maxresdefault (5)

Menanamkan Lapang Dada dan Membangun Kepribadian Islam pada Anak di Fase Mumayyiz

Masa kanak-kanak mendekati usia remaja—yang dikenal sebagai fase mumayyiz (berkisar antara usia 6 hingga 15 tahun menjelang baligh)—merupakan periode krusial dalam dunia parenting . Pada fase ini, anak mulai kritis, banyak bertanya, memiliki gagasan sendiri, dan mulai aktif berinteraksi dengan lingkungan luar. Orang tua dituntut untuk meredam masa-masa transisi ini dengan penuh kebijaksanaan,kelapangan dada,serta penanaman prinsip akidah yang kokoh.

1. Menghadapi Fase Kritis dengan Lapang Dada dan Waktu Luang

Memasuki pertengahan fase mumayyiz (sekitar usia 8 hingga 12 tahun dan seterusnya),anak-anak mulai menunjukkan perkembangan intelektual yang signifikan.Mereka sering kali:

  • Ingin ikut serta dalam percakapan atau aktivitas orang tua.
  • Mengajukan banyak pertanyaan ( tasaulat ) dan meminta penjelasan atas berbagai hal, terkadang dengan pertanyaan yang kritis atau tak terduga.
  • Memiliki pendapat atau usulan sendiri dan tidak jarang berbeda dengan pandangan orang tua.

Kesalahan yang Sering Terjadi: Sebagian orang tua atau pendidik sering merasa lelah,sibuk,atau menganggap pertanyaan sepele anak (“Kamu ini tahu apa?”).Sikap menutup diri dan mengabaikan rasa ingin tahu anak adalah kesalahan besar.

Solusi dan Peran Orang Tua: Orang tua harus menyediakan ruang lapang dada ( sadrur rahib ) dan meluangkan waktu ( tafarruq ) untuk mendengarkan serta berdialog dengan anak. Ketika anak bertanya dengan penuh rasa kagum kepada orang tuanya, lalu diabaikan,mereka akan mencari jawaban di luar—yang berisiko menjauhkan mereka dari orang tua dan meningkatkan rasa hormat serta komunikasi intelektual (fikriah) di dalam keluarga.

2. Menggunakan Istilah Syariat untuk Mempersiapkan Usia Baligh

Pada fase sebelumnya (usia dini), anak-anak cukup diperkenalkan dengan istilah-istilah sederhana seperti “ini berbuat baik”, “ini jelek”, atau “ini tidak boleh”. Namun, ketika memasuki fase mumayyiz, orang tua perlu mulai memperkenalkan istilah-istilah syariat secara bertahap sebagai persiapan menghadapi usia baligh.

  • Kenalkan hukum-hukum dasar seperti halal, haram, wajib, mustahab (sunnah), dan makruh .
  • Menjelaskan alasan dibalik suatu hukum dengan bahasa yang mudah dipahami, misalnya mengapa mengambil barang orang lain secara sembunyi-sembunyi termasuk pencurian dan hukumnya haram .
  • Penanaman konsep ini bertujuan agar anak terbiasa melakukan tindakan mereka dengan timbangan syariat Allah,bukan sekedar adat istiadat manusia semata.

3. Melatih Kemampuan Ta’amul dan Tadabbur Alam Semesta

Salah satu metode pendidikan yang sangat efektif dalam Islam adalah melatih anak untuk mentadaburi alam semesta dan memahami sebab-akibat ( illah ) dari suatu kejadian.

  • Mentadaburi Ciptaan Allah: Ajak anak mengamati fenomena alam di sekitar mereka, seperti terbit dan terbenamnya matahari setiap hari secara teratur, pergantian siang dan malam, hukum alam (fisika/geografi sederhana), hingga ciptaan Allah lainnya. Teladan agung dapat dilihat dari kisah Nabi Ibrahim alaihissalam saat mengajak kaumnya berpikir secara logistik mengenai bintang, bulan, dan matahari untuk membuktikan keberadaan Zat Yang Maha Kekal.
  • Melatih Analisis Logika: Memberikan pemahaman bahwa segala sesuatu di alam ini memiliki hikmah dan aturan dari Sang Pencipta, sehingga anak terbiasa berpikir kritis, rasional, dan selalu bersyukur kepada Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى

4. Bahaya Tasyabuh (Meniru Budaya Selain Islam) dan Krisis Identitas

Menjelang akhir fase mumayyiz, tantangan terbesar bagi remaja adalah melemahnya kepribadian ( syakhshiyah ) dan hilangnya kebanggaan terhadap identitas Islam . Hal ini sering kali dipicu oleh derasnya arus informasi, media komunikasi, serta pergaulan bebas yang menampilkan tren global non-muslim (seperti gaya berpakaian, potongan rambut, hingga idola dari kalangan artis atau tokoh populer).

  • Larangan Tasyabuh (Menyerupai Orang Kafir):Rasulullah ﷺ melarang umat Islam menyerupai suatu kaum (dalam hal budaya yang bertentangan dengan syariat),karena barang siapa menyerupai suatu kaum,maka ia termasuk bagian dari mereka (HR.Abu Dawud).
  • Menjaga Identitas Gender:Islam melarang kerastasyabuhantargender,seperti anak perempuan yang bergaya menyerupai laki-laki (tomboi) atau sebaliknya,sebagaimana laknat yang disabdakan Nabi ﷺ terhadap laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki (HR. Bukhari).
  • Membangun Kebanggaan Keislaman: Orang tua harus menanamkan rasa bangga pada diri anak sebagai seorang Muslim dan mukmin. Anak-anak harus diingatkan bahwa kemuliaan ada pada agama Islam,bukan pada budaya luar yang merusak kepribadian dan meningkatkan akal pikiran.

Pelajaran dan Hikmah

  • Kesabaran,kelapangan dada,dan waktu yang diluangkan orang tua adalah kunci utama dalam komunikasi merawat dan kedekatan emosional dengan anak dalam fase mumayyiz.
  • Pengenalan istilah syariat (halal,haram,wajib) sejak dini melatih anak menjadi pribadi yang bertanggung jawab secara agama mendekati usia baligh.
  • Menanamkan‘izzah(rasa bangga) terhadap identitas keislaman serta membentengi anak dari sifattasyabuh(meniru budaya luar yang batil) adalah benteng pertahanan utama di era modern.

Kesimpulan

Fase mumayyiz adalah jembatan emas usia dewasa. Dengan membimbing anak melalui dialog yang terbuka, pelibatan akal untuk mentadaburi ciptaan Allah, pengenalan hukum syariat secara proporsional, serta penanaman warisan terhadap nilai-nilai Islam, insya Allah kita dapat mencetak generasi muda yang merdeka pemikirannya, berkepribadian kuat, serta teguh di atas jalan Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى

Identitas Sumber Video

  • Judul Kajian: Parenting Lapang Dada Pada Anak-Anak Fase Mumayyiz
  • Pemateri : Ustadz Kholid Syamhudi, Lc ., M.Pd. Hafizhahullah
  • Kanal / Penyelenggara:Ponpes Al Ukhuwah
  • Tautan Video Asli: https://youtu.be/W68k236flUk
Scroll to Top