meninggalkannya. Jangan membangun istana megah di tempat perantauan yang bersifat sementara, sementara kampung halaman abadi kita di surga terbengkalai tanpa bekal.
Penutup: Jangan Biarkan Sisa Umur Berakhir Penyesalan
Hidup ini singkat, dan waktu yang telah berlalu tidak akan pernah bisa diputar kembali. Jangan biarkan hati kita berkarat karena meratapi hal-hal duniawi yang bukan takdir kita.
Jadikan sisa usia ini sebagai ladang penanaman amal saleh. Genggam dunia sekadar di tangan (sebagai sarana ibadah), namun jangan pernah biarkan ia masuk merajai hati. Dengan begitu, kita dapat menutup lembaran hidup tanpa rasa penyesalan yang mendalam di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
